Pages

Thursday, November 2, 2006

Denias - Senandung di Atas Awan




"Sekolahlah Denias, kalau kamu pintar gunungpun takut sama kamu" , begitulah pesan sang Ibu yang diingat oleh Denias (Albert Fakdawer), seorang anak suku biasa di pedalaman Papua. Pesan yang memicu semangatnya untuk menempuh perjalanan jauh, berjalan sendirian di tengah hutan, pergi ke kota, untuk bersekolah.

Dibuka dengan suasana belajar di sebuah sekolah darurat di puncak bukit. Sebuah honai sederhana, beratap rumbia, dengan bangku kayu seadanya. Denias dan teman - teman belajar bersama Pak Guru (Mathias Muchus).

Helikopter yang membawa Maleo, anak - anak berlarian menyambut kedatangan Maleo, mengharukan. Adegan lainnya berjalan cepat, pertengkaran Denias dengan anak kepala suku, Ibu Denias yang sakit, pesan terakhir dari sang Ibu, berburu kaskus, honai yang terbakar, Ibu meninggal dunia, Pak Guru pulang ke Jawa, Denias mengalami kesedihan beruntun, kehilangan orang yang ia cintai dan hormati.

Di sini sosok Maleo (Ari Sihasale) berperan, ia menggantikan sosok Pak Guru, mengajar anak - anak. Bahkan ketika sekolah mereka hancur karena gempa, Maleo memindahkan sekolah kemana saja, ke pondok kecilnya, sampai membuat honai baru di pinggir danau. "Bersekolah bisa dimana saja"..kata Maleo.

Tapi ternyata cobaan untuk Denias belum berakhir, Maleo yang ternyata seorang Kopasus harus kembali ke kota untuk bertugas. Mengharukan sekali adegan Denias membaca surat dari Maleo, Denias memutuskan pergi ke kota, berjalan sendirian di tengah hutan, menyusuri sungai, berburu untuk bertahan hidup, hingga perkenalannya dengan Enos yang bandel.

Inti film ini adalah kegigihan dan tekad yang kuat. Keinginan yang sangat besar untuk bersekolah membawa Denias dan Enos ke sebuah sekolah fasilitas yang tidak sembarang orang bisa bersekolah di sana. Selanjutnya Denias berkenalan dengan Ibu Sam (Marcella Zalianty) seorang pengajar yang akhirnya membantu Denias untuk bersekolah disana.

Kocak sekaligus mengharukan. Melihat Maleo dan Denias belajar tentang geografi Indonesia dengan sebuah peta yang terbuat dari potongan dus yang dibentuk menyerupai pulau, ditempel di sebuah karung plastik. Peta ini akhirnya menjadi salah satu harta berharga Denias dan dibawanya ke kota. Juga ketika anak - anak menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dilafalkan sebagai ENDONESA, berebut seragam sekolah dasar, Enos berlarian pulang ke desanya untuk mengambil raport agar ia bisa bersekolah lagi, dan masih banyak kejadian lainnya yang mengharukan.

Sungguh sebuah film yang sangat baik dan membawa pencerahan, menggugah semangat untuk terus belajar. Cerita yang sangat menarik, didukung oleh alam Papua yang memang menakjubkan, pemain yang baik dan sinematografi yang yahud.

Produser : Alenia
Release   : 19 Oktober 2006
Category : Movies
Genre     : Documentary


Film ini merupakan kisah nyata Janias. Saat ini Janias bersekolah di SMU di Darwin dengan beasiswa dari PT Freeport Indonesia, sedangkan Enos sedang menyelesaikan skripsinya di sebuah universitas di Malang.

No comments:

Post a Comment