Pages

Thursday, September 3, 2009

Reusable Diaper vs. Disposable Diaper


Dari lahir Cici sudah kenal disposable diaper alias pospak alias popok sekali pakai. Di RS disposable diaper yang dipakai merk Pigeon new born, pas pulang ke rumah keterusan deh pakai Goon sampai sekarang. Pernah nyoba yang Mamy Poko tapi ternyata ga nyaman, pinggangnya kecil.  Bunda-nya Cici yang pemalas ini hanya pernah dua kali memakaikan popok kain kepada Cici..sisanya disposable diaper semua ..jadi bisa dibilang hampir 99 % Cici anak disposable diaper :(

Alhamdulillah ga ruam popok, tips-nya cepet diganti kalau sudah penuh dan pakai Sebamed diaper rash cream dan skin care oil. Plus jangan lupa sering mengangin - anginkan, artinya tanpa popok dikeringkan, biar kulit bayi bisa bernafas.

Tapiii..dari sebulan yang lalu saya ingin menyudahi pemakaian disposable diaper ini. Alasannya banyak, dan sesudah googling makin yakin deh : Say no to Disposable Diaper ! . Lalu kenapa ?

MAHAL

Soalnya kalau dihitung - hitung ternyata disposable diaper ini mahal teman. Cici bisa ngabisin 2 pak Goon per bulan. Satu pak isi 52 buah, berarti 104 disposable diaper sebulan, yang berarti 1248 disposable diaper setahun.

Jadinya belanja disposable diaper per bulan = 2 x 100 rb = 200 rb per bulan

untuk 1 tahun = 12 bulan x 200 rb = 2. 4 jt per tahun

untuk 2 tahun = 2 tahun x 2.4 jt    = 4.8 jt per  2 tahun

wow...4.8 jt untuk disposable diaper doang selama 2 tahun, ini dengan asumsi anak sudah potty training di umur 2 tahun dan bisa bebas diaper. Kalau ngga berarti masih nambah lagi hiks..Padahal 4.8 jt itu udah bisa buat DP beli motor he he.

Menambah beban bumi

Di internet ternyata banyak sekali informasi yang bisa kita dapatkan mengenai disposable diaper. Salah satu yang menarik bagi saya ada di sini. Konon pada 1955, 100 persen bayi Amerika mengenakan popok katun. Namun pada 1991, hanya 10 persen. Perkiraan terbaru mengklaim bahwa 27.4 milyar popok sekali pakai digunakan setiap tahunnya di Amerika Serikat, menghasilkan kira-kira 3.4 juta ton sampah padat tambahan di tempat pembuangan sampah. Sekarang, 3 persen sampah dari tempat pembuangan sampah di negara bagian Amerika Serikat berisi popok sekali-pakai.

Itu berarti membutuhkan 3.5 milyar galon minyak , 82,000 ton plastik, dan 1.3 juta ton bubur kayu (250,000 pohon) untuk membuat 18 juta popok.  Dan setelah menggunakannya hanya satu kali, popok itu lantas dibuang dan diangkut ke tempat pembuangan sampah, di mana mereka membutuhkan waktu 500 tahun untuk menguraikannya.

Mengerikan bukan,  208 buah disposable diaper yang telah digunakan Cici saat ini menjadi bagian dari tumpukan sampah di Bantar Gebang dan baru terurai 500 tahun lagi, atau tahun 2509 :(

GA SEHAT

Disposable diaper itu tidak sehat. Ceritanya juga ada di sini. Proses pemutihan disposable diaper menjadi super putih menggunakan dioxins dan furans yang sulit dihilangkan dan beracun. EPA menggolongkan dioxins seperti halnya karsinogen (zat penyebab kanker), yang menyebabkan “efek kesehatan non-kanker yang merugikan” pada manusia dan binatang yakni perubahan di sistem hormon, perubahan dalam perkembangan janin, mengurangi kapasitas reproduktif, dan imunosupresi (suatu tindakan untuk menekan respons imun) Kelompok Greenpeace mengklaim, “Menurut gambaran WHO (World Health Organization), sebagian kecil dioxin yang besarnya seperti sebutir beras, jika didistribusikan secara merata dan secara langsung ke publik, sama dengan dosis tahunan ‘yang diijinkan’ bagi satu juta orang.”

Hasil googling saya yang lain ga kalah seremnya, disposable diaper ternyata dapat menyebabkan pria mandul. Ceritanya ada di sini.

Nah sekarang tergantung kita..masih mau memakai disposable diaper kah ? Jawabannya adalah tidak untuk saya. Tetapi beralih ke popok kain tradisional juga bukan pilihan terbaik untuk saya. Sampai akhirnya saya googling lagi dan menemukan cloth diaper. Popok kain dengan kemampuan hampir sama dengan disposable diaper.

Huhuy, akhirnya Cici bisa bebas pospak dan tetep simpel :p. Minggu kemarin saya mencoba membeli satu  cloth diaper merk Bumwear. Alasannya sederhana, menurut review banyak Ibu - Ibu di internet katanya Bumwear masih paling oke kualitasnya. Kalau dibandingakan produk sejenis buatan USA ya ga kalah deh, harganya juga kurang lebih sama. Selain itu menurut saya karena Bumwear buatan Singapura setidaknya kita membantu mengurangi penggunaan energi fosil untuk mengangkut diaper - diaper tersebut dari USA, andai kita membelinya.

Nah hasil trial Cici selama 2 kali pakai adalah : OKE BANGET. Cici suka dan tampak nyaman memakainya. Ga bocor walau udah pernah di pup-in ma Cici. Nyucinya juga gampang dan motifnya lucu - lucu. Jadi berencana mau beli lagi, walaupun kalau untuk hitungan pertamanya memang agak mahal.

Cloth diaper yang sekarang dipakai Cici adalah jenis yang one size pocket diapers. Keterangan lebih lanjutnya ada di sini. Bisa dipakai dari baru lahir sampai sekitar umur 2 tahunan. Setiap cloth diaper terdiri dari dua bagian : pocket dan insert. Harga 1 pocket = 27 SGD dan harga 1 insert = 7 SGD. Tampak mahal memang, tapi sebenarnya ini investasi jangka panjang, mahal di awal.

Kira - kira setiap bayi memerlukan 4 pocket dan 4 insert setiap hari, berarti minimal perlu 8 pocket dan 8 insert. Dengan asumsi sesudah digunakan langsung dicuci dan dijemur. Berarti modal awal yang diperlukan :

pocket = 8 buah x 27 SGD = 216 SGD = sekitar 1,5 jt 

insert   = 8 buah x 7 SGD = 56 SGD =  sekitar 400 rb

Total 1,9 jt untuk 2 tahun dan si bumwear lucu ini bisa digunakan untuk adiknya Cici. Masih jauh lebih murah dari pemakaian disposable diaper yang 4.8 jt untuk 2 tahun. 

Sip..seneng banget deh, akhirnya nemuin solusi hemat, sehat dan hijau untuk diaper Cici. Sekarang lagi nyari yang mau order bareng si bumwear ini, kira - kira ada ga ya yang mau pesen juga. Banyak juga sih yang jual online di internet, tapi  kalau beli langsung bisa jauh lebih murah harganya. Yuk yang mau beli bareng kontak saya yah. Lebih banyak yang beli InsyaAllah lebih murah :).

O, iya ini ada foto Cici bergaya dengan Blue Dino - nya..lucu kan hi hi..Bunda-nya narsis.

No comments:

Post a Comment