Pages

Friday, February 1, 2013

The Help

Awal bulan lalu saya baru saja membaca sebuah buku yang sangat menarik, The Help. Sebuah novel yang ditulis oleh pengarang Amerika, Kathryn Stockett. Buku lumayan tebal, 500 + halaman yang saking penasarannya tamat dalam 1 minggu.

Ceritanya ber-setting tahun 1960 an di kota Jackson, Mississippi. Tiga wanita berbeda warna kulit bergabung dan menuliskan kisah para wanita kulit hitam yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota Jackson. Pada jamannya ini bukanlah hal yang mudah, saat itu di Amerika santer sekali isu isu perbedaan warna kulit, jauh berbeda dengan kondisi saat ini.

Uniknya ide menuliskan kisah tersebut datang dari Skeeter Phelan, wanita kulit putih berusia 22 tahun, terpelajar dan personally dia memiliki kenangan dan pertanyaan tak terjawab tentang Constantine Bates, pembantu kulit hitam yang mengasuhnya sejak kecil, namun menghilang ketika Skeeter berkuliah di luar kota.

Dalam penulisan bukunya diceritakan bahwa Skeeter dibantu oleh 2 orang kulit hitam : Aibeleen Clark dan Minny Jackson. Aibeleen seorang tua yang bijaksana, bekerja mengasuh gadis kecil yang diabaikan oleh ibunya sendiri. Sedangkan Minny, sahabat karib Aibeleen, pendek gemuk dan besar mulut, bersuamikan pemabuk berat yang gemar memukulinya. Minny bekerja pada wanita kulit putih yang paling tidak populer di kota Jackson.

Saya sangat suka cara Kathryn menuliskan buku ini dalam 3 sudut pandang yang berbeda : Skeeter, Aibeleen dan Minny. Ia menuliskan dengan sangat detil, banyak fakta tetapi tetap tidak membosankan. Tidak heran kalau di Amerika buku ini berada dalam daftar best seller berdasarkan versi The New York Times selama lebih dari 100 minggu. Hingga saat ini telah dipublikasikan di 35 negara, 3 bahasa, dan sampai Agustus 2011 telah terjual sebanyak 5 juta kopi. Wow. Padahal buku yang ditulis oleh Kathryn selama 5 tahun ini sempat ditolak oleh 60 agent, sebelum akhirnya berhasil diterbitkan. Dan pada tahun 2011 film adaptasi dengan judul yang sama juga telah diluncurkan. Jadi bukunya sendiri sangat menarik, silakan membaca atau menonton filmnya ya.

Selesai membaca buku ini saya agak tersentil, lupakan Amerika, lupakan masalah kulit hitam itu, dan cobalah tengok keaadan rumah tangga di Indonesia saat ini. Mungkin tidak Indonesia, cukup Jakarta dulu deh :) Masalah PRT alias ART alias babysitter sepertinya sudah jadi santapan setiap hari. Mulai dari ART minta pulang mendadak, yang pacaran, yang nyolong, yang ga bisa dibilangin, yang makannya banyak, semua lengkap hehe.

Semakin banyaknya jumlah wanita bekerja di luar rumah berbanding lurus dengan kebutuhan ART yang semakin meningkat. Setiap rumah minimal 1 ART, kalau anaknya 2 biasanya 2 ART, belum lagi supir, belum lagi tukang kebun, kalau masih ada anak bayi pasti ada babysitter. Banyak ya. Bagaimana gaji mereka ? Selain supir dan babysitter berpengalaman sepertinya gaji ART masih di bawah UMR, berkisar di angka 500 - 700 rb an per bulan. Miris sebenarnya.

Banyak ART ga bener tapi sebenernya banyak juga ART baik, dan sebetulnya kita disini sangat dimanja ya oleh mereka. Gaji murah, kerja bisa sampai 24 jam sehari, kadang tanpa libur dan bisa disuruh apa saja. Bandingkan dengan gaji house maid di luar sana yang bikin ga pengen punya pembantu. Sesungguhnya kita di Indonesia sangat manja.

Saya sendiri saat ini punya 2 asisten, tuh banyak kan ya :p . Satu orang bernama Ibu Sum, ART pulang hari yang bekerja di rumah kami sejak Maret 2012 lalu, tugas utamanya membersihkan rumah, mengepel, cuci baju, setrika, dan kadang - kadang saya mintai tolong untuk memasak bila saya tidak sempat memasak di pagi hari. Ibu Sum biasanya datang jam 8 - 9 pagi dan pulang ketika pekerjaannya selesai di jam 12 - 1 siang. Selain Ibu Sum ada 1 ART menginap, Yayah namanya. Yayah ini bekerja di rumah kami sejak Agustus 2012 lalu. Masih kecil sekali, umurnya 14 tahun, sekolahnya berhenti di kelas 1 SMP. Tugas utama Yayah menemani Cici bermain ketika kami tidak ada di rumah. Dan sesekali membantu pekerjaan Ibu Sum. So far kami merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka. Walau ada saja cerita lucu karenanya.

Sampai Cici berumur 2.5 tahun kami hanya punya ART pulang hari. Tetapi ketika Cici mulai sekolah kami akhirnya menyerah untuk mengambil 1 ART lagi untuk menemani Cici ketika kami berada di luar rumah. Daripada anak kecil ini kebanyakan bolos sekolah karena ikut Bunda ke Daycare :p Kapan ya berhenti punya ART ? Sepertinya masih cukup lama, minimal menunggu Cici cukup mandiri dan bisa ditinggal sendiri di rumah. Pekerjaan rumah tangga masih bisa dikerjakan sendiri, tapi tentang Cici yang belum ada solusinya.

Sebetulnya sampai saat ini saya masih berfikir kalau pekerjaan ART yang menginap di rumah itu tidak manusiawi. Mereka terputus dari keluarganya, bekerja melayani kita. Hmm serba salah memang, di sisi lain mereka perlu bekerja untuk menghidupi keluarganya. Tetapi pemerintah sepertinya perlu melihat dan membuat aturan tentang pekerjaan ART. Walau jadi mahal xixixi, saya setuju kalau ART digaji sesuai UMR, punya aturan yang jelas, hak yang jelas dan sebagainya. Bagaimanapun mereka manusia lho. ga selamanya juga jadi pembantu.

Sebagai majikan kitapun harus berempati sepertinya. Saya teringat seorang teman yang selalu menyekolahkan ART nya, dari awal setiap ART nya diultimatum bahwa mereka hanya boleh bekerja sebagai ART maksimum 2 tahun saja. Setelah itu mereka harus mandiri, mencari pekerjaan yang lebih baik. Alhamdulillah, ART teman saya itu sekarang sudah ada yang jadi guru TK. Majikan hebat dan pembantu hebat, mau merubah nasib. Mungkin saya harus mulai mencontoh. Siapa tahu Yayah mau sekolah lagi.

2 comments:

  1. tersedak waktu baca yg terakhir....iya ya mak...seharusnya ART setelah bekerja dengan kita mereka mandiri...tdk selamanya menjadi ART...

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi dilema juga sih Mak, ga semua ART juga mau maju
      idealnya sebenernya kita hidup tanpa ART ya hiks hiks

      Delete