Pages

Thursday, May 24, 2007

Semoga Tidak Sulit Bagi Kita

Dapat forward-an dari teman tadi pagi, kutipan dari Majalah Tempo Edisi 10/XXXIIIIIII/ 07 - 13 Mei 2007. Judul postingan ini adalah judul saya, bukan judul artikel.

JIKA tuan berdiri di salah satu sudut Senayan City, tuan akan tahu bagaimana malam berubah sebagaimana juga dunia berubah. Di ruangan yang luas dan disejukkan pengatur udara, cahaya listrik tak pernah putus. Iklan dalam gambar senantiasa bergerak, bunyi musik menyusup lewat ratusan iPod ke bagian diri yang paling privat, dan lorong-lorong longgar itu memajang bermeter-meter etalase dengan busana dan boga. Sepuluh–bukan, lima–tahun yang lalu, malam tidak seperti ini. Juga dunia, juga kenikmatan dan kegawatannya.

Hari itu saya duduk minum kopi di salah satu kafe di salah satu mall di Jakarta, dan tiba-tiba saya merasa bodoh: saya tak tahu berapa mega-kilowatt listrik dikerahkan untuk membangun kenikmatan yang tersaji buat saya hari itu.

Saya merasa bodoh, ketika saya ingat, pada suatu hari di Tokyo, di tepi jalan yang meriah di Ginza, teman saya, seorang arsitek Jepang, menunjukkan kepada saya mesin jajanan yang menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang. “Tahukah Tuan,” tanyanya, “jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jenis ini di seluruh Jepang?” Saya menggeleng, dan ia menjawab, “Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.”

Ia berbicara tentang ketimpangan, tentu. Ia ingin saya membayangkan rumah-rumah sakit yang harus menyelamatkan nyawa manusia di sebuah negeri miskin yang ternyata tak punya daya sebanyak 10 buah mesin jajanan di negeri kaya–mesin yang menawarkan sesuatu yang sebetulnya tak perlu bagi hidup manusia.

Saya merasa bodoh, mungkin juga merasa salah. Seandainya bisa saya hitung berapa kilowatt energi yang ditelan oleh sebuah mall di Jakarta, di mana saya duduk minum kopi dengan tenang, mungkin saya akan tahu seberapa timpang jumlah itu dibandingkan dengan seluruh tenaga listrik buat sebuah kabupaten nun di pedalaman Flores.

Tapi tak hanya itu sebenarnya. Kini banyak orang tahu, ketimpangan seperti itu hanya satu fakta yang gawat dan menyakitkan. Ada fakta lain: kelak ada sesuatu yang justru tak timpang, sesuatu yang sama: sakit dan kematian.

Konsumsi energi berbeda jauh antara di kalangan yang kaya dan kalangan miskin, tapi bumi yang dikuras adalah bumi yang satu, dan ozon yang rusak karena polusi ada di atas bumi yang satu, dengan akibat yang juga mengenai tubuh siapa saja–termasuk mereka yang tak pernah minum kopi dalam mall, di sudut miskin di Flores atau Bangladesh, orang-orang yang justru tak ikut mengotori cuaca dan mengubah iklim dunia.

Dengan kata lain, tak ada pemerataan kenikmatan dan keserakahan, tapi ada pemerataan dalam hal penyakit kanker kulit yang akan menyerang dan air laut yang menelan pulau ketika bumi memanas dan kutub mencair.

Orang India, yang rata-rata hanya mengkonsumsi energi 0,5 kW, akan mengalami bencana yang sama dengan orang Amerika, yang rata-rata menghabisi 11,4 kW. “Saya tak lagi berpikir tentang keadilan dunia,” kata teman Jepang itu pula, “terlalu sulit, terlalu sulit.”

Beberapa tahun kemudian ia meninggalkan negerinya. Saya dengar ia hidup di sebuah dusun di negeri di Amerika Latin, membuat sebuah usaha kecil dengan mengajak penduduk menghasilkan sabun yang bukan jenis detergen, mencoba menanam sayuran organik sehingga tak banyak bahan kimia yang ditelan dan dimuntahkan–tapi kata-katanya masih terngiang-ngiang, “terlalu sulit, terlalu sulit.”

Mungkin memang terlalu sulit untuk menyelamatkan dunia. Saya baca hitungan itu: dalam catatan tahun 2002, emisi karbon dioksida dari seluruh Amerika Serikat mencapai 24% lebih dari seluruh emisi di dunia, sedangkan dari Vanuatu hanya 0,1%, tapi naiknya permukaan laut di masa depan akibat cairnya es di kutub utara mungkin akan menenggelamkan negeri di Lautan Teduh itu–dan tak menenggelamkan Amerika.

Ingin benar saya tak memikirkan ketidakadilan dunia, tapi manusia juga menghadapi ketidakadilan antargenerasi. Mereka yang kini berumur di atas 50 tahun pasti telah lama menikmati segala hal yang dibuat lancar oleh bensin, batu bara, dan tenaga nuklir. Tapi mungkin sekali mereka tak akan mengalami kesengsaraan masa depan yang akan dialami mereka yang kini berumur 5 tahun.

 Dalam 25 tahun mendatang, kata seorang pakar, emisi C02 yang akan datang dari Cina bakal dua kali lipat emisi dari seluruh wilayah Amerika, Kanada, Eropa, Jepang, Australia, Selandia Baru. Apa yang akan terjadi dengan bumi bagi anakcucu kita?

“Terlalu sulit, terlalu sulit,” kata teman Jepang itu. Ekonomi tumbuh karena dunia didorong keinginan hidup yang lebih layak. “Lebih layak” adalah sesuatu yang kini dikenyam dan sekaligus diperlihatkan mereka yang kaya. Kini satu miliar orang Cina dan satu miliar orang India memandang mobil, televisi, lemari es,mungkin juga baju Polo Ralph Lauren dan parfum Givenchy sebagai indikator kelayakan, tapi kelak,benda-benda seperti itu mungkin berubah artinya.

Jika 30% dari orang Cina dan India berangsur-angsur mencapai tingkat itu seperempat abad lagi, ada ratusan juta manusia yang selama perjalanan seperempat abad nanti akan memuntahkan segala hal yang membuat langit kotor dan bumi retak.

Seperempat abad lagi, suhu bumi akan begitu panas, jalan akan begitu sesak, dan mungkin mobil, lemari es, baju bermerek, dan perjalanan tamasya hanya akan jadi benda yang sia-sia. Mungkin orang harus hidup seperti di surga. Konon, di surga segala sesuatu yang kita hasratkan akan langsung terpenuhi. Itu berarti, tak akan ada lagi hasrat. Atau hasrat jadi sesuatu yang tak relevan; ia tak membuat hidup mengejar sesuatu yang akhirnya sia-sia.

Tapi akankah saya mau, seperti teman Jepang itu, pergi ke sebuah dusun di mana tak ada mall, tak ada bujukan untuk membeli, dan hidup hampir seperti seorang rahib?

Di mall itu, saya melihat ke sekitar. Terlalu sulit, terlalu sulit, pikir saya.

Tuesday, May 15, 2007

Jalan - jalan Dadakan di Hari Ini

Hari ini saya bangun pagi sekali, akhirnya jam 6.30 sudah berjalan kaki ke kantor (5 menit saja). Tidak ada rencana khusus hari ini , paling mau baca "help" dari sebuah software saja. Tapi belum jam 7 dapat telpon dari teman kantor : "Mau ikut ke IPA ngga May ? kita diundang ma orang Roxar nih, tunggu di lobby ya..10 menit lagi gw nyampe kantor".

Akhirnya ngga jadi belajar, nelpon team leader dulu minta ijin, dan akhirnya saya dan dua teman lainnya berangkat ke Balai Sidang Senayan Jakarta. Tiba disana saya sempat mengikuti dua technical session mengenai interpretasi dan processing seismic. Kemudian dilanjutkan dengan berkeliling melihat - lihat poster yang dipamerkan.

Acara / convention seperti IPA convention identik dengan reuni teman lama. Betul saja, baru saja keluar dari ruangan sudah ada yang memanggil : "Mba May, kemana aja ni, gimana kabar ?'' he he ternyata ada teman dari perusahaan detergent yang juga datang. Akhirnya kami ngobrol, berbagi cerita tentang teman - teman disana, pekerjaan dll. Berputar - putar sebentar, dan ketemu teman lainnya. Senang sekali. 

2.5 tahun tinggal di Kalimantan, dan banyak juga cerita dan kabar teman - teman yang terlewatkan. Walaupun ada mailing list, terkadang ada saja kabar yang tidak diketahui. Saya ikut senang, banyak sekali teman - teman, adik kelas juga kakak kelas yang bertemu kembali dengan kabar yang menyenangkan : pulang S2, menikah, kelahiran anak pertama, pacar baru, pekerjaan baru. Semoga selalu baik keadaannya ya.

Dan pertemuan lain yang menyenangkan adalah pertemuan dengan dosen - dosen pengajar di kampus gajah dahulu. Kenyataan bahwa mereka masih mengingat saya..padahal saya teh..aduh..bandel pisan, pelanggan bolos 1 bulan di awal semester. Tukang titip absen (padahal 1 angkatan dari 63 orang hanya ada 3 wanita, pasti ketauan lah). 

Dosen pembimbing  sewaktu saya tugas akhir - Pak Dardji, masih mengingat baik kebiasaan "jalan - jalan" saya : "Saya tahu, kamu pindah kerja biar bisa naik gunung kan, soalnya di Kalimantan ga ada gunung. Pasti masih naik gunung juga kan"...kurang lebih begitu ucapannya...Saya cuma bisa tertawa he he..bener sih Pak..

Jalan - jalan dadakan yang menyenangkan, reuni yang menyenangkan, btw kenapa dosen selalu tampak awet muda ya..Hmm rahasianya mungkin karena selalu dekat dengan anak muda.

SAMPAI JUMPA kembali ya teman - teman, juga Bapak - Bapak yang saya hormati, semoga selalu mendapat berkah dan ada dalam lindungan-Nya.

Monday, April 23, 2007

Jatuh Cinta Lagi

Duh lagi jatuh cinta lagi nih :) alhamdulillah, tentunya rasa yang harus disukuri. Jatuh cintanya pada sebuah benda yang ada di samping ini nih.

Ngomongin tentang benda ini memang ga ada habisnya. Sejak masih bayi sepertinya saya  sudah ditakdirkan untuk bersamanya  selalu dan selalu. Hingga beranjak dewasa juga ngga jauh - jauh, mainannya masih juga sama. Jadi jangan salahkan saya kalau saya jadi betulan jatuh cinta...seperti saat ini.

Masa kecil saya identik dengan berlibur ke kebun Papi di Pameungpeuk sana, naik land rover tentunya. Saya ingat betul, pergi pagi - pagi dari rumah di Cimahi. Kami berenam, saya, 3 kakak dan Papi - Mami saya. Tujuan kami adalah sebuah kebun cengkeh di daerah Cilaut, Pameungpeuk, Garut Selatan. Liburan yang selalu saya nantikan. Bukan saja karena kami bebas bermain di hutan, tapi juga kesempatan untuk offroad dengan landrover di jalan ke Cilaut yang saat itu masih jelek banget, dilanjutkan dengan sesi berenang di sungai di belakang rumah, berebutan panen jeruk di kebun Pak Haji, dan selalu ditutup dengan main ke pantai Cilaut Ereun. Hmmm masa kecil yang selalu bikin kangen. Loncat - loncat di belakang landrover bersama kakak - kakak. Kegiatan berlandrover ria ini sayangnya harus berakhir ketika Papi saya pensiun dan si landy dikembalikan kepada pemiliknya.

Masa kuliah saya juga identik dengan mobil yang satu ini. Ga jauh - jauh, selama kuliah saya bekerja di provider arung jeram milik teman. Bekerja menjadi guide, skipper, sekaligus tukang foto sekaligus tukang masak alias seksi sibuk he he. Dibayar alhamdulillah ga dibayar juga ga papa. Alasan saya mau bekerja disana cuma satu, soalnya kalau bawa tamu kita selalu pakai landrover. Pokoke puas banget berlandrover-landroveran terus. Banyak banget kenangan manis hingga paling manis sekalipun bersama mobil satu ini.

Perjalanan  yang paling berkesan buat saya ketika masih jadi guide arung jeram mungkin adalah perjalanan Ranca Buaya - Bandung di tahun 2000. Saat itu kami baru saja survey jalur arung jeram di Sungai Cikandang, Garut. Dari Bandung kami menggunakan 1 landrover short dan 1 buah anhang (gerobak yang dikaitkan di belakang). Penumpangnya 12, perahu karetnya 2 plus logistik lainnya. Pengarungan Sungai Cikandang berakhir di pantai Ranca Buaya. Semuanya berjalan lancar hingga kami harus pulang ke Bandung. Berbagai musibah terjadi (maklum mobil tua). Sehingga total perjalanan Ranca Buaya - Bandung kami tempuh selama 36 jam plus mampir ke bengkel yang tak terhitung jumlahnya.

Dan sekarang, alhamdulillah saya bisa bersama Helmy. Si Bapak juga ga jauh - jauh, pecinta landrover sejati. Cocok deh :) Kalau orang lain kencan ke mall, kita berdua malah kencan sambil offroad pake landrover.

Landrover memang mobil serbaguna, mulai untuk antar jemput, belanja untuk hajatan (bisa muat banyak tea) , jalan - jalan dsb. Keren udah pasti,  ini mah belum ada yang ngalahin. Pokoke TOP BGT.

Kesimpulannya : saya dan Helmy lagi pengen banget punya landrover. Doakan kami biar uangnya cepat kekumpul ya teman - teman. Kalau mau menyumbang boleh juga :)

Ps : Al, kemaren pas wiken ada acara "kemping" Landrover Club Bandung, di Kavaleri, 50 mobil..he he rugi banget ga datang. Geura jalan atuh si V8. Kemaren saya ma Helmy terus offroad nembusin Gunung Putri, pake mobil Momi. Jagjag pisan Al.

Saturday, April 21, 2007

Kisah Tukang Bikin Model yang (nyaris) Frustasi

9 hari lagi si model harus sudah selesai, sekarang weekend malah ada di Bandung, begadang nge-download itune, ngga bisa tidur..fiuh

Minggu depan ada 5 hari training yang berarti baru bisa ke kantor sore - sore, 10 hari lagi musti pergi lagi karena ada presentasi, sekarang si model tercinta masih nol banget, musti ngulang lagi dari awal gara - gara data surface yang kemarin ternyata ga match sama model yang udah ada, masih nunggu data lain yang baru selesai di-merge senin besok, orang Roxar aja nyaris frustasi gara - gara pertanyaan saya he he

Geologist buddy saya minggu depan istrinya mau melahirkan, sedang jadi suami siaga. Tukang bikin peta alias geophysicsnya juga lagi sakit, kena DB. Jadinya siapa yang nge-merge petanya ya :p

Mission impossible 4, bikin model satu field kudu selesai dalam satu minggu..padahal katanya biasanya paling cepet (kalau yang bikin udah jago) minimal 1 bulan.

-tukang bikin model yang (nyaris) frustasi-

Ps :
Setyo mudah - mudahan Nina lancar ngelahirinnya, Teh Angke cepat sembuh ya, Ya Allah beri saya kemudahan mengerjakan si model :)

Sunday, April 15, 2007

Cerita dari Merbabu

Merbabu, adalah nama sebuah gunung yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah timur dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah barat.

Seperti saudara dekatnya – Merapi, Merbabu merupakan gunungapi. Secara fisik bisa dilihat jelas dengan adanya kawah di daerah sekitar puncak dan tipe batuan yang ada di sepanjang jalur pendakian. Namun gunung yang juga disebut sebagai Damalung ini tidak seaktif Merapi, letusan terakhir tercatat pada  tahun 1797 dan sejak saat itu belum ada laporan terbaru mengenai aktifas gunungapi ini.

Awal April 2007 lalu saya kembali ke sini. Bersama Suwasti, Rahmi, Loly, Agus, Andre, Bekti dan Cebong (4 nama terakhir adalah teman – teman dari PALIMKA Solo). Kami berdelapan mendaki melalui arah selatan, dari jalur Selo, Boyolali. Selain Selo ada beberapa jalur lain menuju puncak Merbabu, antara lain melalui Wekas dan Kopeng.

Jumat, 6 April 2007
Sekitar tengah hari kami sudah tiba di Selo. Akhirnya, sesudah perjalanan panjang dari Jakarta sejak malam sebelumnya. Sambil makan siang di warung Sate Kambing kami ber -4 membicarakan rencana pendakian kali ini. Terus terang saya sendiri sangat ragu dengan kemampuan fisik saya, olahraga jarang, badan yang makin ndut, komplit deh. Apalagi mengingat beban berat yang harus dibawa (tenda, logistik, flysheet, air, pokoke lengkap). Duh….ini dia namanya salah hobby. Sedangkan puncak Merbabu nampak begitu jauh. Dari dalam bis tadi saya sempat memperhatikan, Merbabu begitu besar, punggungannya menjari kemana – mana, berbeda jauh dengan Merapi yang tampak sangat ramping.

But show must go on, kami re-packing di Warung Pojok langganan teman – teman Palimka. Mereka sempat kebingungan melihat carrier kami yang besar – besar dan juga berat tentunya. He he inilah akibatnya kalau Ibu – Ibu naik gunung Mas, harap maklum…semua dibawa, safety procedure tentunya.

Saya dan Rahmi pergi duluan menuju base camp. Boncengan motor dengan Andre dan Bekti - motor yang sengaja di bawa dari Solo. Dari Selo kami menuju ke arah selatan, menyusuri jalan aspal yang terus mendaki. Serem juga naik motor sambil bawa carrier di punggung. Kalau jalan lumayan juga, kurang lebih 1 jam perjalanan. Pemandangan di kiri dan kanan jalan adalah perkebunan sayur milik penduduk, rumah – rumah sederhana, dan di belakang saya adalah Merapi…malu – malu bersembunyi di balik kabut.

Base Camp Gunung Merbabu Jalur Selo
Base camp Gunung Merbabu adalah sebuah rumah di desa terakhir. Ketika kami tiba di sana rumahnya sangat sepi. Rumah sederhana dengan atap rendah, khas rumah di daerah Jawa Tengah. Di depan rumah ada sebuah bak air yang airnya seger banget. Tapi sepertinya buang jauh – jauh keinginan untuk mandi sore – sore. Cuaca cerah tapi anginnya dingin. Saya bertemu dengan Kakek pemilik rumah, dan untung beliau bisa berbahasa Indonesia. Sambil menunggu kedatangan teman – teman yang lain saya mencoba ngobrol dengan beliau. Menurut beliau perjalanan ke puncak biasanya 2.5 jam saja, kalau agak lambat sekitar 3 jam. Nah lho..kok cepet banget ya.. he he tapi ini selalu terjadi di manapun. Penduduk lokal mempunyai kemampuan fisik yang mengagumkan. Tanpa diminta Kakek kemudian bercerita mengenai Gunung Merbabu, beliau terakhir mendaki ke puncak tahun 1976. Dia berpesan untuk tidak “nyambat”. Maksudnya jangan ngomong yang macam – macam. Katanya Merbabu bukanlah gunung yang berbahaya, tapi hati – hati kalau ngomong, jangan mengeluh tentang kondisi fisik atau kondisi alam. Kalau cape ya istirahat, kalau hujan ya berteduh, begitu pesan beliau. Diam – diam saya mengingatnya, walau nantinya ternyata masih keceplosan juga.

Jam 3 sore pasukan sudah lengkap, motor sudah dititipkan, buku tamu sudah di isi dan tiket masuk sebesar 2000 per orang sudah dibayar. Setelah berdoa kami mulai berjalan. Walau baru saling kenal suasananya penuh tawa. Iya, kami baru saling kenal karena pendakian ini. Saya bertemu Suwasti di Gunung Cikuray bulan Maret lalu, mengenal Rahmi dari multiply-nya dan bertemu pertama kali di Stasiun Jatinegara ketika hendak berangkat, begitu pula dengan Loly yang baru saya jumpai. Apalagi dengan teman – teman Palimka, belum genap sehari pertemuan kami. Dan sekarang kami hendak mendaki gunung bersama.

Di ujung jalan desa kami bertemu dengan rombongan yang baru saja turun. Ada juga sebuah plang yang bertuliskan larangan untuk merusak dsb. InsyaAllah. Jalur awalnya menyenangkan, datar menyusuri jalan setapak hutan pinus. Kondisi fisik masih fit. Sekitar setengah jam baru jalanan mulai menanjak. Senyum tanjakan mulai muncul, tapi tetep, kalau ada pemandangan bagus pasti berhenti dan foto – foto dulu. Jalurnya cukup bersih, jarang dijumpai bekas sampah pendaki, juga sangat jelas.

May dan Rahmi
Menjelang sore kami tiba di sebuah tempat bekas longsoran dan kebakaran. Jalurnya agak hilang di sini. Setelah mencari cukup lama Andre akhirnya menemukan jalur yang benar. Tiba – tiba di suatu tempat ada daerah yang terbuka, dan apabila kita membalikkan badan, ada Merapi di sana. Seneng banget bisa melihat Merapi yang tidak tertutup kabut. Ngambil fotonya dan terus jalan. Malam hampir datang, mulai gelap dan senter mulai dinyalakan. Perlahan kami  berjalan lagi, jalurnya makin sulit. Savanna 1 - tujuan kami hari ini, masih jauh sekali nampaknya (temen Palimka bilang : 1 jam lagi nyampe kok…padahal ??? he he). Mulai saat ini jalan harus ekstra hati – hati, banyak jebakan batman berupa lubang yang tertutup rumput. Jalur nanjak, beban berat dan turunlah hujan, lengkap juga akhirnya. Raincoat dipakai, payung dikeluarkan.

Hutan Pos 1
Saya berjalan di belakang dengan Suwasti, Bekti, Loly dan Agus. Rahmi dan lainnya sudah jauh di depan. Jalan terus walau pelan – pelan. Sesekali (walau sering) kami berhenti dan menarik nafas, sedangkan provokator di belakang terus bilang “Ayo, 5 menit lagi nyampe kok”..selalu 5 menit lagi he he.

Selepas jalan setapak kami tiba sebuah dataran luas yang disebut Watu Gubug, karena di sini ada sebuah batu berukuran sangat besar. Kalau cuaca cerah katanya pemandangan di sini sangat indah. Memang di hadapan saya saat ini ada beberapa bukit membentang , cocok dengan istilah teman – teman Palimka : Hollywood.

Bekti bilang kalau Savana 1 sudah sangat dekat, dari Watu Gubug tinggal 2 bukit lagi. Tapi bukitnya tinggi sekali Mas Bekti J “Tenang aja Mba, ntar kalau dah ga kuat kita gentian tas”. Mas Bekti yang hanya membawa daypack senyum – senyum.

Ada plus minusnya juga berjalan malam. Jalurnya ga begitu terlihat, harus ekstra hati – hati. Tapi enaknya pandangan kita terbatas, tidak bisa melihat jauh sehingga pandangan hanya fokus ke jalur. Ga mikir macam – macam. Beda dengan siang hari, tanjakan jauh di depan udah kelihatan, tanjakan di depan mata masih panjang.

Sekitar jam 9 malam kami semua akhirnya tiba di sebuah lapangan rumput kecil yang disebut Savanna 1. Eidelweis Merbabu yang konon harumnya paling wangi menjadi dopping sepanjang jalan. Betulan kok, kalau berkesempatan ke Merbabu dan mencium wangi melati di daerah setelah Watu Gubug, itu pasti wanginya Eidelweis. Kalau di daerah lain ya belum tentu…mungkin aja wangi melati yang lain J

Tenda – tenda segera dipasang. Tiga tenda segera berdiri dan para pemiliknya bergegas mengganti baju. Saya dan Rahmi sudah malas keluar tenda, dinginnya lumayan. Saya sempat juga merasa kedinginan. 3 tahun tinggal di Kalimantan yang panas ternyata membuat tubuh saya lumayan sulit beradaptasi di daerah dingin, mudah – mudahan bisa cepat pulih lagi, saya pan orang Bandung, harusnya mudah beradaptasi di daerah dingin.
Camp kami di Savanna 1
Sholat, minum teh manis madu, dilanjutkan dengan indomie, nasi, teri kacang, lumayan ganjel perut. Kami langsung tidur, di tenda sebelah Suwasti dan Loly nampaknya lagi masak, sedangkan temen – temen Palimka juga langsung tertidur. Selamat beristirahat.

Sabtu, 7 April 2007 
“ Ga pada pengen liat sunrise nih ?”..panggilan Andre membangunkan saya dan Rahmi, masih pagi, jam 5.30. Sholat Shubuh dulu biar ga kesiangan dan bergegas keluar tenda. Subhanallah memang bagus banget, sisa – sisa sinar matahari pagi masih ada. Golden time buat motret. Sayang cuma sebentar, karena lagi – lagi kabut. Di depan ada beberapa bukit memanjang. Kata Cebong : “Jadi naik ndak ?, itu tuh puncaknya “..Walah ternyata masih jauh. Untung cepet – cepet ketutup kabut lagi jadi ngga kelihatan lagi.

Masak pagi hari itu masak heboh, semua logistik dikeluarin dan dimasak biar ntar enteng. Temen – temen Palimka lagi – lagi heran. Naik gunung bawa dapur. Sayur sop, tumis tempe kacang panjang, rolade, chicken nugget, kerupuk sama pencuci mulut manisan jambu batu Bangkok. Nasinya ? huhu ada sedikit kesalahan teknis saudara – saudara. Akhirnya kami sarapan dengan nasi semalam, biar muncaknya ga kesiangan, soale nasinya ga mateng – mateng.

Habis packing kita muncak. Rencananya Andre dan Bekti akan tinggal di camp untuk menjaga barang yang kami tinggalkan. Jadi berenam saja yang ke puncak. Ngga bawa apa – apa selain makanan dan minuman di dalam daypack. Kami mulai berjalan jam 9.30. Masih berkabut tapi pemandangannya indah, padang rumput ilalang (kaya puisinya Mukti banget deh). Rahmi jalan paling depan, kecil – kecil cabe rawit. Menyusul Suwasti. Saya dan Cebong paling belakang, biar lambat asal selamat. Dua bukit terlewati dan kami tiba di Savanna 2. Banyak Eidelweiss di sini. Pilihan lain untuk nge-camp, tempatnya lumayan lapang dan tertutup.

Puncaknya samar tertutup kabut
Ke puncak ? Sudah dekat kok. Kata Cebong yang selalu ga bosan memberi semangat. Dan memang, sudah dekat, 3 bukit lagi teman – teman…he he he. Tapi selalu ada ujungnya jalan, alhamdulillah jam 11 kurang 5 saya tiba di puncak Gunung Merbabu. Cebong tertawa melihat alasan saya berjalan di belakang :”Biar nyampe puncak jam 11, sekarang kecepetan Bong”.. Ngeles ini sih.

Di puncak sayangnya masih tetap berkabut. Kami tidak bisa melihat sekeliling. Padahal waktu saya kesini tahun 2001, pemandangan dari puncak sangat menakjubkan. Gunung Merapi, Sindoro, Sumbing, semuanya terlihat. Mungkin bukan rejeki kami kali ini. Lain kali kami akan datang lagi.

Puncak Merbabu  bersama Rahmi - Suwasti - Agus - Cebong
Foto – foto dan bekal dikeluarkan, roti isi made in Loly, keripik bayam, jeruk, buavita. Di puncak ada sebuah triangulasi dari tumpukan batu dan sebuah batu bertuliskan : PUNCAK MERBABU 3142 MDPL. Batu bercat biru ini penuh dengan coretan lainnya, sayang juga. Padahal menurut saya bukti kita pernah ada di suatu puncak masih banyak sekali, bukan dengan vandalisme.

Kunjungan kami di puncak hanya sebentar. Jam 11.30 kami bergegas turun. Menjemput Andre, Bekti dan carrier – carrier  di Savanna 1. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Base Camp. Cuaca cerah dan Bukit Hollywood memang indah. Merbabu secara keseluruhan sangat cantik.

Jam 5 sore dan kami semua tiba kembali di Base Camp. Hujan turun lagi, namun beruntung ada sebuah pick up  sayur yang mau mengantar kami ke Boyolali. Setelah berpamitan dengan Kakek, kami meninggalkan desa. Saya, Suwasti, Cebong dan Agus duduk di belakang. Memandang Merbabu yang terus menjauh. Perjalanan dilanjutkan lagi dengan bis, kembali ke Jakarta. Perjalanan yang melelahkan tapi juga menyenangkan.

Alhamdulillah, terimakasih untuk teman – teman semua. Sampai berjumpa lagi di perjalanan berikutnya.
Fotonya lagi mau diupload ke album, mudah - mudahan bisa cepat.

PS:
Di perjalanan turun dari base camp ke Selo saya memperhatikan bahwa hampir semua rumah selalu mengahadap ke jalan raya. Kenapa ya ? Dalam hati saya berfikir, kalau saya yang punya rumah, pasti saya bangun menghadap Merapi / Merbabu, biar ceritanya bisa mountain view setiap hari. Ternyata ini ada alasannya dan jawabannya saya temukan tidak sengaja.

Barusan, karena iseng saya membaca buku lama saya, judulnya “Manusia Jawa dan Gunung Merapi – Persepsi dan Sistem Kepercayaannya”. Di halaman 79, Lucas Sasongko Triyoga – penulis buku ini, menguraikan : “Penduduk desa di lereng Gunung Merapi mempunyai kepercayaan bahwa arah hadap suatu bangunan tempat tinggal membawa pengaruh terhadap kesejahteraan pemiliknya dan keluarganya. Di lereng selatan, rumah tinggal kebanyakan di dirikan menghadap ke arah selatan atau ke arah jalan desa, menghindari arah Gunung Merapi. Sedangkan di lereng utara, rumah tempat tinggal di dirikan menghadap ke arah barat dan timur, menghadap arah Gunung Merapi – Merbabu. Penghindaran arah hadap ke arah gunung – gunung itu dimaksudkan untuk mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan bagi pemilik beserta keluarganya. Rumah tempat tinggal yang menghadap ke arah Gunung Merapi merupakan rumah sangar karena pemiliknya dianggap tidak menghormati, menantang dan menyediakan rumahnya sebagai tempat tinggal mahluk halus yang menghuni Kraton Merapi. Begitu pula dengan rumah tempat tinggal yang menghadap ke arah Merbabu.”

Mungkin ini jawabannya. Bagaimanapun masyarakat lokal mempunyai kearifan dan pemahaman yang terkadang sulit diterima logika kita sebagai masyarakat kota yang berada di luar lingkungannya. Pelajaran baru lagi untuk saya dari perjalanan Merbabu.

# Trip with friends, Merbabu - Central Java, April 2007

Wednesday, March 28, 2007

Hayang Kemping...Lagih


Lagi..lagi gara - gara baca postingan Rime tentang Tegalpanjang...sayah jadi hayang kemping. Aduh, gini nih rasanya kalau kepengen sesuatu ga bisa terlaksana...kepikiran wae..

Akhirnya cuma bisa memandang dari jendela kantor, nunjauh disana Gunung Gede - Pangrango - Salak. Membalikkan badan yang dilihat turbidite dkk lagih..pasir dan lempung plus sedikit limestone :)

Hiks...hayang kemping, pengen naik gunung, pengen jalan - jalan..Rime ayo kita jalan - jalan lagih.

Monday, March 26, 2007

Wisuda Cikuray

Cikuray dari Desa Dayeuh Manggung

Alhamdulillah, akhirnya bisa jalan - jalan lagi dengan dua orang rada - rada, sahabat baik ini : Ronce dan Puput. Udah ga ketemu lama banget, cuman janjian via sms dan akhirnya kami jadi naik Cikuray, 1- 3 Maret 2007 lalu, perkemahan Jumat Sabtu Minggu.

Berangkat dari Bandung jumat sore, ngaret 6 jam dari perjanjian awal (janjian jam 7 pagi dan berangkat jam 3 sore..parah). Nginap di Dayeuhmanggung dan Sabtu pagi mulai jalan dari Tower. Kebun teh yang hijau, menyegarkan.

titik awal pendakian
Cuaca berkabut tapi tidak hujan. dan baru jalan 10 menit ternyata ada yang manggil : "Mba, ada yang mau kenalan nih !" He he ternyata, tak diduga tak dikira, saya ketemu Mba Jenny dan Suwasti plus satu orang temannya lagi :p. Pertemuan pertama dengan Mba Jenny. Setelah 3 tahun lalu cuma kenalan via sms dan telpon... eh malah ketemu di gunung.

7 jam menuju puncak, dan jam 4 sore kami tiba di puncak, angin kencang, kabut. Tapi alhamdulillah kami bertiga bisa menunaikan tugas mulia : wisuda sarjana Ronce. Akhirnya toga yang susah payah minjemnya bisa dipake juga. 

Wisuda Ronce
Ronce akhirnya di wisuda, setelah Oktober kemaren dia ngadat ga mau ikutan wisuda. Selamat ya Ron...semoga tercapai segala keinginan. Sukses selalu. Ga mau ketinggalan, saya dan Puput pun ikut diwisuda, di gunung, seru.

Pose standard wisuda

Sujiwo Puput
Selesai foto - foto kami segera turun. Tiba di Tower Indosiar sekitar jam 8 malam dan langsung tidur pulas di kasur empuk. Terimakasih bapak - bapak yang baik untuk bantuannya :). Ronce dan Puput, kapan - kapan naik gunung lagi ya.

Puput dan Ronce, bergaya dengan ransel yang ga dibawa naik :p