Pages

Saturday, December 8, 2012

Bidadari Bidadari Surga

Weekend kali ini kami main ke mall, tujuan utamanya adalah memotong rambut anak kecil kriwil bernama Cici. Tujuan berikutnya adalah nonton film kalau ada yang bagus, maklum ternyata sudah lama juga kita ngga nonton di bioskop.

Ternyata 6 Desember kemarin adalah pemutaran perdana-nya Bidadari Dari Surga, film yang diadaptasi dari buku berjudul serupa yang ditulis oleh Tere Liye. Cocok, betulan wajib tonton. Saya adalah penggemar Tere Liye. Buku - bukunya saya koleksi, walau belakangan ceritanya agak "dangdut" sedikit.

Singkat cerita film ini bagus, dibandingkan Hafalan Sholat Delisa, film Bidadari dari Surga jauh lebih cantik, sinematografinya bagus, dan cukup bisa mewakili isi bukunya secara keseluruhan.


Nirina Zubir cocok sekali memerankan Kak Laisha. Nirina yang cantik bisa berubah menjadi Kak Laisha yang hitam, berambut keriting, agak pincang dan bungkuk. Penghayatan sempurna. Pemeran lainnya juga ok, secara keseluruhan filmnya enak ditonton.

Bidadari - Bidadari Surga menceritakan kehidupan Laisa dan keluarganya di Lembah Lahambay. Mereka adalah keluarga miskin, ayah mereka meninggal diterkam harimau ketika Yashinta, anak paling kecil masih di dalam kandungan.

Sebagai anak tertua dari lima bersaudara maka Laisa mengambil alih tanggung jawab Ayahnya untuk merawat Ibu dan adik - adiknya : Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta. Mereka bekerja keras, berja di ladang, menyadap karet di hutan, mengambil kayu dan masih banyak lagi.

Laisa terlahir tidak sempurna, tidak rupawan seperti adik - adiknya. Tapi hatinya rupawan, berkemauan keras, rajin bekerja dan cerdas. Laisa dengan ide perkebunan strawberry-nya berhasil membawa perubahan bagi keluarga dan kampung tempat tinggalnya. Keluarga miskin itu akhirnya hidup berkecukupan. Dalimunte berhasil menjadi profesor, dan adik - adiknya yang lain juga telah selesai kuliah dan bekerja.

Sayangnya Laisa sulit menemukan jodoh, hingga akhirnya Dalimunthe harus menikah terlebih dahulu, melangkahi Laisa. Merasa sangat bersalah Dalimunthe berusaha mencarikan jodoh untuk Laisa. Selalu gagal, pria - pria yang dikenalnya selalu mundur setelah melihat foto Laisa yang tidak menarik. Hingga Dharma yang telah beristri akhirnya juga mendekati Laisa. Dharma diminta istrinya menikah kembali karena dia tidak bisa memberikan keturunan, dan Laisa adalah wanita yang dipilih oleh istrinya. Nampaknya Laisa juga jatuh hati dengan Dharma, sayangnya lagi - lagi pernikahan itu gagal. Istri Dharma ternyata hamil, dan berita itu didengarnya tepat sebelum ijab kabul dengan Laisa, kembali Laisa harus menangis.

Di akhir cerita dikisahkan bahwa Laisa menderita Kanker Paru - Paru, dan akhirnya meninggal dunia. Tetapi Laisa pergi dengan bahagia : "Laisa senang Mak, karena Laisa punya kehidupan yang bahagia". Ya, Laisa bahagia melihat adik - adiknya sukses dan bahagia, Mak-nya bahagia bersama Menantu dan Cucu, walaupun dirinya sendiri selalu bersedih.

Banyak pesan bagus yang disampaikan di film ini. Walaupun jodoh semata - mata adalah rahasia Allah tapi bukan rahasia apabila penampilan fisik sangat mempengaruhi proses perkenalan dua manusia untuk kemudian jatuh hati.

Laisa memang tidak cantik rupanya, tapi hatinya cantik. Tapi tetap saja dia tidak laku, pria - pria langsung mundur melihat fotonya yang tidak menarik. Bahkan dikisahkan seorang Ustadz yang dalam ceramahnya jelas - jelas menyatakan pentingnya mencari istri yang cantik hati. Dalimunthe berharap lebih kepada Ustadz ini dan bermaksud menjodohkannya dengan Laisa. Ternyata sama saja, dikisahkan sang Ustadz mengucapkan MasyaAllah ketika bertemu Laisa pertama kalinya. Sindiran halus sekali bagi kaum pria :)

Bravo Tere Liye, tetap berkarya dan tetap menginspirasi.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment