Pages

Tuesday, August 23, 2011

23 Agustus 2011

Hari ini alhamdulillah tepat 3 tahun pernikahan kami. Bertiga kami makan malam bersama di Pizza Hut dekat rumah, sama seperti tahun lalu. 

Banyak hal berubah, Cici kali ini sudah semakin besar, sudah bisa berbicara, memilih makanan dan nampak sangat menikmati makan malam kali ini. Menggemaskan.

Banyak hal terjadi selama 1 tahun yang lalu, alhamdulillah kami bisa melewatinya dengan baik dan kami bertiga masih diberi kesempatan berkumpul bersama - sama. Terimakasih ya Allah.

Keluarga Kami - 23 Agustus 2011
Ya Allah,
Sungguh nikmat-Mu itu begitu besar, terimakasih ya Allah untuk kesempatan ini, kesempatan untuk kami bertiga untuk selalu dapat bersama. Ridloilah hidup kami ya Allah, ijinkan kami selalu berada di jalan-Mu. Amin.

Monday, August 8, 2011

Cici Goes to School


Sabtu, 6 Agustus 2011. Jam 6 pagi Cici sudah bangun.

Bunda : Assalamuallaikum Cici, sudah bangun, wah hari ini Cici mau sekolah :))
Cici     : samkum ...maksudnya waalaikumsalam sambil tersenyum lebar

Ya..hari ini Cici akan masuk playgroup, di dekat rumah saja, tidak sampai 5 menit naik motor. Biasanya Cici kan ikut Bunda ke daycare setiap hari, tetapi dengan beberapa pertimbangan dan ditambah pula Cici tiap hari selalu pengen ke sekolah, akhirnya kami memutuskan untuk mengirim Cici bermain di sekolah.

Pagi tadi Cici bergegas ikut saya turun ke dapur. Sahur kesiangan dulu, jeruk manis, plus nasi orak arik telur wortel made in Bunda. Tak lupa saya menyiapkan bekal snack-nya : potongan apel dan jeruk sunkist. Disusul mandi pagi dan alhamdulillah jam 7.16 kami sudah siap. Cici belum dapat seragam, jadi hari ini cukup pakai kaos dan celana pendek saja.

Jam 7.30 kami berangkat naik motor, ke ATM dulu dan tiba di sekolah jam 7.45. Turun dari motor Cici bergegas ingin masuk. Tapi dasar kami bapak dan ibu narsis, anak ini ditahan dulu untuk berpose sebentar hehe.

"Cici angkat tangan !" ..dan dengan baiknya Cici mengangkat kedua tangannya, freeze sebentar..menunggu Popo mengambil foto dengan kamera pocket Cici. Yah tapi ngga bisa fokus terus, terpaksa HP beraksi.

Cici mulai tak sabar dan ingin berlari masuk sekolah. "Cici salam dulu !" kata Popo, Cici berbalik, salam, cium tangan dan sun pipi..so sweet.

Saya dan Cici kemudian bertemu Miss Dini, mengurus administrasi masuk sekolah. Cici duduk manis di samping saya sebelum akhirnya bosan dan akhirnya diajak salah seorang guru masuk ke dalam.

Jam 8 pagi, Cici sudah di kelas, saya mengintip dan ternyata Cici sudah asik main motor - motoran di dalam kelas. Seperti biasa dengan muka tengil. Akhirnya sambil menunggu saya pergi ke pasar dulu, belanja keperluan 1 minggu dan kembali ke sekolah jam 10.

Cici asik main di playground belakang sekolah. Saya menanyakan bagaimana Cici di sekolah kepada salah seorang Miss di kelasnya.

"Cici so independence Mom, she can mingle easily with her friend, playing together, etc etc..yang intinya Cici hari ini di sekolah baik - baik saja, alhamdulillah. Dan betul..pagi ini Cici tidak mau pulang, asik lari - lari keluar masuk kelas, baca buku, menggambar, sebelum akhirnya saya gendong paksa untuk pulang.

Dearest Cici, selamat memasuki dunia baru Nak, bersekolah itu menyenangkan. Bersekolahlah yang tinggi dan tetaplah jadi orang baik yang rendah hati. Bunda tahu Cici pasti bisa.

*Bunda yang terharu dan hampir menangis, anak Bunda sudah besar

Tuesday, July 5, 2011

Wednesday, June 22, 2011

11 Days To Go


And my (baby) Cici will turn 2. Yes..she is not a baby anymore, she is a happy little girl.

Dearest Cici, alhamdulillah Cici selalu diberi kesehatan. Bayi Bunda kini sudah besar, pandai berlari, menari dan juga berbicara. Walau lisanmu belum lancar, jangan berkecil hati Nak, sebentar lagi pasti bisa...Chichi..Bunnnnndaaaaa...Poooopoooo...Mammmm....Siniiiii...dan masih banyak lagi..alhamdulillah.

Cici suka sekali menggambar, menari, bermain di taman, lari - lari dan alhamdulillah anak Bunda jarang sekali rewel dan menangis. Makannya sudah pandai, duduk di kursi dan pakai sendok garpu ya Ci . Hobby utama tetep baca buku..dibawa kesana kemari..senang Bunda melihatnya.

Tetaplah menjadi anak Bunda yang baik hati dan ceria..dan semoga Bunda bisa menjadi Bunda Cici yang lebih baik...love you always 

Monday, May 30, 2011

Ketika Nona Cici Digendong


Beberapa teman banyak yang penasaran nih dengan baby carrier yang dipakai untuk menggendong Cici waktu kami pergi ke Baduy 2 minggu yang lalu. Nah kemarin itu kami pakai baby carrier merk KELTY yang bentuknya mirip ransel. Percayalah ini adalah barang pertama yang kami belikan untuk Cici ketika usianya masih 7 bulan di dalam kandungan :) . Bukan beli baru sih, beli second, ceritanya ada di sini 

Nah trip ke Baduy kemarin adalah percobaan pertama Cici digendong dengan baby carrier untuk jangka waktu lama. Alhamdulillah Cici suka, ga rewel, anteng, malah tidur selama perjalanan. Asiknya di gendongan tersebut ada beberapa pocket yang bisa dipakai untuk menyimpan botol minum jatah Cici.

Overall nyaman dan enak bagi kami dan Cici. Berat badan Cici sekarang 12 kg, ditambah berat baby carrier-nya yang sekitar 3 kg maka totalnya jadi 15 kg. Yah sama seperti ekspedisi dan bawa 3 jerigen air he he. Walaupun kalau ada rejeki pengen beli yang baru nih, yang ada tudungnya biar Cici ga kepanasan. Doakan Bunda Popo ada rejeki lebih ya Ci 

O iya ngomong - ngomong tentang gendongan, sampai sekarang saya belum pernah gendong Cici pakai gendongan kain selendang itu. Waktu Cici lahir kebetulan ada teman kami, Pak Cik Setyo yang ngasi kado moby wrap . Jadi seringnya kalau pergi - pergi Cici di gendong pakai moby..nyaman di kami dan juga nyaman di Cici. Kalau udah di moby pasti ketiduran. Selebihnya Cici lebih banyak di stroller atau di car seatnya. 

Saya emak - emak yang ga bisa gendong selendang lho. Jadi jangan tanya caranya, punya selendang aja ngga. Seumur - umur Cici gendong selendang waktu kami jalan - jalan ke Halimun dan menginap di homestay Citalahab. Ibu pemilik rumah yang kami tempati gemes banget dengan Cici dan pengen banget ngegendong. Akhirnya Cici digendong Ibu tersebut pakai selendang kain, dibawa jalan - jalan dan nampak seperti penduduk lokal 

Thursday, May 26, 2011

Baduy - Nu Ieu Mah Keur Urang Ciboleger Bae


Minggu, 15 Mei 2011

Sepertinya masih pagi sekali, badan saya pegal linu, kepala berat dan yang pasti mengantuk. Tapi bocah kecil di sebelah saya sudah bangun dari tadi nampaknya, dan dia sudah nongkrong di dapur bersama Bu Kasinah dan Pak Kasinah. Literary secara fisik nongkrong di depan hawu.

Dapur Keluarga Kasinah
Semalam kami kembali ke Gajeboh jam 7 malam. Setelah sempat rehat dulu di Cipaler 1 jam, minum kopi dan makan roti karena tiba – tiba turun hujan deras. Alhamdulillah tidak ada hambatan berarti dalam perjalanan pulang. Cici tertidur pulas di gendongan, dan kami terbantu oleh cahaya bulan purnama.


Hari ini rencananya kami akan pulang ke rumah. Singkat sekali memang perjalanan kami kali ini. Ransel – ransel dibongkar. Semua bahan makanan saya keluarkan : minyak goreng, telur, ikan asin, kornet, garam, beras, mie instant, kecap, tempe, baso, dll. Rencananya kelebihan bahan makanan akan kami serahkan ke Bu Kasinah.  Ya untuk apa dibawa pulang lagi, mereka disini lebih memerlukan.

Akhirnya pagi itu saya ikutan nongkrong di dapur. Saya, Cici dan Bu Kasinah memasak sarapan. Tepatnya, saya dan Cici menonton Ibu Kasinah membuat sarapan. Nasi, dadar telur, mie goreng, cumi goreng dan sarden. Tak lupa saya melakukan ijab kabul serah terima kelebihan bahan makanan kami.

Tak berapa lama tiba – tiba Bu Kasinah kembali dengan satu kantung plastik hitam yang penuh berisi makanan.
Nu ieu mah keur orang Ciboleger bae Bu !
Lho saya kok malah jadi bingung, padahal dalam hati ogah membawa kembali barang – barang itu. Ternyata maksud Bu Kasinah itu untuk Pak Mamad.  Tanpa diminta beliau membagi dua sama persis bahan makanan yang saya berikan, setengah untuk keluarganya dan setengah untuk Pak Mamad. Subhanallah.

Ternyata Bu Kasinah ingin berbagi rejeki. Padahal saya tahu, beliau saat ini pun tidak berlebih (baca = kekurangan). Tapi beliau malah berinisiatif membagi rejeki yang diperolehnya. Satu teguran kembali untuk saya. Bu Kasinah sangat benar, berbagi ketika kita sedang sempit pahalanya besar sekali.

Akhirnya keresek hitam kembali ke dalam ransel. Setelah makan kami bergegas packing. Mampir sebentar berbelanja kain tenun dan kampret. Tak lupa gelang akar kayu untuk Cici. Madu hutan pesanan kami sudah diantar ke rumah.

Posisi kembali seperti semula, saya menggendong Cici. Pak Mamad, Helmy dan Dahlan masing – masing membawa ransel. Kami berfoto bersama di depan rumah, bersalaman dan pamit.

Pak Mamad - Anak Ibu - Bu Kasinah - Cici - May - Helmy
Sekitar pukul 9 kami meninggalkan Gajeboh. Perjalanan pulang lebih cepat, walaupun lagi – lagi saya kecapean. Turunan yang dalam perjalanan datang tampak indah sekarang bagaikan senjata makan tuan, tanjakan panjang tak berujung. Dahlan jauh melesat di depan, Helmy bersama Pak Mamad, dan saya kembali menikmati pemandangan di belakang.


Kaduketuk tidak begitu ramai, para pedagang menawari kami untuk mampir sebentar. Berbelanja berbagai pernak – pernik Baduy. Kami telah kembali ke dunia yang berbeda.

Tiba di Ciboleger kami bergegas packing, pamitan dengan Pak Mamad dan mulai berjalan pulang. Pukul 11 siang, panas, terik menyengat. Kami mulai berjalan pulang ke rumah. Perjalanan singkat  selesai sampai disini, tetapi suatu saat kami akan kembali lagi.

# Trip with Family an Friends, May 2011

All photos were taken by my husband - Helmy Noermawan. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Tuesday, May 17, 2011

Baduy - dan Tujuan Kami Hanyalah Kembali dengan Selamat Bersama Pak Mamad

Perjalanan dilanjutkan, pukul 11 siang, perut kenyang, angin sepoi – sepoi, mata mulai berat. Untuk meninggalkan Gajeboh kami harus menyebrangi Sungai Cibaduy, melewati jembatan bambu yang kokoh, walaupun hanya diikat tali ijuk. Selepas sungai jalurnya menyenangkan, menyusuri tepi sungai, jalan datar atau kadang menurun.

Jembatan Penghubung Gajeboh dan Cicakal Girang
Semangat 45, saya masih menggendong Cici..hingga tiba – tiba panggilan alam datang dan saya meminta Helmy untuk bergantian menggendong Cici. Akhirnya Cici berpindah tangan, saya dan Helmy bertukaran tas. Dan siapa sangka itu adalah keputusan terbaik yang saya buat selama perjalanan ini 

Kami kembali berjalan, menyebrangi anak sungai, melewati sebuah perkampungan kecil – Cicakal Girang dan ternyata di depan sana ada tanjakan tak berujung. Benar tak berujung, sedangkan matahari tepat berada di atas kepala. Pak Mamad sudah jauh depan, disusul Cep Dahlan, Helmy dan Cici sedangkan saya ada di paling belakang, meniti langkah sambil sesekali menikmati pemandangan yang indah. Pemandangan indah tak boleh dilewatkan bukan.

Untunglah di depan sana rombongan sudah menunggu, akhirnya bisa juga duduk dan memanjangkan kaki. Cici asik bermain sendiri sambil sesekali tiduran di singgasana ranselnya. Pak Mamad mulai membicarakan kemungkinan kami akan kemalaman di jalan tanpa senter. Perjalanan ke  Cibeo masih 2/3 jalan lagi. Bila kami terus berjalan maka kami akan tiba sekitar pukul 2 siang, beristirahat sebentar dan kembali ke Gajeboh. Paling cepat kami akan tiba di Gajeboh menjelang Maghrib. Tapi ada saja kemungkinan hujan lebat dan kami harus berteduh, kami akan kemalaman tanpa senter.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya kami memutuskan kembali berjalan di tanjakan tak berujung itu. Dan kembali beristirahat tak lama kemudian. Hingga tiba – tiba ada godaan iseng mengajak tidur siang saja di Cicakal Girang. Ha ha ini tak usah disebut nama pencetusnya. Yang pasti bukan Cici.

Tetapi setelah menimbang – nimbang kami memutuskan kembali berjalan. Sejak saat itu tujuan kami bertambah jelas,  kembali dengan selamat bersama Pak Mamad. Untuk itu kami kembali bertukar peran, Cici digendong Pak Mamad. Untungnya Tuan Putri sangat kooperatif, dia tidak rewel walau berganti – ganti penggendong. Untungnya lagi di depan sana ada turunan yang indah sekali, kami mendekati Cipaler, daerah perkampungan Baduy Luar yang lain.

Kali ini kami tidak mampir di Cipaler, secepat mungkin kami ingin tiba di Cibeo. Hutan yang kami lewati mulai rapat, jalanan masih menurun, beberapa tempat licin. Saya masih di paling belakang. Seperti biasa menikmati pemandangan alam yang indah. Helmy dan yang lainnya sudah tidak kelihatan, hingga tiba – tiba …ah tidakkkk saya rupanya kepleset, masuk sungai, kepentok batu dan berguling 2 – 3 kali…alhamdulillah masih bisa bangun dengan selamat, walaupun badan kotor berlumpur. Di depan sana para pria itu sudah tidak terlihat. Saya bergegas melanjutkan perjalanan, menyebrangi anak sungai lagi dan berjumpa dengan ularrrrrrrrrrrr. Yap lengkaplah perjalanan saya hari ini, tapi saya bersyukur, gara – gara si ular saya jadi berlari mengejar rombongan.

Ternyata para pria dan Tuan Putri telah tiba di sebrang Sungai Cibaduy. Kami kembali harus melewati jembatan bambu yang kokoh. Inilah batas antara wilayah Baduy Luar dan Baduy Dalam. Saya ingat 14 tahun yang lalu pernah berenang – renang di sungai ini, dan hingga kini airnya tetap bersih.

Disini semua larangan sesuai adat masyarakat Baduy Dalam berlaku. Tidak diperkenankan mengambil foto, menggunakan elektronik, memakai sabun/odol dan jauh di dalam hati saya tentunya semua pengunjung harus bersikap sopan dan tidak merusak.

Setelah beristirahat sejenak di tepi sungai kembali kami melanjutkan perjalanan. Menurut Pak Mamad, di depan kami kembali ada tanjakan tak berujung yang lebih berat dari tanjakan di awal. Penuh semangat kami kembali berjalan, di kejauhan awan hitam mulai bergerak. Saya tetap setia di paling belakang, menikmati Sungai Cibaduy yang mengalir indah. Tanjakannya tak usahlah dibahas ha ha.

Di puncak punggungan kami beristirahat di dekat rumah ladang orang Baduy Dalam. Dua orang anak kecil asik bermain sendiri. Sang Ibu mungkin sedang ke ladang. Selanjutnya kami kembali menemukan rumah ladang lainnya. Beberapa anak kecil usia balita asik bermain, yang lelaki membawa golok di pinggang. Taksiran saya umurnya tak lebih dari 5 tahun. Di rumah ladang ketiga kembali saya bertemu anak kecil lainnya, asik bermain sendiri. Saya terkagum – kagum, di usia belia mereka telah sangat mandiri.

Jalanan terus menurun, dan di dalam hati saya mengingatnya sebagai rejeki yang harus diingat ketika kami nanti berjalan pulang, tanjakan panjang. Masih ada lagi rumah ladang lainnya, dan disini kami duduk beristirahat sambil mengobrol, dua wanita dewasa, 1 balita dan 1 bayi montok berusia 9 bulan. Sang Ibu kebingungan melihat Cici yang minum susu ultra dalam kemasan.

“Geuningan beda minumna, di dieu mah ngan nginum ieu bae”..sahut si Ibu sambil menunjuk dadanya

Wow ternyata Ibu ini Pro ASI juga, akhirnya saya jelaskan bahwa Cici juga anak ASI lho Bu. Kami mengobrol beberapa hal dan ujungnya si Ibu menawarkan tempat istirahat di rumahnya. Kebaikan hati yang tulus.

Pak Mamad kembali memimpin di depan. Saya kembali di belakang bersama seorang anak lelaki kecil yang membawa burung dalam sangkar. Kami melewati leuit (lumbung), menyebrangi sungai dan alhamdulillah, akhirnya jam 2 siang kami tiba di Cibeo, perkampungan Baduy Dalam.

Sepertinya tidak ada yang berubah. Samar dalam ingatan saya, suasananya masih sama seperti 14 tahun yang lalu. Jalan setapak kecil berbatu, rumah panggung berbilik bambu di kiri dan kanan. Beberapa orang nampak duduk di balai – balai, menyambut kedatangan kami.

Pak Mamad sudah duduk di depan rumah Pak Sardi. Helmy, Cici dan Cep Dahlan juga sudah melepas ransel-ransel mereka. Beberapa anak kecil duduk memandangi kami. Tuan Putri riang bermain ayam dan mulai berbaur dengan anak – anak Cibeo, berbagi biskuit dan bermain.

Pak Sardi, beliau adalah salah seorang penduduk Baduy Dalam yang cukup terbuka pada pendatang. Rumahnya kerap dijadikan tempat menginap, beberapa kali dalam setahun beliau saba kota ke Jakarta, berjalan kaki, 3 hari perjalanan.

Saya duduk mengobrol dengan seorang Ibu, bahasa Indonesianya cukup lancar dan orangnya ramah. Dua anak kecil bermain di sekitarnya. Si Ibu punya anak 6 orang, anak paling besarnya baru saja menikah, sedangkan anak paling kecilnya masih berusia 2 tahun.

Nampaknya rata – rata pasangan di Baduy memiliki anak banyak. Ibu Kasinah punya anak 3 orang, anak paling besarnya usia 20-an sedangkan yang paling kecil berusia 7 tahun. Beberapa kali saya menemukan juga anak usia balita menggendong adiknya yang masih bayi. Selain itu sepertinya mereka terbiasa menikah di usia muda, seperti anak Ibu di Cibeo tadi.

Menurut informasi dari Pak Sardi, jumlah rumah di Cibeo ada 96 rumah, sedangkan saat ini penduduknya ada sekitar 500 orang. Cikertawana juga kurang lebih sama komposisinya. Sedangkan Cikeusik lebih sedikit. Mata pencaharian utama mereka adalah dari mengumpulkan hasil hutan dan berladang. Hasilnya mereka pakai sendiri, ada juga yang dijual ke Ciboleger.

Mereka hidup sangat sederhana, hanya ada dua warna dalam kehidupan masyarakat Baduy Dalam, hitam dan putih. Pakaian sehari – hari kaum pria adalah baju kampret beserta celananya. Kaum wanitanya hanya berkain samping. Tanpa alas kaki.

Rumah dibuat tanpa paku, hanya tali pengikat dari rotan. Tanpa perabotan. Satu – satunya barang “mewah” dalam kehidupan mereka adalah perangkat makan dari porselin cina. Ini yang bikin saya penasaran, darimana ya mereka mendapatkan porselin cina tersebut ?

Makanan sehari – hari mereka hanyalah nasi, garam dan “sayur hasil hutan”. Ikan asin bisa jadi menjadi barang mewah yang harus mereka beli di Ciboleger. Kaum pria tidak merokok, mereka dan juga kaum wanita hanya nyeupah saja, alias nginang dengan daun sirih.

Singkat sekali kunjungan saya di Baduy Dalam. Padahal masih banyak yang ingin saya ketahui. Kami tidak sempat pula bertemu dengan Puun. Beliau sedang pergi berburu Kijang ke hutan. Jam 3 sore, saya masih enggan bergerak. Cici masih asik bermain. Tapi mau tidak mau kami harus segera pergi bila tidak ingin kemalaman di jalan.

bersambung….nu ieu kangge urang Ciboleger bae