Pages

Friday, July 20, 2012

Kerinci, Atap Sumatera

Jumat, 6 Juli 2012
6 jam perjalanan darat dari Padang, saya dan teman – teman tiba di Kayu Aro, sebuah kota kecil penghasil daun teh yang tersohor di Provinsi Jambi. Masih pagi sekali dan penghuni rumah di pinggir jalan tersebut menjadi sibuk karena kehadiran kami. Basecamp Kerinci sebutannya, rumah Heru yang entah sejak kapan menjadi rumah yang terbuka untuk semua orang yang ingin mendaki Kerinci. Pemandangan di rumah Heru sangat menawan, Gunung Kerinci tampak jelas dan gagah. awesome.

Gunung Kerinci dari pintu rumah Heru di Kayu Aro
Perkenalan saya dengan Johan Kerinci di salah satu situs jejaring sosial membawa kami ber – 10 ke rumah ini. Bertegur sapa, berkenalan dan resmilah kami menjadi “anggota baru” keluarga ini. Pagi yang ramai, berkenalan dengan teman – teman baru, berbelanja ke pasar, packing, hingga berjalan – jalan ke Air Terjun Telun Berasap yang cantik.

packing packing
Malam yang singkat, lampu sempat padam sebentar, dan kami bergegas tidur. Di dapur masih ramai, Ibu-nya Heru dan Johan sibuk memasak. Mempersiapkan bekal kami untuk mendaki esok hari.

Sabtu, 7 Juli 2012
Pagi hari yang sibuk. Antri ke kamar mandi, lagi – lagi packing dan sarapan pagi : nasi goreng telor ceplok buatan Ibu Heru. Bekal makan siang sudah siap : nasi bungkus dengan sambal kentang, dendeng dan sambal tentunya. Siap dibawa.

Mobil sewaan kami telah menunggu di depan rumah. Siap membawa kami ber-16 hingga batas hutan. 15 menit saja perjalanan dari Base Camp ke batas hutan, melewati perkebunan teh Kayu Aro yang cantik.

pagi di Kayu Aro dan menuju Kerinci
Hari ini kami akan mendaki Atap Sumatera, Gunung Kerinci. Gunungapi tertinggi di Indonesia, sekaligus puncak tertinggi di Pulau Sumatera. Gunung yang termasuk ke dalam kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan merupakan habitat Harimau Sumatera (Sumatran Tiger) dan Badak Sumatera (Sumatran Rhinoceros) yang hampir punah.

Kerinci merupakan salah satu gunungapi yang aktif, hampir setiap tahun menunjukkan gejala erupsi. Saya teringat pelajaran Volkanologi dulu, tentunya Kerinci adalah gunungapi tipe A. Letusan terakhirnya terjadi pada tahun 2004 dan hingga kini terus – menerus mengeluarkan asap belerang.

pagi yang cerah
Seperti biasa kami mendaki dalam kelompok kecil, beberapa teman dari Basecamp telah berjalan mendahului kami. Mereka membantu membawakan tenda, logistik makanan dan lainnya untuk kemudahan kami. Seperti biasa saya menggendong Cici, Helmy membawa carrier dan kami berada di urutan belakang, perlahan berjalan melewati Pintu Rimba, beristirahat di Pos 1, Pos 2, Pos 3 dan akhirnya menjelang jam 1 siang kami tiba di Shelter 1. Makan siang.

Jalur dari Pintu Rimba menuju Shelter 1 tidak terlalu sulit. Cukup landai, hutan hujan tropis dan sepanjang perjalanan kami ditemani paduan suara Owa. Cici bahkan sempat berjalan sendiri dari Pos 3 menuju Shelter 1 dan saya sempat membawa carrier ketika Cici berjalan kaki. Kami sekeluarga menjadi rombongan terakhir yang tiba di Shelter 1, diikuti oleh Dayak, Ian dan Anis.

Di Shelter 1 seluruh tim berkumpul, dan pertama kali saya berkenalan dengan Andi Katoh yang kemudian kami panggil dengan sebutan Om Atlet. Beliau sangat kuat, sesore itu beliau sudah tiba di Shelter 3 dan kembali ke Pos 3 untuk membawa barang kami yang lainnya. Superb.

Perjalanan ke Shelter 2 cukup sulit, saya kembali menggendong Cici dan Helmy membawa daypack. Jalurnya menanjak, banyak rintangan dan di tengah jalan turun hujan. Kami mulai terpisah – pisah. Saya sangat lelah, tapi tidak ada pilihan untuk berhenti disini. Di belakang kami Dayak jauh terpisah.

Jam 7 malam kami tiba di Shelter 2, hujan turun sangat deras. Helmy mulai berteriak – teriak memanggil Johan, minta bantuan untuk me-rescue Dayak yang jauh di belakang, tidak membawa senter dan jas hujan. Tak mau menunggu lama kami melanjutkan perjalanan ke Shelter 3.

Hujan deras, dan Cici tertidur pulas di gendongan. Jalur menuju Shelter 3 sangat terjal dan sulit, jalur sempit bekas aliran air. Sesekali kami harus memanjat, jalan berlumpur dan menjadi sangat licin.

Setengah perjalanan ke Shelter 3 akhirnya bantuan datang. 2 orang temannya Johan datang membawa teh hangat, nikmat sekali. Di situ saya menyerahkan Cici ke Helmy, dan meminta 2 orang tersebut menyusul Dayak yang jauh di belakang.

Jam 8 malam, hujan lebat, baju basah kuyub tanpa raincoat. Badai dan tidak tahu medan. Tidak ada pilihan lain kecuali berjalan. Saya sangat khawatir Cici kedinginan dan kena hypothermia. Yang ada di kepala saat itu hanyalah terus berjalan dan tiba di camp.

Jam 8.30, tibalah kami di Shelter 3 . Tenda sudah berdiri di tengah badai dan hujan deras. Cici saya serahkan kepada Nancy dan Valen yang sudah tiba terlebih dahulu. Saya bergegas berganti baju di tenda sebelah, dingin, mati rasa. Tenda kami berantakan, tapi cukuplah untuk malam itu. Saya, Cici dan Helmy berkumpul kedinginan, haus dan lapar. Badai di ketinggian 3400 mdpl.

Tak berapa lama Dayak tiba, alhamdulillah lengkaplah tim kami. Rupanya Dahlan dan Alfin tiba pertama kali, sekitar jam 7. Saat itu hujan sudah turun, repot sekali mereka mendirikan tenda, mencari baju ganti di kegelapan sambil resah menunggu teman – teman yang lain. Untunglah kami bisa tidur di tenda malam itu.

Minggu, 8 Juli 2012
Hari istirahat, badai berlalu dan Shelter 3 berubah menjadi camp pengungsi. Baju basah dijemur, tenda diperbaiki, dapur umum mulai bekerja. Pemandangan indah di depan mata. Hari yang sempurna.

pemandangan indah, tapi kenapa harus banyak sampah
kegiatan di Shelter 3

Senin, 9 Juli 2012
Summit attack. Jam 4.30 kami meninggalkan tenda. Saya kembali menggendong Cici yang masih tertidur pulas. Cuaca cerah. Jalur menuju puncak tidak terlalu sulit, terjal tapi bukan pasir halus. Musuhnya hanya satu, asap belerang yang membuat mata perih. Lagi – lagi seperti di Rinjani, Helmy tidak yakin bila Cici kuat hingga puncak. Tapi pagi itu saya bersikeras, Cici pasti bisa.

Anak 3 tahunku kedinginan, tapi dia memakai jaket dan kaus kaki yang cukup hangat. InshaAllah dia bisa mencapai puncak. Heru membantu saya menggendong Cici dari Tugu Yudha ke puncak, jaraknya sudah sangat dekat, 15 menit saja mendaki.

Tugu Yudha
Jam 8 pagi, Dahlan dan Alfin menyambut kami di puncak. Om Atlet, Johan, Heru, Helmy, Valen, Nancy dan Ian. Kami sempat berfoto – foto sebentar, kabut menyelimuti kaldera Kerinci. Inilah puncak 3805 mdpl itu. Puncak gunung yang kedua untuk Cici, di atap Sumatera.

di Atap Sumatera 3805 mdpl
bersama teman - teman
Perjalanan turun tidaklah mudah, ditambah perdebatan tak perlu di Shelter 3. Hujan kembali turun, deras. Tujuan kami hanyalah kembali dengan selamat ke Basecamp, malam itu kalau bisa.

Selasa, 10 Juli 2012
Tengah malam di Basecamp Kerinci. Cici dipangku Ibu Heru di pojok dapur, segelas teh hangat digenggamnya erat. Saya sudah mandi, berganti pakaian dan ikut duduk di kehangatan dapur. Obrolan penuh tawa memenuhi dapur. Satu perjalanan telah usai.

# Trip with family and friends, July 2012
All photos were taken by my husband - Helmy Noermawan. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Tuesday, July 3, 2012

Tuesday, May 22, 2012

Exhausted

Hi blog, lama tidak berjumpa. Iya saya kelelahan sekali, sepertinya waktu 1x24 jam tidak pernah cukup. Tentunya bukan karena waktunya yang tidak cukup, tetapi lebih karena saya tidak bisa mengefisienkan penggunaan waktu sebaik mungkin.

Seperti sekarang, saya terbangun dari jam 2 malam tadi karena jetlag tetapi saya tidak  memaksakan diri untuk tidur, malah bersahabat dengan sekantung baked chips dan laptop, tidak sehat. Padahal nanti siang saya harus bekerja di depan komputer, 9 jam saja tetapi pasti melelahkan. Tapi saya tidak bisa tidur dan memilih bersahabat dengan kantuk ini.

Cici sebentar lagi 3 tahun, tanggal 2 Juli tepatnya. Alhamdulillah, walau setahun terakhir ini saya sangat malas mencatat apa saja yang terjadi. Dan sekarang mendadak saya sadar, waktu berjalan cepat dan tidak bisa diputar. Saya telah melewatkan banyak hal. Cici sudah pandai berbicara, tidak pakai pampers, aktif, ceria, dan dia tampak baik - baik saja. Semoga memang begitu adanya.

Pekerjaan ya begitulah, entah kenapa saya hampir kehilangan minat membicarakannya hehe, bukan karena saya tidak suka, saya suka bekerja dan saya akan selalu melakukan yang terbaik untuk pekerjaan saya, menunaikan amanah yang diberikan kepada saya, tetapi ya begitulah, pada saat yang tepat saya akan bercerita disini. Sempat terfikir untuk pergi, tetapi tentunya belum tepat waktunya, ketika berbagai tagihan harus dibayar setiap bulan, ketika dan ketika. Suatu saat pasti akan tiba waktunya.

Beberapa perjalanan ke tempat baru dan teman - teman baru dilakukan. Menarik, tapi saya kehilangan minat untuk menuliskan cerita perjalanan saya. Bahkan ratusan foto hanya menjadi penghuni setia hardisk komputer di rumah. Padahal banyak cerita disana, tapi saya sedang malas. Ada satu kerinduan yang amat sangat menengok tanah suci. Semoga saya bisa mewujudkannya segera. InshaAllah perjalanan tersebut akan menjadi perjalanan terbaik saya.

Wahai ada apa dengan saya, bahkan tulisan ini adalah tulisan pertama saya di tahun 2012. Setelah 5 bulan berlalu, dan tahun ini saya lalai menuliskan resolusi saya. Saya mulai bingung, saya kelelahan, dan terkadang ingin berhenti sejenak.

Saya ingin menjadi orang yang konsisten. Saya kagum dengan banyak wanita di luar sana bisa menjalankan perannya dengan baik, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai anak, sebagai pegawai, sebagai teman, dan saya sepertinya tidak seperti itu. Sebagai teman rasanya saya tidak lagi menjadi teman yang baik, jarang sekali saya meluangkan waktu datang ke reuni sekolah, mengunjungi halaman facebook sahabat dan bertukar kabar, atau sekedar duduk minum kopi bersama teman - teman. Saya bukan lagi teman yang baik 

Saya sekarang bisa dengan mudah tersinggung hanya dengan pertanyaan sejenis : kapan Cici punya adik. Wahai teman dan sahabat, maafkan saya, tetapi kenapa ya dalam hidup ini kita harus berlomba terus dan dihujani pertanyaan kapan punya pacar, sudah punya pacar ditanya kapan nikah, sudah nikah ditanya kapan punya anak, sudah punya anak ditanya kapan nambah lagi, dst dst he he.Saya tahu kalian bermaksud baik, menanyakan kabar. Tapi tolong sebaiknya kita berhenti bertanya hal - hal seperti itu. Hidup bukan sebuah perlombaan kan.

Saya masih iri luar biasa dengan Ibu - Ibu yang tidak harus bekerja, bisa tinggal di rumah, memasak untuk anak dan suami, membersihkan rumah dengan tangan dan kakinya sendiri. Mengantar jemput anak ke sekolah, memeluk anaknya yang sedang sedih, dst dst. Iya saya iri, tahukah kalian, menjadi ibu, stay at home mother adalah pekerjaan mulia, pekerjaan yang saya cita - citakan sejak lama. Saya tahu bekerjanya wanita di luar rumah adalah bagian dari sedekah, tapi kalau boleh memilih saya ingin tinggal di rumah. Hmmm semoga akan tiba kesempatan itu, semoga  - semoga.

Setelah dipikir - pikir ternyata saya hanya ingin menjadi orang biasa saja, yang bisa selalu bersyukur. Tetapi boleh kan saya punya keinginan, punya cita - cita dan harapan .

Saya kelelahan, tapi saya akan berhenti sejenak untuk kemudian berjalan lagi dan InshaAllah hanya Allah maha penolong dan sungguh sholat dan doa adalah jawaban untuk semua masalah.

Friday, April 27, 2012

Life is Full of Color isn't it ?

In the last few weeks I found that I really want to write, about everything. I went to a lot of new places last year and early this year but looks like there were no foot print for my trips. The photos are in my hard disk, the stories are in my brain disk. It was bad, so why not start from today.

Life is full of color isn't it ? Let's made a colorful life, today and forever
*The picture was taken in Burano Island, Venice - Italy. I went there in October 2005, together with friends from my ex company. We had a wonderful trip to France and Italy. At the time I use my analog camera FM 10, and the digital picture came from negative scan.

Photo was taken by me. Credit is required if you want to use this in yours. Thank you.

Monday, December 12, 2011

Finally

Graduation..alhamdulillah, finally the ADP is done. It was a very good opportunity to meet with the Director and the Distinguished Adviser. I am so happy.

I am officially a member, for 1 year actually, there is no excuse anymore, swimming, Yoga, Pilates, I am coming.

Cici is officially talk active in a good way, independent toddler with a big curiosity and a nice behavior, alhamdulillah.

The highland journey is on the way..preparing, saving, goggling and be patient, someday we are ready to go.

Tuesday, November 29, 2011

2 yo and 4 months

She is 2 yo and 4 months, we went to Ujung Genteng for weekend vacation
November 2011

Wednesday, November 2, 2011

Recipe - Donat Tape Singkong


Donat alias doughnut ini sepertinya makanan favorit sejuta umat. Selama ini Cici belum pernah makan donat sih, beberapa kali ditawarin J Co ngga pernah mau, padahal kita lumayan sering beli J Co. Sampe Bunda penasaran mau buat donat khusus untuk Cici, ditambah lagi jaman dulu Nenek-nya Cici kan sering buat donat juga, sampe khatam ngeliat proses pembuatan donat di rumah.

Pucuk dicinta resep tiba, ketemu resep Donat Tape Singkong made in Ibu Fatmah Bahalwan dari milis NCC. Praktek pertama alhamdulillah langsung berhasil, dibuat waktu ada Eyang-nya Cici di rumah, laris manis, Cici-pun doyan, sukses jadi bekal ke sekolah. Selang 2 minggu praktek lagi, alhamdulillah tetap empuk dan enyak…bentuknya juga makin cantik karena nemu cetakan donat di Toko Blossom.

Mulai sekarang daripada beli J Co mending buat sendiri nih, yang pasti lebih murah, sehat karena bebas bahan pengawet dan ga susah kok  . Jam 6 pagi mulai ngulenin, jam 7.30 sudah siap digoreng. Nanti kita coba varian donat lainnya ya.

Ini foto donat dari percobaan kedua, topingnya mulai banyak, ada gula halus, meises, keju, dan juga almond dan green tea.


DONAT TAPE  SINGKONG - Fatmah Bahalwan

Bahan A :

  • 400 gr  tepung terigu protein tinggi (saya pakai Cakra)
  • 100 gr  tepung terigu protein sedang (saya pakai Segitiga)
  • 11 gr ragi instan (fermifant dalam kemasan)
  • 40 gr gula pasir
  • 20 gr  susu bubuk
  • ½ sdt baking powder double acting

Bahan B :

  • 200 gr tape singkong, haluskan
  • 1 btr telur
  • 175 ml air dingin

Bahan C :

  • 40 gr mentega/margarin
  • 1 sdt garam

Bahan lain :

  • 1 kg  minyak kelapa  untuk menggoreng
  • 250 gr gula donat untuk taburan (gula donat membuat rasa gula menjadi dingin di mulut dan tidak cepat lumer dibandingkan gula halus biasa)

Cara membuatnya :

  • Campur semua bahan A, aduk rata, masukkan bahan B, uleni hingga rata bergumpal-gumpal. Beri bahan C, uleni terus hingga kalis elastis. Kemarin saya banting sampai 100 kali biar kalis 
  • Potong dan timbang adonan masing-masing 40gr, bulatkan. Diamkan selama 40 menit
  • Panaskan minyak dalam wajan dengan api kecil. Lubangi bagian tengah tiap bulatan, goreng hingga berwarna kuning kecoklatan. Angkat, dinginkan
  • Taburi dengan gula donat, atau beri topping sesuai selera
Photo was taken by my husband - Helmy Noermawan. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.