Pages

Friday, January 12, 2007

Epigram

Dari Epigram, halaman 310 - 312

Salah seorang tetangganya dulu di Kampung Lembang memiliki sawah yang sangat luas di Subang. Kris melihat orang itu selalu disibukkan segala urusan sawah yang meskipun digarap orang lain, tidak jadi lebih mudah. Petani penggarap itu lalu menjadi masalah baru untuknya, setoran gabah yang sering kurang tiap panen dengan alasan hama, harga pupuk yang naik, dan seterusnya.

Orang tua Adun pernah berkunjung ke Bandung dan di mata Kris, ibu Adun tampak kerepotan sekali dengan mobil mewahnya. Mengeluh karena macet, angkot yang hampir menyerempet, dan seterusnya. Sopirnya sudah sangat enggan membawa mobil itu karena selalu dicekam ketakutan mobil tersebut akan mendapat masalah di jalan, terutama karena gerutuan atau teriakan panik Ibu Adun di jok belakang.

Berbeda dengan Adun, sang anak. Suatu hari Land Rover-nya diserempet angkot yang nyalip dari kiri. Adun kaget sebentar lalu melambatkan mobil. Angkot juga tampak melambat dengan sopir yang mulai panik karena adanya dua kemungkinan : pengemudi Land Rover dan teman - temannya akan bicara baik - baik untuk meminta ganti rugi kerusakan yang pasti besarnya di luar kemampuannya, atau malah para anak muda itu akan mengeroyoknya. Tapi Adun melambatkan mobil hanya karena kaget, setelah kembali tenang ia cuma melambaikan tangan pada sopir angkot yang wajahnya masih tampak pucat. Teman - temannya pun mengira Adun berhenti untuk melakukan hal yang umum, menuntut ganti rugi. Mereka memprotes  sikap Adun yang tidak mengambil tindakan apa - apa terhadap si sopir angkot.

Dengan kalem Adun bilang, " Aaah, sudahlah, cuma bodi mobil. Bukan bodiku."
"Mentang - mentang banyak duit, ya ? Mobil diserempet orang nggak minta ganti...."
"Kamu takut sama sopir angkot, Dun ? Aku siap bantuin ngeroyok tuh sopir sialan!"

Adun tertawa. "Itulah yang bikin kalian hidup susah dan tak punya pacar, karena hati kalian dipenuhi benda mati. Mobil keserempet orang aja dimasukin hati."

"Maksudmu apa ? Hei, Kris, kamu apain tuh si Adun ? Kok ngomongnya ngawur gitu. Jadi gila kayak kamu, ya?"

Kris yang duduk di belakang cuma tertawa. Ia sendiri tidak tahu kenapa Adun membiarkan saja kejadian barusan. Ia tertawa hanya karena pertanyaan itu.

Adun juga ikut tertawa. Lalu, "Asal tahu saja, hati itu tempat menyimpan hal - hal indah,seperti cinta dan pacar. Mobil butut kok dimasukin ke hati!"

"Kamu bisa bicara yang lebih sederhana?"

"Maksudku, kan yang keserempet cuma mobil. Kenapa sih harus marah? Apalagi sakit hati? Urusannya apa ? Tersinggung dan terhina karena harta kita terusik orang ? Apa karena bakal keluar duit buat benerin ? Cuma penyok dikit, kenapa harus dibikin bagus lagi? Nggak juga nggak akan dimarahi polisi apalagi Tuhan. Orang juga akan tua dan mati. Tuh kihat si Kris, jumat lalu sepatu barunya dicuri orang usai jumatan. Dia malah tertawa. Padahal dia lebih miskin dari orang termiskin di Abu Dhabi!"

Gara - gara nungguin logging jadi ga enak tidur, akhirnya baca ulang buku ini. Terinspirasi tulisan yang sama. Hidup ga usah dibikin susah, jagalah hati  :)

No comments:

Post a Comment