Pages

Showing posts with label book review. Show all posts
Showing posts with label book review. Show all posts

Tuesday, April 9, 2013

Cerita di Balik Noda : Semangkuk Sup Hangat dari Ibu Indonesia

Anak - anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tidak pernah kering. Kenakalan mereka adalah kilau emas dan kepolosan mereka adalah mentari pagi yang menghangatkan # Fira Basuki
Fira Basuki adalah salah seorang penulis novel favorit saya. Buku - bukunya selalu menginspirasi. Trilogi Jendela - Jendela, Pintu dan Atap menemani perjalanan hidup saya sebagai seorang mahasiswa. Brownies dan Biru menjadi sahabat setia ketika saya harus pergi meninggalkan rumah, bekerja dan mandiri. Tak disangka saat ini Fira hadir kembali, menginspirasi hidup saya sebagai seorang istri dan ibu melalui buku terbarunya : Cerita di Balik Noda - 42 kisah inspirasi jiwa.

Untuk para Ibu di Indonesia. Berani kotor itu baik.

Fira Basuki mengembangkan dan menuliskan kembali 38 cerita yang ditulis oleh para peserta lomba menulis bertema "Cerita di Balik Noda" yang diadakan oleh Rinso Indonesia melalui Facebook. Sedangkan Fira sendiri menuliskan 4 cerita dengan tema yang sama, sehingga total ada 42 cerita di buku ini.

Seperti biasa gaya bahasa Fira sangat menarik, sederhana, lugas dan tidak membosankan. Membaca cerita - cerita di buku ini seperti membaca Chicken Soup for the Soul rasa Indonesia. Tema yang sederhana ternyata bisa menghasilkan banyak cerita yang menginspirasi. 

Dari buku ini pula saya belajar bagaimana seorang penulis yang baik memilih judul untuk sebuah cerita. Saya perhatikan  bahwa hampir semua judul cerita di buku ini dituliskan kembali oleh Fira menjadi lebih sederhana tetapi sekaligus lebih menarik. Misalnya cerita berjudul Koki Cilik ternyata memiliki judul asli yang panjang : "This is it! Kue Lumpur ala Chef Annisa Queen". Bagi saya judul Koki Cilik memang terasa lebih menggigit4 jempol untuk Fira.

Ada cerita apa saja di dalamnya ? Banyak sekali. Semuanya bermuara kepada hubungan ibu (perempuan) dan anak. Cerita favorit saya adalah cerita di halaman 221 yang berjudul Si Kaya dan Si Miskin. Cerita ini dikembangkan dari tulisan Donny Abidin yang berjudul Baju Si Kaya dan Si Miskin

Sheva adalah murid kelas dua Sekolah Dasar di sekolah favorit. Ia berasal dari keluarga miskin, kedua orang tuanya bekerja keras agar Sheva mendapat pendidikan yang terbaik. Dengan gaji pas-pasan orang tua Sheva menabung dan mendaftarkan Sheva ke sekolah terbaik di kota tempat tinggal mereka. Sheva sering menjadi bahan ledekan karena hanya memiliki 1 sepatu, 1 tas murahan, tidak memiliki telpon genggam bahkan karena Sheva pulang dan pergi sekolah tanpa sopir. Terkadang Sheva mengeluh terhadap Ibunya tetapi sang Ibu yang baik hati  bisa menjawab dengan bijak.

Ibu
"Mereka hanya bercanda Sheva. Biarkan saja, suatu hari kamu akan memiliki benda yang lebih bagus daripada punya temanmu. Menurut Ibu, bajumu jauh lebih bagus daripada milik teman - temanmu. Lebih putih, karena Ibu selalu mencucinya sendiri dengan benar."
Sheva
"Ibuku selalu punya cara untuk menghiburku. Tapi mengenai baju, Ibu benar. Kalau aku perhatikan, bajuku lebih putih dibandingkan punya teman-temanku. Mungkin karena ibuku mencucinya sendiri dengan hati. Sementara teman - temanku menyerahkan cucian mereka kepada pembantu. Entahlah."
Ketika membaca paragraf di atas saya tersentil. Kebetulan ketika membaca cerita ini saya sedang dalam perjalanan ke kantor di pagi hari. Saya langsung teringat pada Cici - putri saya yang berusia 3.5 tahun, saat ini ia berada di rumah bersama asisten rumah tangga kami. Berdua saja di rumah, sedangkan saya dan suami seharian penuh bekerja. Sesaat saya merasa sedih. Apakah saya sudah menyayangi Cici dengan hati ? 

Paragraf - paragraf berikutnya menyadarkan saya. Diceritakan bahwa Cindy - anak orang kaya teman Sheva ternyata tidak bahagia. Menurut Cindy, mamanya kerja seharian, dan mamanya selalu galak, suka marah - marah kalau di rumah. Sampai - sampai Cindy ketakutan ketika seragam sekolahnya kotor karena Cindy jatuh di genangan air. Beruntung ada Sheva yang mau membantu mencucikan seragam sekolah Cindy agar ia tidak kena marah mamanya. Akhir cerita yang menyenangkan, setelah kejadian tersebut akhirnya Cindy meminta Sheva menjadi temannya. Semuanya bisa terjadi karena cinta Ibu Sheva, ibu yang selalu melakukan segala sesuatu dengan cinta. Menurut Ibu Sheva, Cindy bisa memiliki benda - benda yang indah, tapi pada akhirnya Cindy memerlukan kasih sayang ibunya dan semua orang. Setuju sekali.

Ketika menutup lembaran terakhir buku ini saya berjanji untuk belajar menjadi seorang ibu yang menyayangi dengan hati dan melakukan segala sesuatunya dengan cinta. Seperti Ibu Sheva. Walaupun bekerja di luar rumah saya akan berusaha, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Bekerja bukan berarti menghilangkan kewajiban kita sebagai Ibu. Terimakasih Cindy dan Sheva, cerita kalian menginspirasi.

Akhirnya lagi - lagi saya saya sependapat dengan Fira, anak - anak adalah sumber kebijaksanaan hidup. Pikiran dan jiwa anak - anak sesungguhnya adalah guru kehidupan yang terbaik. Selalu ada hikmah di balik noda. 

Terimakasih Ibu, terimakasih untuk semangkuk sup yang menghangatkan jiwa. Supnya tumpah ! Tidak mengapa, berani kotor itu baik Ibu.

# Ulas Buku Rinso : Buku Cerita Di Balik Noda dan Berani Kotor itu Baik  

Judul Buku        : Cerita di Balik Noda - 42 kisah inspirasi jiwa
Penulis              : Fira Basuki
Penerbit            : Kepustakaan Populer Gramedia

Tuesday, March 26, 2013

Pulang

Saya bukanlah pengamat dan pecinta politik, bukan, saya bahkan tidak suka. TV di rumah jarang sekali dihidupkan, jadi mohon maaf kalau saya sering ketinggalan berita. Tetapi mengapa dengan PULANG ?
Pulang yang ditulis oleh Leila S Chudori adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah : Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968 dan Indonesia Mei 1998.

Tokoh utamanya adalah Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia yang terdampar di Paris sejak tahun 1965. Kewarganegaraan Indonesia-nya dicabut, menjadi minoritas diantara bangsanya dan dituduh PKI. Bersama beberapa sahabatnya ia bertahan hidup di Paris dengan mengelola sebuah restoran yang diberi nama Tanah Air. 

Dalam pelariannya Dimas bertemu dengan Vivienne Deveraux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Perancis pada Mei 1968. Le coup de foudre, Dimas dan Vivienne jatuh cinta pada pandangan pertama dan akhirnya menikah. Mereka mempunyai seorang putri yang diberi nama Lintang Utara, anak perempuan cantik dan cerdas yang berkuliah Sinematografi di Sorbonne. 

Lika liku kehidupan para eksil di Paris diceritakan dengan sangat menarik oleh Mba Leila. Bagaimana mereka memulai usaha restoran, kehidupan keluarga dan juga cerita perpisahan Dimas dan Vivienne karena Dimas tidak juga bisa lepas dari bayang - bayang Surti, cinta pertamanya, cinta setoples cengkeh dan bubuk kunyit.

Di akhir cerita diceritakan Lintang akhirnya berhasi memperoleh visa untuk masuk ke Indonesia. Kunjungan ke tanah airnya bertujuan untuk merekam pengalaman keluarga korban tragedi 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Lintang berhasil menguak masa lalu ayahnya dengan Surti, mewawancarai banyak tokoh yang terkait dengan tragedi 30 September sekaligus menjadi saksi mata kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Novel yang menarik, walau sebenarnya bagi saya cerita Lintang di Indonesia terlalu tergesa - gesa. Cerita kehidupan mereka di Paris jauh lebih menarik digambarkan oleh Mba Leila. Ending ceritanya mengharukan, dikisahkan Dimas Suryo meninggal dunia karena sakit dan sesuai cita - citanya akhirnya ia dapat dimakamkan di Karet, pulang ke peristirahatan terakhirnya setelah 32 tahun.

Nice to read, walau le coup de foudre antara Lintang dan Alam (putra Surti) juga terlalu dipaksakan, saya lebih suka Nara dan Lintang :)

Saturday, March 9, 2013

Titik Nol : Makna Sebuah Perjalanan


Mendapati cover buku ini di timeline salah seorang teman bulan Januari lalu, penasaran dan lagi - lagi karena tidak detil membaca saya bergegas ke Gramedia Depok pada pagi hari setelah mengantar Cici sekolah. Lho belum terbit, ternyata bulan Februari.

Hari Jumat di bulan Februari, akhrinya mendapat buku ini di Gramedia Pejaten Village. Penasaran, dan langsung tamat dalam beberapa hari. Thousands thumbs up for Agustinus.

Berbeda jauh dengan 2 bukunya terdahulu, di Titik Nol Agustinus banyak membahas mengenai kehidupan pribadinya, tentang Mama, dan yang lebih dalam lagi mengenai agama. Bagi saya buku ini bukan saja sekedar catatan perjalanan, tetapi catatan kehidupan Agustinus selama pengembaraannya di Tibet, Nepal, India, Pakistan dan akhirnya temporary living-nya di Aghanistan sebagai journalist photo.

Lagi - lagi ini bukan sekedar travel writing, tidak sekedar menceritakan tempat - tempat indah di muka bumi, itinerary terbaik, termurah, hura - hura, kesenangan dan kebanggan. Lebih dari itu, Agustinus bercerita mengenai manusia.

Bagi saya pribadi buku ini meninggalkan banyak kesan. Membantu menyadarkan saya mengenai beberapa hal, dan membantu saya menyusun rencana - rencana pribadi bersama keluarga.

Penasaran..segera ke toko buku terdekat ya :)

Oiya, di buku ini banyak sekali tulisan Agustinus yang menginspirasi, salah satu yang saya suka adalah ini :
Shangri-La itu, nirwana yang kau cari-cari itu, sesungguhnya ada di lubuk hati 

Sunday, February 10, 2013

The Marriage Bureau for Rich People

Baca judulnya serem amat ya, biro jodoh khusus kaum elite..memangnya ada ya ? Ini judul buku yang baru selesai saya baca, seperti biasa kalau buku menarik akan tamat under 1 day. 455 halaman tamat dalam 8 jam karena disela main sama Cici.


The Marriage Bureau for Rich People
Suka banget sama bukunya, buku ini ditulis oleh seorang penulis muslim India bernama Farahad Zama. Mengambil setting di kota Vizag, India Selatan. Langsung buka peta dan ternyata kota ini terletak diantara pantai dan pegunungan. Kota kecil saja dengan masyarakat yang beragam, ada yang beragama Hindu, Muslim dan Kristen.

Nah cerita dimulai ketika Mr. Ali, seorang pensiunan pegawai negeri, memutuskan untuk mengisi masa pensiunnya dengan membuka biro jodoh. Tak disangka - sangka ternyata bisnis barunya ini menuai sukses. Dengan bayaran 500 rupee para pencari cinta bisa menjadi anggota di biro ini. Mr. Ali kemudian akan mencoba mencarikan jodoh yang sesuai dengan syarat yang diajukan anggotanya.

Karena bersetting India tentu banyak hal menarik yang mungkin tidak ditemukan di Indonesia. Contohnya dalam formulir pendaftaran akan ada pertanyaan mengenai kasta yang diinginkan, mas kawin, kekayaan keluarga, dll. Ini erat kaitannya dengan aturan dan tradisi Hindu India yang melarang pernikahan berbeda kasta dan juga mensyaratkan calon pengantin perempuan untuk membayar mas kawin yang diminta oleh keluarga calon pengantin pria. 

Menjadi rahasia umum bahwa pria single, mapan, berpendidikan baik dan berasal dari keluarga terpandang biasanya diharapkan untuk mendapatkan pasangan yang setara dalam semua hal, terutama status sosial. Untuk itu biasanya mereka akan mensyaratkan mas kawin yang sangat mahal, bisa mencapai ratusan ribu rupee. Selain mas kawin mereka juga akan mensyaratkan pesta perkawinan yang meriah. Dan semua itu akan ditanggung oleh pihak perempuan. Betapa malangnya wanita India yang miskin, tak jarang mereka tak bisa menikah karena tidak mampu membayar mas kawin. Keluarga terutama ayahnya akan menanggung malu seumur hidup, tidak mampu menikahkan anak perempuannya.

Pernikahan di India adalah pernikahan keluarga, dan seperti diceritakan di buku ini, perjodohan oleh orang tua kerap dilakukan. Orang tua akan memilihkan jodoh, tak heran kebanyakan client Mr. Ali adalah para orang tua yang mencarikan jodoh untuk anaknya. Para orang tua lah yang akan menentukan kriteria jodoh anaknya, memilihkan calon dan akhirnya menghubungi keluarga calon untuk membicarakan masalah pernikahan.

Tampak sangat kuno ya. Tapi saya jadi teringat seorang teman saya yang asli India. Dia pernah bercerita mengenai keluarganya, dan ada satu hal yang saya ingat : dia menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya, tidak pernah bertemu dan menurut saja ketika dipanggil pulang ke India untuk menikah. Saat perjodohan itu dia sudah bekerja di London selama beberapa tahun setelah sebelumnya tinggal beberapa tahun di Edinburgh untuk menyelesaikan studi S2 dan S3 nya. Tanpa bisa menolak dia menerima perjodohan tersebut, pulang ke India, menikah, kembali ke UK bersama istri dan saat ini sudah dikarunai 3 anak. So simple, bahkan untuk ukuran orang India modern yang sudah bertahun - tahun tinggal di luar negeri. Mereka masih memegang kuat tradisi.

Cerita di buku ini makin menarik ketika Aruna - asisten Mr. Ali crush on dengan client mereka. Ram, seorang dokter, kaya, dari keluarga terpandang dan ternyata juga sangat baik hati. Ram jatuh cinta dengan Aruna, wanita terpelajar, baik hati, berkarakter, namun sayangnya miskin. Ayah Aruna hanyalah pensiunan guru SD, dan saat itu Aruna adalah tulang punggung keluarganya. Gaji bulanannya yang 1000 rupee dipakai untuk membiayai keluarga dan juga adiknya - Vina yang masih kuliah. Walau mereka berasal dari kasta yang sama, Brahmana, tetapi adalah tidak mungkin mereka bisa menikah.

Singkat cerita, atas bantuan Mr. Ali mereka berdua dapat menikah. Ram tidak meminta mas kawin kepada Aruna. Ayah Ram bisa diyakinkan bahwa kebaikan hati Aruna jauh lebih berharga daripada mas kawin wanita anak orang kaya yang sebelumnya dia cita - citakan sebagai calon menantunya. Lebih penting dari itu, Ayah Aruna yang keras hati akhirnya bersedia menerima pernikahan ini, walaupun ternyata aib bagi keluarga bila anak perempuan menemukan jodohnya sendiri, seperti yang Aruna dan Ram alami.

Sebagai buku yang ditulis oleh penulis muslim-yang merupakan golongan minoritas di India, buku ini sangat fair. Zama tidak melihat agama sebagai perbedaan. Buktinya Mr. Ali yang muslim telah menganggap Aruna sebagai anaknya sendiri, asistennya yang beragama Hindu dan berkasta Brahmana.

Buku layak baca. Setelah membaca buku ini saya tambah ingin ke India. Ingin melihat pernikahan ala India salah satunya :). Melihat kuil Annavaram, tempat menikahnya Aruna dan Ram. Pernikahan sederhana yang indah, pernikahan dengan tiga simpul, tujuh langkah dengan dewa api selaku saksi suci, Tradisi Hindu India. Mendengar doa dari orangtua memberi restu kepada anaknya : Chiranjeeva soubhagyavatee bhava. Semoga perkawinanmu langgeng.

Jyoti and Pankaj tie the knot.
Pic fromhttp://www.india-forums.com/wallpaper/1280x800/32515-jyoti-and-pankaj-marriage-ceremony.htm
Ayo menabung ke India yuk..oiya, ujung - ujungnya saya malah mendapat inspirasi membuka biro jodoh seperti Mr. Ali hahaha..ayo Rima kita wujudkan

Friday, February 1, 2013

The Help

Awal bulan lalu saya baru saja membaca sebuah buku yang sangat menarik, The Help. Sebuah novel yang ditulis oleh pengarang Amerika, Kathryn Stockett. Buku lumayan tebal, 500 + halaman yang saking penasarannya tamat dalam 1 minggu.

Ceritanya ber-setting tahun 1960 an di kota Jackson, Mississippi. Tiga wanita berbeda warna kulit bergabung dan menuliskan kisah para wanita kulit hitam yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota Jackson. Pada jamannya ini bukanlah hal yang mudah, saat itu di Amerika santer sekali isu isu perbedaan warna kulit, jauh berbeda dengan kondisi saat ini.

Uniknya ide menuliskan kisah tersebut datang dari Skeeter Phelan, wanita kulit putih berusia 22 tahun, terpelajar dan personally dia memiliki kenangan dan pertanyaan tak terjawab tentang Constantine Bates, pembantu kulit hitam yang mengasuhnya sejak kecil, namun menghilang ketika Skeeter berkuliah di luar kota.

Dalam penulisan bukunya diceritakan bahwa Skeeter dibantu oleh 2 orang kulit hitam : Aibeleen Clark dan Minny Jackson. Aibeleen seorang tua yang bijaksana, bekerja mengasuh gadis kecil yang diabaikan oleh ibunya sendiri. Sedangkan Minny, sahabat karib Aibeleen, pendek gemuk dan besar mulut, bersuamikan pemabuk berat yang gemar memukulinya. Minny bekerja pada wanita kulit putih yang paling tidak populer di kota Jackson.

Saya sangat suka cara Kathryn menuliskan buku ini dalam 3 sudut pandang yang berbeda : Skeeter, Aibeleen dan Minny. Ia menuliskan dengan sangat detil, banyak fakta tetapi tetap tidak membosankan. Tidak heran kalau di Amerika buku ini berada dalam daftar best seller berdasarkan versi The New York Times selama lebih dari 100 minggu. Hingga saat ini telah dipublikasikan di 35 negara, 3 bahasa, dan sampai Agustus 2011 telah terjual sebanyak 5 juta kopi. Wow. Padahal buku yang ditulis oleh Kathryn selama 5 tahun ini sempat ditolak oleh 60 agent, sebelum akhirnya berhasil diterbitkan. Dan pada tahun 2011 film adaptasi dengan judul yang sama juga telah diluncurkan. Jadi bukunya sendiri sangat menarik, silakan membaca atau menonton filmnya ya.

Selesai membaca buku ini saya agak tersentil, lupakan Amerika, lupakan masalah kulit hitam itu, dan cobalah tengok keaadan rumah tangga di Indonesia saat ini. Mungkin tidak Indonesia, cukup Jakarta dulu deh :) Masalah PRT alias ART alias babysitter sepertinya sudah jadi santapan setiap hari. Mulai dari ART minta pulang mendadak, yang pacaran, yang nyolong, yang ga bisa dibilangin, yang makannya banyak, semua lengkap hehe.

Semakin banyaknya jumlah wanita bekerja di luar rumah berbanding lurus dengan kebutuhan ART yang semakin meningkat. Setiap rumah minimal 1 ART, kalau anaknya 2 biasanya 2 ART, belum lagi supir, belum lagi tukang kebun, kalau masih ada anak bayi pasti ada babysitter. Banyak ya. Bagaimana gaji mereka ? Selain supir dan babysitter berpengalaman sepertinya gaji ART masih di bawah UMR, berkisar di angka 500 - 700 rb an per bulan. Miris sebenarnya.

Banyak ART ga bener tapi sebenernya banyak juga ART baik, dan sebetulnya kita disini sangat dimanja ya oleh mereka. Gaji murah, kerja bisa sampai 24 jam sehari, kadang tanpa libur dan bisa disuruh apa saja. Bandingkan dengan gaji house maid di luar sana yang bikin ga pengen punya pembantu. Sesungguhnya kita di Indonesia sangat manja.

Saya sendiri saat ini punya 2 asisten, tuh banyak kan ya :p . Satu orang bernama Ibu Sum, ART pulang hari yang bekerja di rumah kami sejak Maret 2012 lalu, tugas utamanya membersihkan rumah, mengepel, cuci baju, setrika, dan kadang - kadang saya mintai tolong untuk memasak bila saya tidak sempat memasak di pagi hari. Ibu Sum biasanya datang jam 8 - 9 pagi dan pulang ketika pekerjaannya selesai di jam 12 - 1 siang. Selain Ibu Sum ada 1 ART menginap, Yayah namanya. Yayah ini bekerja di rumah kami sejak Agustus 2012 lalu. Masih kecil sekali, umurnya 14 tahun, sekolahnya berhenti di kelas 1 SMP. Tugas utama Yayah menemani Cici bermain ketika kami tidak ada di rumah. Dan sesekali membantu pekerjaan Ibu Sum. So far kami merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka. Walau ada saja cerita lucu karenanya.

Sampai Cici berumur 2.5 tahun kami hanya punya ART pulang hari. Tetapi ketika Cici mulai sekolah kami akhirnya menyerah untuk mengambil 1 ART lagi untuk menemani Cici ketika kami berada di luar rumah. Daripada anak kecil ini kebanyakan bolos sekolah karena ikut Bunda ke Daycare :p Kapan ya berhenti punya ART ? Sepertinya masih cukup lama, minimal menunggu Cici cukup mandiri dan bisa ditinggal sendiri di rumah. Pekerjaan rumah tangga masih bisa dikerjakan sendiri, tapi tentang Cici yang belum ada solusinya.

Sebetulnya sampai saat ini saya masih berfikir kalau pekerjaan ART yang menginap di rumah itu tidak manusiawi. Mereka terputus dari keluarganya, bekerja melayani kita. Hmm serba salah memang, di sisi lain mereka perlu bekerja untuk menghidupi keluarganya. Tetapi pemerintah sepertinya perlu melihat dan membuat aturan tentang pekerjaan ART. Walau jadi mahal xixixi, saya setuju kalau ART digaji sesuai UMR, punya aturan yang jelas, hak yang jelas dan sebagainya. Bagaimanapun mereka manusia lho. ga selamanya juga jadi pembantu.

Sebagai majikan kitapun harus berempati sepertinya. Saya teringat seorang teman yang selalu menyekolahkan ART nya, dari awal setiap ART nya diultimatum bahwa mereka hanya boleh bekerja sebagai ART maksimum 2 tahun saja. Setelah itu mereka harus mandiri, mencari pekerjaan yang lebih baik. Alhamdulillah, ART teman saya itu sekarang sudah ada yang jadi guru TK. Majikan hebat dan pembantu hebat, mau merubah nasib. Mungkin saya harus mulai mencontoh. Siapa tahu Yayah mau sekolah lagi.

Saturday, December 22, 2012

Habibie dan Ainun

Hat trick juga akhirnya, 3 weekend pergi ke mall dan nonton film. Sampai - sampai Cici bingung : kenapa kita ke mall lagi :)

Kali ini karena Habibie dan Ainun. Sejak melihat trailer film ini 2 minggu yang lalu kami ingin menontonnya. Sayapun teringat dari dulu ingin membaca buku ini tapi kok ya kelupaan beli terus. Terlupakan sampai 2 minggu yang lalu. Akhirnya pesan di Inibuku dan langsung tamat dalam beberapa hari saja.


Kesan saya : thousands thumbs up. Selama ini saya hanya mengetahui Bapak Habibie sebagai orang Indonesia paling cerdas, ahli pesawat terbang, mantan wakil presiden, hingga mantan presiden. Itu saja. Saya tahu beliau pendiri ICMI, saya tahu beliau mempunyai rumah di dekat Ledeng, dan saya tahu sekarang beliau lebih banyak tinggal di Jerman. Tetapi hanya sebatas itu. Dan setelah membaca buku ini saya agak menyesal, kenapa saya baru tahu sekarang.

Buku ini membuka mata saya. Ternyata beliau adalah sosok ilmuwan yang seimbang, cerdas otaknya, hatinya dan jiwanya. Ibu Ainun adalah seorang istri yang pantas dijadikan panutan, lagi - lagi seperti Bapak Habibie, cerdas otaknya, hatinya dan jiwanya.

Bila waktu bisa berulang maka saya akan berdoa Bapak Habibie menjadi presiden bangsa ini. Bangsa sakit ini memerlukan sosok mereka berdua - Bapak dan Ibu Habibie. Cerdas dan punya hati, di atas segalanya religius walau tidak berlabel ahli agama.

Kisah cinta mereka berdua lebih indah daripada kisah Romeo & Juliet sekalipun. Cinta yang sederhana tapi menguatkan. Sangat indah. Kisah pertemanan mereka, awal berpacaran, menikah hingga masa - masa awal berkeluarga di Jerman. Sungguh sebuah kisah yang patut dijadikan teladan. Seorang Bapak Habibie-pun pernah hidup susah, harus berjalan kaki di musim dingin untuk pulang ke rumah karena kehabisan uang. Bapak Habibie seorang pekerja keras, tidur beberapa jam saja, hidupnya adalah bekerja dan keluarga. 

Ibu Ainun seorang istri dan ibu yang hebat. Kisah hidupnya menginspirasi. Diuraikan bahwa beliau selalu berpuasa Senin - Kamis, membaca Al Quran setiap hari, menyiapkan makan dan obat untuk suaminya sampai kebiasaan beliau mencium pipi Pak Habibie dan meninggalkan noda lipstick :)

Tulisan di bab - bab akhir sukses menguras emosi saya. Bagaimanapun perpisahan itu sangat menyedihkan, dan Pak Habibie mencontohkan perilaku ikhlas yang sebenar - benarnya. Mencontohkan bagaimana sebaiknya seorang suami bersikap.

Terimakasih Bapak dan Ibu, terimakasih telah berbagi cerita, semoga kami bisa melakukan hal - hal baik yang kalian contohkan.

Filmnya sendiri cukup bagus. Reza Rahadian sukses memerankan tokoh Bapak Habibie. Terlepas dari tubuhnya yang memang tinggi, aktingya jempolan. Mimik muka, cara berjalan, cara berbicara..kita seolah - olah melihat Habibie di depan kita. BCL juga bermain dengan sangat baik. Overall semua keren.



Hanya ada satu hal mengganjal. Kalau tidak salah ada 2 adegan yang memperlihatkan mereka meminum dan bersulang dengan gelas seperti gelas wine. Saya tidak tahu apa isinya atau maksudnya. Mungkin saja bermaksud bersulang saja. Tetapi bisa mengakibatkan interpretasi yang salah karena penggunaan gelas tersebut. Hmmm mungkin gelasnya mendingan ngga pakai gelas itu ya.

Overall, film yang bagus, mendekati cerita di buku walau banyak detil yang hilang.. tapi wajar saja. Ketika kami menonton kemarin bioskopnya penuh, dan ketika lampu dinyalakan tampak sebagian besar penonton habis menangis.

Andai waktu bisa dimundurkan, akan kupilih Pak Habibie dan Ibu Ainun menjadi presiden bangsa ini.



Saturday, December 15, 2012

5 cm

Weekend ini ke mall lagi, ngga papa deh, setelah sebelumnya puasa ke mall berbulan - bulan. Tujuannya nonton film lagi, 5 cm yang diputar perdana 12 Desember kemarin. Yang konon bikin heboh, yang dibilang filmnya pendaki gunung, sampai - sampai timeline Facebook saya di tanggal 12 kemarin dipenuhi komentar mengenai film ini. Sepertinya semua orang penasaran dan ingin segera nonton.

Penasarankah saya ? hmm sebenarnya tidak juga, saya sudah pernah baca bukunya beberapa tahun yang lalu. Buku bagus tapi ya begitu saja. Setelah membacanya tidak ada kesan yang tertinggal. Bagi saya buku yang bagus harus meninggalkan kesan, harus ada sesuatu yang bisa diingat. Tapi apa daya, mantan pacar pengen nonton, mari kita menonton kalau begitu.


Promosi film ini heboh sekali ya, dan terus terang melihat siapa di balik layarnya ya wajar saja. Marketing yang baik, bertabur bintang yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, sutradara terkenal, tempat syuting yang memang menawan. Seharusnya film ini menjadi sangat menarik tapi mohon maaf sepertinya film ini kurang berhasil, dan tebakan saya benar, jalan ceritanya kurang kuat, sama seperti novel-nya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Mas Donny Dhirgantoro, karena sebetulnya siapa sih saya..tetapi keluar dari bioskop tadi saya tidak merasakan apa - apa. Tidak ada kesan tertinggal.

Rizal Mantovani sutradara cerdas, film ini sangatttttttttt indah. Sudut sudut pengambilan gambarnya keren, jempolan. Rizal sukses menampilkan Semeru yang cantik. Pasti dalam waktu dekat jumlah pendaki di Semeru akan meningkat tajam. Jalur pendakiannya, Ranu Kumbolo, Arcopodo, semua cantik, tergambarkan dengan sangat baik. Tapi memang karena jalan ceritanya kurang kuat, film ini jadi kurang memiliki jiwa. Banyak adegan yang sepertinya bertujuan membangkitkan rasa haru penonton yang tidak berhasil. Contohnya adegan upacara 17-an di Puncak Semeru, kok saya..juga suami tidak merasakan keharuan yang sama ya. Entah kenapa, mungkin kami saja yang merasa begitu.

Tentang mendaki gunungnya juga sepertinya banyak adegan kurang pas. Beberapa teman yang pernah juga ke Semeru protes, mulai dari adegan summit attack yang terlalu lebay, sampai poster film ini yang memperlihatkan para pemain memegang tali mendaki lereng. Kayanya Semeru ngga segitunya deh :) Menurut suami kelihatan sekali hasil digital imaging-nya, talinya bohongan.

Tetapi ternyata film ini sukses berat, penontonnya berjubel dimana - mana. Mungkin karena di-launch pada saat yang tepat, saat liburan sekolah. Mungkin juga karena magnet ganteng Fedi Nuril (halo Maul haha). Film ini sukses dan sudah pasti untung besar. Selamat Ram Soraya.

Wednesday, December 5, 2007

Holding On - A Story About Love and Survival

Hal apakah yang ingin kita lakukan bersama – sama dengan pasangan kita ? Tentu akan banyak sekali jawabannya. Mulai dari sekedar ingin menghabiskan weekend bersama di rumah setelah 5 hari lelah bekerja, travelling bersama ke tempat – tempat indah di muka bumi, hingga bersama mendaki puncak – puncak gunung tertinggi. Semua intinya adalah kebersamaan.

Rob dan Jo Gambi memberikan jawaban yang terakhir. Dalam periode 3 tahun (2003-2005) mereka bersama – sama mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua (seven summit), melakukan perjalanan ski ke Kutub Utara dan Kutub Selatan, juga pendakian beberapa puncak lainnya. Mereka berdua adalah first married couple yang mendaki seven summit. Jo juga memegang rekor Guinness World sebagai pendaki wanita yang paling cepat menyelesaikan seven summit. Kisah mereka berdua ditulis oleh Jo dan kemudian diterbitkan setelah mereka kembali tinggal dan bekerja di London.

Mungkin banyak kisah pendakian – pendakian lainnya yang pernah ada. Tapi latar belakang Rob dan Jo sangat mengharukan bagi saya. Mereka berdua bertemu pertama kali di London pada 17 Juni 1995. Saat itu Rob dan Jo bersama – sama berlatih sailing di akhir pekan. Rob lahir di Australia, perpaduan antara Swiss dan Italia sedangkan Jo adalah keturunan British asli. Mereka berdua tinggal dan bekerja di London. 

Pertemuan mereka yang kedua adalah ketika Jo dan sahabat wanitanya berlibur untuk mendaki ke Chamonix, Perancis. Rob menemui Jo disana dan akhirnya mereka melakukan pendakian dan liburan bersama. Bagi Rob ini adalah debut pertamanya. Jo adalah seorang pendaki gunung, ia terbiasa melakukan perjalanan untuk hiking dan climbing sedangkan Rob belum pernah mendaki sama sekali. Minggu pertama Rob di Chamonix adalah climbing private lesson, dengan satu tujuan agar bisa mendaki bersama Jo. 

Mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah pada bulan September 1996. Saat itu Rob berusia 37 tahun dan Jo 26 tahun. Setelah menikah Jo berhenti dari pekerjaannya di Marks Spencer, mengambil kursus Physiotheraphy dan bekerja sebagai volunteer di Hammersmith Hospital. Rob meneruskan pekerjaannya sebagai seorang Manager Keuangan yang sibuk. Di bulan – bulan awal pernikahan mereka telah menyadari bahwa kesibukan bekerja membuat frekuensi kebersamaan mereka sangat sedikit. Tetapi mereka tetap berusaha meluangkan waktu bersama di saat liburan terutama dengan mendaki gunung, sailing, dan berbagai kegiatan outdoor lainnya.

Desember 2000, Rob divonis menderita kanker dan harus menjalani kemotherapi. Hal ini sangat mengagetkan bagi mereka berdua. Walaupun Rob saat itu bisa sembuh, namun tidak ada jaminan penyakit ini akan hilang selamanya. Bulan September 2001 dan kondisi Rob terus menurun. Saat itulah Rob dan Jo mulai banyak berpikir mengenai mimpi-mimpi, harapan dan keinginan – keinginan mereka. 

”But more than anything, we simply wanted to have some quality time together. Long before Rob became sick we had started saving to take a break so we could go traveling, but our dreams had long since been filed away. Now we were daring to dream once more. We were still fascinated by the greater ranges and we realized our dreams would stay dreams if we didn’t take action to convert them into reality”

Akhirnya mereka kembali membicarakan rencana – rencana mereka mendaki ke Himalaya, mendaki puncak tertinggi : Everest dan juga puncak – puncak lainnya. Sebuah keputusan diambil, saat itu Rob dinyatakan sehat walaupun ada kemungkinan penyakit kanker-nya akan kambuh lagi. Rob dan Jo akan pergi mendaki puncak – puncak yang mereka inginkan. Mereka akan meninggalkan London untuk sementara yang berarti juga berhenti bekerja.

Maret 2002 dan Rob mengundurkan diri dari pekerjaan yang telah ditekuninya selama 20 tahun. Jobless, menjual rumah, berbekal uang tabungan dan mereka berdua mulai membicarakan rencana perjalanan impian mereka. Tujuan mereka sudah jelas, mendaki seven summit bersama, atau minimal 6 diantaranya ..bersama – sama. Latihan fisik yang ketat diikuti dengan sejumlah simulasi pendakian di Alps mereka lakukan. Dan merekapun siap melakukan petualangan mereka yang pertama.

Selanjutnya sangatlah menarik. Jo dengan sangat detil menceritakan kisah pendakian mereka di setiap gunung juga perjalanan mereka ke Kutub Utara dan Kutub Selatan. Mereka pernah gagal dalam percobaan mereka di Himalaya karena Rob mendadak sakit dan harus dievakuasi ke Thailand. Namun mereka kembali lagi dan berhasil. Pendakian yang mereka lakukan semua punya cerita yang menarik.

Kisah mereka bukanlah sekedar bagaimana mencapai puncak sebuah gunung, atau bahkan menaklukan sebuah gunung. Kisah Rob dan Jo adalah pelajaran mengenai kebersamaan dan cinta, juga kisah sebuah keberanian bertahan hidup walau kanker menyerang. Wajib dibaca :)

Holding On is not just an enthralling account of mountaineering and polar achievement; it is a powerful and emotional story of love and survival against the odds. The Gambis were seized by an almost superhuman will to show that cancer had no beaten them – Sunday Times. Extreme weather, grueling climbs and the risk of death were all part of the experience for couple Jo and Rob Gambi, who took on the world’s tallest mountain – and cancer – and won. – Sunday Magazine Australia

Category: Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author: Jo Gambi

Wednesday, August 1, 2007

Sokola Rimba - Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

Tadi malam saya selesai membaca sebuah buku yang luar biasa : Sokola Rimba judulnya. Diperoleh secara tidak sengaja di sebuah toko buku diskon di Bandung, covernya langsung membuat saya tertarik, Butet bersama anak - anak asuhannya di Sokola.

Saya langsung tertarik membaca bagian mengenai : Kak Butet Manurung. Siapakah dia ? Seorang wanita yang rela masuk dan tinggal di hutan selama bertahun - tahun untuk mengajar baca dan tulis untuk anak - anak Orang Rimba (OR) di hutan Bukit Tigapuluh, Jambi.

Kak Butet ternyata seorang sarjana Antropologi dari UNPAD Bandung, sekaligus sarjana Sastra Indonesia dari universitas yang sama. Selepas kuliah ia bergabung dengan WARSI (Warung Konservasi) Jambi dan bekerja sebagai fasilitator pendidikan. Sejak tahun 1999 hingga sekarang Kak Butet mengabdikan dirinya bekerja sebagai guru dan mendirikan "sokola" untuk anak - anak di berbagai daerah di Indonesia (Jambi, Flores, Makassar, dan Aceh).

Buku ini merupakan catatan harian Kak Butet selama mengajar anak - anak OR dan sedikit kisah mengenai didirikannya "Sokola". Halaman pertama buku ini langsut terekam kuat dalam ingatan saya :

Hari - Hari Pertama di Rimba - Menuju Jambi
"Jangan katakan ini hari pertama aku bekerja, aku tidak suka kata itu. Lebih baik disebut ini adalah hari pertama aku memulai hidup"


Selanjutnya Kak Butet bercerita mengenai hari - hari pertamanya di WARSI, hari - hari pertama masuk hutan dan berkenalan dengan OR. Mengajar anak - anak di sana bukanlah hal yang mudah. Jangankan mengajar, untuk menjadi teman saja membutuhkan waktu yang sangat lama. Banyak kisah menarik diceritakan di buku ini. Kak Butet berhasil, sekarang OR sudah ada yang bisa membaca dan menulis, bahkan mereka dapat menjadi kader untuk mengajar saudara - saudaranya yang lain.

Buku yang sangat menginspirasi, buat yang ingin menjadi volunteer ada kesempatan dari Sokola untuk mengajar. Hmmm nabung cuti dulu, semoga tahun depan bisa berangkat

Category: Books
Genre: Other
Author: Butet Manurung
Lebih lanjut tentang sokola : www.sokola.org

Tuesday, May 29, 2007

Titik Temu Tiga Hati

Sebuah email di milis angkatan saya kemarin pagi :
Buku urang terbit euy....Kudu meuli nyak!!!! Bae teu dibaca oge, nu penting dibeli.....Oke ? Da bageur.....

Dan pengirimnya tak salah lagi adalah Ichanx The Miracle alis Musan alias Muhammad Ihsan Suhar si penulis buku ini. Soalnya mana ada penulis buku lain yang pengen bukunya dibeli aja..ga dibaca juga ga papa selain si Ichanx he he.

Akhirnya saya teh mengirim sms ke bapak pengarang ini dan si bapak pengarang balik nelpon..kesimpulan yang diambil : saya dipaksa beli hue he he.

Jadinya kemaren malam pulang kantor langsung pergi ke Depok, Gramedia terdekat dari rumah. Meuni jauh plus macet geuningan..demi buku si Ichanx tea. Dan akhirnya buku putih kecil ini berhasil saya beli..dan bener depannya kaya buku resep. Beli 2, yang satu titipan Sani. 

Sampe rumah ga sabar pengen baca, dan ternyata isinya emang Ichanx banget..serasa ngedenger Ichanx ngomong gandeng baceo..seperti biasa. 

Untuk orang - orang yang pernah kuliah di ITB khususnya 98, khususnya Geologi, kenal Ichanx dan lingkungannya, dsb..pasti bakal bilang : ni buku Ichanx banget deh. Bener - bener buku nostalgia masa kuliah. 

Dan tidak seperti novel fiksi lainnya yang selalu mengklaim bahwa kesamaan nama, tokoh, dan cerita adalah kebetulan..maka sebaliknya saya bisa bilang : ini adalah kisah nyata yang agak dimanipulasi..ini mah cerita barudak bronx (GEA98) banget euy.

Seru..kocak..setengah bagian pertama kalau menurut saya adalah Ichanx banget. Seperti ngajakin kecengan nonton PERSIB dah gitu nembak dengan cara kampring ala Ichanx, atau kencan gratisan ke bonbin sambil manjat pagar. Ichanx pisan.

Tapi setengah bagian selanjutnya kok kayanya bukan Ichanx banget ya..he he he..peace Chanx, ga diterusin deh. Lumayan untuk variasi bacaan di tengah booming penulis muda yang kebanyakan juga bagus - bagus. Great job Chanx..semoga bisa keluar novel berikutnya. Sukses.

Ayo beli juga ya..30 ribu saja, sudah ada di Gramedia di kota anda. Mengikuti kata Ichanx..yang penting beli dulu, terserah ntar mau diapain.

Resume :
Judul : Titik Temu Tiga Hati
Penerbit : Gagas Media
Penulis : Ichanx - www.ichanx.blogdrive.com 

Musan bener -bener merasa beruntung ! Sebagai orang yang waktu SMU pernah dapat ranking 46 dari 49 murid di kelas, diterima masuk di perguruan tinggi favorit se-Indonesia merupakan keajaiban. Sama ajaibnya saat Musan bisa jadian dengan Meli, Mahasiswi cantik yang dikecenginnya sejak awal kuliah. Yah semua itu memang nggak lepas dari bantuan ketiga temannya, Akmal, Danang, dan Albert, plus Irine.Tapi bener ngga sih, orang yang sekarang jadi pacar kita memang jodoh kita ? Musan juga ngga tahu tentang hal itu, sampai akhirnya dia berada dalam sebuah dilema kehidupan. Apakah keberuntungan Musan berakhir di sini ? Mungkin keberuntungan Musan kali ini tidak datang begitu saja, tetapi harus dicari sendiri olehnya.

Wednesday, November 1, 2006

Laskar Pelangi


Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. 

Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu—bahkan terkadang hanya untuk menyanyikan Padamu Negeri di akhir jam sekolah. 

Atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita. 

Selami ironisnya kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka, dan temukan diri Anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya. 

Buku ini dipersembahkan buat mereka yang meyakini the magic of childhood memories, dan khususnya juga buat siapa saja yang masih meyakini adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan.

Saya baru saja selesai membaca buku ini minggu lalu, termasuk cepat, dua hari sudah selesai. Sebagian dibaca di pesawat dalam perjalanan mudik ke Bandung dan karena penasaran saya selesaikan esok harinya di rumah. 

Buku yang sangat menarik. Mengisahkan kehidupan 11 anak - anak kurang mampu yang bersekolah di sekolah sangat sederhana, SD dan SMP Muhammadiyah di Pulau Belitong alias Belitung. 

Mengingatkan saya tentang indahnya masa kanak - kanak, ketika hati nurani masih belum ternodai he he he. Mengingatkan saya tentang sebuah pepatah : tuntutlah ilmu ke negeri Cina dan yang pasti mengingatkan saya untuk bersyukur bahwa saya memiliki kesempatan untuk duduk di bangku sekolah.

Buku ini merupakan memoar masa kecil penulisnya (Andrea Hirata - www.sastrabelitong.multiply.com). Layak sekali untuk dibaca, kocak, haru dan mencerahkan.

Category: Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author: Andrea Hirata

Dibeli  di www.inibuku.com, harga Rp. 50,150,-

Monday, June 5, 2006

Dapat Kiriman


Saya senang sekali setiap mendapat kiriman, kiriman pos. Seperti hari ini, di inbox surat saya terdapat sebuah paket yang terbungkus plastik. Ini dia yang saya tunggu - tunggu. Kiriman dari sahabat baik saya, Mario.

Ada tiga buah buku di dalamnya :

Autobiography JOHN DENVER, edisi asli dan pertama walau cuma dalam bentuk fotocopy-an he he. Saya dan Mario menemukan buku ini bulan April lalu di Toraja, di perpustakaan milik pengelola Indosella Expedition. Waktu itu dengan semangat kami meminjam buku itu dan fotocopy di Toraja. Padahal 1 lembarnya 250 rupiah, mahal ya.

MT ZEN dan Pikiran - Pikirannya, sebuah bundel berisi tulisan-tulisan dari MT ZEN, seorang Dosen Teknik Geofisika ITB, anggota WANADRI sekaligus seorang filsuf yang banyak menulis tentang politik dan sosial. Bundel ini tadinya milik Om Herman Lantang yang kemudian diberikan sebagai hadiah untuk Mario.

ZEN EXPLORATION, In remotest New Guinea, Adventures in the Jungles and Mountains of Irian Jaya. Ditulis oleh Neville Shulman yang merupakan seorang penganut Zen yang mendaki Carstenz dan Puncak Jaya mengatasnamakan kemanusiaan.

Nampaknya buku-buku yang menarik. Saya ingin segera pulang untuk mulai membaca salah satu buku itu. Seperti pesan Mario : Buku ZEN EXPLORATION dibeliin temen gw Dewi. Orang pertama yang baca adalah Herman Lantang, kedua adalah gw dan ketiga mungkin elo. Kali aja kita bisa bertiga barengan ke Carstensz satu atau dua tahun ke depan..he he semoga Mar. Thanks untuk kirimannya.

Wednesday, January 4, 2006

Arlene Blum Replied my Email


Sekarang saya lagi baca buku yang berjudul Annapurna, Kisah Dramatis Ekspedisi Wanita ke Himalaya. Walaupun baru baca 1/4 bagian, tapi saya bisa angkat 4 jempol (plus jempol kaki) untuk buku ini. So inspiring.

Buku ini ditulis oleh Arlene Blum, pemimpin ekspedisi tersebut. Saking terinspirasinya, saya tadi coba mengirim email ke beliau, mengatakan kalau saya sangat terinspirasi oleh buku ini and etc. Dan ternyata....dalam hitungan menit email itu dibalas. Hu hu senang banget. Arlene Blum replied my email :)

InsyaAllah nanti kalau sudah selesai baca, saya akan coba buat resensi dari buku ini.