Pages

Friday, July 11, 2008

Ranca Upas Summer Camp

summer camp

Karin
Tante punya no telepon ngga ?
Punya dong Karin...kenapa gitu ?
Karin boleh minta no telepon Tante ngga ?
Boleh, ini no – nya : 081**********
Makasih ya Tante, nanti Karin mau telepon Tante, biar Karin bisa main kesini lagi.
Asikkkkk...sejak saat ini saya resmi jadi pemilik bumi perkemahan Rancaupas, setidaknya menurut Karin :)



Ceca jam 8 pagi -  hari Minggu
Tante, Ceca belum mau pulang !
Engga kok Ceca, kita belum mau pulang, kita mau jalan – jalan , ke kawah

Ceca jam 3 sore – hari Minggu – persiapan pulang
Ceca ngga mau pulang, Ceca mau tinggal disini aja !

Ceca tetap nangis ngga mau pulang, padahal rencana awal kita pulang hari ini jam 3 sore, ketika kami semua saling berpamitan, Ceca masih menangis ingin tinggal di sini saja.

Now I see the secret of the making of the best persons. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth # Walt Whitman, Song of the Open Road

Thursday, December 13, 2007

Homework from Dita, my 2008 resolution


I was tagging by Dita to share my resolution.

17 hari menuju tahun yang baru. Saya lupa kapan terakhir kali saya membuat resolusi di awal tahun. Yang masih saya ingat adalah resolusi saya di tahun 2003, yaitu lulus kuliah dan bekerja. Untuk mewujudkannya saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak main game sampai lulus. Dan percayalah itu sangat susah kawan. Tapi saya bisa dan balas dendam hampir sebulan main game terus - terusan selepas sidang . Selepas itu sepertinya saya ngga pernah buat resolusi apapun..Hmmm..

Thank you Dita for tagging me. Here my resolution (wish lists for the next 2008). Kuncinya adalah berdoa, bekerja keras dan tetap bersemangat !

getting better dalam semua hal, terutama dengan hubungan dengan yang di atas - Allah SWT, dan orang tua. Wajib yang kadang tertunda hingga sunat yang hampir terlupakan. Mencoba melakukan sesuatu yang berguna untuk orang lain dan lingkungan di sekitarku.

family expansion pack InsyaAllah akan dilakukan, dan akibatnya akan berlanjut dengan hubungan kekerabatannya, pindah bersama ke tempat tinggal baru yang sudah kita rencanakan Beb.. jadi orang Bogor coret, akan punya imam seumur hidup, teman serumah lagi, supir pribadi, tukang poto anak - anak hingga porter abadi sepanjang masa hue he he

geologist nampaknya sudah menjadi takdir, a big plan and a big job next year, very challenging dan bertekad untuk berbuat yang terbaik, ngedeskripsi core dan berangkat ke lapangan ternyata asik juga, jauh banget dibanding jadi kick of memo engineer ;p

back to school semoga juga bisa terlaksana, semoga pada saatnya saya masih memiliki keinginan yang sama :)

JALAN - JALAN ditulis pake hurup gede semua kaya Kakak Pertama, mudah - mudahan punya cukup rejeki dan ada kesempatan, tetep melestarikan moto hidup untuk menaikgunungkan masyarakat dan memasyarakatkan naik gunung, dan tetep pada keyakinan bahwa gembel adalah gaya hidup, semoga field trip bulan Agustus jadi, semoga bisa bertemu Irianti dan ujung barat

saving semua yang bisa disaving, mulai tersadar hampir sangat-sangat boros, mulai berfikir jauh ke depan, try to save and investing

our big plan untuk menyalurkan hobi saya dan Helmy yang ga jauh dari urusan jalan - jalan, tulas - tulis, masak - masak, poto - poto, lenroper - lenroperan, dan sebangsanya. Semoga rencana yang sudah ada di kepala ini bisa terlaksana ya Beb. Mewujudkan cita - cita yang belum terlaksana, bersama kita bisa. Wait for our invitation :)

Nampaknya cukup, tahun depan nampaknya belum ada acara pindah kantor, belum ada pikiran pindah dari Jakarta, belajar menikmati jadi orang Bogor coret. Mencoba melaksanakan pesan Aki : kerjakanlah segala sesuatunya dengan tekun. InsyaAllah yang lainnya akan mengikuti.

Alhamdulillah ya Allah untuk tahun 2007 ini. Teman - teman semua, thank for all of your supports.I wouldn't tagging anyone else. But I suggest you to make your own resolution. For me it's very useful to learn about my self and to find know what we need to do.

Bismillah..2008 kami datang 

2007

Wednesday, December 5, 2007

Holding On - A Story About Love and Survival

Hal apakah yang ingin kita lakukan bersama – sama dengan pasangan kita ? Tentu akan banyak sekali jawabannya. Mulai dari sekedar ingin menghabiskan weekend bersama di rumah setelah 5 hari lelah bekerja, travelling bersama ke tempat – tempat indah di muka bumi, hingga bersama mendaki puncak – puncak gunung tertinggi. Semua intinya adalah kebersamaan.

Rob dan Jo Gambi memberikan jawaban yang terakhir. Dalam periode 3 tahun (2003-2005) mereka bersama – sama mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua (seven summit), melakukan perjalanan ski ke Kutub Utara dan Kutub Selatan, juga pendakian beberapa puncak lainnya. Mereka berdua adalah first married couple yang mendaki seven summit. Jo juga memegang rekor Guinness World sebagai pendaki wanita yang paling cepat menyelesaikan seven summit. Kisah mereka berdua ditulis oleh Jo dan kemudian diterbitkan setelah mereka kembali tinggal dan bekerja di London.

Mungkin banyak kisah pendakian – pendakian lainnya yang pernah ada. Tapi latar belakang Rob dan Jo sangat mengharukan bagi saya. Mereka berdua bertemu pertama kali di London pada 17 Juni 1995. Saat itu Rob dan Jo bersama – sama berlatih sailing di akhir pekan. Rob lahir di Australia, perpaduan antara Swiss dan Italia sedangkan Jo adalah keturunan British asli. Mereka berdua tinggal dan bekerja di London. 

Pertemuan mereka yang kedua adalah ketika Jo dan sahabat wanitanya berlibur untuk mendaki ke Chamonix, Perancis. Rob menemui Jo disana dan akhirnya mereka melakukan pendakian dan liburan bersama. Bagi Rob ini adalah debut pertamanya. Jo adalah seorang pendaki gunung, ia terbiasa melakukan perjalanan untuk hiking dan climbing sedangkan Rob belum pernah mendaki sama sekali. Minggu pertama Rob di Chamonix adalah climbing private lesson, dengan satu tujuan agar bisa mendaki bersama Jo. 

Mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah pada bulan September 1996. Saat itu Rob berusia 37 tahun dan Jo 26 tahun. Setelah menikah Jo berhenti dari pekerjaannya di Marks Spencer, mengambil kursus Physiotheraphy dan bekerja sebagai volunteer di Hammersmith Hospital. Rob meneruskan pekerjaannya sebagai seorang Manager Keuangan yang sibuk. Di bulan – bulan awal pernikahan mereka telah menyadari bahwa kesibukan bekerja membuat frekuensi kebersamaan mereka sangat sedikit. Tetapi mereka tetap berusaha meluangkan waktu bersama di saat liburan terutama dengan mendaki gunung, sailing, dan berbagai kegiatan outdoor lainnya.

Desember 2000, Rob divonis menderita kanker dan harus menjalani kemotherapi. Hal ini sangat mengagetkan bagi mereka berdua. Walaupun Rob saat itu bisa sembuh, namun tidak ada jaminan penyakit ini akan hilang selamanya. Bulan September 2001 dan kondisi Rob terus menurun. Saat itulah Rob dan Jo mulai banyak berpikir mengenai mimpi-mimpi, harapan dan keinginan – keinginan mereka. 

”But more than anything, we simply wanted to have some quality time together. Long before Rob became sick we had started saving to take a break so we could go traveling, but our dreams had long since been filed away. Now we were daring to dream once more. We were still fascinated by the greater ranges and we realized our dreams would stay dreams if we didn’t take action to convert them into reality”

Akhirnya mereka kembali membicarakan rencana – rencana mereka mendaki ke Himalaya, mendaki puncak tertinggi : Everest dan juga puncak – puncak lainnya. Sebuah keputusan diambil, saat itu Rob dinyatakan sehat walaupun ada kemungkinan penyakit kanker-nya akan kambuh lagi. Rob dan Jo akan pergi mendaki puncak – puncak yang mereka inginkan. Mereka akan meninggalkan London untuk sementara yang berarti juga berhenti bekerja.

Maret 2002 dan Rob mengundurkan diri dari pekerjaan yang telah ditekuninya selama 20 tahun. Jobless, menjual rumah, berbekal uang tabungan dan mereka berdua mulai membicarakan rencana perjalanan impian mereka. Tujuan mereka sudah jelas, mendaki seven summit bersama, atau minimal 6 diantaranya ..bersama – sama. Latihan fisik yang ketat diikuti dengan sejumlah simulasi pendakian di Alps mereka lakukan. Dan merekapun siap melakukan petualangan mereka yang pertama.

Selanjutnya sangatlah menarik. Jo dengan sangat detil menceritakan kisah pendakian mereka di setiap gunung juga perjalanan mereka ke Kutub Utara dan Kutub Selatan. Mereka pernah gagal dalam percobaan mereka di Himalaya karena Rob mendadak sakit dan harus dievakuasi ke Thailand. Namun mereka kembali lagi dan berhasil. Pendakian yang mereka lakukan semua punya cerita yang menarik.

Kisah mereka bukanlah sekedar bagaimana mencapai puncak sebuah gunung, atau bahkan menaklukan sebuah gunung. Kisah Rob dan Jo adalah pelajaran mengenai kebersamaan dan cinta, juga kisah sebuah keberanian bertahan hidup walau kanker menyerang. Wajib dibaca :)

Holding On is not just an enthralling account of mountaineering and polar achievement; it is a powerful and emotional story of love and survival against the odds. The Gambis were seized by an almost superhuman will to show that cancer had no beaten them – Sunday Times. Extreme weather, grueling climbs and the risk of death were all part of the experience for couple Jo and Rob Gambi, who took on the world’s tallest mountain – and cancer – and won. – Sunday Magazine Australia

Category: Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author: Jo Gambi

Wednesday, November 28, 2007

Tempat yang Indah itu Suryakencana Namanya


Sebagian foto dari liburan akhir minggu kemarin di Suryakencana. Kalau boleh dibilang, inilah salah satu tempat terindah di muka bumi.

Liburan terbaik dengan saudara - saudara terbaik. Pembuktian bahwa gembel bukanlah pilihan tapi gaya hidup :)

Alhamdulillah untuk cuaca yang sangat cerah, terimakasih Allah. 
Orangtua tua kami semua, terimakasih telah membesarkan kami sehingga kami punya kesempatan berkunjung ke tempat - tempat indah di muka bumi ini.
Brothers dan Sister, teman perjalanan yang menyenangkan.
Helmy yang udah nyiapin semua barang sebelum berangkat, nganterin ke Leuwipanjang sampe packing di depan terminal he he, juga young brother Iban yang rela tidur di warung demi ngambilin ijin untuk kita. Luv you all. 

Ayuk kita jalan - jalan lagi. 

Dan sebuah sms di pagi hari Senin kemarin : "Welcome to real life Brother and Sisters" . 

Semangat :)

numpang tidur di Mesjid Gunung Putri
siap berangkat, gagah perkasa
tujuan masih jauh
namun akhirnya kami tiba juga
di Suryakencana
celebrating the KMPA sisterhood
and as a big family
Dony Medic - May - Heidy - Yoga
morning view
kemah kami
sarapan :)
mari pulang, puncak bukanlah tujuan
yang terpenting adalah kembali dengan selamat, di kehidupan nyata

Thursday, October 11, 2007

Memaafkan dan Meminta Maaf


Nanti malam InsyaAllah saya akan pulang ke rumah, ke Cimahi. Bukan pulang yang biasa, tapi pulang mudik Lebaran. Senang, saat yang ditunggu - tunggu. MInggu - minggu terakhir Ramadhan Mami dan Helmy selalu mengulang - ngulang pertanyaan yang sama : "Kapan pulang ?" he he padahal udah jelas bakal pulang hari Kamis. Tadi pagi sudah packing, 1 travel bag plus 1 carrier plus 1 kresek isi sepatu gunung plus oleh - oleh dodol betawi dari Ibu Kost.

Teringat ceramah salah seorang Ustad yang mengisi kajian siang di kantor saya dua minggu yang lalu : "Paling sulit adalah memberi maaf bukan meminta maaf". Dan saya rasa omongan beliau benar sekali. Meminta maaf terasa lebih mudah bagi saya, karena kita tahu kita yang salah. Akan tetapi memaafkan terkadang sangat sulit, sulit untuk membebaskan semua rasa sakit atau susah yang ada di dalam sini. Tapi sesudahnya akan terasa indah, memaafkan dan meminta maaf.

Tidak pernah ada kata terlambat, mohon dimaafkan semua kesalahan dan kekhilafan saya lahir dan batin. InsyaAllah saya berusaha memaafkan kalian semua 

Selamat merayakan hari Lebaran bersama keluarga dan orang - orang tercinta. Selamat mudik dan selalu : safety first. 

"Allahumma balaghnaa Ramadhaana - Ya Allah ijinkan kami bertemu dengan Ramadhan selanjutnya"

Friday, October 5, 2007

Garing dan Gurihnya Fish and Chips

Salah satu hobby saya adalah makan dan memasak. Hobby saya yang lainnya adalah jalan – jalan. Bisa dibilang kedua hobby ini saling mendukung, simbiosis mutualisme-nya sangat menguntungkan, sering berjalan – jalan dan berkunjung ke tempat yang baru memberi saya kesempatan untuk mencicipi makanan lokal. 

Kalau istilahnya Om Bondan Winarno : wisata kuliner. Dalam kamus jalan – jalan saya tertulis : cicipi makanan lokal, kalau bisa yang asli buatan dapur rumah tangga, dan jangan pernah makan di tempat/restaurant yang sama.

Selama perjalanan itu di Indonesia saya sangat berbahagia, cita rasa masakan Indonesia sangat cocok dengan lidah saya, manis – pedas – asin atau campuran ketiganya masih bisa cocok, apalagi kalau pedas dan gurih, cucok banget. Ngga masalah walau bentuknya kaya lem sekalipun (itu lho bubur sagu alias Papeda kalau di Maluku, Sinonggi kalau di Sultra atau Palopo Kapurung kalau di Sulsel). Tidak jarang sepulang bepergian saya punya resep masakan baru.

Masalah kadang muncul apabila saya kebetulan bepergian ke luar negeri. Selama masih di daerah Asia Tenggara tidak masalah tentunya. Akan tetapi permasalahan kadang muncul di negara – negara yang tidak memilih nasi sebagai makanan pokok, karena rata – rata rasanya ajaib di lidah saya, makanannya dingin, dan plain alias datar – datar saja tanpa rempah dan pedas. Ditambah sulitnya memastikan halal atau tidaknya daging yang digunakan. Untuk amannya saya lebih memilih untuk makan ikan dan berbagai jenis sayuran.

Ketika akan berkunjung ke Inggris bulan lalu, teman – teman yang sudah pernah kesana semua punya pendapat yang sama : “Makanannya ga enak, pasti dingin, susah cari makanan halal, jangan lupa bawa sambel, mie instan, dll”. Saya sepakat dan mengikuti saran tersebut, di koper saya tersimpan rapi 2 botol saus sambal dan 6 bungkus mie siap seduh. Satu botol malah saya taruh di daypack, biar siap sedia kapan saja.

Hari pertama saya di Inggris masih selamat dan sejahtera karena saya hanya makan kue – kue dan coklat. Kalau ini cocok selalu dimanapun dan kapanpun. Hari kedua juga selamat karena teman yang kebetulan tinggal di London mengajak saya makan di restoran Malaysia dan Chinese. Nah di hari ketiga ketika saya sudah tiba di Wareham, inilah British yang sesungguhnya. Ketika check in saya diminta memilih menu untuk dinner malam itu. Nama makanannya bagus – bagus, ada penjelasannya walau ga ngerti – ngerti banget. Daripada bingung saya memilih menu berbahan dasar ikan. Mudah – mudahan selamat.

Waktu makan malam tiba, makanan saya hari ini lumayan, ikan-nya walau agak hambar tapi rasanya lumayan enak. Hari kedua dan seterusnya adalah bencana. Saat itu kami mulai bekerja di lapangan. Otomatis makan siang kami adalah lunch box  dari hotel yang sangat British : 4 buah sandwich, coklat, biscuit, juice buah dan apel. Karena kelaparan mau ga mau sandwich British ini saya makan juga, untunglah ada saus sambal penyelamat. Makan malam seperti biasa, ikan yang rasanya aneh atau vegetarian lasagna. Mba Mba hotel sampai hapal dengan pilihan saya.

Hari keempat di Wareham, saya dan teman – teman bukan British ternyata menyepakati hal yang sama : Makanannya kurang cocok dengan selera kita. Kita mengajukan complain ke pihak hotel dan berharap untuk bisa mendapatkan international food, jangan British terus (soalnya di dinding hotel ada piagam penghargaan yang menyebutkan hotel yang saya tempati adalah the best British food di seluruh negeri). Tapi ga mempan, selain sandwich dingin, alternatif makan siang kami adalah salad dan berbagai macam ham dingin. Sedihnya.

Rasa ga cocok kami terhadap makanan British makin menjadi hingga suatu hari di Bridport Bay yang cantik. Saat itu kami akan makan siang dan lunch box kami seperti biasa isinya 4 potong sandwich dingin. Semua orang sudah mengomel ga keruan. Rodriguez – teman saya yang orang Colombia memilih tidak makan dan membagi – bagi sandwich-nya walau tidak satupun yang mau menerima. Tiba – tiba, Wendy yang kelahiran Somerset datang membawa bungkusan besar dan membukanya di depan kami semua. Langsung terlihat kentang yang digoreng kering, potongannya besar – besar dan hangat pastinya. Ada lagi gorengan besar di sana : ikan goreng berbalut tepung yang garing. Pelengkapnya ada saus tomat dan saus tartar. Ini dia Fish and Chips yang terkenal itu ! Satu porsi sangat besar ukurannya. Akhirnya kami ramai – ramai mencoba Fish and Chips-nya Wendy. Rasanya pas dan luar biasa. Setelah sekian lama hanya makan sandwich  dingin akhirnya ketemu juga yang garing dan gurih di Inggris.

Rasa penasaran saya tentang Fish and Chips terjawab sudah, dan rasanya memang luar biasa, sejak saat itu saya mulai kecanduan dengan garingnya Fish and Chips. Malam harinya, Claire yang orang London asli bercerita : Fish and Chips adalah makanan Inggris yang paling populer, dimana – mana bisa ditemukan dengan mudah Fish and Chips shop yang bentuknya kedai. Mungkin sama dengan kedai burger kalau di Amerika atau kedai pizza di Italia. Biasanya Fish and Chips jarang dimakan di restoran (soalnya kedai yang menjual pun biasanya tidak menyediakan tempat duduk). Jaman dulu kala biasanya Fish and Chips dibungkus kertas koran yang sangat banyak, digulung kemudian diserahkan ke pembeli. Biasanya orang menikmati Fish and Chips di taman, hmm memang nikmat tampaknya. Tapi saat ini kertas koran tidak pernah digunakan lagi, para penjual beralih ke kertas putih atau bahkan banyak juga kedai yang menggunakan kemasan sterofoam.

Hari – hari saya di Inggris akhirnya menjadi hari – hari untuk mencicipi berbagai jenis Fish and Chips. Fish and Chips saya yang kedua saya nikmati di sebuah restoran British yang namanya The Duke of Wellington di Wareham. Inipun secara tidak sengaja. Sebelumnya ketika berjalan kaki dari hotel saya melewati sebuah kedai Fish and Chips, wanginya menggoda sekali, maksud hati ingin mampir tapi teman saya ingin mencoba makan malam di restoran British. Tiba di restoran saya otomatis memilih menu ikan, asal pilih karena ga ngerti. Ternyata yang datang di hadapan saya adalah Fish and Chips, sepiring besar kentang goreng ditambah ikan goreng tepung yang luar biasa besarnya, potongan jeruk nipis dan kacang polong. Rasanya luar biasa dan porsinya luar biasa besar, walau sudah dibantu teman- teman, Fish and Chips itu masih tersisa. Seorang teman berkomentar : ikannya besar sekali, seperti ikan hiu : Shark and Chips.

Besoknya kami mencoba makan malam di sebuah kafe, masih di Wareham, namanya Kings Arms. Seperti biasa menu ikan, asal pilih saja dan ternyata yang datang Fish and Chips juga. Cuman yang ini agak berbeda, ikannya dibentuk seperti fillet dan digoreng berbalut tepung panir. Pendampingnya masih sama, kentang goreng renyah yang gede – gede itu, potongan jeruk nipis dan kacang polong. Rasanya juga masih sama : luar biasa enak.


Setelah tanya – tanya, ternyata memang ada dua jenis Fish and Chips yang umum, yaitu batter dan breadcumbs. Di buku menu memang ada dua pilihan ini :
  • Battered Cod fillet : deep fried in our own batter served with fries, peas and salad garnish
  • Breaded Whole Tail Scampi : in crumb coating served with fries, peas and salad garnish

Shark and Chips saya pasti masuk kategori ke 2 yang whole tail itu, sedang fish di King Arms masuk kategori yang battered. Mana yang paling enak ? Menurut saya dua – duanya enak.

Perkenalan saya dengan Fish and Chips yang ketiga adalah saat makan siang di hotel. Ini adalah makan siang kami terakhir di hotel. Entah kenapa setelah sekian lama akhirnya Sang Koki menyediakan makanan yang enak he he. Sayangnya saya tidak sempat motret ikan yang ini, sudah keburu ludes.

Mbah Wikipedia bilang, Fish and Chips bukan saja populer di Inggris, tapi juga di Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, Irlandia, Afrika Selatan, Denmark, Norwegia hingga Belanda. Nama di setiap Negara tentu berbeda – beda, di Belanda disebutnya Lekkerbek. Cara penyajiannya juga berbeda tapi sebetulnya masih sama : ikan goreng disajikan dengan kentang goreng.

Kalau di Inggris dan Negara persemakmurannya, kentang goreng disebutnya chips, potongannya tebal dan besar – besar. Sedangkan orang Amerika dan Kanada memotong kentang dengan ukuran yang lebih tipis, disebutnya french fries. Kalau lagi di Inggris, Haddock dan Cod adalah ikan yang paling banyak digunakan.

Fish and Chips mulai populer sejak pertengahan abad 19. Mbah Charles Dickens menyebutkan istilah “fried fish warehouse” dalam bukunya Oliver Twist yang diterbitkan pada tahun 1838.

Perjumpaan terakhir saya dengan Fish and Chips adalah di sebuah kedai kecil di Edinburgh. Memang sudah diniatkan, ingin mencoba Fish and Chips di kedai asli. Dan karena kelaparan lagi – lagi lupa ngga difoto. Uniknya, kedai yang saya datangi ini ternyata memperoleh penghargaan dari Guinnes World of Record dan British Potato Council. Café PICCANTE dianugerahi penghargaan : “The most portions of chips wrapped in 1 minutes”. Terlepas dari penghargaan itu, kedai kecil ini sangat ramai, dan fish and chips batternya memang sangat enak. Paling enak dari semua fish and chips yang pernah saya cicipi. Uniknya di sini, selain saus tomat ada pilihan saus lain yang merupakan kombinasi spirit vinegar, ketchup dan brown sauce, disebutnya chippie sauce. Konon ini merupakan saus asli dari Edinburgh.

Ini dia makanan British yang paling cocok dengan lidah saya, walau memang sangat tinggi lemak (deep fried) dan minim serat (hanya kacang polong). Suatu saat ingin rasanya kembali ke Inggris dan makan fish and chip lagi.

Friday, September 28, 2007

Kebun Binatang Mini di Bitung


Sebetulnya ini cerita jalan - jalan lama, Januari 2007 lalu. Ceritanya saya resign dari kantor di Balikpapan dan punya waktu 10 hari untuk jalan - jalan sebelum mulai bekerja kembali jadi tukang batu di Jakarta. Akhirnya dimanfaatin untuk jalan - jalan muter - muter di Sulawesi dan Maluku Utara.

Nah salah satu yang menarik adalah cerita dari Bitung. Tentang kebun binatang mini yang ada disana. Bitung yang ini tidak ada kaitannya dengan Belitung alias Belitong, Bumi-nya Laskar Pelangi. Lain pulau lain juga ceritanya. Bitung yang ini adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di pantai timur Provinsi Sulawesi Utara. Jaraknya dari Menado - ibukota Provinsi Sulawesi Utara, tidak terlalu jauh. Satu jam saja berkendaraan dengan kondisi jalan yang cukup baik.

Salah satu hal menarik di Bitung adalah kebun binatang mini yang letaknya di tepi pantai. Kebun binatang ini dikelola oleh penduduk setempat yang bernama Bapak Toku Malohing. Sebutan penyayang binatang layak diberikan kepada beliau. Sejak beberapa tahun yang lalu Pak Toku telah menyediakan lahan miliknya untuk memelihara sekitar 40 jenis binatang langka dan unik, termasuk sepasang Tarsius dan sepasang Babi Rusa alias Anoa. 
  
Tarsius adalah sebutan populer untuk monyet mini yang merupakan hewan endemik Sulawesi Utara. Ukurannya benar - benar mini, hingga pantaslah Tarsius ini dijuluki sebagai primata terkecil di dunia. Beratnya kuranglebih 120 gram, tinggi 15 cm dan hebatnya panjang ekornya bisa mencapai 20 cm, lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Mini dan mungil seperti anak ayam. Wajahnya seperti burung hantu, tubuhnya seperti tikus dengan kepala yang bisa digerakkan memutar hampir 360 derajat. Dan yang lebih mengagumkan, ternyata Tarsius mini ini bisa melompat hingga 10 kali panjang badannya sendiri.

Tarsius
Aslinya habitat Tarsius adalah di hutan – hutan di Pulau Lembean dan Sangihe, Sulawesi Utara. Selain itu Tarsius juga bisa dijumpai di Taman Nasional Tangkoko – Batu Angas Dua Saudara, sebuah taman nasional yang terletak sekitar 30 km dari Bitung. Tapi menjumpai Tarsius di habitat aslinya tidaklah semudah menjumpai Tarsius di kebun binatang Pak Toku. Di Kebun Pak Toku mereka akan bertengger manis di dahan – dahan pohon yang sengaja diletakkan Pak Toku di kandang mereka. Dengan mudah kita bisa masuk ke dalam kandang dan bersua dengan si kecil imut ini.  

Tarsius adalah binatang malam, mereka hanya akan memunculkan diri di malam hari, untuk mencari makan dan beraktifitas lainnya. Puas bersosialisasi dan bermain, sekitar pukul 5 pagi mereka akan berbondong – bondong kembali ke sarangnya masing - masing untuk tidur. Mereka baru akan bangun kembali di sore hari, menjelang matahari terbenam. Selain itu Tarsius memilih hidup menyendiri dalam kelompok kecil (max 8 ekor) jauh di pelosok hutan. Sehingga menjumpai Tarsius di habitat aslinya memerlukan perjuangan ekstra. Siap untuk begadang semalaman dan berjalan kaki di tengah hutan.

Selain Tarsius, di kebun binatang Pak Toku ada juga sepasang Babi Rusa alias Anoa. Nah kalau hewan yang satu ini adalah hewan endemik Pulau Sulawesi. Habitat aslinya adalah hampir di seluruh hutan di pulau yang juga dikenal dengan sebutan Celebes ini. Anoa takut terhadap manusia. Sehingga tak heran sulit sekali menjumpainya di habitat aslinya sekalipun. Mereka dapat berlari kencang dan lebih menyukai daerah yang tinggi.

Anoa
Sayangnya nasib Anoa tak jauh berbeda dengan nasib banyak hewan endemik lainnya di negara kita. Populasinya semakin menurun. Bukan saja karena diburu manusia tetapi karena maraknya penebangan dan pembukaan area hutan  yang merusak habitat mereka. Sayang sekali ya.

Pak Toku sadar betul akan hal ini. Kebun binatang beliau saat ini juga berperan sebagai area penangkaran dan perkembangbiakan binatang. Secara legal tentunya, karena Pak Toku mencoba mengkembangbiakan binatang – binatang tersebut dengan dukungan penuh dari Departemen Kehutanan. Walau tidak mudah untuk dilakukan. Selain biaya bulanan yang cukup besar untuk memberi makan, juga tantangan untuk menciptakan tempat tinggal yang menyerupai habitat aslinya.

Pak Toku