Pages

Wednesday, December 20, 2006

Selama Burangrang Masih Tegak Berdiri

Libur singkat di weekend kemarin betul - betul menyenangkan. Bandung yang biasanya hujan deras menjadi cukup ramah, hanya hujan rintik saja sesekali. Sabtu pagi full di RS, Sabtu sore di Braga sambil nemenin Helmy motret pre wedding, kencan ma Mas Sam ke Natasha, BEC, BIP, IBCC soalnya Helmy lagi kerja. Sabtu malam dihabiskan bersama saudara - saudara baru yang alhamdulillah sangat baik-baik, baik saja nampaknya tidak cukup bagi mereka.

Dan tanpa dikira tanpa diduga hari Minggunya bisa main ke Burangrang, walaupun cuma sebentar. Paginya saya habiskan bersama keluarga di rumah dan siangnya ada Bapak kasep tur bageur yang ngajak menengok teman - teman JB Cimahi yang sedang mengadakan lomba kebut gunung : Burangrang Race, juga menengok adik yang ikutan jadi peserta (walaupun cuma urutan 19 dari 125  da sainganna meuni KOPASUS he he). Berkenalan lagi dengan teman - teman baru dan ngga cuma itu, bertemu lagi dengan teman - teman lama - sesama relawan di Gaten, sewaktu Gempa Yogya lalu.

Dunia sempit teman. Tapi menyenangkan sekali bertemu kalian lagi dan berada di sini, di kaki Gunung Burangrang, di tengah  hujan rintik dan dingin yang menusuk tulang.

Situ Lembang - Januari 2006
ps : tadi nyari - nyari foto Gunung Burangrang tapi ternyata file di komputer kantor dah di delete. Untung nemu foto ini, Situ Lembang setahun yang lalu - masih di kaki Burangrang. Pak, nuhun pisan udah ngajak May ke Burangrang.

Wednesday, December 6, 2006

Dan Saya Akan Kembali Lagi


Saya nampaknya akan segera kembali ke pulau tempat saya dilahirkan. Untuk banyak alasan. Bukan sesuatu yang mudah untuk diputuskan, tapi InsyaAllah ini jalan terbaik yang saya pilih dengan dukungan dan saran orang - orang terdekat.

Asikkkk...bisa tiap weekend ke Bandung lagi :-D

Tuesday, November 28, 2006

Menjadi Ibu

Balikpapan, 27 November 2006


Dear Tyas,

Kirimannya udah May terima, makasih banyak yah Tyas. Tadi langsung dibuka di kantor, kue - kuenya enak. Seperti yang Tyas bilang di surat. Bawang goreng khas Palu-nya May bawa ke rumah. Buat masak - masak tentunya he he he..

Wah bener, ternyata udah lama banget kita ngga ketemu. Dah berapa tahun ya Tyas..2003 ke 2006 ..ternyata sudah 3 tahun. He he semenjak mantenan May ngga pernah ketemu lagi ma Tyas.

Kaffa dah 2 tahun yah. Ga kerasa, ponakan May dah mau gede. Masih ingat deh, waktu dulu Tyas memutuskan nikah ma Karel dan kemudian tinggal di Palu, sebuah kota dengan satu angkot saja untuk berkeliling kota he he. Seorang Tyas yang lulus cumlaude itu ternyata hanya punya satu cita - cita. Menjadi ibu rumah tangga :). Juga seorang Nina yang dulunya sering naik gunung sendirianpun ternyata mengemban profesi yang mulia itu.

Masih ingat juga kata - kata Tyas waktu dulu ketika ayah Tyas meminta Tyas untuk sekolah lagi, ngelanjutin S2 : " Aku mau nikah dulu Pak, baru abis itu sekolah lagi". Walau kemudian dirimu tidak pernah lagi menginjak bangku sekolah he he he. Tapi belajar memang bukan cuma di bangku sekolah ya Tyas. May yakin, sekarang di Palu lebih banyak pelajaran yang bisa Tyas pelajari. Bersama Kaffa, bersama Karel.

Semoga bisa cepat bertemu lagi ya. Seperti cita - cita kita bersama dulu, liburan keluarga ke Rinjani tea. Doakan May ya Tyas, mungkin karena Bapak itu juga, saat ini May sudah memilih untuk memiliki pekerjaan yang sama dengan Tyas. Mungkin saat ini belum sepenuhnya, tapi semoga bisa terwujud dengan segera. Masih ada beberapa hal yang harus dilakukan. Tapi sesudah itu ...pekerjaan kita sama Tyas :)

Salam buat Kaffa dan Karel ya, semoga cepat bertemu lagi :)

Friday, November 10, 2006

Kopi dan Cangkir

Hanya menuliskan kembali, email dari seorang teman


Sekelompok alumni sebuah universitas terkemuka mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.

Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stress karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yg mereka pakai. Namun di lain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana. "Serve yourself," kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.

"Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?" sang profesor memulai wejangannya. "Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided," kali ini kalimatnya mulai menekan hati. "So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead," demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional dan pengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini. 

Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki akan mengubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan. Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit – artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan -- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta. Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras. Ia tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan. Profesor yang lain pernah berpetuah, "Take no thought for your life, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more than meat and the body than raiment?" Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembab: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.

Enjoy your coffee, my friend!

Tuesday, November 7, 2006

Warung Bandung Ngumbara - Episode Nasi Kuning

Semuanya bermula dari celoteh iseng ketika makan siang hari Sabtu di pinggir pantai Melawai. Saat itu kami sedang makan siang bersama, nasi kuning buatan sendiri  : " Nasi kuningnya enak banget, gimana kalau kita jualan aja ? ". Dan tak dikira dan diduga, semua menjawab : ayuk. Apalagi setelah Akang James sang pemilik strada merah menyanggupi mobilnya digunakan untuk berjualan.

Akhirnya, minggu pagi, 5 November 2006, jualan pertama kami berhasil di-launch, jualan nasi kuning dengan pelengkapnya seperti dadar telur rawis, sambal tomat, tempe kering, serundeng, timun, serawung, ayam goreng, telur bumbu merah dan taburan bawang goreng.

Akang James dan Jeng Feri siap-siap buka lapak
Belanja di Pasar Butun jam 6 sore hari sabtu, masak dari jam 9 malam - jam 1 malam, malam minggu. Dan stand by on location di hari minggu pagi yang ceria di lapangan Merdeka Balikpapan. Alhamdulillah laris manis dan untungnya alhamdulillah. Kalau istilah James : Raos ku rasana, bungah ku ayana.

Daftar Menu Warung Ngumbara
Jadi jangan lupa untuk hadir kembali di warung ngumbara episode berikutnya :-)

Pelanggan setia :)

Thursday, November 2, 2006

Denias - Senandung di Atas Awan




"Sekolahlah Denias, kalau kamu pintar gunungpun takut sama kamu" , begitulah pesan sang Ibu yang diingat oleh Denias (Albert Fakdawer), seorang anak suku biasa di pedalaman Papua. Pesan yang memicu semangatnya untuk menempuh perjalanan jauh, berjalan sendirian di tengah hutan, pergi ke kota, untuk bersekolah.

Dibuka dengan suasana belajar di sebuah sekolah darurat di puncak bukit. Sebuah honai sederhana, beratap rumbia, dengan bangku kayu seadanya. Denias dan teman - teman belajar bersama Pak Guru (Mathias Muchus).

Helikopter yang membawa Maleo, anak - anak berlarian menyambut kedatangan Maleo, mengharukan. Adegan lainnya berjalan cepat, pertengkaran Denias dengan anak kepala suku, Ibu Denias yang sakit, pesan terakhir dari sang Ibu, berburu kaskus, honai yang terbakar, Ibu meninggal dunia, Pak Guru pulang ke Jawa, Denias mengalami kesedihan beruntun, kehilangan orang yang ia cintai dan hormati.

Di sini sosok Maleo (Ari Sihasale) berperan, ia menggantikan sosok Pak Guru, mengajar anak - anak. Bahkan ketika sekolah mereka hancur karena gempa, Maleo memindahkan sekolah kemana saja, ke pondok kecilnya, sampai membuat honai baru di pinggir danau. "Bersekolah bisa dimana saja"..kata Maleo.

Tapi ternyata cobaan untuk Denias belum berakhir, Maleo yang ternyata seorang Kopasus harus kembali ke kota untuk bertugas. Mengharukan sekali adegan Denias membaca surat dari Maleo, Denias memutuskan pergi ke kota, berjalan sendirian di tengah hutan, menyusuri sungai, berburu untuk bertahan hidup, hingga perkenalannya dengan Enos yang bandel.

Inti film ini adalah kegigihan dan tekad yang kuat. Keinginan yang sangat besar untuk bersekolah membawa Denias dan Enos ke sebuah sekolah fasilitas yang tidak sembarang orang bisa bersekolah di sana. Selanjutnya Denias berkenalan dengan Ibu Sam (Marcella Zalianty) seorang pengajar yang akhirnya membantu Denias untuk bersekolah disana.

Kocak sekaligus mengharukan. Melihat Maleo dan Denias belajar tentang geografi Indonesia dengan sebuah peta yang terbuat dari potongan dus yang dibentuk menyerupai pulau, ditempel di sebuah karung plastik. Peta ini akhirnya menjadi salah satu harta berharga Denias dan dibawanya ke kota. Juga ketika anak - anak menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dilafalkan sebagai ENDONESA, berebut seragam sekolah dasar, Enos berlarian pulang ke desanya untuk mengambil raport agar ia bisa bersekolah lagi, dan masih banyak kejadian lainnya yang mengharukan.

Sungguh sebuah film yang sangat baik dan membawa pencerahan, menggugah semangat untuk terus belajar. Cerita yang sangat menarik, didukung oleh alam Papua yang memang menakjubkan, pemain yang baik dan sinematografi yang yahud.

Produser : Alenia
Release   : 19 Oktober 2006
Category : Movies
Genre     : Documentary


Film ini merupakan kisah nyata Janias. Saat ini Janias bersekolah di SMU di Darwin dengan beasiswa dari PT Freeport Indonesia, sedangkan Enos sedang menyelesaikan skripsinya di sebuah universitas di Malang.

Wednesday, November 1, 2006

Laskar Pelangi


Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. 

Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu—bahkan terkadang hanya untuk menyanyikan Padamu Negeri di akhir jam sekolah. 

Atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita. 

Selami ironisnya kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka, dan temukan diri Anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya. 

Buku ini dipersembahkan buat mereka yang meyakini the magic of childhood memories, dan khususnya juga buat siapa saja yang masih meyakini adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan.

Saya baru saja selesai membaca buku ini minggu lalu, termasuk cepat, dua hari sudah selesai. Sebagian dibaca di pesawat dalam perjalanan mudik ke Bandung dan karena penasaran saya selesaikan esok harinya di rumah. 

Buku yang sangat menarik. Mengisahkan kehidupan 11 anak - anak kurang mampu yang bersekolah di sekolah sangat sederhana, SD dan SMP Muhammadiyah di Pulau Belitong alias Belitung. 

Mengingatkan saya tentang indahnya masa kanak - kanak, ketika hati nurani masih belum ternodai he he he. Mengingatkan saya tentang sebuah pepatah : tuntutlah ilmu ke negeri Cina dan yang pasti mengingatkan saya untuk bersyukur bahwa saya memiliki kesempatan untuk duduk di bangku sekolah.

Buku ini merupakan memoar masa kecil penulisnya (Andrea Hirata - www.sastrabelitong.multiply.com). Layak sekali untuk dibaca, kocak, haru dan mencerahkan.

Category: Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author: Andrea Hirata

Dibeli  di www.inibuku.com, harga Rp. 50,150,-

Wednesday, August 30, 2006

Jadilah Saja Dirimu Sendiri


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit jadilah saja belukar
tetapi belukar terbaik yang tumbuh di tepi danau.

Kalau engkau masih tak sanggup menjadi belukar
jadilah saja rumput
tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
jadilah saja jalan setapak
tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air.

Tidak semua orang akan menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya
Bukan besar kecilnya tugas
yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu sendiri sebaik-baiknya dari nilai dirimu sendiri

Ditulis oleh Abah Iwan

Mengenai Abah Iwan
Adalah Iwan Abdurahman, budayawan asal Bandung, Jawa Barat ini menunjukkan kepeduliaannya terhadap alam dengan seni. Pria yang biasa disapa Abah Iwan ini mendokumentasikan keindahan alam Indonesia dalam lagu. Puluhan tembang tentang alam Indonesia telah diciptakan dan sukses dipasaran. Senandung Sejuta Kabut, Melati Jaya Giri, Flamboyan, dan Burung Camar adalah beberapa karyanya.
Kecintaan Abah Iwan pada alam juga ditunjukkan dalam keseharian. Sejak sang ayah sering mengajaknya pergi ke hutan puluhan tahun silam, berbagai aktivitas pecinta alam kerap ditekuninya.

Kecintaan Abah Iwan terhadap alam juga tercermin dari tempat tinggalnya. Lebih dari separuh luas tanah pria berusia 58 tahun ini ditanami tumbuh-tumbuhan. Ada juga pohon tua yang tumbuh menjulur keluar dari dalam rumahnya. Pohon berbunga warna nila ini tumbuh sangat lebat di atas genteng dengan indahnya. Selain itu terdapat satu tempat yang disebut sudut abah di dalam rumahnya. Di tempat itulah Abah Iwan dalam mencipta lagu.

Dibandingkan mobil, Abah lebih gemar bersepeda. Dengan mengayuh kendaraan tanpa mesin ini setidaknya Abah Iwan dapat menjaga kesejukan udara di lingkungannya. Tidak perlu mewah memang. Abah Iwan berupaya melestarikan lingkungan dengan kemampuan yang dimilikinya.

Kini Abah Iwan sedang prihatin dengan Kota Bandung yang telah membesarkannya dipenuhi tumpukan sampah. "Bahwa sampah masalah kita semua, perilau kita terhadap sampah bagaimana?" kata kakek bercucu tiga ini.

ps : luv u Pak...dengan segala kebaikan yang Bapak miliki

Wednesday, August 16, 2006

Reunion et Voyage


Detik - detik menjelang hari proklamasi berarti detik-detik menjelang liburan panjang..hip hip huray :)

Sejak hari Sabtu kemarin kota Balikpapan bertambah menyenangkan. Nanti malam akan ada reunian sahabat - sahabat baturan leleuweungan, besok ada lagi yang datang 2 orang.

Sungguh menyenangkan, berkumpul kembali bersama orang tercinta, sahabat-sahabat baik. Dan kami akan melakukan perjalanan kembali bersama.

Selamat hari Kemerdekaan RI yang ke 61, semoga terus lebih baik.

Friday, August 11, 2006

Meuni Sono Geura


Tepat jam 12 malam sekarang, saya masih di rig, lagi nunggu run in hole tool SLB untuk logging first run, masih di depth 2000 m. Baru aja selesai makan malam (lagi) he he bukan deng cocoknya supper kali ya, bareng Hirofumi dan Mas Toon. He he kayanya turun rig bakalan sehat banget nih, walau tadi pagi nimbang badan dan berat badan saya turun 2kg. Nampak tak mungkin, kayanya timbangannya salah :)

Belum tahu kapan bisa pulang ke Balikpapan, kalau loggingnya lancar paling cepat mungkin sabtu sore. Betul kata Vaye : hmmm nongkrongin well asik, seru, melelahkan he he, tapi kangennya sama org rumah kagak nahan...

Walau bisa diperkirakan, tetep aja faktor salah perhitungannya banyak. Seperti saat ini, ketika drillingnya tiba - tiba nambah terus, ketika tiba - tiba dapat gas gede di bawah, ketika tiba - tiba harus increase mud weight, ketika tiba - tiba loggingnya jadi susah..yah will see.

Padahal maunya sabtu pagi besok datang ke Sepinggan, menjemput Bapak kasep tur bageur tea, dilanjutkan dengan sesi keliling Balikpapan, makan kepiting, nongkrong ala AGABA, dll dll dll..Yah ga jadi deh..

Meuni sono geura...tunggu May ya Pak..May pasti pulang, InsyaAllah

Wednesday, August 9, 2006

On The Rig Site


Saat ini saya lagi ada di rig lho, di pesisir pantai Delta Mahakam. Nama rig-nya RAISSA, salah satu rig yang dimiliki oleh APEXINDO - grupnya Arifin Panigoro.

Rig Raissa sedang mengebor satu exploration well di lapangan gas tempat saya bekerja. Sebetulnya saya bukan seorang wellsite geologist yang bekerja di rig, tapi karena sumur ini termasuk kategori yang langka, maka Kakek saya itu menyuruh saya naik rig ini, untuk witness TD dan loggingnya. So, that's why I'm here now.


Di sini ada 3 orang geologist lainnya yang menemani saya he he he. Banyak sekali, karena biasanya cuma ada 2 geologist on board untuk setiap drilling operation. Ada Mas Lilik - team leadernya, ada Mas Toon kakak kelas saya di kampus dulu, dan ada juga Hirofumi - geologist dari INPEX Japan (INPEX adalah pemegang 50 % saham di perusahaan ini, hati - hati he he he).

Kehidupan di rig tentu bukan kehidupan normal yang biasa, hampir 120 orang berada di sini, dalam sebuah anjungan yang terapung, dengan ruang gerak yang terbatas, walau bukan berarti fasilitas seadanya.

Semua kebutuhan dasar manusia terpenuhi. Kebutuhan makan dipenuhi oleh keberadaan galley yang selalu siap 24 jam sehari dengan kualitas makanan yang ga jauh beda dengan di darat (di sini saya malah perbaikan gizi he he he). Tempat tidur dan beristirahat adalah kamar - kamar kecil seperti di kapal, cukup nyaman untuk beristirahat. Klinik dan dokter tersedia, gym dengan fasilitas fitness yang cukup (mengingat ini ada di tengah laut), recreation room dengan televisi satelit, electone, meja bilyard, semuanya ada disini juga fasilitas untuk beribadah. Intinya cukup dan memadai, bahkan line telpon di sini bisa nelpon kemana aja, walau ngantri he he.

Jam kerja adalah 24 jam, setiap orang bekerja dalam shift yang biasanya 12 jam sehari. Orang yang bekerja siang hari akan tidur di malam hari, begitu juga sebaliknya. Drilling operation tidak pernah berhenti, semua orang harus bekerja terus menerus sesuai dengan job desk-nya masing - masing.

Geologist, company man, driller, LWD engineer, MWD engineer, room boy, koki, mud engineer, safety officer, rig crew dan masih banyak lagi...dan tentunya mainly adalah pria. Kehidupan pria di tengah laut, walau tidak selamanya, buktinya sekarang saya ada di sini :)

Masih banyak ceritanya, tapi kompienya mau dipake kerja lagi, lain kali kita sambung...Hmm tahun depan saya akan jadi wellsite juga, mungkin akan lebih banyak lagi ceritanya tahun depan.

Barusan aja, seorang mud engineer pulang ke Balikpapan naik sea truck. Dia sudah 2 minggu di rig, hari ini jadwal dia pulang. Nanti malam dia ke Singapore, trus lanjut lagi ke Amsterdam dan akhirnya ke London, perjalanan panjang untuk pulang ke rumah, bertemu lagi dengan istri dan anak yang sudah 2 minggu tidak berjumpa. Sudah sangat rindu tentunya.

ps : 3 hari lagi Pak..miss u tu

Tuesday, August 1, 2006

.............................................


Hmmm andai kita bisa mengulang kembali ke waktu itu
Andai saja kamu memberanikan diri berbincang dengan saya waktu itu
Mungkin jalan cerita hidup kita akan sedikit lebih cepat :)

Tapi....saya tetap bersyukur, alhamdulillah
Mensyukuri pertemuan ini kembali, mensyukuri rasa yang dulu lahir
Terpisahkan jauh.
Tapi ternyata tidak mati, bahkan sekarang terus tumbuh bersama

Friday, July 28, 2006

Bon Weekend Everyone


Jumat yang indah hari ini, tepat 16 menit lagi saya akan mengangkat gagang telpon di samping kiri meja, menelpon 0542-874545, memesan 1 unit mawar, 30 menit lagi saya akan mematikan komputer, say good bye ma Pujo, Kakek, Arif, Al, Mas Edy, Mas Bayu (yang tiba2 pulang dari Paris dan ngasi oleh2 coklat enak he he) dan mungkin orang - orang yang bertemu di koridor. Berjalan ke Gate 1 dan saya akan berangkat ke Sepinggan.

Cihuyyyyyyyyy..saya mau pergi dulu sebentar, transit sebentar di sebuah kota di utaranya Gunung Salak (entah kenapa saya ga pernah suka dengan kota ini, tidak ramah), menuju Gambir, naik kereta menuju ibukota Jawa Tengah, naik bis lagi ke sebuah kota yang terkenal dengan pabrik rokok.

Paling lambat tengah malam nanti saya akan bertemu dengan sahabat baik saya Neneng..Duh senangnya, mau curhat dulu ma calon manten, dan besok adalah my best friend wedding. Mudah-mudahan masih sempat jalan ke mesjidnya Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Malam minggu pulang ke Bandung naik bis, pagi hari sudah tiba di rumah lagi, di Cimahi..ah senangnya :) Walau minggu malam harus berangkat lagi ke Jakarta, dan pulang lagi ke Balikpapan. Bon weekend everyone.

ps : 4 jam lagi kita bertemu Pak :)

Thursday, July 27, 2006

Ajiyoshi Family



Sebetulnya udah dari beberapa hari yang lalu saya ingin posting tentang tema ini : makan dan berat badan :) tapi baru sempat hari ini, gara - gara abis imel-imelan ma sahabat baik yang baru saja jadi manten anyar dan tiba - tiba ngobrolin soal ini juga he he.

Minggu lalu saya melakukan medical check up tahunan, hasil akhir : dokter menyarankan saya untuk diet karena saya sudah sangat GEMUK sekali apabila dibandingkan dengan dua tahun yang lalu saat saya pertama kali masuk ke kantor ini :D

Sebetulnya dari dulu saya memang rada bermasalah dengan urusan berat badan he he, hobby masak dan makan plus bakat gemuk yang memang udah dari sononya membuat saya mudah sekali menjadi gemuk. Waktu kuliah masih agak mending, makan tidak teratur, daya jelajah tinggi, leleweungan dan otdor-otdoran tiap hari bisa membuat berat badan saya stabil. Kerja di Jakarta selama 1 tahun malah pernah membuat saya jatuh sakit dan saya pernah kurus banget, he he senangnya.

Tapi..
pindah bekerja ke Balikpapan membuyarkan semua impian berbadan kurus. Balikpapan adalah surga makanan laut : kepiting, ikan dan sejenisnya. Di sini kesempatan saya untuk beraktivitas fisik sedikit saja. Kegiatan favorit saat akhir pekan adalah berbelanja ke pasar dan memasak bersama teman - teman. Undangan makan malam di kota ini nampaknya menjadi trend, hampir tiap minggu ada, dan pasti di tempat yang enak. Jadi jangan heran kalau selama dua tahun ini berat badan saya naik terus :D

Saya sempat merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Kadang ingin juga punya badan langsing kurus bak model he he, beli baju kayanya juga gampang, ga kaya sekarang yang untung-untungan banget. Banyak baju murah dan modelnya keren tapi ukurannya kecil - kecil :(

Tapi hasil obrolan tadi siang dengan sahabat saya malah kebalikan, dia pengen banget gendut, padahal dia hobby-nya makan..cuman kok ga gendut-gendut ya..he he curang banget, bisa makan banyak tapi tidak menjadi gendut. Lucunya sekarang dia suka dimarahin sama suaminya gara - gara suka makan banyak di kondangan, malu-maluin katanya :D

Sekarang saya mah mau rajin makan aja, yang penting sehat. Diet kalau salah aturan takutnya malah bikin sakit. Saya akan berpedoman pada kata - kata bapak kasep tur bageur : ngga usah diet nanti malah sakit, makan yang banyak biar sehat, diet ga makan pagi dan malem itu mitos..liat tabloid Nova (asa ga percaya Bapak baca tabloid Nova he he) juga kata - kata Mami saya : kamu di Balikpapan ga makan ya, kok jadi kurus gini he he (padahal jelas - jelas berat badan naik terus). Pokoke hidup masak dan makan, dan dengan bangga saya akan bilang setiap hari : Pak, tadi pagi May sarapan he he.

Doa saya hari ini : Please God if you can't make me thin, make my friends fat !

ps : haturnuhun Pak, sudah membuat saya sangat nyaman dengan keadaan ini, can't wait for another acara makan - makan dan masak - masak kita - ajiyoshi family tea, apapun dan kapanpun hayuklah :D

Friday, July 21, 2006

Bencana Yang Datang Tak Bisa Direncanakan


Kudengar rintihan
Kawanku yang sengsara di Flores Maumere sekitarnya..
Bencana yang datang, tak bisa direncanakan
Apakah ini cobaan Tuhan
Gempa besar mengguncang
Ombak besar menerjang
Maumere seperti layang-layang

Reff:
Buka matamu kawan lihatlah kesengsaraan
Bukan rasa kasihan yang mereka perlukan
Perasaan kasihan hanya didengar Tuhan
Tapi suatu tindakan bencana terasa ringan

Kudengar rintihan kubaca dari koran
Kawanku menjerit kepanasan
Rumah yang diwariskan
Warisan nenek moyang
Haruslah segera ditinggalkan
Lapangan golf yang megah
Jadi sumber bencana
Katanya lambang kemakmuran bangsa

"Maumere - MUSANG GEA"

Saya baru mengetahui peristiwa gempa di Pangandaran sore harinya, dari sms si kasep tur bageur tea : Jawa Barat kena gempa tadi sore jam 3, 6.8 SR. Sesaat saya langsung teringat, sepertinya baru dua bulan yang lalu, 27 Mei, ketika saya baru saja turun dari Gunung Gede, tiba di Cibodas, menelpon ke rumah dan diberitahu Mami saya : De, Jogja kena gempa tadi pagi..

Musibah..lagi, gempa bumi...lagi, dan tsunami lagi...bencana yang datang tak bisa direncanakan. Ketika itu terjadi manusia seharusnya tidak boleh menyesali, karena katanya di balik setiap musibah pasti ada hikmah yang bisa diambil.

Semoga selalu diberi kekuatan, semoga selalu diberi ketabahan, semoga selalu diberi kemudahan.

ps : hati - hati di Pangandaran Pak.., jaga diri

Tuesday, July 18, 2006

Sesuatu Yang Tertunda


Kita sudah menduga ini mungkin saja terjadi, seharusnya saya tidak kaget lagi. Hmmmm mungkin karena keinginan kita yang terlalu mendadak, yang memang tidak akan mudah diterima begitu saja oleh semua pihak.

Terimakasih untuk telah menenangkan dan menguatkan, semua ini harus kita jalani, bersama, dan maju terus, karena kita tidak akan pernah tahu nasib yang akan menunggu kita di depan nanti. Semoga nasib yang baik.

Pak, puncak gunung itu sudah kita lihat, jalurnya sudah kita plot juga di peta. Ada beberapa jalur alternatif, mungkin bukan jalur mudah yang akan membawa kita kesana, mungkin jalur yang sulit, terjal dan mendaki. Tapi seperti yang kita yakini bersama, yang pasti jalur itu ada, dan tujuan itu kita tetapkan bersama. Bila gagal di jalur pertama bukan berarti menyerah, kita kembali dulu, kita lihat kemampuan kita, kita perbaiki diri dan maju lagi. Semua hanya soal waktu, sesuatu yang tertunda.

Sekarang memang kita masih ada di base camp, semoga kita bisa cepat tiba di puncak, dan semoga dengan jalur yang termudah.

Thursday, July 13, 2006

Cerita dari Gaten

Gaten adalah nama sebuah dusun di Desa Sriharso, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Ketika bencana gempa bumi 27 Mei 2006 lalu, seluruh rumah di dusun ini hancur. 55 KK kehilangan tempat tinggal dan tempat berteduh, 16 orang tewas dalam musibah ini, dan entah berapa kerugian materil dan spirituil yang diderita.

Tapi siang di hari Jumat kemarin ada keceriaan di sana. Ada teman - teman relawan yang sibuk menceburkan sesama relawan lainnya ke kolam yang hitamnya bukan main. Ada Parno, Edi, Tono, dan masih banyak lagi anak - anak yang berebut menyalami saya yang baru saja datang. Ada jabat tangan yang akrab, ada salam perkenalan yang hangat. Ada senyuman disana, tidak ada lagi tangis dan air mata.


Gurame goreng kemarin mungkin biasa saja, dijala langsung dari kolam hitam tadi. Nasi putih yang biasa, dimasak di sebuah panci besar untuk kami semua. Sambalnya juga mungkin biasa saja, diulek oleh Bu Dusun dan kita goreng sama - sama di wajan hitam yang gosong karena api kayu bakar. Tapi ada yang luar biasa disana, diantara keramahan para penduduk yang tinggal di dalam tenda darurat, diantara kejahilan para relawan yang tinggal disana, diantara semangat mereka semua untuk tetap hidup dan tidak menyerah pada keadaan.


Untuk Gaten, untuk semua orang - orang yang menjadi korban gempa, semoga selalu diberi kekuatan, ketabahan dan kemudahan.


Monday, July 10, 2006

Lagunya Supir Motor di Yogya


di sini kita bicara, dengan hati telanjang
lepaslah...belenggu....sesungguhnya..lepaslah...

sesuatu yang hilang, sudah kita temukan
walau mimpi...ternyata...kata hati..nyatanya...

bagaimanapun aku harus kembali
walau berat aku rasa kau mengerti
simpanlah rindumu, jadikan telaga
agar tak usai mimpi panjang ini

air mata...datangnya...
sampai berapa lama, kita akan bertahan
bukan soal, untuk dibicarakan
mengalirlah...mengalirlah...mengalirlah...

bagaimanapun aku harus kembali
walau berat aku rasa kau mengerti
simpanlah rindumu, jadikan telaga
agar tak usai mimpi panjang ini

air mata...datangnya...
air mata...akhirnya.....
air mata...nyatanya....

Air Mata - Iwan Fals, dari albumnya Kantata Takwa

ps : kusimpan rinduku, kujadikan telaga buat kolam gurame dan tempat nyeburin anak-anak, di sebelahnya ada kebun kedelai 4 kg :)

Sunday, July 9, 2006

Segelas Teh Manis Hangat

Saya baru saja kembali dari suatu perjalanan dan menemukan. Menemukan segelas teh manis hangat yang paling enak sedunia. Karena dibuat dengan cinta dan diberikan dengan senyuman yang tulus. Hanya segelas teh manis hangat di pagi hari, tapi dengan rasa yang luar biasa. Manisnya pas, hangatnya pas.                                                                          

ps : Pak, kita berpisah sementara, untuk kemudian bertemu..lagi. Mau packing trangia dan kawan-kawan dulu dari sekarang, nunggu door prize selanjutnya, Ibu siap berangkat untuk survival di kehidupan bersama Bapak..selamanya.

Wednesday, July 5, 2006

yang fana adalah waktu


yang fana adalah waktu, kita abadi
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari, kita lupa untuk apa
"tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu, kita abadi

by Sapardi Djoko Pramono

Monday, July 3, 2006

Dan Kitapun Bertemu Lagi

Saya masih ingat banget judul postingan Jeng Sita beberapa bulan yang lalu : DAN KITAPUN BERTEMU. Jeng Sita saya pinjam judulnya yah, tapi dengan sedikit tambahan ; DAN KITAPUN BERTEMU ...LAGI

Hal yang biasa dalam hidup, people come and go, datang dan pergi. Ada yang benar - benar pergi karena keadaan (tinggal berjauhan, meninggalkan dunia, dll) tapi ada juga yang pergi karena ingin pergi.

Seorang sahabat baik pernah berbagi tentang pandangannya tentang soul mate. Menurut dia, soul mate adalah orang - orang yang selalu dekat dengan kita walaupun secara fisik dia berjauhan atau bahkan lama tidak berkomunikasi namun kita masih selalu merasa dekat dengan dia. Soul mate buat dia lebih berarti cinta dan persahabatan yang tulus.

Nah disadari atau tidak, kita akan merasa nyaman dengan orang-orang yang betul-betul nyambung dengan kita. Kuantitas pertemuan pun menjadi urusan no 2 disini. Misalnya : sahabat dekat di jaman SD, lama berpisah, biasanya ketika bertemu bisa langsung klik, langsung nyambung. Mungkin karena alam bawah sadar kita secara tidak langsung sudah merasa nyaman dengan dia. Karena dalam hubungan itu ada cinta dan persahabatan yang tulus. Logis kan.

Cepat-cepat postingnya mumpung masih ingat, udahan ah kerja lagi.

ps : Dan kitapun bertemu...lagi :)

Sunday, July 2, 2006

Mengejar Matahari



Setiap hari, Tuhan memberi kita matahari, juga satu saat ketika kita mampu mengubah segala sesuatu yang membuat kita tidak bahagia. Setiap hari, kita berpura - pura belum mengalaminya, menganggap saat itu tidak ada - bahwa hari ini sama dengan kemarin dan tidak akan berbeda dengan hari esok.

Namun jika setiap hari manusia sungguh-sungguh memperhatikan kehidupannya, mereka akan menemukan saat magis itu. Saat itu bisa saja muncul ketika kita melakukan sesuatu yang remeh, seperti menyelipkan anak kunci pintu muka ke lubangnya; saat itu juga bisa bersembunyi dalam keheningan sesudah makan siang, atau dalam seribu satu hal yang bagi kita tampak sama saja. Tapi saat itu ada - saat ketika segenap kekuatan bintang menjadi bagian dari kita dan memungkinkan kita menciptakan mukjizat.

Kebahagiaan terkadang adalah berkat, namun lebih sering berupa penaklukan. Saat magis membantu kita berubah dan mengantar kita mencari mimpi-mimpi kita. Benar, kita akan menderita, kita akan menghadapi masa-masa sulit, dan kita akan mengalami banyak kekecewaan - namun semua ini hanya sementara, tidak akan meninggalkan bekas yang kekal. Dan suatu hari kelak kita akan menoleh, dan memandang perjalanan yang telah kita tempuh itu dengan penuh kebanggaan dan keyakinan.

From : By the River Piedra I Sat Down and Wept, a book by Pauolo Coelho
Pic from deviantART

Friday, June 30, 2006

Masuk Tivi Euy


Tadi pagi di kantor saya ada sedikit keramaian, ada syuting film. Syuting ? Film ? Iya, betul kok, ada syuting film, dan saya jadi salah satu aktrisnya he he norak.

Jadi ceritanya begini. Salah satu tv Perancis yaitu France 3 punya program acara yang namanya Thalassa, ditayangkan setiap Minggu malam jam 8, di Perancis sana (mungkin pake Indovision di Indonesia juga bisa nonton kali ya, berarti jadi Senin dinihari jam 2). Barusan saya coba cek websitenya France 3, dan ternyata program acara ini menarik juga lho.

Cerita selengkapnya tentang Thalassa bisa di cek di sini. Sesuai dengan judulnya : Thalassa - Le Magazine de la mer, program ini menayangkan liputan tentang kehidupan di laut atau di sekitarnya. Mereka pernah melakukan liputan di Biarritz (kota pantai di perbatasan Spanyol dan Perancis), Madagaskar, Sydney dan masih banyak lagi.

Saat ini mereka rupanya ingin membuat film tentang kota Balikpapan sebagai kota minyak. Termasuk orang - orang yang tinggal dan bekerja di kota ini, community development, Delta Mahakam, dan tentunya pantai Balikpapan yang indah ini.

Jadi, tadi pagi saya syuting untuk bagian orang - orang yang tinggal dan bekerja di kota ini. Kenapa yang dipilih adalah TOTAL, ya soalnya ini perusahaan punya bangsa mereka. Trus kenapa yang dipilih kantor May ? he he inilah yang aneh. Mas Bayu, bos saya, juga ga tau kenapa departemen kita yang dipilih, katanya itu sudah ditunjuk dari Management. DKS/TUN dan mainly di G&G nya.

Akhirnya tadi pagi, working room Tunu disulap jadi ruang syuting. Pemerannya ada 3, May, Mas Bayu dan Al. Tiga geologist Tunu. Ceritanya kita diliput ketika kita lagi morning meeting. Seperti biasa kita nerima data dari rig site, korelasi marker dll untuk setiap well yang sedang drilling. Terus kita meeting dan diskusi. Plan hari ini, constraint dan sebagainya. Sebetulnya ini adalah daily work kita, jadi ya beneran kaya kerja terus ada yang syuting ajah.

Sesi kedua adalah sesi interview. Pertama yang diinterview adalah Mas Bayu, topiknya tentang Total, pekerjaan sebagai geologist, oil and gas. Dan ternyata yang diinterview kedua adalah May. Saya lebih banyak ditanya mengenai personal opinion saya mengenai Balikpapan, kenapa saya memilih menjadi Geologist, kenapa saya mau tinggal di Balikpapan, maukah saya ditugaskan ke Nigeria (yang langsung saya jawab iya, no problem ..siapa tau Pak Jahan nanti lihat, besok langsung IA he he). Kesimpulannya menarik.

Maksud saya menarik adalah pekerjaan membuat film itu menarik. Saya nampaknya harus mulai serius dengan project pertama Never Ending Yogya. Semangat !

ps : jangan lupa tonton saya di France 3, Agustus nanti hehe.

Khusus Buat Neng Mia


Postingan ini didedikasikan khusus buat Neng Mia yang sedang berlibur di kota kelahiran he he he....

Friendship Football Match with PERSIBA All Star
Come and joint friendship football match between TOTAL & PERSIBA All Star on Saturday, 01 July 2006, at 16.00 at Community Center. Don't Miss It.

Football - Nonton Bareng World Cup 2006
ORSOSBUD Football will conduct "Nonton Bareng World Cup 2006"
Saturday : 1 July 2006, INGGRIS Vs Portugal, Time : 10.00 PM
Sunday : 2 July 2006, The winner (Brazil vs Ghana) VS (Spanyol vs Perancis), Time : 02.00 AM

Maksud dan tujuan dari postingan ini silahkan diinterpretasikan sendiri ya Neng Mia. Yang jelas tadi Pak Riski lagi sibuk cari MC buat nonton bareng, saya langsung propose Neng Mia, tapi aduh sayang jagoan sepakbola kita lagi studi banding ke kampungnya Persib.

A bientot a Balikpapan :)

ps : kade hilap titipan batagor sareng kiripik sareng dodol sareng brownies na he he

Thursday, June 29, 2006

Genk, Nonton Bareng Yuk


Pagi - pagi baca email : 
jerman vs argentina, gimana klo besok malem kita nonton bareng,
ky wiken kmrn tuuhh.. sambil ngemil gorengan + makan ketan ;p
may siap masak ko (hehehe... lagi...)
kopi, teh, gula, (dan air panas tentu ;p) insya Allah ada gimana?

Sebetulnya saya bukan penggemar bola, walaupun saya adalah pemain bola spesial futsal 17-an. Tahun kemarin, DKS-departemen saya bekerja, jadi juara 2 futsal se Total lho . Tapi sungguh saya ga ngerti main bola. Gara - gara Neng Mia saya sempat nonton juga di stadion, PERSIBA vs PERSIK, padahal cuman ngerti gol saja. Peraturannya mah ga ngerti, apalagi nama-nama pemainnya.

Pesta 4 taunan piala dunia membuat saya agak membuka mata. Soalnya dimana-mana semua orang ngomongin bola. Waktu coffee break, di mobil waktu berangkat ke kantor, di ruangan OPG, waktu ngobrol ma Mia, ma Feri, sampai milis kantor pun membahas bola.

Tapi sayang saya tidak pernah punya keinginan bangun malam khusus untuk nonton bola. Walaupun sebenernya buat saya begadang bukan masalah. Hingga minggu kemarin saya terjebak, di sebuah rumah di MAWIJA, saya jadi nonton bola, bareng siswa Bib dan penghuni Mawija dan BB lainnya.

Dua kali nonton bola, dan dua - duanya ketiduran di depan TV. Bangun - bangun pasti pertandingan udah selesai dan diajak pulang he he. Kita coba di acara nonton yang ketiga besok malam :) Kebangetan kalau masih ketiduran juga nih.

Monday, June 26, 2006

Kebanjiran


Dulu sekali orang - orang jaman dulu pernah bilang, katanya kalau hujan itu biasanya di bulan yang ber - ber an saja, semisal : September - Desember. Tapi tampaknya itu tidak berlaku lagi. Sekarang bulan Juni, akhirannya ni bukan ber. Tapi di kota saya, di Balikpapan hujan deras hampir setiap hari, siang ataupun malam, kadang diikuti angin kencang.

Seperti juga tadi malam, hujan deras sekali, plus angin juga, sepanjang malam hingga pagi. Ketika terbangun tadi pagi, ternyata bocor sudah dimana-mana, bocornya nambah. Saya dan Yanti segera mencari baskom dan ember, ngepel, ngegeser lemari, dll tindak preventif dan rehabilitatif menyambut genteng bocor. Beres..Yanti mandi dan sambil menunggu giliran saya mengirim sms ke Mas Faisal, mamang tukang yang biasa datang membetulkan genteng dll. Selesai sms dikirim saya mandi..baru saja menutup pintu, tiba-tiba Yanti berteriak : May..di depan banjir. Saya kaget sekali dan menghampiri Yanti, ternyata betul di depan rumah banjir, tinggi sekali, ban kijang yang diparkir di jalan sudah terendam air. Saya begegas mandi dan berpakaian. Pak Waluyo driver hari ini juga ga bisa datang, rumahnya kebanjiran juga. Makin lama airnya makin deras, carport juga ikutan tergenang, batang kayu mulai hanyut, knalpot mobil sudah terendam. Akhirnya saya menelpon Al, teman kantor yang mobilnya land rover, minta dijemput, khawatir kijang mogok.

Sambil menunggu, Yanti mencoba menghidupkan mobil, ganti kostum dulu, celana pendek, untung mobil bisa jalan. Yanti mindahin mobil ke jalan lain dan siyal ketika jalan pulang ke rumah ternyata airnya dalam banget. Saya ikutan ganti baju, ngambilin baju ganti buat Yanti, pake jaket dan jalan ke mobil, kaya nyebrang sungai, dan lumayan jauh. Lagi seru-serunya berusaha nyebrang, Al dan landrover datang, kami bilang kalau mobil bisa jalan. Saya minta tolong Al untuk jemput Jessi saja. Saya dan Yanti jalan duluan pakai kijang, bener aja, 1 kompleks sudah kebanjiran. Semua orang tampak berusaha mengeluarkan mobil dan memindahkan ke tempat tinggi. Di jalan kita mulai tenang, walau masih mikir nyari tempat mandi dan ganti baju. Baru aja keluar kompleks, di arah ring road, ternyata banjir juga, mobil semuanya memutar balik. Akhirnya saya menelpon Al lagi, minta dijemput lagi, ke rumah Al, parkir mobil, numpang mandi. Mobil Al datang, udah penuh, isinya tetangga yang mobilnya juga ga bisa lewat. Kami semua telat tiba di kantor, hujan makin deras, semoga rumah saya aman.

Pelajaran yang bisa diambil :
1. Perbaiki genteng - hari ini dicek lagi sama Mas Faisal
2. Beli mobil yang tinggi, minimal land rover plus perahu karet
3. Jangan beli rumah di KUTAI HILLS (developernya ngga beres)
4. Pindah rumah

Thanks to :
Yanti, my housemate yang tadi pagi menemani saya mengepel dll..seru banget ya Yan. Al yang bersedia menjemput dengan landrover, semua tetangga teman senasib, satpam Kutai Hills yang tetap tersenyum ketika mobil kami melewatinya (padahal posnya dah kebanjiran juga), Mas Eko yang nanya kabar Kutil lewat email tadi..terharu, juga Siswa Bib yang bilang : Lho bukannya perumahan elit ya May (pokoke nanti malam bantuin ngepel), juga Mas Nur yang menelpon dan menawarkan bantuan sambil bingung ngedenger saya mau beli perahu karet (he he biar kalau Mawija banjir bisa dievakuasi juga), juga semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Pagi yang seru, awal yang indah di minggu ini he he.

Update 4.18 pm
Baru aja dapat info, dari milis warga kompleks. Ternyata penyebab utamanya banjir adalah robohnya tembok pembatas kompleks, di belakang kompleks memang terdapat rawa kering yang bila hujan menampung air. Rupanya hujan semalam yang sangat deras membuat rawa meluap dan akibat tekanan air, tembok pembatas itu roboh. Sekali lagi ini lebih karena developer a.k.a WIKA yang membuat fasilitas tembok pembatas di bawah standar, hanya batako dan semen seadanya..pantas banjirnya seperti air bah

Saturday, June 24, 2006

Terlalu Banyak Senang - Senang


Selamat pagi, selamat akhir pekan. Di sini, di Balikpapan memang masih sangat pagi, hari Sabtu, weekend. Kebetulan saya lagi ada di kantor, ada pekerjaan seperti biasa. Untungnya tidak sendirian, ada Mas Hermawan dan Mas Anang, 2 orang lainnya yang juga bekerja seperti saya he he.

Pathetic ? bekerja di akhir pekan, stand by 24 jam, ke kantor jam 2 pagi, pulang ke rumah jam 6 pagi lanjut lagi bekerja jam 7.30 masih pada hari yang sama. Pantas ada sebuah sms di pagi hari yang secara eksplisit menyatakan saya adalah orang yang gila kerja, terlalu sibuk ngejar duit !!!! Bagaimana bisa begitu ?

Saya adalah pegawai di sebuah perusahaan, bekerja sesuai dengan job description yang diberikan atasan. Gaji bulanan saya tetap, tidak pernah ada uang lembur yang diberikan walau saya bekerja di akhir pekan ataupun bekerja jam 2 pagi sekalipun.

Sejauh ini saya suka pekerjaan saya. Ke kantor jam 2 pagi adalah hal biasa, bekerja di akhir pekan adalah hal biasa. Berat, capai, melelahkan, itu pasti. But it's risk of my work, saya menyadari itu. Kesulitan yang saya hadapi ketika bekerja di sini tidak ada apa-apanya dibandingkan penjual sayur yang shubuh2 harus ke pasar, kulakan sampai sore, baru pulang ke rumah mungkin malam hari. Atau petugas parkir yang sepanjang hari harus berdiri di bawah terik matahari.

Pekerjaan saya ngga ada apa-apanya. Saya bekerja di ruang AC, dengan fasilitas yang memadai. Gaji yang cukup..alhamdulillah. Saya coba untuk tidak mengeluh.

Tapi, saya bukan gila kerja, gila uang. Saya datang bekerja ke kantor karena ini adalah tanggungjawab saya, hanya itu. Entah kenapa saya agak sedih ketika membaca sms itu, sms yang menyatakan saya orang yang gila kerja, dan mengejar uang semata. Sedih.

Padahal kemarin saya baru ngobrol lewat email dengan seorang sahabat, saya bilang kalau hidup saya saat ini terlalu banyak senang-senang, terlalu banyak ketawa-tawa. Tolong ingatin biar hidup saya seimbang, ga mikir senang-senang aja.

Mungkin bener yang dikatakan dalam sms itu, May gila kerja, nyari duit mulu, terlalu banyak senang-senang.
SEDIH !!!

Friday, June 23, 2006

Cowok Ganteng Alias Idaman


PERHATIAN ..ACHTUNG ACHTUNG :
Postingan berikut adalah postingan ga penting, maybe too shallow..maaf maaf..syndrom banyak pekerjaan di akhir pekan nih. Bon weekend everyone :)

Berawal dari obrolan semalam di rumah Jeng Feri. Kami bertiga (saya, Feri dan Putri) baru saja pulang kantor dan makan malam bersama, masakan Nenek yang enak itu. Seperti biasa pula kami ngobrol tentang banyak hal, mengupdate berita dan girls talk pasti ga jauh - jauh, intinya kebanyakan sama, dan akhirnya kami juga menyinggung hal itu : kriteria cowok ganteng he he..atau cowok cakep yah.

Aduh sebetulnya enggak banget, di umur kami bertiga yang sudah "twenty something" kami masih berbicara tentang cowok - cowok ganteng alias cakep itu. Walau sekarang lebih realistis, yang diomongin adalah teman - teman cowok kami (halow Wan, jangan senyum-senyum atau bahkan ketawa terbahak-bahak waktu baca ini ya, jangan bilang anak - anak juga he he)

Sebetulnya orang-orang yang dekat dengan saya pasti tau pasti, selera saya mah rada aneh. Definisi cakep dan idaman saya biasanya ga pernah sama dengan definisi kebanyakan wanita tentang cowok cakep dan idaman.

Dulu sekali, saya dan Tyas - Neneng - Rini pernah ngobrol panjang tentang hal ini. Kesimpulan kami saat itu, ada 4 kriteria suami idaman :
1. fotografer, maksudnya kalau jalan-jalan ada yang motoin kita dengan sukarela, mengingat kami semua adalah banci foto, lebih rela jalan-jalan bawa tripod yang berat itu atau minta tolong difotoin orang yang ngga dikenal sekalipun, demi ngga kehilangan satu momentpun.
2. koki, dalam artian bisa masak, atau minimal mau dan ngga malu turun ke dapur dan belanja ke pasar, biar bisa meringankan tugas kita he he
3. porter, bukan porter beneran, minimal suka olahraga, jadi kalau naik gunung bisa dititipin barang, aduh pemalesan he he
4. bisa main gitar, lebih bagus lagi kalau bisa nyanyi, mengingat menyenangkan duduk di depan api unggun di depan tenda, malam - malam di bawah langit penuh berbintang sambil minum segelas coklat hangat dan mendengarkan suami bermain gitar.

Hue he he begitulah, catatan tentang 4 hal di atas masih tersimpan rapi di sebuah buku yang dulu selalu saya bawa kalau jalan-jalan. Plus sebuah catatan dengan huruf besar : JANGAN LUPA, LIBURAN KELUARGA KE RINJANI bersama fotografer, koki, porter dan gitaris masing-masing.

Tapi bagaimana harapan terwujud dalam kenyataan. Satu-satunya yang sudah menikah dari kami berempat adalah Tyas. Hmmmm bagaimana ya, nampaknya tidak ada satupun dari kriteria di atas dipenuhi oleh Karel - suami Tyas..he he tapi Karel baik hati lho. Mungkin ini harus dimasukkan ke kriteria tambahan, di tempat ke 1 malahan. Saya ingat cerita Tyas waktu ngajak Karel naik Merapi bertahun silam, yang ada Tyas yang badannya imut malah jadi porternya Karel he he he. Dan Karel kapok naik gunung lagi.

Kriteria yang sulit, walau bukan harga mati he he (terbukti pada Tyas kan). Sekian dulu ah, saya mau bekerja lagi, meneruskan GPU review sumur yang banyak banget itu. Selamat bekerja semuanya

ps : Jodoh, baik hati, fotografer, koki, porter dan gitaris..mungkin harus ditambahkan sholeh (berarti saya juga harus terus memperbaiki diri biar jadi shalehah)

Monday, June 19, 2006

Bumi Itu Imut


Memang ga sia - sia Eyang Jules Verne menulis novelnya : Around the World in Eighty Days, tahun 1956 lalu. Novel yang kemudian diadaptasi menjadi sebuah film ini merupakan salah satu film favorit saya dari jaman kecil dulu hingga kini.

Hop on sailing railroad across The West ! Be attacked by fierce prairie Indians ! Rescue a Princess in India ! Sail a burning Atlantic paddle-wheeler ...and more 

BUMI itu IMUT kok, 80 hari saja kita bisa mengelilinginya, apalagi di jaman sekarang, pastinya lebih cepat. Seperti juga isinya, ternyata imut - imut, itu -itu aja kok.

Logo di atas dibuat oleh teman baik saya : Aries dan pastinya dipengaruhi berat oleh Joko he he. Ibu satu ini memang jempolan, ga cuma doyan jalan-jalan (alias naik gunung pastinya) tapi juga jago moto (kalau ini saya belum ketemu tandingannya ampe sekarang, photograpghy by heart, actually) dan bikin desain (iyalah, kerjaannya memang arsitek he he). Dan akhirnya klub inipun terbentuk : klubkempingceria.

Sebetulnya ini murni ide Aries dan Joko, saya juga cuma diajak. Di launch via email ke semua teman-teman Aries dan Joko..dan ternyata, di list email itu ada beberapa nama yang juga saya kenal baik. Tapi siyalnya kami tidak pernah bercerita satu sama lain kalau kami kenal Aries atau Aries kenal saya..tapi jelas BUMI itu IMUT...seperti orang - orang di klub ini.

ARIES : saya kenal tahun 2004 lalu, dikenalin sama Jenny (saya malah belum pernah ketemu face to face ma Jenny). Sms -an, telpon dan akhirnya ketemu di Kampung Rambutan, di suatu malam sabtu yang cerah. Dan kami naik gunung bareng ke Gunung Gede, kita berdua sama-sama jadi fotografer untuk acara pendakian Kartini 2004. Ternyata kita sama-sama orang Cimahi, sama sama kuliah di kampus yang sama. Sampai sekarang saya dan Aries belum pernah ketemu lagi, padahal saya selalu melaunch janji - janji surga untuk naik gunung bareng (Agustus InsyaAlllah Ries he he)

Di klub ini ternyata muncul pula Mario, ini sih ga usah jauh-jauh, partner sejati saya untuk naik gunung dan jalan-jalan, dah kenal dia sejak 8 tahun yang lalu. Ternyata dia kenal Aries juga tapi ga pernah cerita he he.

Ada juga Santia yang ternyata istrinya Sidik, senior saya di KMPA dulu..walah kok bisa. Usut punya usut ternyata Sidik kenal Santia dari Mario he he. IKA adalah teman sekantor saya waktu masih kerja di Jakarta dulu, ga usah jauh-jauh, ternyata dia teman Aries dan sering naik gunung bareng juga..nah lho.

Ah BUMI itu IMUT..percaya deh, apalagi kalau mengingat bagaimana saya bisa bertemu kembali dengan seseorang.

Seperti kisah Billy dan Puput yang dulu pernah saya ceritakan, bagaimana kami bertemu di Bandung, 7 tahun yang lalu, dan akhirnya kami berkumpul kembali di Balikpapan saat ini. Siapa yang mengira kalau Puput ini teman se - SMA adiknya Wawan, teman saya juga. Atau Ikbal-teman main di Balikpapan yang ternyata kakak kelasnya Puput. Atau Mia yang dulu pernah saya tumpangi ketika di Paris sana, ternyata sekarang ga jauh-jauh, di Balikpapan saya masih sering juga nebeng mandi dan tidur di kamar Mia. Ada juga Arif, teman saya waktu OJT dulu, siapa yang mengira akhirnya kita sama-sama kerja lagi di sini, kantornya hadap-hadapan pula, o iya..saya dan 7 orang teman pernah juga numpang nginap di Yogyakarta, 3 tahun yang lalu.

Ada lagi lho, tiba-tiba teringat Om pemilik Hotel Pison di Toraja (aduh maaf saya lupa namanya). Om ini adalah Om-nya David, temannya Mario. Ternyata David ini sepupunya Yudith, tetangga saya di Balikpapan..he he tau gitu diskon hotelnya kemaren bisa dobel.

Yup..BUMI itu IMUT. Kemanapun melangkah pasti ada hubungannya. Siapa yang mengira, di puncak Gede, bulan lalu, saya ketemu Adi dan Syamsuar, junior saya di KMPA. Ah tau gitu kita naik bareng aja, kalian bisa jadi porter he he.

BUMI itu IMUT teman ! A small world and a simple life of mine.

ps : baru aja mau klik publish post, tiba-tiba ingat kalau Aries ini anak Arsitektur'93, Imgar mungkin kenal juga he he





Friday, June 16, 2006

Dua Menjadi Satu


sesungguhnya aku sedang kembali jatuh cinta
pada kembang padang ilalang
pada harum hutan dan hujan

kembali mencari jawab
atas sebuah pertanyaan

dan akhirnya...
lambaian edelweiss yang tertiup angin
birunya langit , putihnya awan
menyampaikan jawaban yang selama ini dicari

Tuesday, June 13, 2006

Arisan


Berawal dari sebuah pesan pendek berikut ini :
From : Puput
Gw lagi di Balikpapan neh, besok ada training..Ayo ketemuan, ajak Billy juga, tapi lo yang traktir, kan abis ultah :p

Akhirnya saya menelpon Billy, deal. Saya balik menelpon Puput, deal, kumpul jam 7 di Resto Fish Connection...yipie makan gratui.

Billy yang baru pulang dari lapangan ternyata mau pulang ke rumah dulu untuk mandi, akhirnya saya memilih menunggu di kantor sambil ganti layout lagi (gitu ceritanya layout ini Rima he he). Sholat Maghrib, hujan gede, dan bermodalkan payung orange saya melaju ke resto tersebut.

Ternyata saya datang pertama kali, restoran tampak sepi, mungkin karena hujan, dan musim piala dunia,orang lebih memilih diam di rumah sambil nonton bola saja. Saya memilih sebuah tempat di teras, bulan purnama penuh, hujan masih turun rintik-rintik, laut nampaknya kurang bersahabat, jadi teringat teman-teman yang sekarang sedang bekerja di rig sana.

Puput akhirnya datang, masih dengan gaya khasnya, rambut gondrong, senyum-senyum, dan rantai kapal di dompet, serta tas selempang yang pasti berisi kamera. Kami memesan minum, dan pertanyaan Puput yang pertama selalu sama : "Jadi gimana kabar lo sekarang May ?"

Hp saya berbunyi, ternyata Billy, "Gw dah di dalam Bil, ke dalam aja langsung". Ga berapa lama Billy datang, seperti biasa, dengan senyum nakalnya (yang selalu bisa menaklukan wanita he he) dan jaket hijaunya. Dan seperti biasa dia juga menanyakan hal yang sama pada Puput : "Jadi gimana kabar lo sekarang Put ?"

Kami duduk bertiga, Billy di hadapan saya, Puput di sebelah saya. Memilih dan memesan makanan. Tiga orang yang kelaparan : ikan gurame saos bangkok, cumi goreng bawang, tumis kailan seafood, dan udang goreng mayonnaise, jangan lupa juga nasi putih.

Menunggu makanan datang, kami bertiga terdiam sejenak. Dan kemudian kami saling mengupdate berita masing-masing, liburan, pekerjaan, rencana jalan-jalan. Gosip terbaru, gempa Yogya.

Menyenangkan, berkumpul kembali bersama kalian berdua disini, di Balikpapan. Billy dan Puput saya kenal sejak tahun 1999, ketika kami sama-sama tergabung di unit pencinta alam kampus. Secara angkatan kuliah mereka berdua adik kelas saya, tapi secara umur saya paling muda di antara mereka. Dan dengan seenaknya mereka berdua meminta saya memanggil Kang Mas Billy dan Kang Mas Puput he he.

Kami menjadi akrab karena kami pernah tergabung dalam satu tim ekspedisi ke Sulawesi, tahun 2001 lalu. Hampir 1 bulan saya habiskan bersama mereka, di kereta ekonomi, di atas kapal feri, sampai pedalaman Sulawesi yang kami telusuri bersama. Dan akhirnya kami sering merencanakan perjalanan bersama, atau cuma sekedar nongkrong di SEL dulu.

Dan akhirnya kami bertiga berkumpul kembali di sini, di Balikpapan. Saya pertama kali pindah bekerja kesini, dua bulan kemudian Billy yang baru lulus juga diterima di perusahaan yang sama, juga Puput menyusul 4 bulan kemudian, walau Puput ditempatkan di lapangan dengan jadwal kerja yang 2 - 2 itu (2 minggu kerja, 2 minggu libur, menyenangkan bukan). Ah dunia memang sempit kan. Siapa pernah mengira kami bertiga berkumpul kembali di sini.

Sejak itu kami selalu mengadakan arisan bulanan, 1 bulan sekali, menyesuaikan jadwal kedatangan Puput ke Balikpapan, sepulangnya dari lapangan. Sedangkan saya dan Billy kebetulan berada di kantor yang sama dan kami sering bertemu. Pertemuan yang menyenangkan dan tidak pernah membosankan. Seperti juga malam tadi. Semoga persahabatan ini tetap terjaga ya teman. Terimakasih.

ps : tau ngga sih Put, Bil, kalian berdua adalah salah satu alasan saya masih bertahan di kota ini, di perusahaan ini. Jangan pindah dulu sebelum saya pindah he he

Sunday, June 11, 2006

Seasons of The Heart


Tadi malam, seperti biasa seperti malam-malam sebelumnya saya bermain tenis, tepatnya berlatih tenis bersama teman-teman kantor. Dan seperti biasa, sesudah sesi - sesi forehand, backhand, voli, smash dan servis yang panjang nian itu, datanglah saat yang ditunggu : main. Kami main double, cewek semua. Semuanya nampak seperti biasa, hingga tiba giliran saya untuk serve dan tiba-tiba...mmm saya merasa tenang, senang dan bahagia..WARM.

Rasa ini muncul begitu saja, tidak ada pemicunya sama sekali. Saya langsung teringat dengan rasa yang sama yang muncul 6 tahun yang lalu. Perasaan yang sama, tenang, damai, begitulah, saya tidak bisa mendeskripsikannya.

Tahun 2000, sekitar bulan Juli akhir, saya ingat persis kejadiannya. Saya sedang berada di kampus, siang hari, berjalan sendirian dari toilet menuju Musholla Jurusan Farmasi, mau sholat Dzuhur. Tiba - tiba saya merasakan perasaan itu. Saat itupun saya tidak bisa memastikan apa penyebabnya. 

Rasa itu bertahan lama sekali. Rasa yang bisa membuat saya berjalan dengan ringan, tersenyum, dan damai. Rasa yang membuat saya bisa dengan ringan berkata : saya harus kesana memang karena saya harus kesana, saya berjalan karena memang saya harus berjalan. Rasa yang membuat saya menjadi apa adanya..menjadi ikhlas.

Saya pernah bercerita tentang rasa yang tiba-tiba muncul itu kepada Tyas, sahabat wanita saya. Di tepi danau Segara Anakan, Gunung Rinjani, di dalam tenda. Dua minggu berselang sesudah rasa itu muncul. Kami berdua baru saja menyelesaikan sholat Maghrib dan kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Dan saya menceritakan hal itu. Menurut Tyas rasa itu adalah anugrah, sulit untuk memperolehnya, apapun alasan yang memicunya. Iya, saya sepakat.

Tapi saya lupa, bagaimana rasa itu tiba-tiba memudar. Begitu saja.Hingga tadi malam, muncul lagi. Saya tetap tidak mengetahui dengan pasti apa penyebabnya. Seperti juga rasa yang dulu. Alhamdulillah, semoga rasa ini terus bertahan.

He he he saya tidak punya alasan yang jelas kenapa saya harus menulis tentang rasa itu di sini. Mungkin karena saya rindu Tyas, lama sekali tidak berjumpa dan tidak berbagi tentang banyak hal. Mungkin karena rasa itu membuat saya merasa lebih ringan...dan bahagia.

ps : Seasons of the Heart adalah salah satu lagu yang ditulis dan dinyanyikan oleh John Denver. Lagu yang buat saya banyak sekali maknanya. Tyas, gw tetap percaya adanya chemistry itu :)

Of course we have our differences, you shouldn’t be surprised
It’s as natural as changes, in the seasons and the skies
Sometimes we grow together, sometimes we drift apart
A wiser man than I might know, the seasons of the heart
And I’m walking here beside you, in the early evening chill
A thing we’ve always loved to do, I know we always will
We have so much in common, so many things we share
That I can’t believe my heart, when it implies that you’re not there

Love is why I came here in the first place
Love is now the reason I must go
Love is all I ever hoped to find here
Love is still the only dream I know

So I don’t know how to tell you, It’s difficult to say
I never in my wildest dreams, Imagined it this way
But sometimes I just don’t know you, there’s a stranger in our home
When I’m lying right beside you, when I’m most alone
And I think my heart is broken, There’s an emptiness inside
So many things I’ve longed for, have so often been denied
Still I wouldn’t try to change you, there’s no one that’s to blame
It’s just some things that mean so much, and we just don’t feel the same

Love is why I came here in the first place
Love is now the reason I must go
Love is all I ever hoped to find here
Love is still the only dream I know
True love is still the only dream I know

I Want To Be


Terkadang kita lupa dengan apa yang kita inginkan, lupa dengan impian dan harapan.
Terkadang kita hanyut dengan keadaan, hingga akhirnya kita tersesat, dan terjebak, lost in space.

Saya ngga bisa munafik, saya sudah berada di zona kenyamanan yang diimpikan oleh banyak orang, alhamdulillah, syukur kepada Allah SWT. Tapi saya menyadari ada sesuatu yang mungkin berkurang atau mungkin hampir hilang.

Mengutip Kuda dalam salah satu postingannya dulu (ini kutipan alias jiplak..thanks Kuda he he) :
"Entah kenapa, pikiran yang tolol ini seakan mengamini apa yang dikatakan dalam (udah nonton?) The Edukators (2003). Let me rephrase it : katanya kita butuh sebuah pendorong agar hidup kita nggak monoton-monoton amat. Kita butuh adrenalin dalam perjalanan stabil, sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang meledak, yang bikin kita terengah dan menanti harap cemas scene apa yang akan terjadi di detik selanjutnya kehidupan ini. Hal ini juga yang membuat saya - hampir tepat setahun lalu memilih untuk datang ke kantor kecil ini, bukan menuju kantor lain yang menyediakan slot untuk mengejar ambisi pribadi saya menjadi jurnalis. Adrenalin itu yang bilang, hidup kamu akan membosankan dan walaupun kencang hanya akan seperti mobil Tamiya yang ada treknya. Memang, mobil itu sekali-kali bolehlah keluar trek, tapi kan bukan itu esensi balap tamiya : kamu harus tetap di dalam trek untuk memenangkan balapan. Ya ya ya, hidup kan tidak linear dan jalan yang satu ini juga saya nantikan adrenalinnya lebih lanjut. Still waiting!

Dan disinilah sekarang saya berada. Menunggu adrenalin itu, membutuhkan sebuah pendorong agar hidup saya tidak menjadi monoton. Menunggu letupan - letupan yang bisa memicu adrenalin, yang bisa membangkitkan semangat. Lagi - lagi kata Kuda : Still waiting !

Tampak bertolakbelakang dengan postingan saya 3 bulan yang lalu mengenai Balikpapan. Mungkin karena hidup terus berjalan, pemikiran terus berubah. Saya masih terus mencari dan menunggu. Tidak konsisten memang, saya akui.

Mungkin karena banyak teman - teman sekantor saya yang pergi, resign, untuk sesuatu di luar sana yang lebih baik menurut mereka. Satu persatu teman sepermainan pergi dan akan pergi. Suasana pasti akan berubah. Tidak pernah lagi sama.

Mungkin karena matahari yang muncul selepas hujan di Mandalawangi bulan lalu. Harum tanah yang basah selepas hujan, kembang padang ilalang di Suryakencana, pepohonan sepanjang Gunung Putri, batu kerikil di puncak Gede. Satu persatu mimpi dan harapan itu muncul kembali, terangkai kembali. Saya ingin kembali.

Mungkin saya perlu kembali ke suatu tempat di Garut sana, ke suatu desa kecil, ke sebuah rumah tua dengan Abah dan Emak yang selalu tersenyum melihat saya. Ke suatu tempat dimana saya merasa diri saya dibutuhkan dan yang terpenting adalah merasa diri saya berguna..untuk orang lain, bukan diri saya saja.

Yup, saya rindu adrenalin itu, rindu rasa yang meletup-letup, rindu pendorong yang membuat hidup kita gak monoton-monoton amat (masih kata Kuda juga nih).

Pekerjaan baru, lingkungan baru, suasana baru, kembali ke hutan atau perjumpaan dengan teman sejiwa yang lain (dan juga anak kecil), hmmm mungkin saya perlu itu.

Saya perlu hujan yang turun dengan deras dan saya tetap harus berjalan menuju tujuan (bikin tambah semangat). Saya perlu sesuatu yang lain, saya perlu memulai langkah baru.

Semoga Allah SWT selalu menunjukkan jalan yang lurus (tapi masih dengan rasa yang meletup-letup itu). Semoga selalu ada kemudahan, dan di depan selalu ada terang. InsyaAllah.

Monday, June 5, 2006

Dapat Kiriman


Saya senang sekali setiap mendapat kiriman, kiriman pos. Seperti hari ini, di inbox surat saya terdapat sebuah paket yang terbungkus plastik. Ini dia yang saya tunggu - tunggu. Kiriman dari sahabat baik saya, Mario.

Ada tiga buah buku di dalamnya :

Autobiography JOHN DENVER, edisi asli dan pertama walau cuma dalam bentuk fotocopy-an he he. Saya dan Mario menemukan buku ini bulan April lalu di Toraja, di perpustakaan milik pengelola Indosella Expedition. Waktu itu dengan semangat kami meminjam buku itu dan fotocopy di Toraja. Padahal 1 lembarnya 250 rupiah, mahal ya.

MT ZEN dan Pikiran - Pikirannya, sebuah bundel berisi tulisan-tulisan dari MT ZEN, seorang Dosen Teknik Geofisika ITB, anggota WANADRI sekaligus seorang filsuf yang banyak menulis tentang politik dan sosial. Bundel ini tadinya milik Om Herman Lantang yang kemudian diberikan sebagai hadiah untuk Mario.

ZEN EXPLORATION, In remotest New Guinea, Adventures in the Jungles and Mountains of Irian Jaya. Ditulis oleh Neville Shulman yang merupakan seorang penganut Zen yang mendaki Carstenz dan Puncak Jaya mengatasnamakan kemanusiaan.

Nampaknya buku-buku yang menarik. Saya ingin segera pulang untuk mulai membaca salah satu buku itu. Seperti pesan Mario : Buku ZEN EXPLORATION dibeliin temen gw Dewi. Orang pertama yang baca adalah Herman Lantang, kedua adalah gw dan ketiga mungkin elo. Kali aja kita bisa bertiga barengan ke Carstensz satu atau dua tahun ke depan..he he semoga Mar. Thanks untuk kirimannya.

Friday, June 2, 2006

Tentang Gunung, Cinta, Perjalanan dan Teman


Ada banyak hal yang membuat hidup saya lebih hidup.

Banyak sekali, hal - hal, tempat - tempat, orang - orang yang membuat hidup saya lebih berwarna.

Gambar di bawah ini adalah salah satunya, sebuah kompleks gunung api di daerah Puncak, Jawa Barat, Gunung Gede dan Pangrango.  Di depan sana terlihat Gunung Pangrango, sedang jauh di utara sana terlihat puncak kembar, Salak 1 dan Salak 2.


Pergi kesana berarti membuka banyak sekali kenangan manis yang pernah saya alami di sana, kenangan yang bisa membuat saya tersenyum di kala paling sulit sekalipun.

Dulu sekali, saya dan sahabat-sahabat wanita saya menyebut gunung ini sebagai gunung cinta. Menurut kami, gunung ini menebarkan banyak cinta kasih, perasaan tenang dan damai *hiperbola tapi biarlah he he*

Sampai sampai, dulu kami mempunyai cita-cita untuk kembali ke sini bersama orang yang kami cintai, mendaki gunung cinta kami, bersama - sama.

Rini sahabat saya sudah mencapai cita - cita itu, tahun kemarin ia naik gunung bersama teman SMA yang kini menjadi calon suaminya, dan bulan depan mereka akan menikah..hue he he selamat ya Rin.

Banyak sekali teman seperjalanan yang telah menemani saya berjalan ke puncak ini, menemani saya menghirup harumnya eidelweiss Suryakencana atau sekedar duduk menemani saya di puncak, memandang Pangrango dan sebuah gunung di utara, Gunung Salak.

Dan kini saya kembali lagi, dengan teman - teman seperjalanan yang berbeda tapi dengan kebaikan hati yang sama. Kami buat lagi kenangan yang manis, di perjalanan yang indah, di gunung cinta.

Teman sejiwa adalah teman yang tidak pernah pergi, selalu ada, tak pernah habis dimakan waktu, tak pernah berubah karena keadaan.

Untuk semua orang yang pernah menemani perjalanan saya, untuk semua perjalanan yang mewarnai hidup saya, untuk orang - orang yang pernah mendampingi saya berada di suatu titik tertinggi di gunung cinta. Semoga suatu saat kita bisa kembali bersama ke gunung cinta kita.

ps : Betul kok Rin, Gede itu beneran gunung cinta, Rini sendiri yang sudah membuktikan kan :) saya juga akan kembali lagi he he, semoga, terimakasih ya Allah sudah memberi kesempatan saya untuk kembali ke sana.