Pages

Wednesday, April 2, 2014

Day 2 late post - Good Bye Sekolah Karakter

Salah satu hal yang membuat kami sedih meninggalkan Jakarta sebenarnya sederhana, sekolahan Cici. Sudah 1.5 tahun Cici bersekolah di Karakter, dan Cici sangat bahagia sekali. Ibu Bapak Guru yang baik - baik, teman - teman yang seru dan pastinya pengalaman belajar yang luar biasa.

Rencana kepindahan sudah kami sampaikan kepada Ibu Tia sejak bulan September, Ibu Tia pun dengan tekun mendukung dengan cara memberi tahu Cici secara tidak langsung bahwa Cici akan pindah sekolah, bahwa di sekolah yang baru nanti Cici harus berteman dengan siapa saja, tidak pilih - pilih teman dan lainnya.

Beberapa orang tua murid yang cukup dekat sudah kami beritahu juga jauh - jauh hari. Tapi tetep, ternyata di hari terakhir sekolah itu saya menangis, entah kapan kami bisa kembali lagi disini.

Seminggu sebelum hari terakhir sekolah teman - teman Cici berkunjung ke rumah, home visit. Sengaja saya pilih di bulan Desember agar sekalian perpisahan Cici dengan teman - teman. Cici seperti biasa sangat senang kedatangan tamu, mulai dari bangun sangat pagi, membantu menyiapkan kue sampai menjemput teman - teman di gerbang cluster.

Teman - teman, Bapak Ibu Guru, terimakasih banyak untuk persahabatannya, bimbingannya selama ini. Semoga Allah SWT mencatatnya sebagai amal kebaikan.

Nah Ci, ini beberapa foto dari teman - teman dan Ibu Bapak Guru. Bunda simpan disini biar Cici tidak lupa ya

hari terakhir di sekolah Karakter (13 Desember 2013) bersama teman - teman TKA Baik Hati
Naswa - Bu Tia - Cici - Pak Singgih
Cici dan teman - teman sekelas pentas seni, menyanyikan lagu Laskar Pelangi, juara 1 hehe

Monday, March 31, 2014

Day 1 - I miss them a lot !

Pengalaman tinggal di luar negeri kali ini adalah yang terpanjang bagi saya dan keluarga. Terhitung sampai hari ini sudah 3.5 bulan kami tinggal di Kuala Lumpur, dan belum bisa menjawab sampai kapan kami tinggal disini.

Orang bilang Kuala Lumpur dekatlah, mau mudik tinggal pergi, pulang pergi ke Jakarta/Bandung dalam 1 haripun bisa. Alhamdulillah memang, inilah salah satu alasan kami dulu memilih Kuala Lumpur sebagai tempat perantauan kami yang pertama.

Selain faktor dekat, banyak hal lain yang memang menyenangkan. Makanan ngga beda jauh, cari nasi dan makanan halal gampang sekali, harganya agak mahal sedikit tapi masih wajarlah. Makan siang saya bila di kantor cukup sekitar 7 ringgit saja.

Bahasa tak jauh berbeda, memang banyak kosa kata yang berbeda, tapi kalau ngobrol masih nyambunglah. Kalau memang tidak mengerti dan agak tidak salah paham lebih baik pakai bahasa Inggris. Disini bahasa Inggris widely spoken, mulai dari supir taksi, penjaga toko sampai pedagang sayur di pasar.

Tapi tetep ada kok hal - hal yang kami rindukan, walau ga seheboh teman - teman yang tinggal di Amerika atau di Eropa mungkin ya, tapi tetep..ada sesuatu yang hilang kok. Antara lain ini nih..urutannya berdasarkan yang pertama kali di ingat .

Tukang Ojek
Kuala Lumpur memang memiliki public transport yang bagus, mulai dari LRT, bus, semua ok. Disini saya banyak berjalan kaki jadinya. Menyenangkan memang. Tapi kalau kepepet waktu pengen cepat - cepat alangkah indahnya kalau disini ada tukang ojek. Sampai - sampai Cicipun tahu : disini kok ngga ada Pak Cecep ya Bunda.

Tukang Gorengan
Sebenarnya ada sih yang jual gorengan, tapi rasanya ya Malaysia banget. Tetap ada unsur kari-nya. Pastel aja isinya kari, padahal kan di kepala ini yang namanya pastel harusnya isinya sayuran. Tapi akhirnya ketemu dong tukang gorengan asli Bandung, dekat rumah pula. Di kedai Ibu ini ada gehu segala, rasanya juga Indonesia banget. Baru 1 tahun si Ibu merantau ke KL dan dagang gorengan. Laris manis lho.

Bakso terutama Bakso Malang
Beberapa hari ini pengen makan bakso. Weekend kemarin beli bakso ke Ayam Penyet Best, bungkus bawa ke rumah tapi salah dibuatinnya. Instead of bakso kuah malah dibuatkannya Bakso goreng. Sampai saat ini belum ketemu bakso enak, sepertinya weekend ini harus buat bakso sendiri.

Tempe Tahu
Sebetulnya ada pedagang sayur yang menjual tempe tahu di Pasar Dato Kramat, tapi sampai saat ini belum ketemu yang enak. Tahu lumayan enak dijual sih di Supermarket Aeon, yang ini beneran enak tapi mahal haha, 5 ringgit hanya dapat 4 buah. Dimana ya beli ragi tempe, pengen cobain buat sendiri.

Mie Ayam
Ini sih tidak usah dijelaskan dengan kata - kata lagi, soalnya ga ada yang jual mie ayam kaya mie lenteng.

kalau makanan Padang sih ga bikin kangen, di dekat rumah ada Sari Ratu yang enak banget :D
Walah ternyata ini list isinya makanan semua ya. Tapi selain itu masih banyak kok. Namanya orang asing ada saja yang berbeda. Teman orang Malaysia di lantai saya baik - baik, tapi tetap saja ada jarak antara kita. Ga bisa bebas bergosip haha. Alhamdulillah berarti dijaga dari perbuatan sia - sia hehe.

Jadi sejauh ini Kuala Lumpur menyenangkan, terimakasih ya Allah.

And After 3 Months

ih kok masih malas juga, hayo mana postingannya. Iya sebetulnya sudah tidak ada kendala apa - apa lagi sih, internet lancar, PC udah ada, waktu banyak trus kenapa dong..malas hehe.

Tapi ngga kok, ini kok kerjaan menggila ya. Setelah 1 bulan merasa over paid mendadak 2 bulan terakhir merasa under paid. Menyenangkan sih, banyak belajar hal baru, diberi tanggung jawab besar, banyak kejadian seru, tapi ya itu banyak sekali :D

Sudah 2 minggu terakhir ini setiap weekend juga kerja, monitoring logging sih seperti biasa, plus 1 minggu terakhir acting jadi Geologist karena teman saya yang Geologist mudik ke India. Sebetulnya ga papa, tapi ya kok pas mau section TD haha.

Alhamdulillah setelah 2 minggu yang agak - agak mengerikan kemarin, selesai sudah semuanya, dan saya mencanangkan 30 hari blogging ah. Kita lihat bisa ga ya, kalau lihat teman - teman yang lain sepertinya hebat sekali bisa konsisten. Kita coba deh.

30 days blogging with Sereleaungu starting from today :)





Wednesday, February 5, 2014

Condo Hunting Kuala Lumpur

Tinggal di mana ya ? itulah salah satu pertanyaan yang muncul di benak kami ketika saat itu kami memutuskan pindah ke Kuala Lumpur. Alhamdulillah ada housing allowance dari kantor dan kami bebas memilih untuk tinggal di mana. Sebetulnya banyak sekali referensi dari teman yang sudah lebih dulu tinggal disini, tapi tetap saja sepertinya tidak afdol kalau tidak melakukan research sendiri.

pic from : http://mydailystatus.blogspot.com/2012/02/condo-hunting.html
Asistennya tentu saja paman google. Pararel dengan school hunting, hampir setiap malam pekerjaan tambahan kami adalah condo hunting. Gampang - gampang susah. Gampang sebenarnya karena kami sudah punya kriteria untuk condo idaman dan banyak sekali referensi dari teman, susah karena ternyata ga mudah menghubungi para agent property disini. Dari belasan email dan sms hanya beberapa saja yang merespon balik. Selain itu ternyata banyak pilihan pun membuat hidup lebih susah.

Ok, kriteria untuk tempat tinggal idaman kami di Kuala Lumpur antara lain adalah :
  • dekat ke stasiun LRT, ini wajib hukumnya. Dekat disini berarti walking distance, dan kalau bisa tidak usah pindah jalur LRT untuk pergi kerja. Berarti pilihannya adalah condo di sekitar LRT Kelana Jaya
  • sesuai budget alias ngga nombok, intinya ogah rugi hehe dan pengennya masih bisa nabung dari sini
  • furnished, wajib untuk tahun pertama karena kami ga punya uang untuk beli furniture baru dan juga kami tidak akan shipping barang dari Indonesia -> konsekuensinya harga sewa relatif lebih mahal
  • berada di jalur jemputan sekolah, agar Cici bisa naik school bus ke sekolah
  • ada ovennya :D, ini wajib pula hukumnya
  • 3 bed rooms minimal, karena pasti akan ada keluarga atau teman datang berkunjung
Nah ga susah kan sebenarnya, kecuali tentang oven memang. Ternyata tidak mudah mencari condo yang mempunyai oven. Kalaupun ada harganya mahal sekali atau masuk budget tapi kamarnya hanya 2. Sampai mid Desember kami belum menemukan condo idaman dan hari - hari pertama bekerja pun ditambah dengan kesibukan condo hunting

Alhamdulillah menjelang tahun baru kami menemukan sebuah condo di Desa Pandan area, namanya Mutiara Upper East Condo. Hanya 1x viewing, jauh cinta, langsung deal. Mungkin itu yang namanya jodoh ya, semuanya dimudahkan. Bahkan yang mengejutkan owner condo ini ternyata orang Indonesia, ga jauh - jauh memang. 

Jaraknya ke stasiun LRT memang cukup jauh, 1.7 km ke LRT Jelatek. Setiap hari saya berjalan kaki untuk pergi bekerja, lumayan kan. Siapa tahu bisa kurus. Lokasi condo inipun sangat strategis, 5 menit naik mobil ke Bukit Bintang, 5 menit ke KLCC, 30 menit ke IKEA, 30 menit ke sekolah Cici, dekat Sari Ratu restaurant, groceries shopping tinggal jalan kaki ke Great Eastern mall atau kalau mau ke pasar tradisional tinggal jalan kaki ke Dato Kramat. 

Unitnya besar - besar, dan semua kamarnya mempunyai jendela. Alhamdulillah memang. 1 bulan sudah kami tinggal disini dan betah sekali. Harganya pun cukup miring karena lokasinya yang agak jauh dari LRT tadi. Oven ada tentunya dan bagus bangett. Terharu. 

Nah untuk referensi, ini dia beberapa condo yang sempat kami lihat :
  • Desa Putra di Wangsa Maju, sangat dekat dengan LRT Sri Rampai. Banyak orang Indonesia tinggal disini dan dekat dengan Wangsa Walk Shopping Mall. Sebetulnya ini condo idaman kami, sederhana, nyaman, fasilitas ok, masakan di kantinnya enak banget (kokinya orang Jawa Timur). Sayangnya dari sekian banyak unit yang kami lihat tidak ada yang cocok. Kalaupun ada harganya lumayan mahal, di atas harga pasar yang sekitar RM 2500 - 3500. Selain itu agak jauh dari sekolah Cici.
  • Riana Green di Wangsa Maju, dekat dengan LRT Sri Rampai. Unit lebih luas dibandingkan dengan Desa Putra. Banyak juga orang Indonesia disini. Harga sewa mulai RM 4500 ke atas. Kami tidak sempat viewing karena mempertimbangkan jalur berjalan kaki dari stasiun LRT yang kurang nyaman, nanjak :)
  • Idaman Residence di KLCC, hanya 5 menit berjalan kaki ke KLCC. Harga cukup tinggi, rata - rata RM 5000 ke atas. Ada satu unit yang kami suka tapi harganya RM 7000, terlalu mahal untuk kami. Fasilitas tidak terlalu banyak, menurut saya kurang cocok untuk family life.
  • Hampshire di KLCC, hanya 7 menit berjalan ke KLCC. Kami sempat viewing unit 2 kamar dengan harga RM 5500. Fasilitas sangat baik, kolam renangnya menyenangkan dan ada play area yang bagus sekali. Sayangnya dengan RM 5500 hanya dapat unit dengan 2 kamar.
Beberapa condo lain yang tidak sempat kami lihat tapi jadi favoritnya orang Indonesia antara lain :
  • Serimaya, high density building. Ada 6 tower, bahkan tower yang high rise-nya sampai 40 lantai. Kisaran harga sewa mulai dari RM 3500.  Naik LRT tinggal nyebrang jalan ke stasiun Setiawangsa.
  • Kampung Warisan, ini low rise hanya 4 lantai saja. Berkonsep resort, sangat hijau. Menyenangkan sebenarnya, sayang konon banyak nyamuk juga ular. Lokasinya di sebelah Serimaya. Harga sewa mulai dari RM 4000.
  • Marc Residence di KLCC. Harga sewa mulai dari RM 6000. Menurut saya over price karena unitnya kecil. Tetapi makan siang bisa jalan kaki pulang.
  • My Habitat di Ampang. Condo baru, harga sewa mulai dari RM 5000.
Semoga bermanfaat ya. Enjoy KL.

city view from our bed room



Sunday, January 12, 2014

Greetings from Kuala Lumpur

Alhamdulillah bisa kembali kesini, dan kali ini kami bertiga sudah nyaris resmi menjadi warga Kuala Lumpur. Sudah 1 minggu lebih tinggal di condo, sudah 1 minggu Cici sekolah dan sudah hampir 4 minggu di kantor baru. 

Bagaimana di tempat baru ?
Menyenangkan, alhamdulillah. Walaupun saat - saat pertama selalu menyedihkan ya. Mulai dari pencarian condo yang akhirnya berakhir manis, pekerjaan baru, lingkungan baru, teman - teman baru, gaji baru (belum ngerasain gajian hiks), sekolah Cici yang baru dan lainnya. Doakan selalu baik - baik saja. Alhamdulillah banyak sekali yang membantu kami selama ini, bisa panjang sekali kalau diceritakan disini. Semoga Allah SWT mencatatnya sebagai amal kebaikan.

Akhirnya bisa merasakan ke kantor bebas macet, horeee. Cici ke sekolah alhamdulillah bisa naik school bus. Alhamdulillah, Alhamdulillah, sungguh nikmat mana lagi yang kami dustakan, terimakasih ya Allah.

Ceritanya mana ?
Coming soon haha, di condo belum ada internet. Baru selasa besok dipasang, Unifi we need you muah muah. Nantikan serunya petulangan kami bertiga di Kuala Lumpur ya.

Sunday, December 8, 2013

Padi Open Water Course - Pulau Sepa

Sabtu, 30 November 2013
Tibalah hari yang dinanti hehe. Jam 5 pagi kami sudah meninggalkan rumah menuju Bintaro, mengantarkan Cici ke rumah teman kami - Neneng dan Hendrig. Jam 6 dari Bintaro, nyasar - nyasar dan alhamdulillah jam 7.15 kami sudah tiba di dermaga 19 di Marina Ancol, dermaga Pulau Sepa. Ramai sekali, banyak sekali rombongan yang akan berangkat ke Sepa, mulai dari rombongan divers temannya Mas Yonatan sampai rombongan Ibu - Ibu yang ternyata sedang reunian.

Dermaga 19 - Pulau Sepa di Marina Ancol
Jam 8 kapal berangkat dan jam 10 pas tiba di Sepa. Sepanjang jalan sukses tidur, enak banget angin sepoi - sepoi. Pulau Sepa sendiri mirip - mirip Pulau Putri ya, banyak pohonnya, sejuk. Lautnya biru tosca, bersih dan ademmm sekali nampaknya.

dermaga Pulau Sepa, adem lihat lautnya biru tosca
Saya dan Helmy dapat kamar Gurita 1, sedangkan Wahyu di Flipper. Kali ini bertambah dua lagi siswa, ada Enrico dan Josua. Total kami berlima plus Mas Yonatan sang instruktur.Kamar Gurita ini lucu, tidak ada dipan. Jadi bagian kasurnya ditinggikan dengan meninggikan lantai. Not bad lah, yang penting bersih, kamar mandinya juga ok, airnya payau tapi lumayan fresh juga. AC juga dingin, ada TV. Overall ok, jauh lebih bagus daripada kamar di Pulau Putri, walau sedikit lebih kecil.

Gurita 1
Ga pakai lama, jam 10.30 kami sudah siap di dermaga. Sudah pakai wet suit dan langsung set BCD, tabung dan regulator. Di dive pertama ini kami akan menyelam di sekitar dermaga, turun sampai 5 meter dan langsung knowledge review hehe. Dalam hati saya berjanji ga boleh panik, harus bisa..tenang aja, ga sampai makan siang udah selesai dan ini kan hanya 5 meter, sama kaya di kolam. Dive ke - 2 dan seterusnya harusnya udah santai.Selain kami berenam ada juga Mas Agus, beliau adalah instruktur dari Pulau Sepa, ikut bantuin Mas Yonatan untuk dive pertama ini. 

Full team minus Josua : May - Helmy - Mas Yonatan - Wahyu - Enrico
Selesai set BCD dan cek cek kami turun ke laut, ternyata lebih asik ya, visibility bagus, dan ternyata airnya ga seasin yang saya perkirakan. Turun, equalize, semua ok. Di awal kami belajar yang namanya CESA (Control Emergency Swimming Ascend), nah CESA ini adalah simulasi kalau seorang diver kehabisan oksigen dan jauh dari buddy. Tidak terlalu susah, semua lancar.

Setelah CESA kami turun lagi dan skill pertama adalah regulator recovery. Mas Yonatan seperti biasa memberi contoh dan satu persatu kami mencobanya. Saya kebagian terakhir karena posisi paling kiri, dan sebetulnya saya PD pasti bisa. Entah kenapa lagi - lagi ga bener pasang regulator, keburu pencet, air masuk, panik dan sukses naik ke atas. Duh sebel banget, karena sebenarnya di kolam kan udah bisa. Setelah nyoba beberapa kali di surface saya turun lagi, ulang lagi dan berhasil. Selanjutnya mencoba pakai octopus juga lancar. 

Panik attack berikutnya adalah mask clearing, entah kenapa saya ga berhasil membersihkan air di dalam masker, dan standar kepanikan adalah pengen naik ke atas yang saya tahu bahwa itu sebenarnya ga boleh dan berbahaya sekali. Untungnya Mas Yonatan dan Mas Agus buru - buru menahan, saya coba naik dan ditahan lagi, aduhh putus asa jadinya, air di masker udah banyak banget, ga kerasa udah banyak banget yang kehirup. Yang ada di kepala saya saat itu adalah pengen naik ke atas, dan udahan aja deh, ga jadi diving hehe. Mas Yonatan mencoba menenangkan saya, saya disuruh tarik nafas panjang dan kemudian disuruh mencoba membersihkan air di masker. Alhamdulillah berhasil, lega sekali. Mask replacement pun ok, alhamdulillah.

Tidak terasa 50 menit sudah, kami diajak bergerak menjauh ke air yang lebih dangkal, safety stop dan kemudian naik ke permukaan. Subhanallah, pengalaman pertama diving yang sesungguhnya, lega sekali rasanya. 

Setelah makan siang kami naik boat menuju pulau Tongkeng, kurang lebih 15 menit saja dari Pulau Sepa. Pulau ini adalah pulau pribadi milik Setiawan Djodi, hebat ya..bisa punya pulau hehe. Kali ini kami mencoba turun sambil back roll dari boat, asik banget ternyata. Dive ke 2 ini kami akan mencoba menyelam sampai 12 meter sambil praktek bouyancy. Awal awal masker saya lagi - lagi bermasalah, sampai akhirnya Mas Yonatan menawarkan untuk tukaran masker, dan ternyata memang beda harga beda kualitas. Maskernya enak banget. Dive ke 2 ini lancar dan menyenangkan, awal awal saya sempat kesulitan menjaga neutral bouyancy, bolak balik ngembangin - kempesin BCD, tapi akhirnya lancar...asikkk. Teman - teman lain juga sempat kesulitan di awal, Wahyu bahkan sampai naik ke surface :D

after dive Pulau Tongkeng
Besok paginya kami sudah siap - siap lagi, jam 8 pagi kami naik boat menuju Pulau Papa Theo, disini ada ship wreck. Kebayang pasti bagus. Dive ke-3 dan kami akan mencoba turun sampai 18 meter..wow gimana ya rasanya. Selain kami ber-6 kali ini ada rombongan lain yang juga sedang ujian open water dan 2 ibu-ibu yang akan fun dive. Di bawah berasa penuh, sampai bingung cari teman, semua hampir mirip. Visibility bagus sekali, ship wreck keren dan 18 meter itu sesuatu. Makin dalam, pressure bertambah dan nafas bertambah berat. Sesaat saya sempat merasa kehabisan udara. Sampai di atas Helmy sempat muntah, Enrico mimisan parah, mabok semua hehe.

siap - siap dive 3 - Pulau Papa Theo : Helmy - Mas Yonatan - May - Wahyu
jam terbang 3x dive versus > 4 kali ngereset dive com or at least > 4000x dive
Kembali ke Sepa dan kami duduk - duduk di dermaga sambil surface interval. Dive ke 4 ini udah pada malas, tadi pagi kayanya udah puncaknya. Pengennya kalau boleh ngabur hehe, untung kebagian satu tim kompak, Mas Yonatan juga asik orangnya. Ga kebayang kalau ikut di tetangga sebelah ujiannya :p

Dive terakhir ini agak menyebalkan, kami dive di sekitar dermaga. Sebetulnya ga banyak yang dilihat karena pasir semua. Visibility kacau dan disini bouyancy saya parah banget. Helmy sampai BT haha. Bolak balik narik saya yang bolak balik turun naik. Tapi ya memang susah saudara, ga keliatan apa - apa karena yang lainnya juga sibuk main pasir.

Jam 12.30 selesai semuanya, InshaAllah kami semua lulus, tinggal ujian tertulis saja. Makan siang, packing dan jam 2 kami pulang ke Jakarta.

Rasanya lega sekali, underwater world itu menakjubkan ya. For sure will be back soon. Terimakasih untuk Helmy dan Wahyu yang sudah menemani, juga Enrico dan Josua teman senasib di pulau. Big thanks untuk Mas Yonatan yang super sabar, cool dan asik, very recommended instructor

Go deeper underwater !

nyaris certified PADI Open Water Divers :)
PR : nurunin berat badan, yoga, nabung beli BCD, regulator dan dive trip :D

Friday, December 6, 2013

PADI Open Water Course - Part 1

Katanya sih, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Setuju sekali, dan akhirnya setelah menunda hampir 13 tahun akhirnya saya nyaris certified sebagai Padi Open Water diver..horeee. Kenapa nyaris, soalnya ujian teorinya belum sempat, InshaAllah selasa depan, dan sah sudah :D.
Source : http://www.supremescuba.co.uk/open-water-diver.php
 Jadi sebenarnya sudah dari jaman kuliah dulu saya penasaran dengan yang namanya diving. Tahun 2000 saya sempat 1 kali ikut latihan bersama unit selam ITB tapi sayang tidak berlanjut. Gara - gara kapok disuruh mask clearing dan berenang 200 meter. Huh memalukan memang. 

Tahun 2004 saya sempat 1 kali ikut kelas teori di Bubbles Dive, waktu itu kantornya masih di Citos. Sayangnya gagal lagi, waktu itu saya terlanjur pindah bekerja ke Balikpapan dan tidak memungkinkan ikut ujian ke pulau. Tertunda lagi.

Saat sudah menikah beberapa kali saya mengajak suami untuk bersama - sama ikut kursus ini, tapi kok ya susah ya, secara suami tidak bisa berenang dan cenderung water proof :D. Selain itu pertimbangan biayanya juga kok ya mahal banget.

Tahun 2013 ini ada kemajuan, teman saya Mario yang sudah jadi PADI instructor menawarkan untuk jadi guru kami. Tapi kok ya susah sekali menyamakan jadwal, secara Mario tinggal di Sorowako sedangkan kami di Jakarta.

Sampai akhirnya Agustus 2013 kemarin, teman saya Ilo dan Wahyu memaksa kami untuk ikut kursus selam. Ilo ingin belajar karena dia akhir September mau pindah ke Jerman, inginnya sudah certified sebelum pindah kesana. Sedangkan Wahyu karena dia ada rencana field trip ke Misol di bulan September, inginnya disana bisa menyelam.

Baiklahhh, akhirnya kami berempat siap :). Step berikutnya tentu memilih institusi penyelenggaranya. Di Jakarta banyak sekali pilihan dive center, ada Lautan Mas, Dive Master, Ody Dive, Planet Diving, Bubbles Dive, banyak. Semuanya bagus, dan harganya juga beda - beda tipis. Bikin bingung. Sampai akhirnya Planet Diving menawarkan promo Open Water PADI Course dengan harga IDR 5,000,000 per orang, sudah termasuk ujian ke pulau plus bonus wet suit Oceanic. Sip banget kan, mengingat harga wet suit saja sudah diatas 1 juta rupiah. Selain itu menurut Mario Planet Diving juga oke kok, pemilik Planet Diving dikenal sebagai diver yang mumpuni soal safety dan lainnya.

Menurut web-nya PADI, Open Water Diver Course merupakan starting point bagi para divers pemula. Pre-requisites nya antara lain berumur minimal 10 tahun, fit for diving dan bisa berenang. Haha untuk point terakhir ini 3 diantara kami berempat sudah tidak lolos. Tapi katanya sih dengan belajar diving akhirnya bisa berenang lho, baiklah kita maju terus.

Source : http://www.padi.com/scuba/padi-courses/diver-level-courses/default.aspx
 Materi belajar untuk Open Water Dive ini dibagi menjadi 3 bagian : teori di kelas (knowledge development), praktek di kolam (confined water dives) dan minimum 4 kali diving di laut yang dikenal sebagai ujian ke pulau. Sebagai syarat kelulusan ada ujian teori sebanyak 50 soal dan minimum hanya boleh salah 12, waktunya 1 jam sajah.

Sayangnya di bulan September itu mendadak saya harus ke rig 10 hari. Akhirnya Ilo batal ikut karena harus berangkat ke Jerman dan Wahyu pun berangkat ke Misol :D. Objective tidak tercapai, tapi terlanjur basah kami bertiga maju terus. Kelas teori sebanyak 2 kali dilakukan di kantor Planet Diving di depan kolam renang Senayan. Kami menonton video sambil sesekali Mas Yonatan - instruktur kami menjelaskan beberapa hal secara lebih detil. Menarik, walau menontonnya sambil terkantuk - kantuk di malam hari.

Oya Mas Yonatan alias Apaw ini sudah menyelam selama 18 tahun lebih lhoo, kalau manusia udah mau masuk kuliah aja. Jadi ceritanya beliau awalnya belajar selam di Unit Diving Trisakti, keterusan sampai akhirnya jadi profesi. Beliau jadi instruktur sejak tahun 2001. Waktu saya cerita ke Mario ternyata mereka saling kenal, ah dunia sempit.

Kelas kolam kami yang pertama dilakukan di hari Minggu, bulan Oktober 2013. Karena wet suit-nya belum diambil kami masih pakai baju renang saja. Pertama kalinya mencoba memasang BCD ke tabung, regulator, dll sendiri..asik. Setelah siap langsung ke pinggir kolam dan belajar cara nyemplung ke air. Deg degan seru. Jadi sebenarnya walau saya bisa berenang tapi kan saya orangnya panikan, haduh ga tau deh bagaimana ceritanya nanti di bawah sana.

Kami berempat perlahan - lahan masuk ke air, 5 meter saja, tapi turunnya berasa lama banget. Kempeskan BCD, bernafas perlahan dan jangan lupa equalize, pengalaman pertama bernafas di dalam air yang ternyata bikin tenggorokan kering. Hiks karena belum biasa kali ya. Di pengalaman pertama ini ternyata yang namanya equalisasi itu susah ya, padahal teorinya gampang, tutup hidung, tarik nafas panjang, mirip - mirip kalau kita lagi naik pesawat. Bolak - balik nyoba sampai akhirnya telinga saya ga sakit lagi.

Sampai di dasar kolam, ternyata ga mudah menjaga yang namanya neutral bouyancy. Beberapa kali kami bertiga bergantian naik ke atas hehe, Mas Yonatan bolak - balik narik salah satu dari kami yang naik ke atas. Ternyata kuncinya di nafas, harus teratur, panjang, perlahan dan dalam. Jangan buru - buru biar ga boros dan tenggorokan ngga kering.

Pelajaran selanjutnya adalah regulator recovery. Jadi ceritanya kita belajar bagaimana memasang kembali regulator yang terlepas di dalam air. Selalu Mas Yonatan akan memberi contoh dan kemudian satu - persatu kita mencoba. Melihatnya kok ya gampang ya. Helmy dan Wahyu sukses dan saya gagal hehehe, di percobaan pertama itu saya belum memasang regulator dengan benar, akhirnya air malah sukses masuk ke mulut, menghasilkan kepanikan dan buru - buru naik ke atas. Rasanya ga enak banget, sampai di atas akhirnya disuruh latihan dulu di surface, setelah PD saya turun lagi, mencoba lagi dan berhasil.

Setelah sukses di regulator recovery, selanjutnya kami belajar menggunakan Octopus atau alternate air source. Ceritanya udara kita habis dan kita harus minta kepada teman. Tidak terlalu susah ternyata, sambil mencoba memakai octopus kami belajar bergerak sambil berpegangan tangan.

Berikutnya yang lumayan mimpi buruk, mask clearing. Melihat contohnya sepertinya gampang, tapi prakteknya ternyata susah. Tapi alhamdulillah semua berhasil, hore.

Kelas kolam kedua kami lakukan hari Rabu di minggu yang sama, malam hari jam 7. Pelajaran pertama adalah melepas weight belt dan BCD di dalam air, kemudian memasangnya lagi. Tidak terlalu susah, semua lancar. Free flow regulator breathing juga sukses, semua bisa. Sampai akhirnya mask replacement, ini dia mimpi buruk selanjutnya. Sesuai namanya kita belajar bagaimana melepas masker di dalam air dan memakainya kembali. Wahyu mencoba pertama kali dan gagal sampai akhirnya Wahyu naik ke atas. Haduh tambah deg - degan aja, giliran kedua adalah saya, dan gagal juga. Susah sekali mask clearing setelah masker terpasang dan akhirnya saya ikut - ikutan naik ke atas. Setelah mencoba di atas saya turun lagi, mencoba dan bisa :D. Helmy juga bisa, sukses di percobaan pertama.

Kelas kolam ketiga baru kami lakukan di minggu terakhir November 2013, beberapa hari sebelum ke pulau. Saking lama jedanya berasa belajar lagi dari awal. Kali ini kami sudah pakai wet suit semua. Pelajaran kali ini mengenai bouyancy, kalau 2 pertemuan pertama udah susah, ternyata yang ini paling susah. Bolak - balik kami naik turun karena belum bisa bernafas dengan baik. Karena lagi pilek saya terpaksa berhenti latihan, mendadak telinga sakit sekali dan tidak bisa equalize.

Di akhir kelas kolam ini kami sama - sama saling menyalahkan, jadi sebenarnya siapa sih dulu yang ngajakin kursus diving :D. Sampai hari Jumat siang Wahyu masih bilang kalau dia males banget ke pulau, sama sih..sebenernya saya juga malas dan agak takut wkwkwkwk. Ga kebayang harus mengulang semua praktek di kolam di air laut. Tapi ya mau gimana lagi, beneran udah nanggung. Beberapa hari terakhir berusaha keras menyembuhkan pilek, minum panadol , redoxon dll. Semoga tidak pilek lagi hari Sabtu nanti.