Pages

Showing posts with label KMPA. Show all posts
Showing posts with label KMPA. Show all posts

Wednesday, November 28, 2007

Tempat yang Indah itu Suryakencana Namanya


Sebagian foto dari liburan akhir minggu kemarin di Suryakencana. Kalau boleh dibilang, inilah salah satu tempat terindah di muka bumi.

Liburan terbaik dengan saudara - saudara terbaik. Pembuktian bahwa gembel bukanlah pilihan tapi gaya hidup :)

Alhamdulillah untuk cuaca yang sangat cerah, terimakasih Allah. 
Orangtua tua kami semua, terimakasih telah membesarkan kami sehingga kami punya kesempatan berkunjung ke tempat - tempat indah di muka bumi ini.
Brothers dan Sister, teman perjalanan yang menyenangkan.
Helmy yang udah nyiapin semua barang sebelum berangkat, nganterin ke Leuwipanjang sampe packing di depan terminal he he, juga young brother Iban yang rela tidur di warung demi ngambilin ijin untuk kita. Luv you all. 

Ayuk kita jalan - jalan lagi. 

Dan sebuah sms di pagi hari Senin kemarin : "Welcome to real life Brother and Sisters" . 

Semangat :)

numpang tidur di Mesjid Gunung Putri
siap berangkat, gagah perkasa
tujuan masih jauh
namun akhirnya kami tiba juga
di Suryakencana
celebrating the KMPA sisterhood
and as a big family
Dony Medic - May - Heidy - Yoga
morning view
kemah kami
sarapan :)
mari pulang, puncak bukanlah tujuan
yang terpenting adalah kembali dengan selamat, di kehidupan nyata

Monday, March 26, 2007

Wisuda Cikuray

Cikuray dari Desa Dayeuh Manggung

Alhamdulillah, akhirnya bisa jalan - jalan lagi dengan dua orang rada - rada, sahabat baik ini : Ronce dan Puput. Udah ga ketemu lama banget, cuman janjian via sms dan akhirnya kami jadi naik Cikuray, 1- 3 Maret 2007 lalu, perkemahan Jumat Sabtu Minggu.

Berangkat dari Bandung jumat sore, ngaret 6 jam dari perjanjian awal (janjian jam 7 pagi dan berangkat jam 3 sore..parah). Nginap di Dayeuhmanggung dan Sabtu pagi mulai jalan dari Tower. Kebun teh yang hijau, menyegarkan.

titik awal pendakian
Cuaca berkabut tapi tidak hujan. dan baru jalan 10 menit ternyata ada yang manggil : "Mba, ada yang mau kenalan nih !" He he ternyata, tak diduga tak dikira, saya ketemu Mba Jenny dan Suwasti plus satu orang temannya lagi :p. Pertemuan pertama dengan Mba Jenny. Setelah 3 tahun lalu cuma kenalan via sms dan telpon... eh malah ketemu di gunung.

7 jam menuju puncak, dan jam 4 sore kami tiba di puncak, angin kencang, kabut. Tapi alhamdulillah kami bertiga bisa menunaikan tugas mulia : wisuda sarjana Ronce. Akhirnya toga yang susah payah minjemnya bisa dipake juga. 

Wisuda Ronce
Ronce akhirnya di wisuda, setelah Oktober kemaren dia ngadat ga mau ikutan wisuda. Selamat ya Ron...semoga tercapai segala keinginan. Sukses selalu. Ga mau ketinggalan, saya dan Puput pun ikut diwisuda, di gunung, seru.

Pose standard wisuda

Sujiwo Puput
Selesai foto - foto kami segera turun. Tiba di Tower Indosiar sekitar jam 8 malam dan langsung tidur pulas di kasur empuk. Terimakasih bapak - bapak yang baik untuk bantuannya :). Ronce dan Puput, kapan - kapan naik gunung lagi ya.

Puput dan Ronce, bergaya dengan ransel yang ga dibawa naik :p


Saturday, February 24, 2007

Selamat Ulang Tahun My Dear



9 tahun yang lalu saya lulus SMA, bingung mau kuliah dimana. Cita - cita masuk UI kandas, gara - gara saat itu lagi rame - ramenya krisis moneter, jaman reformasi. Dengan pertimbangan biaya kuliah bakal melambung tinggi kalau saya pergi ke Jakarta, jadinya orang tua meminta saya  untuk kuliah di Bandung saja. Tapi mungkin orang tua ngelarang karena sebetulnya alasan saya waktu itu pengen masuk UI karena pengen masuk MAPALA UI nya doang he he.

Alhamdulillah keterima UMPTN di kampus gajah, di jurusan yang memang saya pengen. Langsung deh nyari - nyari, di sini ada MAPALA versi gajahnya engga yah.Waktu pameran unit kegiatan ternyata ada stand-nya, langsung deh daftar, ga pake mikir. Walaupun saat itu di kampus ada juga W*****I Komisariat, tapi pilihan untung jatuh ke si Hany (ngutip kata - katanya Joko he he). Dan mungkin bener kata pepatah, everything happen for some reason. Sekarang saya bilang, alhamdulillah ga jadi ke Jakarta, alhamdulillah keterima masuk di kampus gajah, alhamdulillah juga akirnya bisa jadi bagian keluarga si hany.

Singkat cerita, saya daftar jadi anggota si Hany, ikut pendidikan untuk anggota muda yang namanya Gladi Mula, dilantik jadi anggota muda, trus ikut spesialisasi untuk jadi anggota penuh. Ga tanggung - tanggung, waktu badan ini belum seperti sekarang alias ndut, saya belajar manjat tebing dan dinding lho he he. Bareng Tyas berdua doang. Masih ingat jaman susah ditelpon Robert shubuh - shubuh : May ke Eiger ya kita latihan nge-runner. Sampai tangan kapalan, kaki sobek - sobek gara - gara ngeborder di PAU. But it was fun.

Selanjutnya malah lebih banyak kuliah di si hany daripada di jurusan. Dulu bisa ditebak jadwal sehari - hari saya adalah kuliah di jurusan max 2 mata kuliah, sisanya nongkrong di SEL, masak - masak, nonton TV, ngegosip, KUBIS, sampe ngepel, nyapu, nge-game, ngerjain TA, belajar, dsb disini.

Yup, rindu banget saat - saat dulu di SEL nih. Nongkrong sampe malem, patungan uang 500 per orang, belanja ke pasar Balubur bareng Ronce, terus masak depan SEL. Belanjanya sore makannya jam 9 malam.

Bareng Tyas, Neneng dan Rini membicarakan acara jalan - jalan khusus cewek, bisik - bisik biar ga ketahuan Djoko (he he peace Djok). Sempat dikira hilang di Malabar sampe mau di SAR segala, padahal waktu itu saya ma Tyas lagi sibuk nyari salon mau creambath.

Rindu juga saat - saat kubis di atas genteng, ngedengerin curhatan Risang yang bisa nyampe 3 jam sendiri (hua cepet balik ke Indo Sang, kita kubis lagih he he). Nemenin Tono belanja, ditemenin Agung belanja. Ngerjain TA sampe mabok di sel, dimarahin Agus melulu karena bego ngga ngerti - ngerti.

Ini keluarga saya yang ke dua. Selamat ulang tahun yang ke 16, 24 February 2007..My breath, my soul, my life...KMPA Ganesha.

G-138-IX

Tuesday, February 20, 2007

Adik-adik Baru Terlahir Sudah


Aku ingin berdiri di  atas tanah yang tinggi, biar kurasa hembusannya
Aku ingin duduk di atas tebing terjal biar kurasa tajamnya
Aku ingin tertidur di atas rerumputan, biar kurasa lembutnya
Dan tatkala aku terbangun, aku ingin pohon-pohon mengelilingiku
Padang ilalang terus bergoyang, sungai terus mengalir
Semak belukar terus merambat
Angin terus berhembus…mentari bersinar
Bulan dan bintang menerangiku…binatang malam terus berdendang
Ya…itulah rumahku
Rumah kecil di tengah hutan
Dan kutahu, kesanalah aku selalu dapat kembali  - - ka & po



Selamat untuk kelahiran 13 adikku yang baru, selamat datang di keluarga ini. Demi Tuhan, bangsa dan jalan - jalan :)

Photo taken by Aji.

Friday, January 13, 2006

Mengapa


Karena Gunung itu ada di sana ! Itulah jawaban George F Mallory - seorang pendaki gunung berkebangsaan Inggris, ketika ia ditanya "Mengapa Mendaki Gunung?"

Mallory yang juga seorang ahli pemetaan geologi tewas dalam usahanya mendaki puncak tertinggi di dunia - Everest, sekitar 85 tahun yang lalu. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti, apakah Mallory berhasil mencapai puncak atau tidak. Apakah seharusnya ia yang menjadi pendaki pertama di puncak Everest atau Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay yang kembali dengan selamat dengan bukti foto puncak, 40 tahun kemudian.

Norman Edwin - anggota Mapala UI yang tewas di Aconcagua 13 tahun yang lalu, menulis sebuah buku yang berjudul "Mengapa Mendaki Gunung?" Buku ini merupakan sebuah resume yang cukup baik mengenai teknik pendakian gunung dan hidup di alam bebas. 10 tahun yang lalu, ketika saya pertama kali kecemplung di dunia pergunungan ini, saya membaca buku tersebut, terkagum - kagum dengan pola pikir Bang Norman, dan sampai sekarang, beliau masih menjadi seorang idola bagi saya.

Mengapa ? Kata tanya yang satu ini kerap kali kita gunakan dalam banyak hal. Bagi saya ini adalah hal yang wajar. Saya ingin melakukan segala sesuatu dengan alasan yang jelas, dengan motivasi yang baik. Segala sesuatu harus jelas, karena Tuhan tidak pernah bermain dadu, segala sesuatu pasti ada alasan dan pemicunya. Tidak terjadi begitu saja.

Seperti kemarin, ketika saya kembali berjalan menyusuri jalan berbatu dari Pintu Angin menuju Situ Lembang, di antara hujan dan hembusan angin malam pegunungan. Kembali memasak di dinginnya malam, dibawah gelapnya langit malam dan kembali tidur beralaskan tanah. Berkumpul kembali bersama sahabat - sahabat terbaik, yang bersama mereka saya selalu merasa menjadi ada. Saya kembali lahir.

Situ Lembang yang cantik, kutinggalkan padamu semua kepedihan masa lalu, semua tanda tanya dan ketidakpastian. Kubawa pulang kedamaian dan keceriaan. Suatu saat saya akan kembali, memberimu kabar baik buah dari keteguhan hati.

ps : buat yang kemarin nemenin ke Situ Lembang, love you all :)

Saturday, August 17, 2002

Mendaki Mekongga

PULAU Sulawesi ibarat surga bagi para petualang dan penikmat alam. Di pulau ini ada hutan tropis yang indah dengan flora faunanya yang unik dan langka, pegunungan yang masih perawan, tebing-tebing gamping, jeram sungai yang mencekam, goa-goa yang menyimpan misteri ataupun taman lautnya yang indah selalu
menarik untuk dijelajahi. Itulah salah satu alasan yang membawa rombongan kami tiba di Kolaka, kota kecil di tepi Teluk Bone, 300 km sebelah barat daya Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI tahun 2001 kami berenam mendaki Gunung Mekongga, yaitu puncak tertinggi dari Pegunungan Mekongga yang sekaligus merupakan puncak tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara. Tingginya yang cuma 2.620 m dpl membuat Mekongga tidak menjadi sasaran pendaki-pendaki yang hobi mengoleksi ketinggian. Tingginya kalah jauh dengan gunung-gunung di Jawa yang rata-rata di atas 3.000 m dpl. Mungkin inilah salah satu penyebab Mekongga tidak populer. Padahal, Mekongga unik dan menarik.

Dari peta topografi lembar Wawo skala 1 : 50.000 yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal terlihat bahwa Mekongga adalah suatu barisan pegunungan yang panjang dan rumit. Desa terakhir ada di ketinggian 10 m dpl, berarti untuk mencapai puncak para pendaki harus menempuh jarak vertikal setinggi 2.610 meter. Menapaki punggungan yang menjari ke mana-mana.

Kami sempat menginap satu hari di Kolaka, keesokan harinya tiba teman-teman pencinta alam dari Universitas Halu Uleo, Kendari. Kami bergabung dan berangkat bersama menuju Tinukari, desa terakhir pendakian yang secara administratif terletak di Kecamatan Rante Angin, Kabupaten Kolaka.

Bersama teman - teman di G-SUA Kolaka, tempat kami menginap selama di Kolaka
Perjalanan menuju Tinukari sangat menyenangkan. Selama tiga jam perjalanan kita akan menyusuri Teluk Mekongga. Di Pantai Tamburasi kita dapat berhenti sejenak untuk berenang di pantainya yang bersih. Dapat pula berkunjung ke Sungai Tamburasi yang konon adalah sungai terpendek di dunia. Pasalnya hulu sungainya
cuma 10 meter dari muara hingga ke laut, airnya hangat dan pemandangannya indah.

Tiba di Desa Tinukari yang sepi, sampai bebas berfoto di jalanan
Keesokan harinya, pukul 08.00 pagi kami sudah siap berangkat. Kami berdoa bersama di depan rumah Bu Tato, penduduk Tinukari yang rumahnya kami tumpangi untuk menjadi base camp pendakian. Kepergian kami dilepas oleh Pak Desa dan beberapa penduduk lainnya, "Hati-hatilah di jalan Nak, kalau ada apa-apa segera hubungi kami lewat radio," pesan Pak Desa kepada kami.

Full team, siap berangkat
Pendakian dimulai, selepas desa kami mulai memasuki jalan setapak di tengah kebun cokelat. Jalannya datar, menyusuri sungai yang airnya cukup deras dan lebarnya hampir mencapai 10 m.

Setengah jam kemudian kami harus menyeberangi Aala Ranteangin. Aala dalam bahasa Mekongga berarti sungai. Selanjutnya kami kembali berjalan menyusurinya, terkadang kami harus melakukan traversing sepanjang tebing di pinggir sungai. Lumayan buat latihan mental. Tebing gamping yang licin itu membuat kami harus ekstra hati-hati.

Hitung punya hitung penyusuran sungai memakai waktu hampir dua jam, empat kali menyeberang. Tengah hari kami tiba di percabangan Aala Tinukari dengan Aala Mosembo, hulu dari Aala Ranteangin. Tempat indah dan cocok buat mandi dan istirahat. Kami berhenti untuk makan siang dan mandi-mandi.

Selepas makan siang kami mulai memasuki hutan. Dari ketinggian 100 m dpl kami terus naik hingga 400 m dpl. Selama dua jam kami terus mendaki, jalurnya sangat terjal dan tidak ada bonus. Wajah-wajah yang tadinya ceria berubah kecut, khas tanjakan. Apalagi cuaca sangat panas, termometer menunjukkan angka 30 derajat Celcius. Padahal, di Bandung suhu rata-ratanya berkisar antara 20-22 derajat Celcius, sengatan Matahari memang menjadi kendala utama.

Di ketinggian 400 m dpl kami mulai menggunakan jalan setapak yang merupakan bekas jalur HBI, perusahaan logging kayu yang sempat beroperasi di tahun 1996-1999. Jalur ini relatif lebih singkat daripada jalur pendakian yang dulu sempat dirintis oleh teman-teman Mahacala Kendari. Perjalanan menjadi mudah. Di tengah jalan kami sempat bertemu dengan sekelompok perotan yang tinggal di pondok-pondok sederhana. Merotan memang merupakan mata pencaharian sampingan bagi sebagian orang Mekongga. Mereka masuk ke hutan terkadang bisa sampai 1-2 bulan, setelah rotan yang dikumpulkan cukup banyak mereka kembali ke desa dan menekuni kebun cokelatnya. Sungguh kehidupan yang sederhana bagi kami yang tinggal di kota.

Hari ini kami mencapai target, yaitu camp 1 di ketinggian 480 m dpl. Walaupun disebut camp, tapi tidak ada shelter seperti gunung di Jawa. Semuanya masih serba alami. Sebutan camp 1 kami buat untuk mempermudah saja. Malam itu cuaca cerah dan cukup hangat.

Keesokan harinya kami masih menempuh jalur HBI, hari ini target pergerakan adalah camp 2 di ketinggian 1.380 m dpl. Jalur mulai menanjak dan banyak sekali bekas longsoran. Di kejauhan tampak jajaran pegunungan yang di ujungnya terletak puncak Mekongga yang berbentuk kubah. Sangat jauh.

Jalur pendakian hari ke - 2
Sepanjang jalan banyak ditemukan air terjun kecil. Vegetasi yang dominan adalah tumbuhan berkayu bekas yang ditumbuhi lumut. Hal ini terjadi karena daerah ini sangat lembab. Kantong Semar dan aneka jenis anggrek bisa ditemukan dengan mudah.

Cuaca yang bersahabat membuat perjalanan panjang tidak terasa berat. Di tengah jalan sempat terlihat elang sulawesi yang termasuk golongan hewan yang dilindungi. Warna hitamnya yang pekat dan kepakan sayap lebarnya mampu membuat seluruh tim terpesona. Apalagi di pepohonan tampak sekelompok monyet berwarna abu-abu bertengger.

Full team, hari ke - 2
Malam ini kembali kami mendirikan dome dan fly sheet, angin cukup kencang dan cuaca pun berubah menjadi dingin. Teh hangat dan bubur havermout menemani briefing malam itu. Menurut plot di peta, jalur besok akan bertambah berat, kami mulai meninggalkan jalur HBI dan masuk ke hutan. Otomatis pergerakan harus berpedoman pada peta dan kompas. Selain itu tidak seperti hari-hari sebelumnya, pada jalur esok tidak ada sumber air. Kami harus mengisi penuh semua tempat air dari camp ini.

Pagi di hari ketiga pendakian, kami bergegas packing dan berjalan kembali. Di sini tampak jelas hutan Mekongga. Pohon-pohon ditutupi lumut yang sangat tebal. Di sebelah utara tampak Osu Mosembo alias Gunung Mosembo yang belum pernah terjamah manusia. Ada yang tertantang?

Jajaran Pegunungan Mekongga
Perjalanan hari ini melelahkan, apalagi beban di punggung bertambah berat, yaitu persediaan air yang harus kami bawa. Tim pembuka jalur mulai memasang string line. Vegetasi mulai berubah, dari vegetasi tropis menjadi sub alpine seperti cantigi dan berbagai jenis perdu. Hutan yang kami masuki sangat rapat, tak heran
lumut tebal terlihat dimana-mana. Kami terus berjalan mendaki, kotoran anoa mulai terlihat. Dalam hati saya sangat berharap bisa melihat anoa. Hewan langka khas Sulawesi yang hampir punah itu.

Pukul 02.00 siang kami tiba di suatu kompleks tebing gamping berwarna putih bersih. Ternyata inilah yang disebut orang desa sebagai Musero-sero. Dalam keyakinan orang Mekongga, tempat ini diyakini sebagai pusat kerajaan jin untuk daerah Kolaka Utara. Banyak kisah misteri mengenai tempat ini. Konon setiap menjelang senja selalu terdengar adzan dari bukit batu gamping yang disebut Kabah. Yang pasti di Musero-sero yang indah ini kami semua terdiam dan mengagumi keelokannya.

Tebing gamping Musero - sero
Jalur selepas Musero-sero bertambah berat, kami harus memanjat tebing, dan sesudahnya kami segera disambut oleh tanjakan-tanjakan yang tanpa henti. Punggungan yang menjari ke mana-mana dapat menyesatkan bila kami salah memilihnya.

Menjelang senja kami tiba di puncak punggungan sempit di ketinggian 2.520 m dpl. Camp 3. Akhirnya tinggal 100 meter lagi menuju puncak. Tapi, puncak Mekongga terlihat masih sangat jauh. Kami harus melewati beberapa punggungan lagi untuk menuju ke sana.

Malam itu kami beristirahat total. Istirahat panjang kami lakukan keesokan harinya, baru pada tanggal 17 Agustus 2001 kami berencana melakukan summit attack.

Akhirnya, tibalah saat yang dinanti itu, hari ini kami akan menyelesaikan pendakian menuju puncak Mekongga. Jalurnya yang selalu berpindah-pindah punggungan sangat melelahkan. Untung semua itu terobati oleh panorama yang elok. Sejauh mata memandang terlihat jajaran bukit gamping yang membentang sepanjang arah barat-timur. Puncak Mekongga sendiri berbentuk kubah yang luas.

Mendekati puncak kami harus kembali memanjat. Tak seberapa tinggi tapi tebing dengan bebatuan yang lepas itu tak urung membuat nyali teruji. Di sini terdapat goa-goa dengan stalagmit dan stalagtit yang indah. Satu lagi tantangan bagi para pencinta goa.

Tiba di puncak kami semua takjub melihat hamparan bebatuan yang luas. Batuan metamorf abu-abu yang runcing dan tajam menjadi tempat kami berpijak. Sesaat kami semua hening dan terbawa emosi masing-masing. Ternyata inilah puncak tertinggi di Sulawesi Tenggara, yang konon merupakan puncak kerajaan jin itu. Cuaca bersahabat dan angin bertiup menyejukkan, menemani kami melakukan upacara bendera dan berdoa bersama, doa penuh harapan untuk bangsa ini.

Tuntas sudah perjalanan kami kali ini, perjalanan yang indah bersama teman-teman terbaik. Dirgahayu Indonesia!

# Perjalanan bersama teman - teman KMPA Ganesha ITB : Billy, Diky, Erdhany, Bambang dan Puput, teman - teman G-SUA Kolaka dan teman - teman pencinta alam Kendari. Cerita ini dimuat di harian Kompas 16 Agustus 2002. Saya sedang melakukan tugas akhir Geologi saya di Total Indonesie - Balikpapan. Sangat bangga ketika Pak Aussie datang ke ruangan saya sambil membawa koran Kompas yang memuat tulisan saya tersebut, dan dengan bangga beliau bilang : ini tulisan anak gw  - MAY SARI HENDRAWATI, Mahasiswi Jurusan Teknik Geologi ITB, dan anggota Keluarga Mahasiswa Pencinta Alam (KMPA) "Ganesha" ITB

All photos were taken by me. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.