Pages

Wednesday, November 28, 2007

Tempat yang Indah itu Suryakencana Namanya


Sebagian foto dari liburan akhir minggu kemarin di Suryakencana. Kalau boleh dibilang, inilah salah satu tempat terindah di muka bumi.

Liburan terbaik dengan saudara - saudara terbaik. Pembuktian bahwa gembel bukanlah pilihan tapi gaya hidup :)

Alhamdulillah untuk cuaca yang sangat cerah, terimakasih Allah. 
Orangtua tua kami semua, terimakasih telah membesarkan kami sehingga kami punya kesempatan berkunjung ke tempat - tempat indah di muka bumi ini.
Brothers dan Sister, teman perjalanan yang menyenangkan.
Helmy yang udah nyiapin semua barang sebelum berangkat, nganterin ke Leuwipanjang sampe packing di depan terminal he he, juga young brother Iban yang rela tidur di warung demi ngambilin ijin untuk kita. Luv you all. 

Ayuk kita jalan - jalan lagi. 

Dan sebuah sms di pagi hari Senin kemarin : "Welcome to real life Brother and Sisters" . 

Semangat :)

numpang tidur di Mesjid Gunung Putri
siap berangkat, gagah perkasa
tujuan masih jauh
namun akhirnya kami tiba juga
di Suryakencana
celebrating the KMPA sisterhood
and as a big family
Dony Medic - May - Heidy - Yoga
morning view
kemah kami
sarapan :)
mari pulang, puncak bukanlah tujuan
yang terpenting adalah kembali dengan selamat, di kehidupan nyata

Thursday, October 11, 2007

Memaafkan dan Meminta Maaf


Nanti malam InsyaAllah saya akan pulang ke rumah, ke Cimahi. Bukan pulang yang biasa, tapi pulang mudik Lebaran. Senang, saat yang ditunggu - tunggu. MInggu - minggu terakhir Ramadhan Mami dan Helmy selalu mengulang - ngulang pertanyaan yang sama : "Kapan pulang ?" he he padahal udah jelas bakal pulang hari Kamis. Tadi pagi sudah packing, 1 travel bag plus 1 carrier plus 1 kresek isi sepatu gunung plus oleh - oleh dodol betawi dari Ibu Kost.

Teringat ceramah salah seorang Ustad yang mengisi kajian siang di kantor saya dua minggu yang lalu : "Paling sulit adalah memberi maaf bukan meminta maaf". Dan saya rasa omongan beliau benar sekali. Meminta maaf terasa lebih mudah bagi saya, karena kita tahu kita yang salah. Akan tetapi memaafkan terkadang sangat sulit, sulit untuk membebaskan semua rasa sakit atau susah yang ada di dalam sini. Tapi sesudahnya akan terasa indah, memaafkan dan meminta maaf.

Tidak pernah ada kata terlambat, mohon dimaafkan semua kesalahan dan kekhilafan saya lahir dan batin. InsyaAllah saya berusaha memaafkan kalian semua 

Selamat merayakan hari Lebaran bersama keluarga dan orang - orang tercinta. Selamat mudik dan selalu : safety first. 

"Allahumma balaghnaa Ramadhaana - Ya Allah ijinkan kami bertemu dengan Ramadhan selanjutnya"

Friday, October 5, 2007

Garing dan Gurihnya Fish and Chips

Salah satu hobby saya adalah makan dan memasak. Hobby saya yang lainnya adalah jalan – jalan. Bisa dibilang kedua hobby ini saling mendukung, simbiosis mutualisme-nya sangat menguntungkan, sering berjalan – jalan dan berkunjung ke tempat yang baru memberi saya kesempatan untuk mencicipi makanan lokal. 

Kalau istilahnya Om Bondan Winarno : wisata kuliner. Dalam kamus jalan – jalan saya tertulis : cicipi makanan lokal, kalau bisa yang asli buatan dapur rumah tangga, dan jangan pernah makan di tempat/restaurant yang sama.

Selama perjalanan itu di Indonesia saya sangat berbahagia, cita rasa masakan Indonesia sangat cocok dengan lidah saya, manis – pedas – asin atau campuran ketiganya masih bisa cocok, apalagi kalau pedas dan gurih, cucok banget. Ngga masalah walau bentuknya kaya lem sekalipun (itu lho bubur sagu alias Papeda kalau di Maluku, Sinonggi kalau di Sultra atau Palopo Kapurung kalau di Sulsel). Tidak jarang sepulang bepergian saya punya resep masakan baru.

Masalah kadang muncul apabila saya kebetulan bepergian ke luar negeri. Selama masih di daerah Asia Tenggara tidak masalah tentunya. Akan tetapi permasalahan kadang muncul di negara – negara yang tidak memilih nasi sebagai makanan pokok, karena rata – rata rasanya ajaib di lidah saya, makanannya dingin, dan plain alias datar – datar saja tanpa rempah dan pedas. Ditambah sulitnya memastikan halal atau tidaknya daging yang digunakan. Untuk amannya saya lebih memilih untuk makan ikan dan berbagai jenis sayuran.

Ketika akan berkunjung ke Inggris bulan lalu, teman – teman yang sudah pernah kesana semua punya pendapat yang sama : “Makanannya ga enak, pasti dingin, susah cari makanan halal, jangan lupa bawa sambel, mie instan, dll”. Saya sepakat dan mengikuti saran tersebut, di koper saya tersimpan rapi 2 botol saus sambal dan 6 bungkus mie siap seduh. Satu botol malah saya taruh di daypack, biar siap sedia kapan saja.

Hari pertama saya di Inggris masih selamat dan sejahtera karena saya hanya makan kue – kue dan coklat. Kalau ini cocok selalu dimanapun dan kapanpun. Hari kedua juga selamat karena teman yang kebetulan tinggal di London mengajak saya makan di restoran Malaysia dan Chinese. Nah di hari ketiga ketika saya sudah tiba di Wareham, inilah British yang sesungguhnya. Ketika check in saya diminta memilih menu untuk dinner malam itu. Nama makanannya bagus – bagus, ada penjelasannya walau ga ngerti – ngerti banget. Daripada bingung saya memilih menu berbahan dasar ikan. Mudah – mudahan selamat.

Waktu makan malam tiba, makanan saya hari ini lumayan, ikan-nya walau agak hambar tapi rasanya lumayan enak. Hari kedua dan seterusnya adalah bencana. Saat itu kami mulai bekerja di lapangan. Otomatis makan siang kami adalah lunch box  dari hotel yang sangat British : 4 buah sandwich, coklat, biscuit, juice buah dan apel. Karena kelaparan mau ga mau sandwich British ini saya makan juga, untunglah ada saus sambal penyelamat. Makan malam seperti biasa, ikan yang rasanya aneh atau vegetarian lasagna. Mba Mba hotel sampai hapal dengan pilihan saya.

Hari keempat di Wareham, saya dan teman – teman bukan British ternyata menyepakati hal yang sama : Makanannya kurang cocok dengan selera kita. Kita mengajukan complain ke pihak hotel dan berharap untuk bisa mendapatkan international food, jangan British terus (soalnya di dinding hotel ada piagam penghargaan yang menyebutkan hotel yang saya tempati adalah the best British food di seluruh negeri). Tapi ga mempan, selain sandwich dingin, alternatif makan siang kami adalah salad dan berbagai macam ham dingin. Sedihnya.

Rasa ga cocok kami terhadap makanan British makin menjadi hingga suatu hari di Bridport Bay yang cantik. Saat itu kami akan makan siang dan lunch box kami seperti biasa isinya 4 potong sandwich dingin. Semua orang sudah mengomel ga keruan. Rodriguez – teman saya yang orang Colombia memilih tidak makan dan membagi – bagi sandwich-nya walau tidak satupun yang mau menerima. Tiba – tiba, Wendy yang kelahiran Somerset datang membawa bungkusan besar dan membukanya di depan kami semua. Langsung terlihat kentang yang digoreng kering, potongannya besar – besar dan hangat pastinya. Ada lagi gorengan besar di sana : ikan goreng berbalut tepung yang garing. Pelengkapnya ada saus tomat dan saus tartar. Ini dia Fish and Chips yang terkenal itu ! Satu porsi sangat besar ukurannya. Akhirnya kami ramai – ramai mencoba Fish and Chips-nya Wendy. Rasanya pas dan luar biasa. Setelah sekian lama hanya makan sandwich  dingin akhirnya ketemu juga yang garing dan gurih di Inggris.

Rasa penasaran saya tentang Fish and Chips terjawab sudah, dan rasanya memang luar biasa, sejak saat itu saya mulai kecanduan dengan garingnya Fish and Chips. Malam harinya, Claire yang orang London asli bercerita : Fish and Chips adalah makanan Inggris yang paling populer, dimana – mana bisa ditemukan dengan mudah Fish and Chips shop yang bentuknya kedai. Mungkin sama dengan kedai burger kalau di Amerika atau kedai pizza di Italia. Biasanya Fish and Chips jarang dimakan di restoran (soalnya kedai yang menjual pun biasanya tidak menyediakan tempat duduk). Jaman dulu kala biasanya Fish and Chips dibungkus kertas koran yang sangat banyak, digulung kemudian diserahkan ke pembeli. Biasanya orang menikmati Fish and Chips di taman, hmm memang nikmat tampaknya. Tapi saat ini kertas koran tidak pernah digunakan lagi, para penjual beralih ke kertas putih atau bahkan banyak juga kedai yang menggunakan kemasan sterofoam.

Hari – hari saya di Inggris akhirnya menjadi hari – hari untuk mencicipi berbagai jenis Fish and Chips. Fish and Chips saya yang kedua saya nikmati di sebuah restoran British yang namanya The Duke of Wellington di Wareham. Inipun secara tidak sengaja. Sebelumnya ketika berjalan kaki dari hotel saya melewati sebuah kedai Fish and Chips, wanginya menggoda sekali, maksud hati ingin mampir tapi teman saya ingin mencoba makan malam di restoran British. Tiba di restoran saya otomatis memilih menu ikan, asal pilih karena ga ngerti. Ternyata yang datang di hadapan saya adalah Fish and Chips, sepiring besar kentang goreng ditambah ikan goreng tepung yang luar biasa besarnya, potongan jeruk nipis dan kacang polong. Rasanya luar biasa dan porsinya luar biasa besar, walau sudah dibantu teman- teman, Fish and Chips itu masih tersisa. Seorang teman berkomentar : ikannya besar sekali, seperti ikan hiu : Shark and Chips.

Besoknya kami mencoba makan malam di sebuah kafe, masih di Wareham, namanya Kings Arms. Seperti biasa menu ikan, asal pilih saja dan ternyata yang datang Fish and Chips juga. Cuman yang ini agak berbeda, ikannya dibentuk seperti fillet dan digoreng berbalut tepung panir. Pendampingnya masih sama, kentang goreng renyah yang gede – gede itu, potongan jeruk nipis dan kacang polong. Rasanya juga masih sama : luar biasa enak.


Setelah tanya – tanya, ternyata memang ada dua jenis Fish and Chips yang umum, yaitu batter dan breadcumbs. Di buku menu memang ada dua pilihan ini :
  • Battered Cod fillet : deep fried in our own batter served with fries, peas and salad garnish
  • Breaded Whole Tail Scampi : in crumb coating served with fries, peas and salad garnish

Shark and Chips saya pasti masuk kategori ke 2 yang whole tail itu, sedang fish di King Arms masuk kategori yang battered. Mana yang paling enak ? Menurut saya dua – duanya enak.

Perkenalan saya dengan Fish and Chips yang ketiga adalah saat makan siang di hotel. Ini adalah makan siang kami terakhir di hotel. Entah kenapa setelah sekian lama akhirnya Sang Koki menyediakan makanan yang enak he he. Sayangnya saya tidak sempat motret ikan yang ini, sudah keburu ludes.

Mbah Wikipedia bilang, Fish and Chips bukan saja populer di Inggris, tapi juga di Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, Irlandia, Afrika Selatan, Denmark, Norwegia hingga Belanda. Nama di setiap Negara tentu berbeda – beda, di Belanda disebutnya Lekkerbek. Cara penyajiannya juga berbeda tapi sebetulnya masih sama : ikan goreng disajikan dengan kentang goreng.

Kalau di Inggris dan Negara persemakmurannya, kentang goreng disebutnya chips, potongannya tebal dan besar – besar. Sedangkan orang Amerika dan Kanada memotong kentang dengan ukuran yang lebih tipis, disebutnya french fries. Kalau lagi di Inggris, Haddock dan Cod adalah ikan yang paling banyak digunakan.

Fish and Chips mulai populer sejak pertengahan abad 19. Mbah Charles Dickens menyebutkan istilah “fried fish warehouse” dalam bukunya Oliver Twist yang diterbitkan pada tahun 1838.

Perjumpaan terakhir saya dengan Fish and Chips adalah di sebuah kedai kecil di Edinburgh. Memang sudah diniatkan, ingin mencoba Fish and Chips di kedai asli. Dan karena kelaparan lagi – lagi lupa ngga difoto. Uniknya, kedai yang saya datangi ini ternyata memperoleh penghargaan dari Guinnes World of Record dan British Potato Council. CafĂ© PICCANTE dianugerahi penghargaan : “The most portions of chips wrapped in 1 minutes”. Terlepas dari penghargaan itu, kedai kecil ini sangat ramai, dan fish and chips batternya memang sangat enak. Paling enak dari semua fish and chips yang pernah saya cicipi. Uniknya di sini, selain saus tomat ada pilihan saus lain yang merupakan kombinasi spirit vinegar, ketchup dan brown sauce, disebutnya chippie sauce. Konon ini merupakan saus asli dari Edinburgh.

Ini dia makanan British yang paling cocok dengan lidah saya, walau memang sangat tinggi lemak (deep fried) dan minim serat (hanya kacang polong). Suatu saat ingin rasanya kembali ke Inggris dan makan fish and chip lagi.

Friday, September 28, 2007

Kebun Binatang Mini di Bitung


Sebetulnya ini cerita jalan - jalan lama, Januari 2007 lalu. Ceritanya saya resign dari kantor di Balikpapan dan punya waktu 10 hari untuk jalan - jalan sebelum mulai bekerja kembali jadi tukang batu di Jakarta. Akhirnya dimanfaatin untuk jalan - jalan muter - muter di Sulawesi dan Maluku Utara.

Nah salah satu yang menarik adalah cerita dari Bitung. Tentang kebun binatang mini yang ada disana. Bitung yang ini tidak ada kaitannya dengan Belitung alias Belitong, Bumi-nya Laskar Pelangi. Lain pulau lain juga ceritanya. Bitung yang ini adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di pantai timur Provinsi Sulawesi Utara. Jaraknya dari Menado - ibukota Provinsi Sulawesi Utara, tidak terlalu jauh. Satu jam saja berkendaraan dengan kondisi jalan yang cukup baik.

Salah satu hal menarik di Bitung adalah kebun binatang mini yang letaknya di tepi pantai. Kebun binatang ini dikelola oleh penduduk setempat yang bernama Bapak Toku Malohing. Sebutan penyayang binatang layak diberikan kepada beliau. Sejak beberapa tahun yang lalu Pak Toku telah menyediakan lahan miliknya untuk memelihara sekitar 40 jenis binatang langka dan unik, termasuk sepasang Tarsius dan sepasang Babi Rusa alias Anoa. 
  
Tarsius adalah sebutan populer untuk monyet mini yang merupakan hewan endemik Sulawesi Utara. Ukurannya benar - benar mini, hingga pantaslah Tarsius ini dijuluki sebagai primata terkecil di dunia. Beratnya kuranglebih 120 gram, tinggi 15 cm dan hebatnya panjang ekornya bisa mencapai 20 cm, lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Mini dan mungil seperti anak ayam. Wajahnya seperti burung hantu, tubuhnya seperti tikus dengan kepala yang bisa digerakkan memutar hampir 360 derajat. Dan yang lebih mengagumkan, ternyata Tarsius mini ini bisa melompat hingga 10 kali panjang badannya sendiri.

Tarsius
Aslinya habitat Tarsius adalah di hutan – hutan di Pulau Lembean dan Sangihe, Sulawesi Utara. Selain itu Tarsius juga bisa dijumpai di Taman Nasional Tangkoko – Batu Angas Dua Saudara, sebuah taman nasional yang terletak sekitar 30 km dari Bitung. Tapi menjumpai Tarsius di habitat aslinya tidaklah semudah menjumpai Tarsius di kebun binatang Pak Toku. Di Kebun Pak Toku mereka akan bertengger manis di dahan – dahan pohon yang sengaja diletakkan Pak Toku di kandang mereka. Dengan mudah kita bisa masuk ke dalam kandang dan bersua dengan si kecil imut ini.  

Tarsius adalah binatang malam, mereka hanya akan memunculkan diri di malam hari, untuk mencari makan dan beraktifitas lainnya. Puas bersosialisasi dan bermain, sekitar pukul 5 pagi mereka akan berbondong – bondong kembali ke sarangnya masing - masing untuk tidur. Mereka baru akan bangun kembali di sore hari, menjelang matahari terbenam. Selain itu Tarsius memilih hidup menyendiri dalam kelompok kecil (max 8 ekor) jauh di pelosok hutan. Sehingga menjumpai Tarsius di habitat aslinya memerlukan perjuangan ekstra. Siap untuk begadang semalaman dan berjalan kaki di tengah hutan.

Selain Tarsius, di kebun binatang Pak Toku ada juga sepasang Babi Rusa alias Anoa. Nah kalau hewan yang satu ini adalah hewan endemik Pulau Sulawesi. Habitat aslinya adalah hampir di seluruh hutan di pulau yang juga dikenal dengan sebutan Celebes ini. Anoa takut terhadap manusia. Sehingga tak heran sulit sekali menjumpainya di habitat aslinya sekalipun. Mereka dapat berlari kencang dan lebih menyukai daerah yang tinggi.

Anoa
Sayangnya nasib Anoa tak jauh berbeda dengan nasib banyak hewan endemik lainnya di negara kita. Populasinya semakin menurun. Bukan saja karena diburu manusia tetapi karena maraknya penebangan dan pembukaan area hutan  yang merusak habitat mereka. Sayang sekali ya.

Pak Toku sadar betul akan hal ini. Kebun binatang beliau saat ini juga berperan sebagai area penangkaran dan perkembangbiakan binatang. Secara legal tentunya, karena Pak Toku mencoba mengkembangbiakan binatang – binatang tersebut dengan dukungan penuh dari Departemen Kehutanan. Walau tidak mudah untuk dilakukan. Selain biaya bulanan yang cukup besar untuk memberi makan, juga tantangan untuk menciptakan tempat tinggal yang menyerupai habitat aslinya.

Pak Toku

Monday, August 27, 2007

Sore di Edale


Edensor adalah judul buku si Ikal a.k.a Andrea Hirata yang ketiga. Nama sebuah tempat di pedesaan Inggris yang mengingatkan Ikal pada Ah Ling, cinta pertamanya. Deskripsi Andrea tentang Edensor sangat mengagumkan bagi saya, sounds beautiful. Pertama kali membaca tentang Edensor saya langsung bertekad : suatu saat saya ingin juga melihatnya.. EDENSOR.

Sebelum berangkat ke Inggris saya sempatkan untuk mencari informasi mengenai Edensor. Sedikit sekali keterangan yang bisa diperoleh dari website, bahkan Lonely Planet Great Britain (LP) tidak menerangkan sedikitpun mengenai Edensor.

Salah satu website menulis :

The small estate village of Edensor, pronounced ‘Ensor’, is set in one of the most beautiful locations in the country in parkland owned by the Devonshire family, whose stately home at Chatsworth House is only five minutes walk away. Mentioned in the Domesday Book, the village has been re-sited since then. Originally it lay between the river and the road through the Park, when the houses were set out in a straggling line down to the Derwent.

Sayangnya gara – gara sibuk dikejar deadline saya tidak membaca keterangan di website tersebut dengan detil. Akhirnya saya hanya menyimpulkan Edensor terletak di Derbyshire, bagian dari Peak National Park Area. Berpedoman pada LP dan Google Earth akhirnya saya menyimpulkan untuk naik kereta saja dari London ke Derbyshire dan selanjutnya gimana nanti. Huh dasar kurang persiapan, semua dibikin ngedadak.

Tepat sebelum berangkat ke bandara saya baru sempat searching tiket kereta. Website National Rail UK sangat membantu (semoga Perumka suatu saat juga bisa seperti ini). Mereka memiliki journey planner yang canggih. Tinggal memasukkan nama stasiun tempat kita berangkat, nama stasiun yang dituju dan tanggal keberangkatan. Selanjutnya akan muncul semua jadwal kereta yang tersedia, harga tiket hingga cara beli secara online. Hanya 15 menit di depan komputer dan akhirnya saya mendapat tiket kereta dari London ke Derbyshire, tiket paling murah 19 pound (tiket termahalnya 143 pound untuk 3 jam perjalanan).

Hari pertama di London dan rencananya saya akan langsung menuju Edensor. Kereta dari London ke Derbyshire berangkat pukul 11.25. Sayangnya gara – gara masalah di tangga pesawat saya baru bisa keluar dari bandara Heathrow jam 9 pagi. Saya bergegas naik underground ke Hilton Hotel di daerah London Bridge, 2 kali pindah kereta sambil geret koper (ransel nampaknya memang lebih baik).

Jam 11 pagi saya baru tiba di hotel, check in, memasukkan koper ke kamar dan langsung berlari kembali menuju stasiun kereta. Tujuan kali ini adalah London ST Pancras station. Sepanjang jalan saya sudah was - was, takut ketinggalan kereta. Ini London Neng, kayanya sepertinya tidak mungkin berharap keretanya terlambat berangkat.

London Bridge-King Cross station ternyata hanya 5 menit saja. Menurut informasi di peta, London ST Pancras station terletak satu kompleks dengan King Cross. Saya hanya bisa berdoa semoga benar, karena tidak ada stasiun underground yang bernama ST Pancras.

Di King Cross saya sempatkan mengambil tiket kereta saya untuk ke Derbyshire di fast ticket machine, sangat mudah. Tinggal memasukkan no pin yang kita peroleh ketika beli secara online dan tiket kereta langsung tercetak.

Jam 11.15, tiket kereta sudah di tangan tapi saya tidak tahu kereta saya ada dimana. Untung ada seorang bapak baik hati yang memberi tahu : ST Pancras bukan di sini stasiunnya Neng, keluar dulu trus belok kanan….hua ternyata salah stasiun.

Untung hanya bawa backpack, saya segera berlari keluar stasiun menuju arah yang ditunjukkan si bapak…dan ternyata lumayan jauh. Tiba di ST Pancras sudah pukul 11.20, tapi masih untung banyak juga penumpang lain yang baru datang. Rupanya bukan cuma saya yang datang mepet, akhirnya kami lari bersama menuju kereta…pas sekali, ketika peluit ditiup saya tiba di samping kereta, tidak  jadi ditinggal.

Tiket kereta saya yang seharga 19 pound  itu ternyata tanpa nomor duduk. Menurut Mba-Mba pengecek tiket kalau kosong duduk aja, tapi kalau penuh kamu harus berdiri ya. Untung siang itu keretanya sepi, saya dapat tempat duduk yang enak. Akhirnya bisa bernafas lega, makan siang apel plus kopi ditambah kue colongan dari lounge-nya Cathay Pasific.

Kereta yang saya naiki dari London bernama Midland Maine. Jalurnya : London – Sheffield – Derbyshire. Saya tiba di Sheffield jam 13.45 (tepat sesuai jadwal), turun, kemudian ganti kereta yang cuma dua gerbong menuju Derbyshire. Kereta ke Derbyshire penuh dengan orang – orang yang membawa ransel dan perlengkapan berkemah. Mulai dari sekelompok ABG yang sibuk bergosip di belakang kereta, pasangan cewe – cowo, pasangan Kakek – Nenek..sampai seorang Biksu berpakaian lengkap.

Kereta menuju Derbyshire berangkat jam 14.15 (tepat sesuai jadwal), saya mencoba bertanya – tanya tentang Edensor, tapi ternyata tidak ada juga yang tahu. Semua orang yang saya ajak ngobrol sangat ramah, kebanyakan dari mereka tinggal  London dan berencana berakhir pekan di Derbyshire.

Akhirnya saya memutuskan untuk turun di stasiun yang kira – kira paling menarik dan paling banyak orang turun. Tapi ternyata stasiun di Derbyshire ga cuma satu, ada banyak lagi stasiun kecil. Stasiun pertama – Grindleford, tidak banyak orang yang turun, saya memutuskan untuk turun di stasiun berikutnya – Hathersage. Ternyata di stasiun ini malah tidak ada orang yang turun dan stasiunnya sangat sepi. Ganti lagi ke stasiun ketiga – Bamford, cukup banyak yang turun termasuk ABG – ABG ganteng yang bawa tenda, tapi di LP sama sekali tidak ada keterangan tentang Bamford, akhirnya saya tidak  jadi turun lagi. Stasiun berikutnya adalah Hope, cukup ramai tapi lagi – lagi tidak ada keterangan tentang Hope di LP.

Sambil jalan saya membaca print-an tentang Edensor yang saya bawa, ah akhirnya ketahuan kalau Edensor adanya di daerah Matlock – Buxton. Tanya ke Pak Kondektur dan dia bilang kereta ini tidak lewat ke daerah sana. Yah sayang sekali, inilah akibat tidak teliti. Dan tiba – tiba kereta berhenti di stasiun berikutnya. Banyak juga yang turun. Akhirnya sambil kebingungan saya memutuskan untuk ikut turun di sini, Edale.

Edale Train Station
Pasangan Kakek – Nenek yang membawa ransel juga turun di sini, mereka tersenyum pada saya. Lega deh, setidaknya masih ada yang turun di sini. Seperti stasiun lainnya, stasiun ini juga kecil saja, tidak ada loket penjual tiket dan tidak ada penjaganya. Penumpang akan bayar tiket di atas. Legal tapinya. Pak Kondektur akan menagih, senjatanya mesin kecil yang dikalungkan di leher. Dia akan bertanya tujuan kita dan sekejap tiket tercetak. Tidak  mungkin bisa salam tempel.

Di plang stasiun tertulis : Edale for Kinder Scout, The Pennine Way and The Moorland Centre. Nampaknya turun di Edale bukan pilihan yang salah, minimal Edale tercantum juga di LP. Kekecewaan saya karena tidak  jadi ke Edensor terobati. Edale ternyata tempat yang sangat indah. Sebagai bagian dari Peak District National Park, Edale sangat populer sebagai tempat berkemah dan trekking.

Surrounded by sweeping Peak District countryside at its most majestic, the tiny cluster of imposing stone houses and the parish church are eye catching in their own right.

Saya berjalan mengikuti pasangan Kakek – Nenek tadi. Mereka nampaknya sudah sangat sering kesini, masing – masing membawa ransel dan sang Kakek membawa gulungan tenda. Mereka akhirnya masuk ke area perkemahan dan melambaikan tangannya kepada saya. Ternyata ini yang namanya The Moorland Centre, sebuah area perkemahan yang luas, di depannya ada parkiran mobil juga plang informasi. Area ini terbuka sepanjang tahun tapi kita harus melakukan reservasi dulu sebelumnya. Nampaknya berkemah merupakan salah satu kegiatan favorite ketika musim panas, di depan pintu gerbang ada plang besar : Full Booked.

Edale Village  ternyata kecil saja, hanya ada beberapa restaurant kecil, sebuah toko makanan dan perlengkapan berkemah serta  tourist information centre, sayangnya saat itu sudah tutup. Akhirnya saya masuk ke toko makanan, lapar mata dan lapar perut juga, jajan sebatang coklat , air mineral dan mengambil majalah gratisan mengenai Peak National Park.

Di belakang toko terdapat juga areal berkemah. Parkiran mobil penuh dengan Land Rover dan mobil caravan. Tanpa tujuan pasti saya terus jalan ke arah utara. Ada sebuah plang menunjukkan arah ke Grindsbrook dan nampaknya menarik.

Saya berjalan menyebrangi sungai, melewati daerah hutan yang gelap kemudian keluar di sebuah area terbuka yang penuh dengan domba ! He he ini hari pertama saya di Inggris dan saya disambut oleh serombongan domba putih yang gemuk – gemuk. Di depan saya ada seorang Nenek yang berjalan sendirian. Masih sehat sekali. Di belakang saya ada seorang Kakek dengan 2 cucunya. Lengkap membawa peta dan daypack.

Sejauh mata memandang yang terlihat adalah bukit hijau dan domba. Pagar batu dan rumah – rumah mungil di kejauhan terlihat sangat menarik. Saya memutuskan untuk berjalan ke atas bukit – Grindsbrook Clough dan berjanji pada diri sendiri untuk turun jam 4 sore.

Di belakang bukit ada jajaran ridge berwarna hitam, nampaknya itu yang namanya Kinder Plateau. Hmm bukan untuk saat ini, mudah – mudahan suatu saat nanti bisa kembali lagi dengan peralatan lengkap.

Di tengah jalan saya banyak bertemu orang – orang yang baru turun dari puncak bukit. Rata – rata mereka sendirian atau berdua. Ramah – ramah, tidak  jauh berbeda dengan situasi ketika kita naik gunung diIndonesia. Saling menyapa.

Berjalan ke atas bukit ternyata lumayan melelahkan, apalagi sebelumnya saya hampir 24 jam duduk di atas pesawat dan kereta. Indah sekali walau matahari mulai mundur ke balik awan dan kabut muncul. Harumnya lavender menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.

Jam 4 lebih sedikit akhirnya saya tiba di tempat yang menurut saya adalah puncaknya Grindsbrook. Tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi kecuali ke arah Kinder Plateau. Senang sekali duduk - duduk disini, akan saya ingat menjadi salah satu hari yang terbaik dalam hidup saya. Duduk di atas bukit memandang Edale Village yang indah walau hanya ditemani sebatang coklat dan sebotol air mineral.

Kurang lebih 10 menit saya duduk di puncakan dan memtuskan segera  kembali ke Edale. Bergegas berjalan karena takut kemalaman. Berkali – kali saya berhenti dan menoleh ke belakang. Terimakasih ya Allah, saya sudah bisa sampai ke sini. Tidak ada Edensor, Edale pun jadi.

Saya melewati jalan desa yang sama. Masih tetap sepi dan cantik. Tiba di stasiun dan ternyata pas sekali. Jam 16.45 ada kereta ke Manchester. Saya naik kereta itu dan selanjutnya menyambung kereta lagi keLondon. Jam 11 malam saya sudah tiba di hotel, lelah dan langsung ketiduran.

2 jam saja di Edale. Tapi itu cukup. Will be back some day.

# Solo trip at August 2007, Edale - United Kingdom

Thursday, August 16, 2007

From Flight to Flight


24 jam terakhir hampir seluruhnya saya habiskan untuk mengejar pesawat dan di atas pesawat, dan juga masih ada 12 jam mendatang he he. Orang - orang yang mengetahui rencana perjalanan saya spontan berkomentar : yang bener May..emang kekejar...mudah - mudahan ga ada apa - apa ya..kenapa sih segala sesuatunya harus dipas ajah 

Doakan semoga lancar saja he he. JKT-BPN-JKT-HK-LHW haha

Wednesday, August 1, 2007

Sokola Rimba - Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

Tadi malam saya selesai membaca sebuah buku yang luar biasa : Sokola Rimba judulnya. Diperoleh secara tidak sengaja di sebuah toko buku diskon di Bandung, covernya langsung membuat saya tertarik, Butet bersama anak - anak asuhannya di Sokola.

Saya langsung tertarik membaca bagian mengenai : Kak Butet Manurung. Siapakah dia ? Seorang wanita yang rela masuk dan tinggal di hutan selama bertahun - tahun untuk mengajar baca dan tulis untuk anak - anak Orang Rimba (OR) di hutan Bukit Tigapuluh, Jambi.

Kak Butet ternyata seorang sarjana Antropologi dari UNPAD Bandung, sekaligus sarjana Sastra Indonesia dari universitas yang sama. Selepas kuliah ia bergabung dengan WARSI (Warung Konservasi) Jambi dan bekerja sebagai fasilitator pendidikan. Sejak tahun 1999 hingga sekarang Kak Butet mengabdikan dirinya bekerja sebagai guru dan mendirikan "sokola" untuk anak - anak di berbagai daerah di Indonesia (Jambi, Flores, Makassar, dan Aceh).

Buku ini merupakan catatan harian Kak Butet selama mengajar anak - anak OR dan sedikit kisah mengenai didirikannya "Sokola". Halaman pertama buku ini langsut terekam kuat dalam ingatan saya :

Hari - Hari Pertama di Rimba - Menuju Jambi
"Jangan katakan ini hari pertama aku bekerja, aku tidak suka kata itu. Lebih baik disebut ini adalah hari pertama aku memulai hidup"


Selanjutnya Kak Butet bercerita mengenai hari - hari pertamanya di WARSI, hari - hari pertama masuk hutan dan berkenalan dengan OR. Mengajar anak - anak di sana bukanlah hal yang mudah. Jangankan mengajar, untuk menjadi teman saja membutuhkan waktu yang sangat lama. Banyak kisah menarik diceritakan di buku ini. Kak Butet berhasil, sekarang OR sudah ada yang bisa membaca dan menulis, bahkan mereka dapat menjadi kader untuk mengajar saudara - saudaranya yang lain.

Buku yang sangat menginspirasi, buat yang ingin menjadi volunteer ada kesempatan dari Sokola untuk mengajar. Hmmm nabung cuti dulu, semoga tahun depan bisa berangkat

Category: Books
Genre: Other
Author: Butet Manurung
Lebih lanjut tentang sokola : www.sokola.org