Pages

Wednesday, December 12, 2012

Dendeng Batokok Siulak Deras

Dendeng adalah salah satu masakan olahan daging yang populer di Indonesia. Lain lubuk lain belalang, setiap daerah ternyata punya resep dendeng yang berbeda - beda. Ketika mendengar kata dendeng yang terbayang di benak saya adalah irisan tipis daging yang sudah dikeringkan, cenderung manis dan beraroma ketumbar. Harganya cukup mahal, sering dijadikan bekal naik gunung dan biasanya hanya digoreng sebentar saja di minyak panas.

Ada juga dendeng khas Rumah Makan Padang, salah satu favorit saya adalah dendeng Uni Upik - Rumah Makan Padang di bilangan Kebagusan, di dekat kantor saya. Daging kering yang disantap dengan bumbu merah balado. Enak tapi tidak terlalu istimewa untuk saya. Rendang dan ayam setan-nya lebih menarik hati.

Bagaimana dengan Dendeng Batokok ? Harus saya akui inilah juaranya dendeng. Dendeng Batokok Siulak Deras, Kabupaten Kerinci, Jambi. Juli lalu kami sempat mampir disini, makan siang yang terasa nikmat sekali, apalagi setelah 3 hari di gunung berteman dengan nasi setengah matang :)

Siang itu kami sedang dalam perjalanan menuju Danau Kerinci, perjalanan masih jauh dan kami semua kelaparan. Pak Supir menyarankan kami makan siang di Siulak Deras, konon Dendeng Batokok-nya paling enak dan asli. Kami tentu setuju.

Ternyata semua rumah makan di dekat Pasar Siulak Deras berjualan dendeng, dan semua memasang label ASLI, ho ho lalu mana yang palsu. Pak Supir memilih rumah makan paling ujung, kecil dan sederhana saja, katanya ini yang asli, lagi - lagi kami setuju saja.

RM Dendeng Batokok Asli yang paling ASLI
Jam makan siang sudah lewat, tapi rumah makan ini penuh, pertanda masakannya memang enak. Tidak ada buku menu. Pelayan rumah makan langsung menghidangkan nasi putih di dalam mangkuk besar, rendang, keripik singkong, saus merah seperti sambal ayam pop, gulai ikan, gulai nangka dan tentu saja hidangan utamanya : irisan daging panggang yang masih dijepit di dalam panggangan, Dendeng Batokok.

hidangan di RM Dendeng Batokok Asli
Lho kok dendengnya tidak kering ? ternyata inilah ciri khasnya. Dendeng Batokok ini empuk sekali, juicy dan tidak alot. Berbeda dengan saudaranya Dendeng khas Minang yang cenderung kering. Tekstur Dendeng Batokok lebih mirip steak yang dipanggang medium, bedanya daging yang ini sudah matang betul. Bumbunya meresap, enak dan segar. 

Dendeng Batokok Siulak Deras
Nama Batokok sendiri mempunyai arti, dalam Bahasa Kerinci artinya dipukul - pukul. Sebelum dipanggang daging yang sudah dibumbui akan ditokok atau dipukul - pukul pelan agar pipih dengan menggunakan palu. Mungkin inilah rahasianya sehingga dagingnya matang sempurna dan tidak alot.

Makan siang nikmat itu ditutup dengan es sirup kayu manis, segar. Sirup kayu manis sendiri adalah salah satu   hasil unggulan dari Kerinci. Selama ini Kerinci memang dikenal sebagai salah satu penghasil kayu manis terbesar di Indonesia. Konon Dendeng Batokok akan lebih nikmat bila dipanggang di atas batang kayu manis, hmmm harum. 

wajah - wajah kelaparan, perbaikan gizi setelah mendaki gunung
Hingga saat ini saya masih penasaran dengan resep Dendeng Batokok ini, ada beberapa resep beredar di internet tapi belum pernah saya coba. Yang jelas memasaknya perlu kesabaran. Beruntung saya bertemu dengan Ibu-nya Edo - tetangga saya yang asli Kerinci. Beliau bercerita mengenai proses pembuatan Dendeng Batokok. Minimal diperlukan waktu 1 malam untuk merendam irisan daging didalam air kelapa dan bumbu. Bumbunya sederhana saja : bawang putih, ketumbar, dan jahe yang dihaluskan. Daging dan air rendamannya direbus sampai empuk, baru ditokok dan dipanggang sampai kecoklatan. Nampak mudah, mari dicoba :)

Nama    : RM Dendeng Batokok Asli
Alamat  : Siulak Deras, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
Harga    : +/- IDR 30k per orang, termasuk minum, nasi double portion dan lauk pendamping
Rumah makan sederhana, buka siang hari

All photos were taken by my husband - Helmy Noermawan. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Sunday, December 9, 2012

Ketinggalan Pesawat dan Half Road Trip : Jakarta - Mataram

Sampai saat ini berangkat ke bandara selalu sukses bikin saya deg - degan, bukan apa - apa, ogah aja ketinggalan pesawat. Tiket memang bisa di refund, tapi jadwal perjalanan molor pasti bikin ngga enak.

Traffic menuju Bandara Soekarno Hatta memang paling bikin jantungan, ngga bisa diprediksi. Demo, banjir, dll selalu sukses membuat kemacetan. Apalagi mengingat rumah saya jauh di Kabupaten Bogor sana, lebih baik nunggu di bandara berjam - jam daripada telat.

Tapi gimana dong kalau ke bandara-nya pulang kantor alias baru bisa berangkat jam 5 sore dan flightnya jam 8 malam ? Teorinya sih harusnya ga telat ya, seharusnya TB Simatupang - Soekarno Hatta bisa ditempuh dalam 1.5 jam saja, tapi ternyata ....

Sore itu teman saya Ria sudah standby di taksi, menjemput saya ke kantor dan siap berangkat ke bandara. Waktu menunjukkan jam 5 kurang, seharusnya saya sudah bisa kabur. Tapi ternyata ada 1, 2 , 3, 4 dll hal yang harus diselesaikan dulu. Menjemput Cici di daycare dan akhirnya kami bertiga duduk manis di taksi bersama 2 carrier besar, 2 daypack, 2 travel bag jumbo dan 2 travel bag mini. 

Jam 5.30 kami meninggalkan parkiran dan keluar gerbang..ternyata macet. Bukan macet yang biasa dan sukses membuat shock luar biasa. Saya meminta supir taksi memutar balik dan mengambil jalan potong di belakang kantor saya agar bisa langsung masuk tol di Pasar Minggu. Lancar sebentar dan kemudian berhenti total..dududu, betul - betul tidak ada yang bisa diperbuat, maju mundur diam. Sesaat kami panik tapi kemudian santai, ah tenang..pesawatnya pasti delay seperti biasa. Masih sempatlah, kamipun sejenak melupakan kemacetan dan asik ngobrol.

Jam 6.30 kami baru masuk tol Pasar Minggu. 1 jam untuk menunggu dalam kemacetan. Suami saya menelpon menanyakan kabar, dan ikut panik mendengar kami baru masuk pintu tol. Supir taksi tanpa diperintah langsung injak gas menuju tol BSD. Dalam hati saya juga panik, kalau sampai ketinggalan pesawat   gimana ya ? dan lagi - lagi dengan tenangnya kami bilang : tenang, pesawatnya pasti delay.

Jam 7.30 kami memasuki tol bandara, strategi mulai disusun. Normalnya kami sudah tidak bisa check in. Penerbangan domestik akan menutup counter check in 30 menit sebelum keberangkatan. Tapi ya dicobalah, mau gimana lagi. Ria akan bergegas turun membawa tiket dan memastikan kita bisa check in, sedangkan saya akan mengatur barang bawaan, bagaimanapun ngga mungkin tas tas besar nan lucu ini kita tinggal.

Jam 7.50 kami tiba di terminal 1A, sesuai rencana Ria langsung berlari. Dibantu supir taksi saya menurunkan barang - barang, memanggil porter dan menggendong Cici yang tertidur. Harap harap cemas menunggu kabar dari Ria, walaupun jelas terdengar public announcement, panggilan terakhir penumpang pesawat dari Jakarta  tujuan Lombok. Hingga akhirnya HP saya berbunyi, panggilan masuk dari Ria : "Udah ngga bisa Mba, udah final call". Haha ya sudahlah, kami ketinggalan pesawat, tiket promo kami hangus, tidak bisa direchedule dan hanya bisa refund 10%.

Strategi berikutnya dilancarkan, Ria menggendong Cici sambil menunggu barang dan saya mencari tiket. Tujuan pertama Lombok, besok pagi pun tak apa. Kami rela semalaman tidur di bandara. Tapi ternyata oh ternyata, tidak ada. Semua full sampai 1 minggu kemudian, bahkan ke Bali-pun tak ada. Para calopun menyerah, bisa - bisanya mereka ga punya tiket. Kalaupun ada mereka menawarkan tiket malam ini ke Surabaya naik Garuda last flight yang harganya 2.5 juta per orang. Hadeuh, mending saya pulang Om.

Jam 8.45, di depan counter Citilink di terminal 1C, akhirnya saya berkenalan dengan calo yang menawarkan tiket ke Surabaya dengan harga lebih murah daripada di counter. Last flight jam 09.40 hanya 800 rb saja, sedangkan di counter harganya 1.1 juta. Ya sudahlah sepertinya itu pilihan terbaik, daripada ngga ada kan.

Jam 9 malam, saya kembali ke terminal 1A, menjemput Cici dan Ria. Kembali ke terminal 1C dan beli tiket untuk Cici di counter Citilink, 750 rb. Lagi - lagi public announcement memanggil penumpang ke Surabaya. Haduh, panik attack lagi, jangan sampai dong ketinggalan pesawat keduakalinya.

Ditemani rekanan calo (baca : petugas bandara) kami serasa pejabat dikawal naik pesawat. Tiket atas nama Winarto, haloooo Ibu Winarto, bagasi segambreng bisa check in, sampai motong antrian bayar airport tax :) maafkan kami Bapak Ibu ho ho.

Bapak petugas yang saya lupa namanya itu benar - benar memastikan kami naik ke pesawat, sempat - sempatnya bersalaman dan pamit. Haha, pertama kalinya saya benar - benar bersyukur tinggal di Indonesia dengan segala keajaibannya. 

Pesawat berangkat tepat waktu, syukurlah. 1 jam penerbangan ke Surabaya kami pakai tidur, Cici untungnya juga tertidur setelah protes kelaparan dan ngga dapat makan di pesawat. Maafkan Bunda Nak.

Jam 11.40 kami tiba di Djuanda, Surabaya. Setengah memaksa saya membangunkan Cici yang tertidur nyenyak, untungnya anak baik mau bangun sendiri dan berjalan kaki. Ria mengambil barang dan saya mencoba mencari rentalan mobil di luar. Taksi resmi bandara pasang tarif 950 rb ke Banyuwangi, terlalu mahal. Lagipula kami ngga yakin naik sedan untuk perjalanan malam keluar kota, barang banyak pula.

Seorang Mas - mas menawari saya rental mobil avanza, 900 rb - 800 rb - 700 rb dan akhirnya saya berhasil di harga 650 rb. Kami segera menuju parkiran, loading barang dan duduk manis di dalam mobil. Ngga pakai lama mobil segera meluncur meninggalkan bandara, tiba di kantor travel dan kami disuruh pindah mobil..lho lho apa maksudnya nih. Tadi di bandara kami dijanjikan hanya memakai mobil ini untuk kami bertiga, tiba - tiba sekarang kami disuruh pindah mobil dan ada 1 penumpang tambahan.

Jam 00.30 dan saya malah debat kusir dengan bapak - bapak pengurus travel, pasalnya saya minta turun harga, minimal sama dengan harga yang dibayar Mas - Mas penumpang tambahan, 150 rb seorang. Bapak travelnya menolak, alasannya tadi sudah deal di 650 rb. Lha tapi kan ngga pakai ada tambahan penumpang Pak. Akhirnya setengah kesal (sepertinya hehe) mereka setuju di harga 550 rb untuk kami bertiga. Baiklah. O iya, ternyata Gantara Tour&Travel ini bisa dipesan lewat telpon lho, lumayan juga kalau kapan - kapan perlu. Nomor telponnya : 031-31120164. Alamatnya di By Pass Juanda Baru no 9. Nanti bisa janjian dijemput di bandara juga.

Perjalanan dimulai, tujuan kami kali ini adalah Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, ujung timurnya Pulau Jawa. Menurut Pak Supir kami bisa tiba sekitar jam 5 - 6 pagi. Beruntunglah Mas Mas yang tadi sempat kami jutekin ternyata orangnya baik, sepanjang perjalanan dia berusaha mengajak kami mengobrol, dan yang lebih penting juga mengajak Pak Supir mengobrol, biar ngga ngantuk.

Sekitar jam 2 malam mobil berhenti sebentar untuk makan malam, akhirnya. Cici sudah tertidur, padahal dia kelaparan. Akhirnya hanya kami berdua yang makan, Ria pesan nasi pecel ayam dan saya pesan capcay. Lumayan enak juga dan ngga terlalu mahal.

Jam 5 pagi kami tiba di Glenmore, Banyuwangi. Lucu ya namanya Glenmore, matahari sudah tinggi sekali. Dan ternyata pemandangan di luar indah sangat. Belakangan saya baru tahu, ternyata nama Glenmore ini diambil dari nama perkebunan tembakau di daerah ini. Sebuah nama yang berasal dari Irlandia atau Skotlandia. Keren.

Jam 6 pagi kami tiba di Ketapang. Alhamdulillah. Barang - barang diturunkan dan seorang Bapak yang baik hati membantu mencarikan porter untuk membawa barang ke kapal. 3 orang porter, tarifnya 10 rb per orang.

Kami langsung membeli tiket dan naik ke feri. 6000 saja per orang, murah. Barang - barang kami taruh di dekat tangga, dan kami naik ke dek, mencari tempat duduk, sarapan nasi rames 5000 per bungkus. Cici lapar tapi sayang lauknya pedas. Feri yang kami tumpangi pagi itu kosong, leluasa kami bisa memilih tempat duduk. Dan tidak menunggu lama kami segera berangkat. Di luar pemandangan indah, langit biru, air laut hijau tosca, puncak Raung di kejauhan, sempurna.

Selat Bali, puncak Raung di belakang sana
Cici sudah aktif kembali, sibuk berjalan - berjalan mengelilingi kapal. Dan tetep protes karena lapar, untung susu kotak bisa jadi pengganjal yang ampuh.

Seorang Bapak yang duduk di bangku depan mengajak kami mengobrol, dia menanyakan tujuan kami dan tanpa basa-basi menawari kami untuk menumpang truknya sampai Denpasar. Hmmm ide bagus, setidaknya di Denpasar akan lebih mudah. Lagipula kami tidak yakin akan dapat sewaan mobil di Gilimanuk. Kami masih menunggu kabar dari teman yang mencarikan tiket pesawat Denpasar - Mataram, walaupun harapan kecil, tapi harus dicoba kan.

keluarga kecil dan bahagia, 1 anak cukup
Sebelum merapat saya segera turun ke bawah dengan Pak supir truk, loading barang - barang dulu ke atas truk. Kerjabakti kami berdua menaikkan barang ke atas truk, berat juga ternyata. Beberapa saat kemudian Cici dan Ria menyusul turun, dan kami bertiga duduk manis di dalam truk.

siap - siap naik truk
Jam 8.30 pagi waktu Indonesia Tengah, kami tiba di Gilimanuk. Sedih juga mengingat perbedaan waktu 1 jam antara Indonesia Barat dan Indonesia Tengah, kami sudah kehilangan waktu 1 jam. Tapi akhirnya terlupakan, tujuan berikutnya adalah tiba di Denpasar secepat mungkin.

truk yang kami tumpangi - Pelabuhan Gilimanuk
Perjalanan menuju Denpasar cukup menyenangkan, kami melawati Taman Nasional Bali Barat, menyejukkan. Cici kegirangan melihat banyak sekali sapi dan monyet di pinggir jalan. Karena mengantuk akhirnya saya dan Cici tertidur, tinggallah Ria mengobrol dengan Pak Supir, sepanjang jalan haha.

Pencarian tiket pesawat nihil, semua flight ke Mataram penuh. Alternatif kedua adalah kapal cepat, saya pesan tempat via telpon di Perama. Tetapi kapal terakhir berangkat jam 1 siang dari Padang Bai, lagi - lagi sepertinya tidak mungkin. Baiklah, pilihan terakhir adalah menyebrang dengan feri dari Padang Bai menuju Lembar.

Jam 1 siang kami tiba di terminal Mengwi, Denpasar. Ria akhirnya berpisah dengan Pak Supir yang terus menerus berusaha meminta no telpon Ria haha. Barang - barang kembali diturunkan dan kami berpisah dengan Pak Supir truk disini. Terimakasih banyak Pak.

Kami menyewa 1 APV untuk mengantar kami ke Padang Bai, 250 rb sekali jalan, tarif resmi, APV baru. Di Denpasar kami sempatkan mampir ke Mc Donald, sebelum anak kecil ini menjadi galak hoho. Di dalam mobil Cici kegirangan : " Enak Bunda, sekarang adem"  haha. Betul juga.

dari truk ke APV baru
Jam 2.30 siang kami tiba di Padang Bai. Panas terik. Tanpa banyak berharap saya menanyakan jadwal kapal cepat kepada para calo yang menyambut kami. Sudah berangkat jam 1 siang tadi, dan kapal berikutnya besok pagi. Bye bye fast boat.

Kami segera membeli tiket feri di loket, 35 rb untuk dewasa. Tawar -tawaran harga lagi sama porter, dan deal di harga 50 rb. Bergegas kami menuju feri, berharap bisa langsung naik dan berangkat. Ternyata tidak ada kapal. Melayanglah harapan bisa tidur siang di kapal, kami masih harus menunggu kapal tiba dari Lembar, entah kapan.

Akhirnya kami duduk - duduk saja di pintu masuk, menunggu. Cici seperti biasa mondar - mandir ngga bisa diam. Sedangkan kita berdua sudah mengantuk berat.

Jam 4.30 sore, kapal yang dinanti tiba. Bergegas kami naik ke kapal, memblok 1 deret bangku dan lagi - lagi menunggu. Kapalnya ngga berangkat - berangkat. Ria sudah ketiduran, Cici juga ikut tertidur dan mau ngga mau saya bangun menjaga barang - barang.

Bukan saja lambat berangkat, ternyata kapal ini juga lambat sangat. Padahal laut tenang, harusnya bisa ngebut kan. Benar - benar ujian kesabaran.

Jam 10.30 malam, akhirnya kami tiba di Lembar..Pulau Lombok, akhirnya. Porter - porter kembali membantu kami membawa barang dan mencarikan mobil. 100 rb sewa mobil dari Lembar ke hotel kami di Mataram. Perut lapar, mengantuk, pengen mandi tapi bahagia..kami tiba di Lombok :)

Jam 11.15 malam, kami sudah di kamar. Seharusnya 24 jam sebelumnya kami sudah tiba disini, turun dari pesawat yang membawa kami dari Jakarta . Setidaknya kami hanya terlambat 24 jam saja.

Perjalanan selanjutnya di Lombok dan Bali penuh cerita. Belajar dari pengalaman sebelumnya kami tidak mau lagi ketinggalan pesawat Denpasar - Jakarta. Syukurlah walau jalanan macet, ribut lagi sama porter dan lainnya lainnya, kali ini kami tidak terlambat :)

see you in the next trip
Lesson learned :
  • Ketinggalan pesawat itu ga enak, rugi waktu dan pastinya rugi uang, jadi berdoalah yang banyak agar ga kena macet dalam perjalanan ke bandara, agar ga ketemu porter yang sukanya rebutan trolley dan berdoalah agar pesawat delay sesuai keperluan kita
  • Web check in kadang sangat berguna, sempatkan untuk web check in agar tinggal drop bagasi saja di bandara
  • Pilihlah teman seperjalanan yang asik, yang bisa jadi baby sitter, jadi porter sekaligus menjadi teman
  • Every journey has their own story, nikmati sajalah :)
#Trip with friends, November 2012

All photos were taken by me and my friend - Ria Lestari. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Saturday, December 8, 2012

Bidadari Bidadari Surga

Weekend kali ini kami main ke mall, tujuan utamanya adalah memotong rambut anak kecil kriwil bernama Cici. Tujuan berikutnya adalah nonton film kalau ada yang bagus, maklum ternyata sudah lama juga kita ngga nonton di bioskop.

Ternyata 6 Desember kemarin adalah pemutaran perdana-nya Bidadari Dari Surga, film yang diadaptasi dari buku berjudul serupa yang ditulis oleh Tere Liye. Cocok, betulan wajib tonton. Saya adalah penggemar Tere Liye. Buku - bukunya saya koleksi, walau belakangan ceritanya agak "dangdut" sedikit.

Singkat cerita film ini bagus, dibandingkan Hafalan Sholat Delisa, film Bidadari dari Surga jauh lebih cantik, sinematografinya bagus, dan cukup bisa mewakili isi bukunya secara keseluruhan.


Nirina Zubir cocok sekali memerankan Kak Laisha. Nirina yang cantik bisa berubah menjadi Kak Laisha yang hitam, berambut keriting, agak pincang dan bungkuk. Penghayatan sempurna. Pemeran lainnya juga ok, secara keseluruhan filmnya enak ditonton.

Bidadari - Bidadari Surga menceritakan kehidupan Laisa dan keluarganya di Lembah Lahambay. Mereka adalah keluarga miskin, ayah mereka meninggal diterkam harimau ketika Yashinta, anak paling kecil masih di dalam kandungan.

Sebagai anak tertua dari lima bersaudara maka Laisa mengambil alih tanggung jawab Ayahnya untuk merawat Ibu dan adik - adiknya : Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta. Mereka bekerja keras, berja di ladang, menyadap karet di hutan, mengambil kayu dan masih banyak lagi.

Laisa terlahir tidak sempurna, tidak rupawan seperti adik - adiknya. Tapi hatinya rupawan, berkemauan keras, rajin bekerja dan cerdas. Laisa dengan ide perkebunan strawberry-nya berhasil membawa perubahan bagi keluarga dan kampung tempat tinggalnya. Keluarga miskin itu akhirnya hidup berkecukupan. Dalimunte berhasil menjadi profesor, dan adik - adiknya yang lain juga telah selesai kuliah dan bekerja.

Sayangnya Laisa sulit menemukan jodoh, hingga akhirnya Dalimunthe harus menikah terlebih dahulu, melangkahi Laisa. Merasa sangat bersalah Dalimunthe berusaha mencarikan jodoh untuk Laisa. Selalu gagal, pria - pria yang dikenalnya selalu mundur setelah melihat foto Laisa yang tidak menarik. Hingga Dharma yang telah beristri akhirnya juga mendekati Laisa. Dharma diminta istrinya menikah kembali karena dia tidak bisa memberikan keturunan, dan Laisa adalah wanita yang dipilih oleh istrinya. Nampaknya Laisa juga jatuh hati dengan Dharma, sayangnya lagi - lagi pernikahan itu gagal. Istri Dharma ternyata hamil, dan berita itu didengarnya tepat sebelum ijab kabul dengan Laisa, kembali Laisa harus menangis.

Di akhir cerita dikisahkan bahwa Laisa menderita Kanker Paru - Paru, dan akhirnya meninggal dunia. Tetapi Laisa pergi dengan bahagia : "Laisa senang Mak, karena Laisa punya kehidupan yang bahagia". Ya, Laisa bahagia melihat adik - adiknya sukses dan bahagia, Mak-nya bahagia bersama Menantu dan Cucu, walaupun dirinya sendiri selalu bersedih.

Banyak pesan bagus yang disampaikan di film ini. Walaupun jodoh semata - mata adalah rahasia Allah tapi bukan rahasia apabila penampilan fisik sangat mempengaruhi proses perkenalan dua manusia untuk kemudian jatuh hati.

Laisa memang tidak cantik rupanya, tapi hatinya cantik. Tapi tetap saja dia tidak laku, pria - pria langsung mundur melihat fotonya yang tidak menarik. Bahkan dikisahkan seorang Ustadz yang dalam ceramahnya jelas - jelas menyatakan pentingnya mencari istri yang cantik hati. Dalimunthe berharap lebih kepada Ustadz ini dan bermaksud menjodohkannya dengan Laisa. Ternyata sama saja, dikisahkan sang Ustadz mengucapkan MasyaAllah ketika bertemu Laisa pertama kalinya. Sindiran halus sekali bagi kaum pria :)

Bravo Tere Liye, tetap berkarya dan tetap menginspirasi.

Friday, November 2, 2012

Nostalgila Balikpapan

Hari ini malam kedua dari kunjungan saya di Balikpapan. Akhirnya kembali kesini lagi setelah 5 tahun dan 2 bulan. Bukannnnn, bukan kembali kerja disini, mampir aja kok.

Sore tadi sempat nostalgila keliling Balikpapan setelah urusan pekerjaan selesai. Kesimpulan saya Balikpapan memang jauh berubah, maju sangat pesat, tapi sayangnya berantakan. Hotel baru bermunculan dimana - mana, bioskop aja ada 3, jangan lupa 2 Starbucks dan juga Mc Donald yang buka 24 jam. Padahal 6 tahun yang lalu satu-satunya bioskop hanyalah Gelora yang sambil nonton dapat bonus garuk-garuk. Mau nonton 21 ya naik mobil dulu 2 jam ke Samarinda, sekalian makan Mc Donald. Sekarang semua ada disini, semua lengkap, ga perlu lagi bawa oleh - oleh Roti Boy atau bahkan Dunkin Donut ke Balikpapan.

Gorengan Taman Bekapai
Saya menginap di Novotel, hotel baru di dekat Taman Bekapai, taman yang dulu sempat jadi tempat nongkrong kami kalau lagi pengen ngerasain jadi Anak Gaul Balikpapan. Disana masih ada pedagang kaki lima yang mulai buka lapak sore hari. Mulai dari es buah, juice, bakso pangsit, soto ayam, sate hingga gorengan di pojok kiri. Yang terakhir ini favorit kami, terutama pisang goreng dan sambal pedasnya. Mantap. Tadi malam saya sempat mampir kesana dan ngobrol dengan Ibu penjual gorengan. Ternyata beliau sudah jualan 12 tahun, dan kata beliau saya masih mau jualan 15 tahun lagi disini, kalau ada umur..amin Bu.

Harga gorengannya 1000 rupiah, kecuali Tahu Isi 2000. Ada Pisang Goreng, Bakwan Udang, Pangsit Goreng, Tempe Goreng, dan Singkong. Jangan lupa saucenya, sambal pedes manis yang khas.

Gorengan Taman Bekapai, total 5000 saja





Coto Makasar Haji Kasim di Klandasan
Orang Balikpapan pasti tahu penjual Coto yang satu ini. Dari dulu sudah jadi langganan, enak, murah, meriah. Buka dari pagi hingga malam setiap hari dan sepertinya selalu penuh. Tadi saya mampir kesana jam 9 malam, dan selama saya duduk disana pembeli tidak pernah putus, selalu ada. Rumah makannya sederhana saja, di pinggir pantai di belakang Ruko - ruko Klandasan.

Coto Makassar H. Kasim di Klandasan
Harga per porsinya 18 ribu saja, sudah termasuk minuman, boleh pilih dan harganya sama. Plus ketupat yang boleh dimakan sepuasnya. Pilihannya coto daging, campur, campur tanpa ati, semua bisa diatur. Daging, babat dan lainnya dipotong kecil - kecil sesaat sebelum kuah coto dituang ke mangkok. 

Kuah cotonya pas, ditambah sambal dan perasan jeruk nipis makin nikmat. Kupatnya sudah dibelah dua, tinggal disendoki saja. 

Coto Makasar H. Kasim
 Act as a local, buanglah kulit ketupat ke bawah kaki anda.O iya, sebenarnya waktu paling pas menikmati Coto adalah di pagi hari, kuahnya masih fresh, dijamin paling nikmat. Makin malam kuahnya sudah mengental.

Beberapa anak kecil mencegat saya di pintu keluar rumah makan, ternyata mereka cucu - cucu Haji Kasim. " Itu Kakek saya Tante". Dan mereka berebut minta difoto, sekali, 2 kali , 3 kali dan banyak sekali. Seru juga melihat mereka kegirangan melihat hasil fotonya di display kamera.

Cucu - cucu H. Kasim
 # Business Trip, November 2012

All photos were taken by me. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Thursday, October 25, 2012

Her 1st Ballet Peformance


Minggu lalu, 21 Oktober 2012 it's a Cici's day. Cici bersama teman - temannya di D Posture mementaskan Gala Peformance yang judulnya Cinderella.

Sebagai anak dari kelas terkecil, Cici dan teman - teman sekelasnya berperan menjadi Cinderella Dolly. Tampil di awal pertunjukan sekitar 2 menit menari seperti boneka.

Awalnya saya agak ragu apakah Cici dapat tampil dengan percaya diri atau tidak, mengingat Cici baru saja bergabung di kelas balet sejak awal September kemarin. Tapi ternyata tidak, sungguh Cici tidak menangis dan selama gladi resik dan latihan gabungan Cici selalu riang dan gembira, sangat menikmati.

Semangat sekali Cici mengikuti latihan tambahan setiap hari Minggu, gladi resik sehari sebelumnya, hingga nongkrong di Tiara Bangsa di hari minggu kemarin sejak jam 11 siang, tanpa ditunggu Bunda. Cici anak yang mandiri, so proud of you.

Untuk keperluan pertunjukan Cici memakai kostum berwarna hitam dengan tutu berwarna biru muda dengan aksen pink, baju yang cantik. Dan karena Bunda memang ngga bisa untuk urusan dandan, marilah kita serahkan kepada ahlinya. Cici dicepol dan di make up oleh Mba Susi dari Puri Putri Salon, langganan Bunda di dekat rumah. Murah meriah tapi hasilnya menakjubkan. Cici looks so beautiful. Terimakasih Mba Susi.

her 1st make up for her 1st ballet peformance
Make up artist : Mba Susi - Puri Putri Salon, Kota Wisata
Cinderella Dolly
Menjelang pentas terjadi insiden yang menyebabkan Cici menangis. Dia dipukul oleh temannya, menangis dan akhirnya setelah dibujuk oleh Miss Lanty barulah Cici berhenti menangis dan mau naik ke panggung.  Di atas panggung akhirnya hanya diam saja, sebelum mendapat laporan pemukulan itu kami mengira Cici memang tidak mau menari.


Hmm jangan khawatir Cici, kami tetap bangga padamu, apapun alasannya. Selama Cici bisa menikmati Bunda Popo akan terus mendukung. Untunglah Cici tidak trauma dengan pemukulan itu, sehari setelah pentas Cici cerita bahwa Cici ingin terus menari balet :)

and the show, Cinderella with Cinderella Dolly
Overall peformancenya bagus sekali. Auditorium Sekolah Tiara Bangsa memang sudah sangat bagus, ditambah lagi jalan cerita dan peformance penari - penarinya memang bagus. 1 jam lebih Bunda dan Popo menikmati pertunjukan ini, balet, hip hop, jazz, ga ada yang ga keren. Salut untuk Miss Lanty dan D Posture Studio team yang sudah bekerja keras menyiapkan pertunjukan ini. 

Can't wait for the next show. See you next year

love this one, ceria sekali

closing during rehearsal


Thursday, October 11, 2012

Recipe - Chocolate Fudge Cupcakes with Butter Cream


This is my first cupcakes with Butter Cream decoration. Ordered by my co-worker for her daughter birthday celebration at school. Prepared in 2 days, starting from recipe hunting, shopping and voila : baking and decorating for a night starting from 10 PM to 06 AM. Lesson learn for the future is time management, time management and time management.

Comment from my daughter was : delicious Bunda :)  and I am little bit nervous waiting the feedback from my costumer.

The cupcakes is Chocolate Fudge Cupcakes, original recipe is courtesy of Dorothy Tong in Cupcake Wars, 2010. I found this recipe in Cakefever and found the same content in Foodnetwork.  Originally the recipe is filling the cupcakes with Chocolate Fudge Cookie Bar and using Marshmallow Meringue Frosting. In my case I use butter cream which I thought more simple and cheaper.



CUPCAKES

Ingredients :

  • 1 3/4 cups all-purpose flour – I use Segitiga Biru
  • 1 3/4 cups sugar – I use Gulaku pouch for finer grain
  • 3/4 cups high-fat cocoa powder – I use mix of Bendrop and Valhorna
  • 2 teaspoons baking soda
  • 1 teaspoon baking powder
  • 1 teaspoon kosher salt
  • 1 cup buttermilk, shaken – I use 1 cup of fresh milk, heated and mix with 2 table spoon of lemon juice
  • 1/2 cup vegetable oil
  • 2 extra-large eggs, room temperature
  • 1 1/2 teaspoon vanilla extract
  • 1/2 cup freshly brewed strong, hot, coffee – I use instant coffee from Nescafe, 2 table spoon of coffee mix with 1/2 cup hot water
  • 1/2 cup hot water
  • DIRECTIONS
  • Preheat the oven to 350 degrees F. Line cupcake pans with cupcake liners.
  • Sift together the flour, sugar, cocoa, baking soda, baking powder, and salt. Set aside. In a large bowl, combine the buttermilk, oil, eggs, and vanilla. Slowly add the wet ingredients to the dry. Slowly stir in the coffee and water.
  • Fill the cupcake pans about two-thirds full. Bake until a toothpick inserted into the center of the cakes comes out clean, 9 to 11 minutes. Cool completely, and then frost with Butter Cream
  • How about butter cream ? I had looking many Butter Cream recipes yesterday and found this one might be the best one. This is Butter Cream recipe from Mba Ani Kue Ratu. The ingredients are cheap and easy to made. The taste is delicious, just like an ice cream. Enjoy.


BUTTER CREAM - Ani Kue Ratu

Ingedrients :

  • 250 gram white margarine Australia
  • 250 gram Hollman soft cream
  • 250 ml condensed milk
  • 200 gram sugar
  • 5 table spoon salt water – made from 1/2 cup of hot water mix with 1 table spoon of salt

Directions :

  • Heated the sugar with salt water until melt
  • Add the condensed milk in the sugar, combine together while still hot
  • In large bowl, beat the sugar-milk, white margarine and vanilla with electric mixer at low speed until  smooth
  • Add the soft cream and continue beat until well blended and smooth
  • Cupcakes decoration is another issue for me. But for coincidence I found a great web with step by step to decorate cupcakes with butter cream.  Check here for the link : The Fabulous Moms Guide


Can’t wait to do another cupcakes decoration work :)

Photo was taken by me. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.

Sunday, September 2, 2012

Anak Krakatau

Mungkin saya termasuk ke dalam sedikit golongan traveler yang aneh. Pasalnya saya suka sekali berkunjung untuk kedua, ketiga bahkan kesekian kalinya ke suatu tempat yang saya sukai. Setiap kunjungan pasti memberikan cerita yang berbeda, dan anehnya tidak pernah membosankan bagi saya.

Salah satu tempat yang sangat saya suka adalah Gunung Anak Krakatau. Dari dulu saya ingin sekali kesana, karena sejarah letusannya yang dahsyat, karena gengsi ngaku Geologist yang jatuh cinta pada Vulkanologi tapi belum pernah kesana, hingga alasan sederhana : karena disana memang indah.

Dulu jaman kuliah hanya mimpi mau ke Krakatau, mahal. Sewaktu sudah bekerja juga sama, kalau ikut trip kok kayanya mahal sekali ya. Hingga September 2011 yang lalu, saya bersama 30 orang teman ingin berkunjung kesana. Gagal total, saat itu Anak Krakatau aktif dan ditutup untuk aktifitas apapun. Akhirnya kami berganti rencana, berwisata ombak di perairan Selat Sunda, 9 jam perjalanan dengan kapal kayu dari Carita ke Pulau Peucang. Surga lainnya di Taman Nasional Ujung Kulon.

Juni 2012 saya kembali kesana,  kali ini bersama 30 orang teman Geoscientist dari Petronas, Malaysia. Berhasilllll, senang sekali rasanya. Akhirnya saya dapat melihat sendiri Anak Krakatau yang memang cantik. Sayangnya saat itu hujan turun sangat lebat, walhasil foto kami di puncakan nampak seperti di gunung salju, berjaket dengan background belerang di lereng yang tampak keputihan. Sejauh mata memandang hanya kabut yang terlihat. Saya memang harus kembali lagi.

Agustus 2012, saya kembali ke Anak Krakatau. Kali ini bersama 9 orang teman sekantor. Malam sebelumnya kami menginap di Bay Villas, Tanjung Lesung. Jam 7 pagi kami dijemput 2 speed boat  di dermaga Beach Club Tanjung Lesung. Cuaca cerah, matahari tidak malu - malu, dan panasnya cukup. Dalam hati saya berdoa, semoga lancar kali ini.

Boarding at Beach Club Tanjung Lesung
Setelah 1.5  jam Anak Krakatau mulai terlihat, sangat cantik. Lereng berpasirnya dihiasi endapan solfatara yang tampak seperti salju dari kejauhan. Langit biru, awan putih dan air laut biru tosca, sempurna.


Anak Krakatau
Beberapa teman bertanya : "Mengapa disebut Anak Krakatau ?" Jawabannya sederhana saja, karena memang ada induknya, yaitu Gunung Krakatau. Induk Gunung Krakatau sendiri  adalah sebuah gunung api yang sangat besar di Selat Sunda, disebut Gunung Krakatau Purba. Gunung itu tersusun dari batuan andesitik.

Sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa mencatat adanya letusan hebat pada tahun 416 M yang mengakibatkan tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur dan menyisakan kaldera di Selat Sunda. Sisi tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung.

Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang tersusun dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang kemudian disebut sebagai Gunung Krakatau, gunung yang kemudian meletus sangat hebat pada tahun 1883.


Menjelang jam 9 pagi kedua kapal kamipun merapat di Anak Krakatau. Dengan gembira saya segera turun sambil menjinjing sepatu..tapi tiba - tiba guide kami - Pak Deri menghampiri dan berkata : lagi aktif Bu, kita ga bisa naik.

Faktanya cuaca memang sangat cerah, tetapi sang gunung memilih aktif, dari pantai memang sudah terdengar suara gemuruh berkali - kali. Anak Krakatau sedang batuk. Untungnya petugas cagar alam mengjinkan kami naik hingga batas vegetasi atau pasak 3.

Cagar Alam Krakatau
Selepas foto group di plang Cagar Alam kami bergegas naik, jalur pasirnya kali ini panas sekali dan lepas. Tidak seperti bulan Juni lalu ketika hujan turun dan memadatkan jalur naik.

Pengaruh musim panas panjang sangat kentara, kering dimana - mana. Pohon kecoklatan, dan banyak yang mati kekeringan. Di batas vegetasi kami bisa melihat dengan jelas ke puncak Anak Krakatau. Beberapa menit sekali terdengar suara gemuruh yang diikuti letusan  - letusan kecil, piroklastik. Inilah pertama kalinya saya melihat gunung api meletus. Mengagumkan.

Kembali ke pantai dan kami bertemu dengan serombongan turis asing yang terpaksa harus kembali, mereka tidak boleh mendarat.  Sayang sekali memang, kami ternyata lebih beruntung. Akhirnya kami menyempatkan untuk naik boat mengelilingi pulau, menakjubkan. Melihat bekas - bekas aliran piroklastik, melihat sisi lain Anak Krakatau dan kembali melihat beberapa letusan kecil.

Kemunculan Gunung Anak Krakatau dimulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi Anak Krakatau mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh aktivitas volkanik yang sangat aktif, melontarkan material - material dari perut bumi.

Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.

Letusan Anak Krakatau - 30 Agustus 2012
15 menit berlayar dan kami tiba di Pulau Rakata, kami akan mampir sebentar disini untuk snorkeling di Lagoon Cabe. Lagoon Cabe sendiri sangat menyenangkan untuk snorkeling, kedalamannya hanya 2 - 3 meter dan terletak di tepi Pulau Rakata. Lokasi snorkeling ini cocok untuk pemula seperti saya. Ikannya banyak dan beragam serta terumbu karangnya cantik. Pertama kalinya disini dengan PD saya bisa snorkeling tanpa pelampung, walau beberapa kali menginjak terumbu. Sepertinya lain kali saya harus mencoba di tempat yang lebih dalam. Berdosa sekali rasanya menginjak terumbu - terumbu cantik yang tidak berdosa itu.

snorkeling at Lagoon Cabe
Sekitar jam 11 kami kembali berlayar ke Tanjung Lesung, di perjalanan beberapa lumba - lumba terlihat di kejauhan. Perjalanan selama 1.5 jam yang menyenangkan. Selepas makan siang kami kembali Jakarta. Tujuh jam kemudian saya sudah duduk manis di cubical saya di kantor, telecon malam hari sambil terkantuk - kantuk dan lapar :D

my boat mates
See you next time Anak Krakatau, definitely will be back.

TRAVEL TIPS
  • Perjalanan ke Anak Krakatau memang mahal tapi bisa disiasati lho. Biaya termahal adalah di sewa perahu. Ada dua pilihan, perahu kayu dengan kapasitas 20 orang atau fast boat dengan kapasitas 8 orang. Harganya tentu beda jauh. Bila cukup punya waktu sebenarnya perahu kayu sangat menyenangkan, murah, kapasitas lebih banyak, lebih santai dan tidak berisik. Bonusnya cuma lama saja.
  • Ada dua jalur menuju Anak Krakatau, melalui Lampung atau Jawa Barat. Keduanya memiliki plus minus tersendiri. Overall sewa kapal dari Lampung memang lebih murah, tetapi waktu perjalanan akan lebih lama karena bonus mengantri feri untuk menyeberang. Carita / Tanjung Lesung are my favourite
  • Pakailah sun block, lip balm dan baju lengan panjang. Sinar matahari sangat terik. Minum cukup air agar tidak dehidrasi.
  • Status gunungapi Anak Krakatau adalah siaga, jadi rajin - rajinlah memantau situs BMKG untuk situasi terkini.
  • Take nothing but pictures, leave nothing but footprints
# Trip with friends, August 2012

All photos were taken by me. Credit is required if you want to use those in yours. Thank you.