Pages

Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Wednesday, December 12, 2012

Dendeng Batokok Siulak Deras

Dendeng adalah salah satu masakan olahan daging yang populer di Indonesia. Lain lubuk lain belalang, setiap daerah ternyata punya resep dendeng yang berbeda - beda. Ketika mendengar kata dendeng yang terbayang di benak saya adalah irisan tipis daging yang sudah dikeringkan, cenderung manis dan beraroma ketumbar. Harganya cukup mahal, sering dijadikan bekal naik gunung dan biasanya hanya digoreng sebentar saja di minyak panas.

Ada juga dendeng khas Rumah Makan Padang, salah satu favorit saya adalah dendeng Uni Upik - Rumah Makan Padang di bilangan Kebagusan, di dekat kantor saya. Daging kering yang disantap dengan bumbu merah balado. Enak tapi tidak terlalu istimewa untuk saya. Rendang dan ayam setan-nya lebih menarik hati.

Bagaimana dengan Dendeng Batokok ? Harus saya akui inilah juaranya dendeng. Dendeng Batokok Siulak Deras, Kabupaten Kerinci, Jambi. Juli lalu kami sempat mampir disini, makan siang yang terasa nikmat sekali, apalagi setelah 3 hari di gunung berteman dengan nasi setengah matang :)

Siang itu kami sedang dalam perjalanan menuju Danau Kerinci, perjalanan masih jauh dan kami semua kelaparan. Pak Supir menyarankan kami makan siang di Siulak Deras, konon Dendeng Batokok-nya paling enak dan asli. Kami tentu setuju.

Ternyata semua rumah makan di dekat Pasar Siulak Deras berjualan dendeng, dan semua memasang label ASLI, ho ho lalu mana yang palsu. Pak Supir memilih rumah makan paling ujung, kecil dan sederhana saja, katanya ini yang asli, lagi - lagi kami setuju saja.

RM Dendeng Batokok Asli yang paling ASLI
Jam makan siang sudah lewat, tapi rumah makan ini penuh, pertanda masakannya memang enak. Tidak ada buku menu. Pelayan rumah makan langsung menghidangkan nasi putih di dalam mangkuk besar, rendang, keripik singkong, saus merah seperti sambal ayam pop, gulai ikan, gulai nangka dan tentu saja hidangan utamanya : irisan daging panggang yang masih dijepit di dalam panggangan, Dendeng Batokok.

hidangan di RM Dendeng Batokok Asli
Lho kok dendengnya tidak kering ? ternyata inilah ciri khasnya. Dendeng Batokok ini empuk sekali, juicy dan tidak alot. Berbeda dengan saudaranya Dendeng khas Minang yang cenderung kering. Tekstur Dendeng Batokok lebih mirip steak yang dipanggang medium, bedanya daging yang ini sudah matang betul. Bumbunya meresap, enak dan segar. 

Dendeng Batokok Siulak Deras
Nama Batokok sendiri mempunyai arti, dalam Bahasa Kerinci artinya dipukul - pukul. Sebelum dipanggang daging yang sudah dibumbui akan ditokok atau dipukul - pukul pelan agar pipih dengan menggunakan palu. Mungkin inilah rahasianya sehingga dagingnya matang sempurna dan tidak alot.

Makan siang nikmat itu ditutup dengan es sirup kayu manis, segar. Sirup kayu manis sendiri adalah salah satu   hasil unggulan dari Kerinci. Selama ini Kerinci memang dikenal sebagai salah satu penghasil kayu manis terbesar di Indonesia. Konon Dendeng Batokok akan lebih nikmat bila dipanggang di atas batang kayu manis, hmmm harum. 

wajah - wajah kelaparan, perbaikan gizi setelah mendaki gunung
Hingga saat ini saya masih penasaran dengan resep Dendeng Batokok ini, ada beberapa resep beredar di internet tapi belum pernah saya coba. Yang jelas memasaknya perlu kesabaran. Beruntung saya bertemu dengan Ibu-nya Edo - tetangga saya yang asli Kerinci. Beliau bercerita mengenai proses pembuatan Dendeng Batokok. Minimal diperlukan waktu 1 malam untuk merendam irisan daging didalam air kelapa dan bumbu. Bumbunya sederhana saja : bawang putih, ketumbar, dan jahe yang dihaluskan. Daging dan air rendamannya direbus sampai empuk, baru ditokok dan dipanggang sampai kecoklatan. Nampak mudah, mari dicoba :)

Nama    : RM Dendeng Batokok Asli
Alamat  : Siulak Deras, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
Harga    : +/- IDR 30k per orang, termasuk minum, nasi double portion dan lauk pendamping
Rumah makan sederhana, buka siang hari

All photos were taken by my husband - Helmy Noermawan. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Sunday, December 9, 2012

Ketinggalan Pesawat dan Half Road Trip : Jakarta - Mataram

Sampai saat ini berangkat ke bandara selalu sukses bikin saya deg - degan, bukan apa - apa, ogah aja ketinggalan pesawat. Tiket memang bisa di refund, tapi jadwal perjalanan molor pasti bikin ngga enak.

Traffic menuju Bandara Soekarno Hatta memang paling bikin jantungan, ngga bisa diprediksi. Demo, banjir, dll selalu sukses membuat kemacetan. Apalagi mengingat rumah saya jauh di Kabupaten Bogor sana, lebih baik nunggu di bandara berjam - jam daripada telat.

Tapi gimana dong kalau ke bandara-nya pulang kantor alias baru bisa berangkat jam 5 sore dan flightnya jam 8 malam ? Teorinya sih harusnya ga telat ya, seharusnya TB Simatupang - Soekarno Hatta bisa ditempuh dalam 1.5 jam saja, tapi ternyata ....

Sore itu teman saya Ria sudah standby di taksi, menjemput saya ke kantor dan siap berangkat ke bandara. Waktu menunjukkan jam 5 kurang, seharusnya saya sudah bisa kabur. Tapi ternyata ada 1, 2 , 3, 4 dll hal yang harus diselesaikan dulu. Menjemput Cici di daycare dan akhirnya kami bertiga duduk manis di taksi bersama 2 carrier besar, 2 daypack, 2 travel bag jumbo dan 2 travel bag mini. 

Jam 5.30 kami meninggalkan parkiran dan keluar gerbang..ternyata macet. Bukan macet yang biasa dan sukses membuat shock luar biasa. Saya meminta supir taksi memutar balik dan mengambil jalan potong di belakang kantor saya agar bisa langsung masuk tol di Pasar Minggu. Lancar sebentar dan kemudian berhenti total..dududu, betul - betul tidak ada yang bisa diperbuat, maju mundur diam. Sesaat kami panik tapi kemudian santai, ah tenang..pesawatnya pasti delay seperti biasa. Masih sempatlah, kamipun sejenak melupakan kemacetan dan asik ngobrol.

Jam 6.30 kami baru masuk tol Pasar Minggu. 1 jam untuk menunggu dalam kemacetan. Suami saya menelpon menanyakan kabar, dan ikut panik mendengar kami baru masuk pintu tol. Supir taksi tanpa diperintah langsung injak gas menuju tol BSD. Dalam hati saya juga panik, kalau sampai ketinggalan pesawat   gimana ya ? dan lagi - lagi dengan tenangnya kami bilang : tenang, pesawatnya pasti delay.

Jam 7.30 kami memasuki tol bandara, strategi mulai disusun. Normalnya kami sudah tidak bisa check in. Penerbangan domestik akan menutup counter check in 30 menit sebelum keberangkatan. Tapi ya dicobalah, mau gimana lagi. Ria akan bergegas turun membawa tiket dan memastikan kita bisa check in, sedangkan saya akan mengatur barang bawaan, bagaimanapun ngga mungkin tas tas besar nan lucu ini kita tinggal.

Jam 7.50 kami tiba di terminal 1A, sesuai rencana Ria langsung berlari. Dibantu supir taksi saya menurunkan barang - barang, memanggil porter dan menggendong Cici yang tertidur. Harap harap cemas menunggu kabar dari Ria, walaupun jelas terdengar public announcement, panggilan terakhir penumpang pesawat dari Jakarta  tujuan Lombok. Hingga akhirnya HP saya berbunyi, panggilan masuk dari Ria : "Udah ngga bisa Mba, udah final call". Haha ya sudahlah, kami ketinggalan pesawat, tiket promo kami hangus, tidak bisa direchedule dan hanya bisa refund 10%.

Strategi berikutnya dilancarkan, Ria menggendong Cici sambil menunggu barang dan saya mencari tiket. Tujuan pertama Lombok, besok pagi pun tak apa. Kami rela semalaman tidur di bandara. Tapi ternyata oh ternyata, tidak ada. Semua full sampai 1 minggu kemudian, bahkan ke Bali-pun tak ada. Para calopun menyerah, bisa - bisanya mereka ga punya tiket. Kalaupun ada mereka menawarkan tiket malam ini ke Surabaya naik Garuda last flight yang harganya 2.5 juta per orang. Hadeuh, mending saya pulang Om.

Jam 8.45, di depan counter Citilink di terminal 1C, akhirnya saya berkenalan dengan calo yang menawarkan tiket ke Surabaya dengan harga lebih murah daripada di counter. Last flight jam 09.40 hanya 800 rb saja, sedangkan di counter harganya 1.1 juta. Ya sudahlah sepertinya itu pilihan terbaik, daripada ngga ada kan.

Jam 9 malam, saya kembali ke terminal 1A, menjemput Cici dan Ria. Kembali ke terminal 1C dan beli tiket untuk Cici di counter Citilink, 750 rb. Lagi - lagi public announcement memanggil penumpang ke Surabaya. Haduh, panik attack lagi, jangan sampai dong ketinggalan pesawat keduakalinya.

Ditemani rekanan calo (baca : petugas bandara) kami serasa pejabat dikawal naik pesawat. Tiket atas nama Winarto, haloooo Ibu Winarto, bagasi segambreng bisa check in, sampai motong antrian bayar airport tax :) maafkan kami Bapak Ibu ho ho.

Bapak petugas yang saya lupa namanya itu benar - benar memastikan kami naik ke pesawat, sempat - sempatnya bersalaman dan pamit. Haha, pertama kalinya saya benar - benar bersyukur tinggal di Indonesia dengan segala keajaibannya. 

Pesawat berangkat tepat waktu, syukurlah. 1 jam penerbangan ke Surabaya kami pakai tidur, Cici untungnya juga tertidur setelah protes kelaparan dan ngga dapat makan di pesawat. Maafkan Bunda Nak.

Jam 11.40 kami tiba di Djuanda, Surabaya. Setengah memaksa saya membangunkan Cici yang tertidur nyenyak, untungnya anak baik mau bangun sendiri dan berjalan kaki. Ria mengambil barang dan saya mencoba mencari rentalan mobil di luar. Taksi resmi bandara pasang tarif 950 rb ke Banyuwangi, terlalu mahal. Lagipula kami ngga yakin naik sedan untuk perjalanan malam keluar kota, barang banyak pula.

Seorang Mas - mas menawari saya rental mobil avanza, 900 rb - 800 rb - 700 rb dan akhirnya saya berhasil di harga 650 rb. Kami segera menuju parkiran, loading barang dan duduk manis di dalam mobil. Ngga pakai lama mobil segera meluncur meninggalkan bandara, tiba di kantor travel dan kami disuruh pindah mobil..lho lho apa maksudnya nih. Tadi di bandara kami dijanjikan hanya memakai mobil ini untuk kami bertiga, tiba - tiba sekarang kami disuruh pindah mobil dan ada 1 penumpang tambahan.

Jam 00.30 dan saya malah debat kusir dengan bapak - bapak pengurus travel, pasalnya saya minta turun harga, minimal sama dengan harga yang dibayar Mas - Mas penumpang tambahan, 150 rb seorang. Bapak travelnya menolak, alasannya tadi sudah deal di 650 rb. Lha tapi kan ngga pakai ada tambahan penumpang Pak. Akhirnya setengah kesal (sepertinya hehe) mereka setuju di harga 550 rb untuk kami bertiga. Baiklah. O iya, ternyata Gantara Tour&Travel ini bisa dipesan lewat telpon lho, lumayan juga kalau kapan - kapan perlu. Nomor telponnya : 031-31120164. Alamatnya di By Pass Juanda Baru no 9. Nanti bisa janjian dijemput di bandara juga.

Perjalanan dimulai, tujuan kami kali ini adalah Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, ujung timurnya Pulau Jawa. Menurut Pak Supir kami bisa tiba sekitar jam 5 - 6 pagi. Beruntunglah Mas Mas yang tadi sempat kami jutekin ternyata orangnya baik, sepanjang perjalanan dia berusaha mengajak kami mengobrol, dan yang lebih penting juga mengajak Pak Supir mengobrol, biar ngga ngantuk.

Sekitar jam 2 malam mobil berhenti sebentar untuk makan malam, akhirnya. Cici sudah tertidur, padahal dia kelaparan. Akhirnya hanya kami berdua yang makan, Ria pesan nasi pecel ayam dan saya pesan capcay. Lumayan enak juga dan ngga terlalu mahal.

Jam 5 pagi kami tiba di Glenmore, Banyuwangi. Lucu ya namanya Glenmore, matahari sudah tinggi sekali. Dan ternyata pemandangan di luar indah sangat. Belakangan saya baru tahu, ternyata nama Glenmore ini diambil dari nama perkebunan tembakau di daerah ini. Sebuah nama yang berasal dari Irlandia atau Skotlandia. Keren.

Jam 6 pagi kami tiba di Ketapang. Alhamdulillah. Barang - barang diturunkan dan seorang Bapak yang baik hati membantu mencarikan porter untuk membawa barang ke kapal. 3 orang porter, tarifnya 10 rb per orang.

Kami langsung membeli tiket dan naik ke feri. 6000 saja per orang, murah. Barang - barang kami taruh di dekat tangga, dan kami naik ke dek, mencari tempat duduk, sarapan nasi rames 5000 per bungkus. Cici lapar tapi sayang lauknya pedas. Feri yang kami tumpangi pagi itu kosong, leluasa kami bisa memilih tempat duduk. Dan tidak menunggu lama kami segera berangkat. Di luar pemandangan indah, langit biru, air laut hijau tosca, puncak Raung di kejauhan, sempurna.

Selat Bali, puncak Raung di belakang sana
Cici sudah aktif kembali, sibuk berjalan - berjalan mengelilingi kapal. Dan tetep protes karena lapar, untung susu kotak bisa jadi pengganjal yang ampuh.

Seorang Bapak yang duduk di bangku depan mengajak kami mengobrol, dia menanyakan tujuan kami dan tanpa basa-basi menawari kami untuk menumpang truknya sampai Denpasar. Hmmm ide bagus, setidaknya di Denpasar akan lebih mudah. Lagipula kami tidak yakin akan dapat sewaan mobil di Gilimanuk. Kami masih menunggu kabar dari teman yang mencarikan tiket pesawat Denpasar - Mataram, walaupun harapan kecil, tapi harus dicoba kan.

keluarga kecil dan bahagia, 1 anak cukup
Sebelum merapat saya segera turun ke bawah dengan Pak supir truk, loading barang - barang dulu ke atas truk. Kerjabakti kami berdua menaikkan barang ke atas truk, berat juga ternyata. Beberapa saat kemudian Cici dan Ria menyusul turun, dan kami bertiga duduk manis di dalam truk.

siap - siap naik truk
Jam 8.30 pagi waktu Indonesia Tengah, kami tiba di Gilimanuk. Sedih juga mengingat perbedaan waktu 1 jam antara Indonesia Barat dan Indonesia Tengah, kami sudah kehilangan waktu 1 jam. Tapi akhirnya terlupakan, tujuan berikutnya adalah tiba di Denpasar secepat mungkin.

truk yang kami tumpangi - Pelabuhan Gilimanuk
Perjalanan menuju Denpasar cukup menyenangkan, kami melawati Taman Nasional Bali Barat, menyejukkan. Cici kegirangan melihat banyak sekali sapi dan monyet di pinggir jalan. Karena mengantuk akhirnya saya dan Cici tertidur, tinggallah Ria mengobrol dengan Pak Supir, sepanjang jalan haha.

Pencarian tiket pesawat nihil, semua flight ke Mataram penuh. Alternatif kedua adalah kapal cepat, saya pesan tempat via telpon di Perama. Tetapi kapal terakhir berangkat jam 1 siang dari Padang Bai, lagi - lagi sepertinya tidak mungkin. Baiklah, pilihan terakhir adalah menyebrang dengan feri dari Padang Bai menuju Lembar.

Jam 1 siang kami tiba di terminal Mengwi, Denpasar. Ria akhirnya berpisah dengan Pak Supir yang terus menerus berusaha meminta no telpon Ria haha. Barang - barang kembali diturunkan dan kami berpisah dengan Pak Supir truk disini. Terimakasih banyak Pak.

Kami menyewa 1 APV untuk mengantar kami ke Padang Bai, 250 rb sekali jalan, tarif resmi, APV baru. Di Denpasar kami sempatkan mampir ke Mc Donald, sebelum anak kecil ini menjadi galak hoho. Di dalam mobil Cici kegirangan : " Enak Bunda, sekarang adem"  haha. Betul juga.

dari truk ke APV baru
Jam 2.30 siang kami tiba di Padang Bai. Panas terik. Tanpa banyak berharap saya menanyakan jadwal kapal cepat kepada para calo yang menyambut kami. Sudah berangkat jam 1 siang tadi, dan kapal berikutnya besok pagi. Bye bye fast boat.

Kami segera membeli tiket feri di loket, 35 rb untuk dewasa. Tawar -tawaran harga lagi sama porter, dan deal di harga 50 rb. Bergegas kami menuju feri, berharap bisa langsung naik dan berangkat. Ternyata tidak ada kapal. Melayanglah harapan bisa tidur siang di kapal, kami masih harus menunggu kapal tiba dari Lembar, entah kapan.

Akhirnya kami duduk - duduk saja di pintu masuk, menunggu. Cici seperti biasa mondar - mandir ngga bisa diam. Sedangkan kita berdua sudah mengantuk berat.

Jam 4.30 sore, kapal yang dinanti tiba. Bergegas kami naik ke kapal, memblok 1 deret bangku dan lagi - lagi menunggu. Kapalnya ngga berangkat - berangkat. Ria sudah ketiduran, Cici juga ikut tertidur dan mau ngga mau saya bangun menjaga barang - barang.

Bukan saja lambat berangkat, ternyata kapal ini juga lambat sangat. Padahal laut tenang, harusnya bisa ngebut kan. Benar - benar ujian kesabaran.

Jam 10.30 malam, akhirnya kami tiba di Lembar..Pulau Lombok, akhirnya. Porter - porter kembali membantu kami membawa barang dan mencarikan mobil. 100 rb sewa mobil dari Lembar ke hotel kami di Mataram. Perut lapar, mengantuk, pengen mandi tapi bahagia..kami tiba di Lombok :)

Jam 11.15 malam, kami sudah di kamar. Seharusnya 24 jam sebelumnya kami sudah tiba disini, turun dari pesawat yang membawa kami dari Jakarta . Setidaknya kami hanya terlambat 24 jam saja.

Perjalanan selanjutnya di Lombok dan Bali penuh cerita. Belajar dari pengalaman sebelumnya kami tidak mau lagi ketinggalan pesawat Denpasar - Jakarta. Syukurlah walau jalanan macet, ribut lagi sama porter dan lainnya lainnya, kali ini kami tidak terlambat :)

see you in the next trip
Lesson learned :
  • Ketinggalan pesawat itu ga enak, rugi waktu dan pastinya rugi uang, jadi berdoalah yang banyak agar ga kena macet dalam perjalanan ke bandara, agar ga ketemu porter yang sukanya rebutan trolley dan berdoalah agar pesawat delay sesuai keperluan kita
  • Web check in kadang sangat berguna, sempatkan untuk web check in agar tinggal drop bagasi saja di bandara
  • Pilihlah teman seperjalanan yang asik, yang bisa jadi baby sitter, jadi porter sekaligus menjadi teman
  • Every journey has their own story, nikmati sajalah :)
#Trip with friends, November 2012

All photos were taken by me and my friend - Ria Lestari. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Friday, November 2, 2012

Nostalgila Balikpapan

Hari ini malam kedua dari kunjungan saya di Balikpapan. Akhirnya kembali kesini lagi setelah 5 tahun dan 2 bulan. Bukannnnn, bukan kembali kerja disini, mampir aja kok.

Sore tadi sempat nostalgila keliling Balikpapan setelah urusan pekerjaan selesai. Kesimpulan saya Balikpapan memang jauh berubah, maju sangat pesat, tapi sayangnya berantakan. Hotel baru bermunculan dimana - mana, bioskop aja ada 3, jangan lupa 2 Starbucks dan juga Mc Donald yang buka 24 jam. Padahal 6 tahun yang lalu satu-satunya bioskop hanyalah Gelora yang sambil nonton dapat bonus garuk-garuk. Mau nonton 21 ya naik mobil dulu 2 jam ke Samarinda, sekalian makan Mc Donald. Sekarang semua ada disini, semua lengkap, ga perlu lagi bawa oleh - oleh Roti Boy atau bahkan Dunkin Donut ke Balikpapan.

Gorengan Taman Bekapai
Saya menginap di Novotel, hotel baru di dekat Taman Bekapai, taman yang dulu sempat jadi tempat nongkrong kami kalau lagi pengen ngerasain jadi Anak Gaul Balikpapan. Disana masih ada pedagang kaki lima yang mulai buka lapak sore hari. Mulai dari es buah, juice, bakso pangsit, soto ayam, sate hingga gorengan di pojok kiri. Yang terakhir ini favorit kami, terutama pisang goreng dan sambal pedasnya. Mantap. Tadi malam saya sempat mampir kesana dan ngobrol dengan Ibu penjual gorengan. Ternyata beliau sudah jualan 12 tahun, dan kata beliau saya masih mau jualan 15 tahun lagi disini, kalau ada umur..amin Bu.

Harga gorengannya 1000 rupiah, kecuali Tahu Isi 2000. Ada Pisang Goreng, Bakwan Udang, Pangsit Goreng, Tempe Goreng, dan Singkong. Jangan lupa saucenya, sambal pedes manis yang khas.

Gorengan Taman Bekapai, total 5000 saja





Coto Makasar Haji Kasim di Klandasan
Orang Balikpapan pasti tahu penjual Coto yang satu ini. Dari dulu sudah jadi langganan, enak, murah, meriah. Buka dari pagi hingga malam setiap hari dan sepertinya selalu penuh. Tadi saya mampir kesana jam 9 malam, dan selama saya duduk disana pembeli tidak pernah putus, selalu ada. Rumah makannya sederhana saja, di pinggir pantai di belakang Ruko - ruko Klandasan.

Coto Makassar H. Kasim di Klandasan
Harga per porsinya 18 ribu saja, sudah termasuk minuman, boleh pilih dan harganya sama. Plus ketupat yang boleh dimakan sepuasnya. Pilihannya coto daging, campur, campur tanpa ati, semua bisa diatur. Daging, babat dan lainnya dipotong kecil - kecil sesaat sebelum kuah coto dituang ke mangkok. 

Kuah cotonya pas, ditambah sambal dan perasan jeruk nipis makin nikmat. Kupatnya sudah dibelah dua, tinggal disendoki saja. 

Coto Makasar H. Kasim
 Act as a local, buanglah kulit ketupat ke bawah kaki anda.O iya, sebenarnya waktu paling pas menikmati Coto adalah di pagi hari, kuahnya masih fresh, dijamin paling nikmat. Makin malam kuahnya sudah mengental.

Beberapa anak kecil mencegat saya di pintu keluar rumah makan, ternyata mereka cucu - cucu Haji Kasim. " Itu Kakek saya Tante". Dan mereka berebut minta difoto, sekali, 2 kali , 3 kali dan banyak sekali. Seru juga melihat mereka kegirangan melihat hasil fotonya di display kamera.

Cucu - cucu H. Kasim
 # Business Trip, November 2012

All photos were taken by me. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Sunday, September 2, 2012

Anak Krakatau

Mungkin saya termasuk ke dalam sedikit golongan traveler yang aneh. Pasalnya saya suka sekali berkunjung untuk kedua, ketiga bahkan kesekian kalinya ke suatu tempat yang saya sukai. Setiap kunjungan pasti memberikan cerita yang berbeda, dan anehnya tidak pernah membosankan bagi saya.

Salah satu tempat yang sangat saya suka adalah Gunung Anak Krakatau. Dari dulu saya ingin sekali kesana, karena sejarah letusannya yang dahsyat, karena gengsi ngaku Geologist yang jatuh cinta pada Vulkanologi tapi belum pernah kesana, hingga alasan sederhana : karena disana memang indah.

Dulu jaman kuliah hanya mimpi mau ke Krakatau, mahal. Sewaktu sudah bekerja juga sama, kalau ikut trip kok kayanya mahal sekali ya. Hingga September 2011 yang lalu, saya bersama 30 orang teman ingin berkunjung kesana. Gagal total, saat itu Anak Krakatau aktif dan ditutup untuk aktifitas apapun. Akhirnya kami berganti rencana, berwisata ombak di perairan Selat Sunda, 9 jam perjalanan dengan kapal kayu dari Carita ke Pulau Peucang. Surga lainnya di Taman Nasional Ujung Kulon.

Juni 2012 saya kembali kesana,  kali ini bersama 30 orang teman Geoscientist dari Petronas, Malaysia. Berhasilllll, senang sekali rasanya. Akhirnya saya dapat melihat sendiri Anak Krakatau yang memang cantik. Sayangnya saat itu hujan turun sangat lebat, walhasil foto kami di puncakan nampak seperti di gunung salju, berjaket dengan background belerang di lereng yang tampak keputihan. Sejauh mata memandang hanya kabut yang terlihat. Saya memang harus kembali lagi.

Agustus 2012, saya kembali ke Anak Krakatau. Kali ini bersama 9 orang teman sekantor. Malam sebelumnya kami menginap di Bay Villas, Tanjung Lesung. Jam 7 pagi kami dijemput 2 speed boat  di dermaga Beach Club Tanjung Lesung. Cuaca cerah, matahari tidak malu - malu, dan panasnya cukup. Dalam hati saya berdoa, semoga lancar kali ini.

Boarding at Beach Club Tanjung Lesung
Setelah 1.5  jam Anak Krakatau mulai terlihat, sangat cantik. Lereng berpasirnya dihiasi endapan solfatara yang tampak seperti salju dari kejauhan. Langit biru, awan putih dan air laut biru tosca, sempurna.


Anak Krakatau
Beberapa teman bertanya : "Mengapa disebut Anak Krakatau ?" Jawabannya sederhana saja, karena memang ada induknya, yaitu Gunung Krakatau. Induk Gunung Krakatau sendiri  adalah sebuah gunung api yang sangat besar di Selat Sunda, disebut Gunung Krakatau Purba. Gunung itu tersusun dari batuan andesitik.

Sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa mencatat adanya letusan hebat pada tahun 416 M yang mengakibatkan tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur dan menyisakan kaldera di Selat Sunda. Sisi tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung.

Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang tersusun dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang kemudian disebut sebagai Gunung Krakatau, gunung yang kemudian meletus sangat hebat pada tahun 1883.


Menjelang jam 9 pagi kedua kapal kamipun merapat di Anak Krakatau. Dengan gembira saya segera turun sambil menjinjing sepatu..tapi tiba - tiba guide kami - Pak Deri menghampiri dan berkata : lagi aktif Bu, kita ga bisa naik.

Faktanya cuaca memang sangat cerah, tetapi sang gunung memilih aktif, dari pantai memang sudah terdengar suara gemuruh berkali - kali. Anak Krakatau sedang batuk. Untungnya petugas cagar alam mengjinkan kami naik hingga batas vegetasi atau pasak 3.

Cagar Alam Krakatau
Selepas foto group di plang Cagar Alam kami bergegas naik, jalur pasirnya kali ini panas sekali dan lepas. Tidak seperti bulan Juni lalu ketika hujan turun dan memadatkan jalur naik.

Pengaruh musim panas panjang sangat kentara, kering dimana - mana. Pohon kecoklatan, dan banyak yang mati kekeringan. Di batas vegetasi kami bisa melihat dengan jelas ke puncak Anak Krakatau. Beberapa menit sekali terdengar suara gemuruh yang diikuti letusan  - letusan kecil, piroklastik. Inilah pertama kalinya saya melihat gunung api meletus. Mengagumkan.

Kembali ke pantai dan kami bertemu dengan serombongan turis asing yang terpaksa harus kembali, mereka tidak boleh mendarat.  Sayang sekali memang, kami ternyata lebih beruntung. Akhirnya kami menyempatkan untuk naik boat mengelilingi pulau, menakjubkan. Melihat bekas - bekas aliran piroklastik, melihat sisi lain Anak Krakatau dan kembali melihat beberapa letusan kecil.

Kemunculan Gunung Anak Krakatau dimulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi Anak Krakatau mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh aktivitas volkanik yang sangat aktif, melontarkan material - material dari perut bumi.

Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.

Letusan Anak Krakatau - 30 Agustus 2012
15 menit berlayar dan kami tiba di Pulau Rakata, kami akan mampir sebentar disini untuk snorkeling di Lagoon Cabe. Lagoon Cabe sendiri sangat menyenangkan untuk snorkeling, kedalamannya hanya 2 - 3 meter dan terletak di tepi Pulau Rakata. Lokasi snorkeling ini cocok untuk pemula seperti saya. Ikannya banyak dan beragam serta terumbu karangnya cantik. Pertama kalinya disini dengan PD saya bisa snorkeling tanpa pelampung, walau beberapa kali menginjak terumbu. Sepertinya lain kali saya harus mencoba di tempat yang lebih dalam. Berdosa sekali rasanya menginjak terumbu - terumbu cantik yang tidak berdosa itu.

snorkeling at Lagoon Cabe
Sekitar jam 11 kami kembali berlayar ke Tanjung Lesung, di perjalanan beberapa lumba - lumba terlihat di kejauhan. Perjalanan selama 1.5 jam yang menyenangkan. Selepas makan siang kami kembali Jakarta. Tujuh jam kemudian saya sudah duduk manis di cubical saya di kantor, telecon malam hari sambil terkantuk - kantuk dan lapar :D

my boat mates
See you next time Anak Krakatau, definitely will be back.

TRAVEL TIPS
  • Perjalanan ke Anak Krakatau memang mahal tapi bisa disiasati lho. Biaya termahal adalah di sewa perahu. Ada dua pilihan, perahu kayu dengan kapasitas 20 orang atau fast boat dengan kapasitas 8 orang. Harganya tentu beda jauh. Bila cukup punya waktu sebenarnya perahu kayu sangat menyenangkan, murah, kapasitas lebih banyak, lebih santai dan tidak berisik. Bonusnya cuma lama saja.
  • Ada dua jalur menuju Anak Krakatau, melalui Lampung atau Jawa Barat. Keduanya memiliki plus minus tersendiri. Overall sewa kapal dari Lampung memang lebih murah, tetapi waktu perjalanan akan lebih lama karena bonus mengantri feri untuk menyeberang. Carita / Tanjung Lesung are my favourite
  • Pakailah sun block, lip balm dan baju lengan panjang. Sinar matahari sangat terik. Minum cukup air agar tidak dehidrasi.
  • Status gunungapi Anak Krakatau adalah siaga, jadi rajin - rajinlah memantau situs BMKG untuk situasi terkini.
  • Take nothing but pictures, leave nothing but footprints
# Trip with friends, August 2012

All photos were taken by me. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Friday, July 20, 2012

Kerinci, Atap Sumatera

Jumat, 6 Juli 2012
6 jam perjalanan darat dari Padang, saya dan teman – teman tiba di Kayu Aro, sebuah kota kecil penghasil daun teh yang tersohor di Provinsi Jambi. Masih pagi sekali dan penghuni rumah di pinggir jalan tersebut menjadi sibuk karena kehadiran kami. Basecamp Kerinci sebutannya, rumah Heru yang entah sejak kapan menjadi rumah yang terbuka untuk semua orang yang ingin mendaki Kerinci. Pemandangan di rumah Heru sangat menawan, Gunung Kerinci tampak jelas dan gagah. awesome.

Gunung Kerinci dari pintu rumah Heru di Kayu Aro
Perkenalan saya dengan Johan Kerinci di salah satu situs jejaring sosial membawa kami ber – 10 ke rumah ini. Bertegur sapa, berkenalan dan resmilah kami menjadi “anggota baru” keluarga ini. Pagi yang ramai, berkenalan dengan teman – teman baru, berbelanja ke pasar, packing, hingga berjalan – jalan ke Air Terjun Telun Berasap yang cantik.

packing packing
Malam yang singkat, lampu sempat padam sebentar, dan kami bergegas tidur. Di dapur masih ramai, Ibu-nya Heru dan Johan sibuk memasak. Mempersiapkan bekal kami untuk mendaki esok hari.

Sabtu, 7 Juli 2012
Pagi hari yang sibuk. Antri ke kamar mandi, lagi – lagi packing dan sarapan pagi : nasi goreng telor ceplok buatan Ibu Heru. Bekal makan siang sudah siap : nasi bungkus dengan sambal kentang, dendeng dan sambal tentunya. Siap dibawa.

Mobil sewaan kami telah menunggu di depan rumah. Siap membawa kami ber-16 hingga batas hutan. 15 menit saja perjalanan dari Base Camp ke batas hutan, melewati perkebunan teh Kayu Aro yang cantik.

pagi di Kayu Aro dan menuju Kerinci
Hari ini kami akan mendaki Atap Sumatera, Gunung Kerinci. Gunungapi tertinggi di Indonesia, sekaligus puncak tertinggi di Pulau Sumatera. Gunung yang termasuk ke dalam kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan merupakan habitat Harimau Sumatera (Sumatran Tiger) dan Badak Sumatera (Sumatran Rhinoceros) yang hampir punah.

Kerinci merupakan salah satu gunungapi yang aktif, hampir setiap tahun menunjukkan gejala erupsi. Saya teringat pelajaran Volkanologi dulu, tentunya Kerinci adalah gunungapi tipe A. Letusan terakhirnya terjadi pada tahun 2004 dan hingga kini terus – menerus mengeluarkan asap belerang.

pagi yang cerah
Seperti biasa kami mendaki dalam kelompok kecil, beberapa teman dari Basecamp telah berjalan mendahului kami. Mereka membantu membawakan tenda, logistik makanan dan lainnya untuk kemudahan kami. Seperti biasa saya menggendong Cici, Helmy membawa carrier dan kami berada di urutan belakang, perlahan berjalan melewati Pintu Rimba, beristirahat di Pos 1, Pos 2, Pos 3 dan akhirnya menjelang jam 1 siang kami tiba di Shelter 1. Makan siang.

Jalur dari Pintu Rimba menuju Shelter 1 tidak terlalu sulit. Cukup landai, hutan hujan tropis dan sepanjang perjalanan kami ditemani paduan suara Owa. Cici bahkan sempat berjalan sendiri dari Pos 3 menuju Shelter 1 dan saya sempat membawa carrier ketika Cici berjalan kaki. Kami sekeluarga menjadi rombongan terakhir yang tiba di Shelter 1, diikuti oleh Dayak, Ian dan Anis.

Di Shelter 1 seluruh tim berkumpul, dan pertama kali saya berkenalan dengan Andi Katoh yang kemudian kami panggil dengan sebutan Om Atlet. Beliau sangat kuat, sesore itu beliau sudah tiba di Shelter 3 dan kembali ke Pos 3 untuk membawa barang kami yang lainnya. Superb.

Perjalanan ke Shelter 2 cukup sulit, saya kembali menggendong Cici dan Helmy membawa daypack. Jalurnya menanjak, banyak rintangan dan di tengah jalan turun hujan. Kami mulai terpisah – pisah. Saya sangat lelah, tapi tidak ada pilihan untuk berhenti disini. Di belakang kami Dayak jauh terpisah.

Jam 7 malam kami tiba di Shelter 2, hujan turun sangat deras. Helmy mulai berteriak – teriak memanggil Johan, minta bantuan untuk me-rescue Dayak yang jauh di belakang, tidak membawa senter dan jas hujan. Tak mau menunggu lama kami melanjutkan perjalanan ke Shelter 3.

Hujan deras, dan Cici tertidur pulas di gendongan. Jalur menuju Shelter 3 sangat terjal dan sulit, jalur sempit bekas aliran air. Sesekali kami harus memanjat, jalan berlumpur dan menjadi sangat licin.

Setengah perjalanan ke Shelter 3 akhirnya bantuan datang. 2 orang temannya Johan datang membawa teh hangat, nikmat sekali. Di situ saya menyerahkan Cici ke Helmy, dan meminta 2 orang tersebut menyusul Dayak yang jauh di belakang.

Jam 8 malam, hujan lebat, baju basah kuyub tanpa raincoat. Badai dan tidak tahu medan. Tidak ada pilihan lain kecuali berjalan. Saya sangat khawatir Cici kedinginan dan kena hypothermia. Yang ada di kepala saat itu hanyalah terus berjalan dan tiba di camp.

Jam 8.30, tibalah kami di Shelter 3 . Tenda sudah berdiri di tengah badai dan hujan deras. Cici saya serahkan kepada Nancy dan Valen yang sudah tiba terlebih dahulu. Saya bergegas berganti baju di tenda sebelah, dingin, mati rasa. Tenda kami berantakan, tapi cukuplah untuk malam itu. Saya, Cici dan Helmy berkumpul kedinginan, haus dan lapar. Badai di ketinggian 3400 mdpl.

Tak berapa lama Dayak tiba, alhamdulillah lengkaplah tim kami. Rupanya Dahlan dan Alfin tiba pertama kali, sekitar jam 7. Saat itu hujan sudah turun, repot sekali mereka mendirikan tenda, mencari baju ganti di kegelapan sambil resah menunggu teman – teman yang lain. Untunglah kami bisa tidur di tenda malam itu.

Minggu, 8 Juli 2012
Hari istirahat, badai berlalu dan Shelter 3 berubah menjadi camp pengungsi. Baju basah dijemur, tenda diperbaiki, dapur umum mulai bekerja. Pemandangan indah di depan mata. Hari yang sempurna.

pemandangan indah, tapi kenapa harus banyak sampah
kegiatan di Shelter 3

Senin, 9 Juli 2012
Summit attack. Jam 4.30 kami meninggalkan tenda. Saya kembali menggendong Cici yang masih tertidur pulas. Cuaca cerah. Jalur menuju puncak tidak terlalu sulit, terjal tapi bukan pasir halus. Musuhnya hanya satu, asap belerang yang membuat mata perih. Lagi – lagi seperti di Rinjani, Helmy tidak yakin bila Cici kuat hingga puncak. Tapi pagi itu saya bersikeras, Cici pasti bisa.

Anak 3 tahunku kedinginan, tapi dia memakai jaket dan kaus kaki yang cukup hangat. InshaAllah dia bisa mencapai puncak. Heru membantu saya menggendong Cici dari Tugu Yudha ke puncak, jaraknya sudah sangat dekat, 15 menit saja mendaki.

Tugu Yudha
Jam 8 pagi, Dahlan dan Alfin menyambut kami di puncak. Om Atlet, Johan, Heru, Helmy, Valen, Nancy dan Ian. Kami sempat berfoto – foto sebentar, kabut menyelimuti kaldera Kerinci. Inilah puncak 3805 mdpl itu. Puncak gunung yang kedua untuk Cici, di atap Sumatera.

di Atap Sumatera 3805 mdpl
bersama teman - teman
Perjalanan turun tidaklah mudah, ditambah perdebatan tak perlu di Shelter 3. Hujan kembali turun, deras. Tujuan kami hanyalah kembali dengan selamat ke Basecamp, malam itu kalau bisa.

Selasa, 10 Juli 2012
Tengah malam di Basecamp Kerinci. Cici dipangku Ibu Heru di pojok dapur, segelas teh hangat digenggamnya erat. Saya sudah mandi, berganti pakaian dan ikut duduk di kehangatan dapur. Obrolan penuh tawa memenuhi dapur. Satu perjalanan telah usai.

# Trip with family and friends, July 2012
All photos were taken by my husband - Helmy Noermawan. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Thursday, May 26, 2011

Baduy - Nu Ieu Mah Keur Urang Ciboleger Bae


Minggu, 15 Mei 2011

Sepertinya masih pagi sekali, badan saya pegal linu, kepala berat dan yang pasti mengantuk. Tapi bocah kecil di sebelah saya sudah bangun dari tadi nampaknya, dan dia sudah nongkrong di dapur bersama Bu Kasinah dan Pak Kasinah. Literary secara fisik nongkrong di depan hawu.

Dapur Keluarga Kasinah
Semalam kami kembali ke Gajeboh jam 7 malam. Setelah sempat rehat dulu di Cipaler 1 jam, minum kopi dan makan roti karena tiba – tiba turun hujan deras. Alhamdulillah tidak ada hambatan berarti dalam perjalanan pulang. Cici tertidur pulas di gendongan, dan kami terbantu oleh cahaya bulan purnama.


Hari ini rencananya kami akan pulang ke rumah. Singkat sekali memang perjalanan kami kali ini. Ransel – ransel dibongkar. Semua bahan makanan saya keluarkan : minyak goreng, telur, ikan asin, kornet, garam, beras, mie instant, kecap, tempe, baso, dll. Rencananya kelebihan bahan makanan akan kami serahkan ke Bu Kasinah.  Ya untuk apa dibawa pulang lagi, mereka disini lebih memerlukan.

Akhirnya pagi itu saya ikutan nongkrong di dapur. Saya, Cici dan Bu Kasinah memasak sarapan. Tepatnya, saya dan Cici menonton Ibu Kasinah membuat sarapan. Nasi, dadar telur, mie goreng, cumi goreng dan sarden. Tak lupa saya melakukan ijab kabul serah terima kelebihan bahan makanan kami.

Tak berapa lama tiba – tiba Bu Kasinah kembali dengan satu kantung plastik hitam yang penuh berisi makanan.
Nu ieu mah keur orang Ciboleger bae Bu !
Lho saya kok malah jadi bingung, padahal dalam hati ogah membawa kembali barang – barang itu. Ternyata maksud Bu Kasinah itu untuk Pak Mamad.  Tanpa diminta beliau membagi dua sama persis bahan makanan yang saya berikan, setengah untuk keluarganya dan setengah untuk Pak Mamad. Subhanallah.

Ternyata Bu Kasinah ingin berbagi rejeki. Padahal saya tahu, beliau saat ini pun tidak berlebih (baca = kekurangan). Tapi beliau malah berinisiatif membagi rejeki yang diperolehnya. Satu teguran kembali untuk saya. Bu Kasinah sangat benar, berbagi ketika kita sedang sempit pahalanya besar sekali.

Akhirnya keresek hitam kembali ke dalam ransel. Setelah makan kami bergegas packing. Mampir sebentar berbelanja kain tenun dan kampret. Tak lupa gelang akar kayu untuk Cici. Madu hutan pesanan kami sudah diantar ke rumah.

Posisi kembali seperti semula, saya menggendong Cici. Pak Mamad, Helmy dan Dahlan masing – masing membawa ransel. Kami berfoto bersama di depan rumah, bersalaman dan pamit.

Pak Mamad - Anak Ibu - Bu Kasinah - Cici - May - Helmy
Sekitar pukul 9 kami meninggalkan Gajeboh. Perjalanan pulang lebih cepat, walaupun lagi – lagi saya kecapean. Turunan yang dalam perjalanan datang tampak indah sekarang bagaikan senjata makan tuan, tanjakan panjang tak berujung. Dahlan jauh melesat di depan, Helmy bersama Pak Mamad, dan saya kembali menikmati pemandangan di belakang.


Kaduketuk tidak begitu ramai, para pedagang menawari kami untuk mampir sebentar. Berbelanja berbagai pernak – pernik Baduy. Kami telah kembali ke dunia yang berbeda.

Tiba di Ciboleger kami bergegas packing, pamitan dengan Pak Mamad dan mulai berjalan pulang. Pukul 11 siang, panas, terik menyengat. Kami mulai berjalan pulang ke rumah. Perjalanan singkat  selesai sampai disini, tetapi suatu saat kami akan kembali lagi.

# Trip with Family an Friends, May 2011

All photos were taken by my husband - Helmy Noermawan. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Tuesday, May 17, 2011

Baduy - dan Tujuan Kami Hanyalah Kembali dengan Selamat Bersama Pak Mamad

Perjalanan dilanjutkan, pukul 11 siang, perut kenyang, angin sepoi – sepoi, mata mulai berat. Untuk meninggalkan Gajeboh kami harus menyebrangi Sungai Cibaduy, melewati jembatan bambu yang kokoh, walaupun hanya diikat tali ijuk. Selepas sungai jalurnya menyenangkan, menyusuri tepi sungai, jalan datar atau kadang menurun.

Jembatan Penghubung Gajeboh dan Cicakal Girang
Semangat 45, saya masih menggendong Cici..hingga tiba – tiba panggilan alam datang dan saya meminta Helmy untuk bergantian menggendong Cici. Akhirnya Cici berpindah tangan, saya dan Helmy bertukaran tas. Dan siapa sangka itu adalah keputusan terbaik yang saya buat selama perjalanan ini 

Kami kembali berjalan, menyebrangi anak sungai, melewati sebuah perkampungan kecil – Cicakal Girang dan ternyata di depan sana ada tanjakan tak berujung. Benar tak berujung, sedangkan matahari tepat berada di atas kepala. Pak Mamad sudah jauh depan, disusul Cep Dahlan, Helmy dan Cici sedangkan saya ada di paling belakang, meniti langkah sambil sesekali menikmati pemandangan yang indah. Pemandangan indah tak boleh dilewatkan bukan.

Untunglah di depan sana rombongan sudah menunggu, akhirnya bisa juga duduk dan memanjangkan kaki. Cici asik bermain sendiri sambil sesekali tiduran di singgasana ranselnya. Pak Mamad mulai membicarakan kemungkinan kami akan kemalaman di jalan tanpa senter. Perjalanan ke  Cibeo masih 2/3 jalan lagi. Bila kami terus berjalan maka kami akan tiba sekitar pukul 2 siang, beristirahat sebentar dan kembali ke Gajeboh. Paling cepat kami akan tiba di Gajeboh menjelang Maghrib. Tapi ada saja kemungkinan hujan lebat dan kami harus berteduh, kami akan kemalaman tanpa senter.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya kami memutuskan kembali berjalan di tanjakan tak berujung itu. Dan kembali beristirahat tak lama kemudian. Hingga tiba – tiba ada godaan iseng mengajak tidur siang saja di Cicakal Girang. Ha ha ini tak usah disebut nama pencetusnya. Yang pasti bukan Cici.

Tetapi setelah menimbang – nimbang kami memutuskan kembali berjalan. Sejak saat itu tujuan kami bertambah jelas,  kembali dengan selamat bersama Pak Mamad. Untuk itu kami kembali bertukar peran, Cici digendong Pak Mamad. Untungnya Tuan Putri sangat kooperatif, dia tidak rewel walau berganti – ganti penggendong. Untungnya lagi di depan sana ada turunan yang indah sekali, kami mendekati Cipaler, daerah perkampungan Baduy Luar yang lain.

Kali ini kami tidak mampir di Cipaler, secepat mungkin kami ingin tiba di Cibeo. Hutan yang kami lewati mulai rapat, jalanan masih menurun, beberapa tempat licin. Saya masih di paling belakang. Seperti biasa menikmati pemandangan alam yang indah. Helmy dan yang lainnya sudah tidak kelihatan, hingga tiba – tiba …ah tidakkkk saya rupanya kepleset, masuk sungai, kepentok batu dan berguling 2 – 3 kali…alhamdulillah masih bisa bangun dengan selamat, walaupun badan kotor berlumpur. Di depan sana para pria itu sudah tidak terlihat. Saya bergegas melanjutkan perjalanan, menyebrangi anak sungai lagi dan berjumpa dengan ularrrrrrrrrrrr. Yap lengkaplah perjalanan saya hari ini, tapi saya bersyukur, gara – gara si ular saya jadi berlari mengejar rombongan.

Ternyata para pria dan Tuan Putri telah tiba di sebrang Sungai Cibaduy. Kami kembali harus melewati jembatan bambu yang kokoh. Inilah batas antara wilayah Baduy Luar dan Baduy Dalam. Saya ingat 14 tahun yang lalu pernah berenang – renang di sungai ini, dan hingga kini airnya tetap bersih.

Disini semua larangan sesuai adat masyarakat Baduy Dalam berlaku. Tidak diperkenankan mengambil foto, menggunakan elektronik, memakai sabun/odol dan jauh di dalam hati saya tentunya semua pengunjung harus bersikap sopan dan tidak merusak.

Setelah beristirahat sejenak di tepi sungai kembali kami melanjutkan perjalanan. Menurut Pak Mamad, di depan kami kembali ada tanjakan tak berujung yang lebih berat dari tanjakan di awal. Penuh semangat kami kembali berjalan, di kejauhan awan hitam mulai bergerak. Saya tetap setia di paling belakang, menikmati Sungai Cibaduy yang mengalir indah. Tanjakannya tak usahlah dibahas ha ha.

Di puncak punggungan kami beristirahat di dekat rumah ladang orang Baduy Dalam. Dua orang anak kecil asik bermain sendiri. Sang Ibu mungkin sedang ke ladang. Selanjutnya kami kembali menemukan rumah ladang lainnya. Beberapa anak kecil usia balita asik bermain, yang lelaki membawa golok di pinggang. Taksiran saya umurnya tak lebih dari 5 tahun. Di rumah ladang ketiga kembali saya bertemu anak kecil lainnya, asik bermain sendiri. Saya terkagum – kagum, di usia belia mereka telah sangat mandiri.

Jalanan terus menurun, dan di dalam hati saya mengingatnya sebagai rejeki yang harus diingat ketika kami nanti berjalan pulang, tanjakan panjang. Masih ada lagi rumah ladang lainnya, dan disini kami duduk beristirahat sambil mengobrol, dua wanita dewasa, 1 balita dan 1 bayi montok berusia 9 bulan. Sang Ibu kebingungan melihat Cici yang minum susu ultra dalam kemasan.

“Geuningan beda minumna, di dieu mah ngan nginum ieu bae”..sahut si Ibu sambil menunjuk dadanya

Wow ternyata Ibu ini Pro ASI juga, akhirnya saya jelaskan bahwa Cici juga anak ASI lho Bu. Kami mengobrol beberapa hal dan ujungnya si Ibu menawarkan tempat istirahat di rumahnya. Kebaikan hati yang tulus.

Pak Mamad kembali memimpin di depan. Saya kembali di belakang bersama seorang anak lelaki kecil yang membawa burung dalam sangkar. Kami melewati leuit (lumbung), menyebrangi sungai dan alhamdulillah, akhirnya jam 2 siang kami tiba di Cibeo, perkampungan Baduy Dalam.

Sepertinya tidak ada yang berubah. Samar dalam ingatan saya, suasananya masih sama seperti 14 tahun yang lalu. Jalan setapak kecil berbatu, rumah panggung berbilik bambu di kiri dan kanan. Beberapa orang nampak duduk di balai – balai, menyambut kedatangan kami.

Pak Mamad sudah duduk di depan rumah Pak Sardi. Helmy, Cici dan Cep Dahlan juga sudah melepas ransel-ransel mereka. Beberapa anak kecil duduk memandangi kami. Tuan Putri riang bermain ayam dan mulai berbaur dengan anak – anak Cibeo, berbagi biskuit dan bermain.

Pak Sardi, beliau adalah salah seorang penduduk Baduy Dalam yang cukup terbuka pada pendatang. Rumahnya kerap dijadikan tempat menginap, beberapa kali dalam setahun beliau saba kota ke Jakarta, berjalan kaki, 3 hari perjalanan.

Saya duduk mengobrol dengan seorang Ibu, bahasa Indonesianya cukup lancar dan orangnya ramah. Dua anak kecil bermain di sekitarnya. Si Ibu punya anak 6 orang, anak paling besarnya baru saja menikah, sedangkan anak paling kecilnya masih berusia 2 tahun.

Nampaknya rata – rata pasangan di Baduy memiliki anak banyak. Ibu Kasinah punya anak 3 orang, anak paling besarnya usia 20-an sedangkan yang paling kecil berusia 7 tahun. Beberapa kali saya menemukan juga anak usia balita menggendong adiknya yang masih bayi. Selain itu sepertinya mereka terbiasa menikah di usia muda, seperti anak Ibu di Cibeo tadi.

Menurut informasi dari Pak Sardi, jumlah rumah di Cibeo ada 96 rumah, sedangkan saat ini penduduknya ada sekitar 500 orang. Cikertawana juga kurang lebih sama komposisinya. Sedangkan Cikeusik lebih sedikit. Mata pencaharian utama mereka adalah dari mengumpulkan hasil hutan dan berladang. Hasilnya mereka pakai sendiri, ada juga yang dijual ke Ciboleger.

Mereka hidup sangat sederhana, hanya ada dua warna dalam kehidupan masyarakat Baduy Dalam, hitam dan putih. Pakaian sehari – hari kaum pria adalah baju kampret beserta celananya. Kaum wanitanya hanya berkain samping. Tanpa alas kaki.

Rumah dibuat tanpa paku, hanya tali pengikat dari rotan. Tanpa perabotan. Satu – satunya barang “mewah” dalam kehidupan mereka adalah perangkat makan dari porselin cina. Ini yang bikin saya penasaran, darimana ya mereka mendapatkan porselin cina tersebut ?

Makanan sehari – hari mereka hanyalah nasi, garam dan “sayur hasil hutan”. Ikan asin bisa jadi menjadi barang mewah yang harus mereka beli di Ciboleger. Kaum pria tidak merokok, mereka dan juga kaum wanita hanya nyeupah saja, alias nginang dengan daun sirih.

Singkat sekali kunjungan saya di Baduy Dalam. Padahal masih banyak yang ingin saya ketahui. Kami tidak sempat pula bertemu dengan Puun. Beliau sedang pergi berburu Kijang ke hutan. Jam 3 sore, saya masih enggan bergerak. Cici masih asik bermain. Tapi mau tidak mau kami harus segera pergi bila tidak ingin kemalaman di jalan.

bersambung….nu ieu kangge urang Ciboleger bae

Sunday, May 15, 2011

Baduy - 14 Tahun Telah Berlalu


Akhirnya jadi juga, padahal Kamis malam kemarin saya sempat bilang ke suami : “Ga usah jadi ke Baduy lah ya”. Saya berniat membatalkan rencana tanpa alasan yang jelas, padahal  sudah mengajak teman, sudah cerita ke teman – teman, dsb..padahal di lubuk hati paling dalam tersimpan alasan itu : kuat ngga ya jalan nanjak 

Jumat, 14 Mei 2011

Kesibukan dimulai dari pagi, pergi ke pasar, packing yang dilanjutkan dengan bersih-bersih rumah dan ketika teman kami – Cep Dahlan datang tentunya kami belum siap. Tetapi akhirnya setelah berhasil memenuhi bak mobil dengan 1 ransel 75 L, 2 ransel 25 L, cool box besar dan beberapa kantong plastik belanjaan, kami  berangkat jam 3 sore. Jalur tol dalam kota padat merayap, akhir pekan, menjelang long weekend, tidak usah mengeluh lagi. Yah begitulah, untung Cici di jalan sangat manis. Sedangkan Cep Dahlan terkagum – kagum dengan kesibukan ibu kota.

Menjelang jam 5.30 sore kami keluar tol Balaraja Barat. Papan petunjuk di pintu tol menyebutkan Rangkasbitung hanya 25 km lagi. Ini sih hanya dari rumah ke kantor, seru saya. Tetapi ternyata 25 km itu menyesatkan, setelah 1 jam kami malah menemukan papan petunjuk lain. Rangkasbitung 20 km. Jalanan rusak dan macet. Cici baik hati memilih tidur, sedangkan saya terkantuk – kantuk di samping Pak Supir yang sibuk bekerja.

Tiba – tiba …”Mau makan apa ?” Saya ternyata ketiduran, Cici masih tidur dan mobil sudah berhenti di depan tukang pecel lele. Tidak berapa lama car service datang : nasi putih, lele goreng plus tahu tempe dan sambal. Enaaaaaaaaak. Sambelnya apalagi. Ditambah lagi bapak pedagang Pecel Lele sangat informatif. Beliau menunjukkan arah ke Ciboleger, plus menyarankan alternatif jalan pulang nanti, via Jasinga. Sekitar jam 7.30 kami selesai makan dan segera meluncur ke Ciboleger, desa terakhir sebelum perkampungan Baduy. Jalan menuju Ciboleger cukup baik, dan petunjuknya cukup jelas : Wisata Budaya Baduy. Dan lagi – lagi karena ketiduran tiba – tiba jam 9 malam saya sudah tiba di Ciboleger.

Rekaman di kepala saya mengenai Ciboleger di tahun 1997 sangat berbeda dengan Ciboleger 2011, 14 tahun telah berlalu. Seperti tebakan kami, disini telah berdiri gagah Alfa Mart Ciboleger. Kedatangan kami langsung disambut para pemuda yang menawarkan jasa penginapan, dan yang lebih mengejutkan ketika keluar WC umum saya langsung dikagetkan oleh anak perempuan kecil yang meminta uang.

Dan malam itu saya dikuntit si bocah hingga ke mobil untuk mengambil uang 2000-nya. Terkesan tidak menyenangkan ya. Padahal tanpa dikuntitpun saya akan bayar, tidak akan kabur. Ah sudahlah, memang itu hak si anak.

Malam kian larut dan akhirnya kami memutuskan untuk menginap di lantai atas sebuah warung kerajinan khas Baduy di Ciboleger. Sederhana saja, sebuah ruangan dengan kasur busa dan karpet di lantai, tak lupa sebuah “balkon” dengan village  view.

Cici terbangun, segar bugar, dan asik bermain dengan bayangannya. Sedangkan kami sudah kelelahan dan ingin tidur. Good night Cici.

Sabtu, 15 Mei 2011
Perhatian – perhatian, bagi yang belum foto bersama segera membentuk barisan di depan bis masing – masing !
Dan di luar sangat ramai sekali, 5 buah bis, dan ratusan anak SMA baru saja turun dari kampung. Mereka sibuk berfoto bersama dan berbelanja. Ternyata mereka adalah rombongan SMA dari Pandeglang yang baru saja melaksanakan karya wisata di Baduy, menginap beberapa hari di perkampungan Baduy.

Kami bergegas mandi, packing dan bersiap berangkat. Pembagian tugas sudah jelas, saya akan menggendong Cici, sedangkan Helmy dan Cep Dahlan masing – masing membawa ransel 25 L. Tersisa ransel 75 L berisi ikan asin, beras, garam, minyak, mie instan, dll yang belum jelas siapa pemiliknya.

Tanpa dikomando kembali beberapa pemuda semalam mengerumuni kami. Mereka menawarkan jasa porter plus guide. Sebetulnya kami memang berencana memakai porter, tetapi niat itu urung melihat serbuan para pemuda Ciboleger pagi itu.

Akhirnya kami menolak dan memutuskan akan membawa semua barang itu sendiri, semampu kami. Semangat 45 dan kami mulai berjalan menaiki tangga ke Kadu Ketuk. Nah disini kami harus melapor dulu kepada Jaro, sekaligus meminta ijin dan mengisi buku tamu. Seorang pemuda terus mengikuti kami dan menunjukkan jalan ke rumah Jaro.

Rumah Jaro cukup besar dan balai – balainya luas, kami mengisi buku tamu, Pak Jaro sibuk menerima telpon. Sempat berbincang dengan kami, dan mengatakan bahwa di Cibeo (Baduy Dalam) saat ini sedang ada pernikahan sehingga kami tidak bisa menginap, tetapi kami boleh berkunjung saja. Cici asik bermain, punya teman baru.

Cici dan teman baru di Kadu Ketuk
Tidak masalah, kami memang berniat menginap di Gajeboh saja, salah satu desa Baduy Luar. Jaro kembali sibuk dengan telpon genggamnya dan pemuda pengikut kami berbisik – bisik menyuruh kami menaruh sedikit uang di buku tamu.

Perjalanan dimulai. Kami mulai berjalan meninggalkan desa dan saya kebingungan dengan pemuda yang sedari tadi menguntit kami. Ternyata beliau menawarkan jasa untuk menemani ke Baduy Dalam. Tarifnya saridona bae. Deal, pemuda bernama Pak Mamad itu akan membantu membawakan ransel 75L kami sekaligus menjadi penunjuk jalan ke Cibeo. Nampaknya beliau orang baik walaupun terkesan pendiam.

Jam 8.30 kami mulai berjalan meninggalkan Kadu Ketuk. Tujuan pertama adalah Gajeboh, perkampungan Baduy Luar yang terletak 5 km dari Kadu Ketuk. Rencananya kami akan meninggalkan sebagian barang di sini dan melanjutkan perjalanan ke Cibeo.

meninggalkan Kadu Ketuk menuju Gajeboh
Jalurnya masih menyenangkan, keluar kampung, menyebrang sungai, menanjak sebentar dan turun menuju Balingbing. Di kiri – kanan jalan kami menemukan beberapa leuit alias lumbung padi. Leuit digunakan sebagai tempat menyimpan hasil tani. Berdinding papan dan beratapkan ijuk. Umumnya diletakkan agak jauh dari rumah, di luar kampung.
leuit di dekat Kadu Ketuk
Kami sempat beristirahat sebentar di Balingbing, kampung kecil yang hanya terdiri dari beberapa rumah. Di perjalanan kami sempat pula bertemu dengan beberapa orang Baduy Dalam yang sedang memandu tamu. Kami sempatkan berbincang – bincang sejenak dan memesan madu hutan untuk hari Minggu.

orang Baduy Dalam, berpakaian dan memakai ikat kepala berwarna putih
Kami masih harus menyebrangi sungai kembali dan akhirnya tibalah kami di Gajeboh, jam 9.30. Ternyata akhir pekan kemarin sangat padat. Hampir semua rumah sudah dipesan orang yang akan menginap. Untung ada Pak Mamad. Setelah kasak kusuk sebentar beliau menemukan sebuah rumah untuk kami, rumah keluarga Kasinah.

Ketika kami datang Bu Kasinah sedang menenun, tanpa banyak bicara ia langsung membereskan tenunannya dan menuju dapur. Rumah keluarga Kasinah sangat sederhana. Seperti rumah lainnya rumah di Baduy Luar dibangun di atas batu yang berfungsi sebagai tiang penyangga, alasnya bambu yang kemudian dilapisi papan kayu. Dindingnya terbuat dari bilik bambu dan atapnya terbuat dari sejenis anyaman daun pandan. Bagian luarnya terdapat balai – balai. Bagian dalamnya terbagi menjadi dua, ruang duduk besar dan dapur. Itu saja. Ukurannya kurang lebih 10 x 5 meter saja. Tidak ada perabotan di dalamnya, kecuali kasur yang digulung serta tikar bambu. Dapurnya pun sangat sederhana, hawu dan rak piring sederhana dengan tumpukan piring kaleng.

Di depan rumah Bu Kasinah sedang ada kerja bakti, beberapa Bapak – Bapak sedang membangun rumah kayu. Indahnya kebersamaan yang tak terbeli dengan uang.

kerja bakti membangun rumah di Gajeboh
Bapak – bapak beristirahat, sedangkan saya, Cici dan Bu Kasinah sibuk di dapur mempersiapkan sarapan. Sebentar saja dan menu sederhana telah siap : nasi, tempe bacem, tahu goreng, telur dadar.

Makan bersama dan kami bergegas pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Cibeo. Kami harus cepat – cepat agar tidak kemalaman. Sudah jam 11 siang dan ternyata senter kami tertinggal di mobil.

Bunda dan Cici di Balingbing
bersambung…dan tujuan kami hanyalah kembali dengan selamat bersama Pak Mamad