Pages

Showing posts with label sumatera. Show all posts
Showing posts with label sumatera. Show all posts

Wednesday, December 12, 2012

Dendeng Batokok Siulak Deras

Dendeng adalah salah satu masakan olahan daging yang populer di Indonesia. Lain lubuk lain belalang, setiap daerah ternyata punya resep dendeng yang berbeda - beda. Ketika mendengar kata dendeng yang terbayang di benak saya adalah irisan tipis daging yang sudah dikeringkan, cenderung manis dan beraroma ketumbar. Harganya cukup mahal, sering dijadikan bekal naik gunung dan biasanya hanya digoreng sebentar saja di minyak panas.

Ada juga dendeng khas Rumah Makan Padang, salah satu favorit saya adalah dendeng Uni Upik - Rumah Makan Padang di bilangan Kebagusan, di dekat kantor saya. Daging kering yang disantap dengan bumbu merah balado. Enak tapi tidak terlalu istimewa untuk saya. Rendang dan ayam setan-nya lebih menarik hati.

Bagaimana dengan Dendeng Batokok ? Harus saya akui inilah juaranya dendeng. Dendeng Batokok Siulak Deras, Kabupaten Kerinci, Jambi. Juli lalu kami sempat mampir disini, makan siang yang terasa nikmat sekali, apalagi setelah 3 hari di gunung berteman dengan nasi setengah matang :)

Siang itu kami sedang dalam perjalanan menuju Danau Kerinci, perjalanan masih jauh dan kami semua kelaparan. Pak Supir menyarankan kami makan siang di Siulak Deras, konon Dendeng Batokok-nya paling enak dan asli. Kami tentu setuju.

Ternyata semua rumah makan di dekat Pasar Siulak Deras berjualan dendeng, dan semua memasang label ASLI, ho ho lalu mana yang palsu. Pak Supir memilih rumah makan paling ujung, kecil dan sederhana saja, katanya ini yang asli, lagi - lagi kami setuju saja.

RM Dendeng Batokok Asli yang paling ASLI
Jam makan siang sudah lewat, tapi rumah makan ini penuh, pertanda masakannya memang enak. Tidak ada buku menu. Pelayan rumah makan langsung menghidangkan nasi putih di dalam mangkuk besar, rendang, keripik singkong, saus merah seperti sambal ayam pop, gulai ikan, gulai nangka dan tentu saja hidangan utamanya : irisan daging panggang yang masih dijepit di dalam panggangan, Dendeng Batokok.

hidangan di RM Dendeng Batokok Asli
Lho kok dendengnya tidak kering ? ternyata inilah ciri khasnya. Dendeng Batokok ini empuk sekali, juicy dan tidak alot. Berbeda dengan saudaranya Dendeng khas Minang yang cenderung kering. Tekstur Dendeng Batokok lebih mirip steak yang dipanggang medium, bedanya daging yang ini sudah matang betul. Bumbunya meresap, enak dan segar. 

Dendeng Batokok Siulak Deras
Nama Batokok sendiri mempunyai arti, dalam Bahasa Kerinci artinya dipukul - pukul. Sebelum dipanggang daging yang sudah dibumbui akan ditokok atau dipukul - pukul pelan agar pipih dengan menggunakan palu. Mungkin inilah rahasianya sehingga dagingnya matang sempurna dan tidak alot.

Makan siang nikmat itu ditutup dengan es sirup kayu manis, segar. Sirup kayu manis sendiri adalah salah satu   hasil unggulan dari Kerinci. Selama ini Kerinci memang dikenal sebagai salah satu penghasil kayu manis terbesar di Indonesia. Konon Dendeng Batokok akan lebih nikmat bila dipanggang di atas batang kayu manis, hmmm harum. 

wajah - wajah kelaparan, perbaikan gizi setelah mendaki gunung
Hingga saat ini saya masih penasaran dengan resep Dendeng Batokok ini, ada beberapa resep beredar di internet tapi belum pernah saya coba. Yang jelas memasaknya perlu kesabaran. Beruntung saya bertemu dengan Ibu-nya Edo - tetangga saya yang asli Kerinci. Beliau bercerita mengenai proses pembuatan Dendeng Batokok. Minimal diperlukan waktu 1 malam untuk merendam irisan daging didalam air kelapa dan bumbu. Bumbunya sederhana saja : bawang putih, ketumbar, dan jahe yang dihaluskan. Daging dan air rendamannya direbus sampai empuk, baru ditokok dan dipanggang sampai kecoklatan. Nampak mudah, mari dicoba :)

Nama    : RM Dendeng Batokok Asli
Alamat  : Siulak Deras, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
Harga    : +/- IDR 30k per orang, termasuk minum, nasi double portion dan lauk pendamping
Rumah makan sederhana, buka siang hari

All photos were taken by my husband - Helmy Noermawan. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Friday, July 20, 2012

Kerinci, Atap Sumatera

Jumat, 6 Juli 2012
6 jam perjalanan darat dari Padang, saya dan teman – teman tiba di Kayu Aro, sebuah kota kecil penghasil daun teh yang tersohor di Provinsi Jambi. Masih pagi sekali dan penghuni rumah di pinggir jalan tersebut menjadi sibuk karena kehadiran kami. Basecamp Kerinci sebutannya, rumah Heru yang entah sejak kapan menjadi rumah yang terbuka untuk semua orang yang ingin mendaki Kerinci. Pemandangan di rumah Heru sangat menawan, Gunung Kerinci tampak jelas dan gagah. awesome.

Gunung Kerinci dari pintu rumah Heru di Kayu Aro
Perkenalan saya dengan Johan Kerinci di salah satu situs jejaring sosial membawa kami ber – 10 ke rumah ini. Bertegur sapa, berkenalan dan resmilah kami menjadi “anggota baru” keluarga ini. Pagi yang ramai, berkenalan dengan teman – teman baru, berbelanja ke pasar, packing, hingga berjalan – jalan ke Air Terjun Telun Berasap yang cantik.

packing packing
Malam yang singkat, lampu sempat padam sebentar, dan kami bergegas tidur. Di dapur masih ramai, Ibu-nya Heru dan Johan sibuk memasak. Mempersiapkan bekal kami untuk mendaki esok hari.

Sabtu, 7 Juli 2012
Pagi hari yang sibuk. Antri ke kamar mandi, lagi – lagi packing dan sarapan pagi : nasi goreng telor ceplok buatan Ibu Heru. Bekal makan siang sudah siap : nasi bungkus dengan sambal kentang, dendeng dan sambal tentunya. Siap dibawa.

Mobil sewaan kami telah menunggu di depan rumah. Siap membawa kami ber-16 hingga batas hutan. 15 menit saja perjalanan dari Base Camp ke batas hutan, melewati perkebunan teh Kayu Aro yang cantik.

pagi di Kayu Aro dan menuju Kerinci
Hari ini kami akan mendaki Atap Sumatera, Gunung Kerinci. Gunungapi tertinggi di Indonesia, sekaligus puncak tertinggi di Pulau Sumatera. Gunung yang termasuk ke dalam kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan merupakan habitat Harimau Sumatera (Sumatran Tiger) dan Badak Sumatera (Sumatran Rhinoceros) yang hampir punah.

Kerinci merupakan salah satu gunungapi yang aktif, hampir setiap tahun menunjukkan gejala erupsi. Saya teringat pelajaran Volkanologi dulu, tentunya Kerinci adalah gunungapi tipe A. Letusan terakhirnya terjadi pada tahun 2004 dan hingga kini terus – menerus mengeluarkan asap belerang.

pagi yang cerah
Seperti biasa kami mendaki dalam kelompok kecil, beberapa teman dari Basecamp telah berjalan mendahului kami. Mereka membantu membawakan tenda, logistik makanan dan lainnya untuk kemudahan kami. Seperti biasa saya menggendong Cici, Helmy membawa carrier dan kami berada di urutan belakang, perlahan berjalan melewati Pintu Rimba, beristirahat di Pos 1, Pos 2, Pos 3 dan akhirnya menjelang jam 1 siang kami tiba di Shelter 1. Makan siang.

Jalur dari Pintu Rimba menuju Shelter 1 tidak terlalu sulit. Cukup landai, hutan hujan tropis dan sepanjang perjalanan kami ditemani paduan suara Owa. Cici bahkan sempat berjalan sendiri dari Pos 3 menuju Shelter 1 dan saya sempat membawa carrier ketika Cici berjalan kaki. Kami sekeluarga menjadi rombongan terakhir yang tiba di Shelter 1, diikuti oleh Dayak, Ian dan Anis.

Di Shelter 1 seluruh tim berkumpul, dan pertama kali saya berkenalan dengan Andi Katoh yang kemudian kami panggil dengan sebutan Om Atlet. Beliau sangat kuat, sesore itu beliau sudah tiba di Shelter 3 dan kembali ke Pos 3 untuk membawa barang kami yang lainnya. Superb.

Perjalanan ke Shelter 2 cukup sulit, saya kembali menggendong Cici dan Helmy membawa daypack. Jalurnya menanjak, banyak rintangan dan di tengah jalan turun hujan. Kami mulai terpisah – pisah. Saya sangat lelah, tapi tidak ada pilihan untuk berhenti disini. Di belakang kami Dayak jauh terpisah.

Jam 7 malam kami tiba di Shelter 2, hujan turun sangat deras. Helmy mulai berteriak – teriak memanggil Johan, minta bantuan untuk me-rescue Dayak yang jauh di belakang, tidak membawa senter dan jas hujan. Tak mau menunggu lama kami melanjutkan perjalanan ke Shelter 3.

Hujan deras, dan Cici tertidur pulas di gendongan. Jalur menuju Shelter 3 sangat terjal dan sulit, jalur sempit bekas aliran air. Sesekali kami harus memanjat, jalan berlumpur dan menjadi sangat licin.

Setengah perjalanan ke Shelter 3 akhirnya bantuan datang. 2 orang temannya Johan datang membawa teh hangat, nikmat sekali. Di situ saya menyerahkan Cici ke Helmy, dan meminta 2 orang tersebut menyusul Dayak yang jauh di belakang.

Jam 8 malam, hujan lebat, baju basah kuyub tanpa raincoat. Badai dan tidak tahu medan. Tidak ada pilihan lain kecuali berjalan. Saya sangat khawatir Cici kedinginan dan kena hypothermia. Yang ada di kepala saat itu hanyalah terus berjalan dan tiba di camp.

Jam 8.30, tibalah kami di Shelter 3 . Tenda sudah berdiri di tengah badai dan hujan deras. Cici saya serahkan kepada Nancy dan Valen yang sudah tiba terlebih dahulu. Saya bergegas berganti baju di tenda sebelah, dingin, mati rasa. Tenda kami berantakan, tapi cukuplah untuk malam itu. Saya, Cici dan Helmy berkumpul kedinginan, haus dan lapar. Badai di ketinggian 3400 mdpl.

Tak berapa lama Dayak tiba, alhamdulillah lengkaplah tim kami. Rupanya Dahlan dan Alfin tiba pertama kali, sekitar jam 7. Saat itu hujan sudah turun, repot sekali mereka mendirikan tenda, mencari baju ganti di kegelapan sambil resah menunggu teman – teman yang lain. Untunglah kami bisa tidur di tenda malam itu.

Minggu, 8 Juli 2012
Hari istirahat, badai berlalu dan Shelter 3 berubah menjadi camp pengungsi. Baju basah dijemur, tenda diperbaiki, dapur umum mulai bekerja. Pemandangan indah di depan mata. Hari yang sempurna.

pemandangan indah, tapi kenapa harus banyak sampah
kegiatan di Shelter 3

Senin, 9 Juli 2012
Summit attack. Jam 4.30 kami meninggalkan tenda. Saya kembali menggendong Cici yang masih tertidur pulas. Cuaca cerah. Jalur menuju puncak tidak terlalu sulit, terjal tapi bukan pasir halus. Musuhnya hanya satu, asap belerang yang membuat mata perih. Lagi – lagi seperti di Rinjani, Helmy tidak yakin bila Cici kuat hingga puncak. Tapi pagi itu saya bersikeras, Cici pasti bisa.

Anak 3 tahunku kedinginan, tapi dia memakai jaket dan kaus kaki yang cukup hangat. InshaAllah dia bisa mencapai puncak. Heru membantu saya menggendong Cici dari Tugu Yudha ke puncak, jaraknya sudah sangat dekat, 15 menit saja mendaki.

Tugu Yudha
Jam 8 pagi, Dahlan dan Alfin menyambut kami di puncak. Om Atlet, Johan, Heru, Helmy, Valen, Nancy dan Ian. Kami sempat berfoto – foto sebentar, kabut menyelimuti kaldera Kerinci. Inilah puncak 3805 mdpl itu. Puncak gunung yang kedua untuk Cici, di atap Sumatera.

di Atap Sumatera 3805 mdpl
bersama teman - teman
Perjalanan turun tidaklah mudah, ditambah perdebatan tak perlu di Shelter 3. Hujan kembali turun, deras. Tujuan kami hanyalah kembali dengan selamat ke Basecamp, malam itu kalau bisa.

Selasa, 10 Juli 2012
Tengah malam di Basecamp Kerinci. Cici dipangku Ibu Heru di pojok dapur, segelas teh hangat digenggamnya erat. Saya sudah mandi, berganti pakaian dan ikut duduk di kehangatan dapur. Obrolan penuh tawa memenuhi dapur. Satu perjalanan telah usai.

# Trip with family and friends, July 2012
All photos were taken by my husband - Helmy Noermawan. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.