Pages

Tuesday, June 13, 2006

Arisan


Berawal dari sebuah pesan pendek berikut ini :
From : Puput
Gw lagi di Balikpapan neh, besok ada training..Ayo ketemuan, ajak Billy juga, tapi lo yang traktir, kan abis ultah :p

Akhirnya saya menelpon Billy, deal. Saya balik menelpon Puput, deal, kumpul jam 7 di Resto Fish Connection...yipie makan gratui.

Billy yang baru pulang dari lapangan ternyata mau pulang ke rumah dulu untuk mandi, akhirnya saya memilih menunggu di kantor sambil ganti layout lagi (gitu ceritanya layout ini Rima he he). Sholat Maghrib, hujan gede, dan bermodalkan payung orange saya melaju ke resto tersebut.

Ternyata saya datang pertama kali, restoran tampak sepi, mungkin karena hujan, dan musim piala dunia,orang lebih memilih diam di rumah sambil nonton bola saja. Saya memilih sebuah tempat di teras, bulan purnama penuh, hujan masih turun rintik-rintik, laut nampaknya kurang bersahabat, jadi teringat teman-teman yang sekarang sedang bekerja di rig sana.

Puput akhirnya datang, masih dengan gaya khasnya, rambut gondrong, senyum-senyum, dan rantai kapal di dompet, serta tas selempang yang pasti berisi kamera. Kami memesan minum, dan pertanyaan Puput yang pertama selalu sama : "Jadi gimana kabar lo sekarang May ?"

Hp saya berbunyi, ternyata Billy, "Gw dah di dalam Bil, ke dalam aja langsung". Ga berapa lama Billy datang, seperti biasa, dengan senyum nakalnya (yang selalu bisa menaklukan wanita he he) dan jaket hijaunya. Dan seperti biasa dia juga menanyakan hal yang sama pada Puput : "Jadi gimana kabar lo sekarang Put ?"

Kami duduk bertiga, Billy di hadapan saya, Puput di sebelah saya. Memilih dan memesan makanan. Tiga orang yang kelaparan : ikan gurame saos bangkok, cumi goreng bawang, tumis kailan seafood, dan udang goreng mayonnaise, jangan lupa juga nasi putih.

Menunggu makanan datang, kami bertiga terdiam sejenak. Dan kemudian kami saling mengupdate berita masing-masing, liburan, pekerjaan, rencana jalan-jalan. Gosip terbaru, gempa Yogya.

Menyenangkan, berkumpul kembali bersama kalian berdua disini, di Balikpapan. Billy dan Puput saya kenal sejak tahun 1999, ketika kami sama-sama tergabung di unit pencinta alam kampus. Secara angkatan kuliah mereka berdua adik kelas saya, tapi secara umur saya paling muda di antara mereka. Dan dengan seenaknya mereka berdua meminta saya memanggil Kang Mas Billy dan Kang Mas Puput he he.

Kami menjadi akrab karena kami pernah tergabung dalam satu tim ekspedisi ke Sulawesi, tahun 2001 lalu. Hampir 1 bulan saya habiskan bersama mereka, di kereta ekonomi, di atas kapal feri, sampai pedalaman Sulawesi yang kami telusuri bersama. Dan akhirnya kami sering merencanakan perjalanan bersama, atau cuma sekedar nongkrong di SEL dulu.

Dan akhirnya kami bertiga berkumpul kembali di sini, di Balikpapan. Saya pertama kali pindah bekerja kesini, dua bulan kemudian Billy yang baru lulus juga diterima di perusahaan yang sama, juga Puput menyusul 4 bulan kemudian, walau Puput ditempatkan di lapangan dengan jadwal kerja yang 2 - 2 itu (2 minggu kerja, 2 minggu libur, menyenangkan bukan). Ah dunia memang sempit kan. Siapa pernah mengira kami bertiga berkumpul kembali di sini.

Sejak itu kami selalu mengadakan arisan bulanan, 1 bulan sekali, menyesuaikan jadwal kedatangan Puput ke Balikpapan, sepulangnya dari lapangan. Sedangkan saya dan Billy kebetulan berada di kantor yang sama dan kami sering bertemu. Pertemuan yang menyenangkan dan tidak pernah membosankan. Seperti juga malam tadi. Semoga persahabatan ini tetap terjaga ya teman. Terimakasih.

ps : tau ngga sih Put, Bil, kalian berdua adalah salah satu alasan saya masih bertahan di kota ini, di perusahaan ini. Jangan pindah dulu sebelum saya pindah he he

Sunday, June 11, 2006

Seasons of The Heart


Tadi malam, seperti biasa seperti malam-malam sebelumnya saya bermain tenis, tepatnya berlatih tenis bersama teman-teman kantor. Dan seperti biasa, sesudah sesi - sesi forehand, backhand, voli, smash dan servis yang panjang nian itu, datanglah saat yang ditunggu : main. Kami main double, cewek semua. Semuanya nampak seperti biasa, hingga tiba giliran saya untuk serve dan tiba-tiba...mmm saya merasa tenang, senang dan bahagia..WARM.

Rasa ini muncul begitu saja, tidak ada pemicunya sama sekali. Saya langsung teringat dengan rasa yang sama yang muncul 6 tahun yang lalu. Perasaan yang sama, tenang, damai, begitulah, saya tidak bisa mendeskripsikannya.

Tahun 2000, sekitar bulan Juli akhir, saya ingat persis kejadiannya. Saya sedang berada di kampus, siang hari, berjalan sendirian dari toilet menuju Musholla Jurusan Farmasi, mau sholat Dzuhur. Tiba - tiba saya merasakan perasaan itu. Saat itupun saya tidak bisa memastikan apa penyebabnya. 

Rasa itu bertahan lama sekali. Rasa yang bisa membuat saya berjalan dengan ringan, tersenyum, dan damai. Rasa yang membuat saya bisa dengan ringan berkata : saya harus kesana memang karena saya harus kesana, saya berjalan karena memang saya harus berjalan. Rasa yang membuat saya menjadi apa adanya..menjadi ikhlas.

Saya pernah bercerita tentang rasa yang tiba-tiba muncul itu kepada Tyas, sahabat wanita saya. Di tepi danau Segara Anakan, Gunung Rinjani, di dalam tenda. Dua minggu berselang sesudah rasa itu muncul. Kami berdua baru saja menyelesaikan sholat Maghrib dan kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Dan saya menceritakan hal itu. Menurut Tyas rasa itu adalah anugrah, sulit untuk memperolehnya, apapun alasan yang memicunya. Iya, saya sepakat.

Tapi saya lupa, bagaimana rasa itu tiba-tiba memudar. Begitu saja.Hingga tadi malam, muncul lagi. Saya tetap tidak mengetahui dengan pasti apa penyebabnya. Seperti juga rasa yang dulu. Alhamdulillah, semoga rasa ini terus bertahan.

He he he saya tidak punya alasan yang jelas kenapa saya harus menulis tentang rasa itu di sini. Mungkin karena saya rindu Tyas, lama sekali tidak berjumpa dan tidak berbagi tentang banyak hal. Mungkin karena rasa itu membuat saya merasa lebih ringan...dan bahagia.

ps : Seasons of the Heart adalah salah satu lagu yang ditulis dan dinyanyikan oleh John Denver. Lagu yang buat saya banyak sekali maknanya. Tyas, gw tetap percaya adanya chemistry itu :)

Of course we have our differences, you shouldn’t be surprised
It’s as natural as changes, in the seasons and the skies
Sometimes we grow together, sometimes we drift apart
A wiser man than I might know, the seasons of the heart
And I’m walking here beside you, in the early evening chill
A thing we’ve always loved to do, I know we always will
We have so much in common, so many things we share
That I can’t believe my heart, when it implies that you’re not there

Love is why I came here in the first place
Love is now the reason I must go
Love is all I ever hoped to find here
Love is still the only dream I know

So I don’t know how to tell you, It’s difficult to say
I never in my wildest dreams, Imagined it this way
But sometimes I just don’t know you, there’s a stranger in our home
When I’m lying right beside you, when I’m most alone
And I think my heart is broken, There’s an emptiness inside
So many things I’ve longed for, have so often been denied
Still I wouldn’t try to change you, there’s no one that’s to blame
It’s just some things that mean so much, and we just don’t feel the same

Love is why I came here in the first place
Love is now the reason I must go
Love is all I ever hoped to find here
Love is still the only dream I know
True love is still the only dream I know

I Want To Be


Terkadang kita lupa dengan apa yang kita inginkan, lupa dengan impian dan harapan.
Terkadang kita hanyut dengan keadaan, hingga akhirnya kita tersesat, dan terjebak, lost in space.

Saya ngga bisa munafik, saya sudah berada di zona kenyamanan yang diimpikan oleh banyak orang, alhamdulillah, syukur kepada Allah SWT. Tapi saya menyadari ada sesuatu yang mungkin berkurang atau mungkin hampir hilang.

Mengutip Kuda dalam salah satu postingannya dulu (ini kutipan alias jiplak..thanks Kuda he he) :
"Entah kenapa, pikiran yang tolol ini seakan mengamini apa yang dikatakan dalam (udah nonton?) The Edukators (2003). Let me rephrase it : katanya kita butuh sebuah pendorong agar hidup kita nggak monoton-monoton amat. Kita butuh adrenalin dalam perjalanan stabil, sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang meledak, yang bikin kita terengah dan menanti harap cemas scene apa yang akan terjadi di detik selanjutnya kehidupan ini. Hal ini juga yang membuat saya - hampir tepat setahun lalu memilih untuk datang ke kantor kecil ini, bukan menuju kantor lain yang menyediakan slot untuk mengejar ambisi pribadi saya menjadi jurnalis. Adrenalin itu yang bilang, hidup kamu akan membosankan dan walaupun kencang hanya akan seperti mobil Tamiya yang ada treknya. Memang, mobil itu sekali-kali bolehlah keluar trek, tapi kan bukan itu esensi balap tamiya : kamu harus tetap di dalam trek untuk memenangkan balapan. Ya ya ya, hidup kan tidak linear dan jalan yang satu ini juga saya nantikan adrenalinnya lebih lanjut. Still waiting!

Dan disinilah sekarang saya berada. Menunggu adrenalin itu, membutuhkan sebuah pendorong agar hidup saya tidak menjadi monoton. Menunggu letupan - letupan yang bisa memicu adrenalin, yang bisa membangkitkan semangat. Lagi - lagi kata Kuda : Still waiting !

Tampak bertolakbelakang dengan postingan saya 3 bulan yang lalu mengenai Balikpapan. Mungkin karena hidup terus berjalan, pemikiran terus berubah. Saya masih terus mencari dan menunggu. Tidak konsisten memang, saya akui.

Mungkin karena banyak teman - teman sekantor saya yang pergi, resign, untuk sesuatu di luar sana yang lebih baik menurut mereka. Satu persatu teman sepermainan pergi dan akan pergi. Suasana pasti akan berubah. Tidak pernah lagi sama.

Mungkin karena matahari yang muncul selepas hujan di Mandalawangi bulan lalu. Harum tanah yang basah selepas hujan, kembang padang ilalang di Suryakencana, pepohonan sepanjang Gunung Putri, batu kerikil di puncak Gede. Satu persatu mimpi dan harapan itu muncul kembali, terangkai kembali. Saya ingin kembali.

Mungkin saya perlu kembali ke suatu tempat di Garut sana, ke suatu desa kecil, ke sebuah rumah tua dengan Abah dan Emak yang selalu tersenyum melihat saya. Ke suatu tempat dimana saya merasa diri saya dibutuhkan dan yang terpenting adalah merasa diri saya berguna..untuk orang lain, bukan diri saya saja.

Yup, saya rindu adrenalin itu, rindu rasa yang meletup-letup, rindu pendorong yang membuat hidup kita gak monoton-monoton amat (masih kata Kuda juga nih).

Pekerjaan baru, lingkungan baru, suasana baru, kembali ke hutan atau perjumpaan dengan teman sejiwa yang lain (dan juga anak kecil), hmmm mungkin saya perlu itu.

Saya perlu hujan yang turun dengan deras dan saya tetap harus berjalan menuju tujuan (bikin tambah semangat). Saya perlu sesuatu yang lain, saya perlu memulai langkah baru.

Semoga Allah SWT selalu menunjukkan jalan yang lurus (tapi masih dengan rasa yang meletup-letup itu). Semoga selalu ada kemudahan, dan di depan selalu ada terang. InsyaAllah.

Monday, June 5, 2006

Dapat Kiriman


Saya senang sekali setiap mendapat kiriman, kiriman pos. Seperti hari ini, di inbox surat saya terdapat sebuah paket yang terbungkus plastik. Ini dia yang saya tunggu - tunggu. Kiriman dari sahabat baik saya, Mario.

Ada tiga buah buku di dalamnya :

Autobiography JOHN DENVER, edisi asli dan pertama walau cuma dalam bentuk fotocopy-an he he. Saya dan Mario menemukan buku ini bulan April lalu di Toraja, di perpustakaan milik pengelola Indosella Expedition. Waktu itu dengan semangat kami meminjam buku itu dan fotocopy di Toraja. Padahal 1 lembarnya 250 rupiah, mahal ya.

MT ZEN dan Pikiran - Pikirannya, sebuah bundel berisi tulisan-tulisan dari MT ZEN, seorang Dosen Teknik Geofisika ITB, anggota WANADRI sekaligus seorang filsuf yang banyak menulis tentang politik dan sosial. Bundel ini tadinya milik Om Herman Lantang yang kemudian diberikan sebagai hadiah untuk Mario.

ZEN EXPLORATION, In remotest New Guinea, Adventures in the Jungles and Mountains of Irian Jaya. Ditulis oleh Neville Shulman yang merupakan seorang penganut Zen yang mendaki Carstenz dan Puncak Jaya mengatasnamakan kemanusiaan.

Nampaknya buku-buku yang menarik. Saya ingin segera pulang untuk mulai membaca salah satu buku itu. Seperti pesan Mario : Buku ZEN EXPLORATION dibeliin temen gw Dewi. Orang pertama yang baca adalah Herman Lantang, kedua adalah gw dan ketiga mungkin elo. Kali aja kita bisa bertiga barengan ke Carstensz satu atau dua tahun ke depan..he he semoga Mar. Thanks untuk kirimannya.

Friday, June 2, 2006

Tentang Gunung, Cinta, Perjalanan dan Teman


Ada banyak hal yang membuat hidup saya lebih hidup.

Banyak sekali, hal - hal, tempat - tempat, orang - orang yang membuat hidup saya lebih berwarna.

Gambar di bawah ini adalah salah satunya, sebuah kompleks gunung api di daerah Puncak, Jawa Barat, Gunung Gede dan Pangrango.  Di depan sana terlihat Gunung Pangrango, sedang jauh di utara sana terlihat puncak kembar, Salak 1 dan Salak 2.


Pergi kesana berarti membuka banyak sekali kenangan manis yang pernah saya alami di sana, kenangan yang bisa membuat saya tersenyum di kala paling sulit sekalipun.

Dulu sekali, saya dan sahabat-sahabat wanita saya menyebut gunung ini sebagai gunung cinta. Menurut kami, gunung ini menebarkan banyak cinta kasih, perasaan tenang dan damai *hiperbola tapi biarlah he he*

Sampai sampai, dulu kami mempunyai cita-cita untuk kembali ke sini bersama orang yang kami cintai, mendaki gunung cinta kami, bersama - sama.

Rini sahabat saya sudah mencapai cita - cita itu, tahun kemarin ia naik gunung bersama teman SMA yang kini menjadi calon suaminya, dan bulan depan mereka akan menikah..hue he he selamat ya Rin.

Banyak sekali teman seperjalanan yang telah menemani saya berjalan ke puncak ini, menemani saya menghirup harumnya eidelweiss Suryakencana atau sekedar duduk menemani saya di puncak, memandang Pangrango dan sebuah gunung di utara, Gunung Salak.

Dan kini saya kembali lagi, dengan teman - teman seperjalanan yang berbeda tapi dengan kebaikan hati yang sama. Kami buat lagi kenangan yang manis, di perjalanan yang indah, di gunung cinta.

Teman sejiwa adalah teman yang tidak pernah pergi, selalu ada, tak pernah habis dimakan waktu, tak pernah berubah karena keadaan.

Untuk semua orang yang pernah menemani perjalanan saya, untuk semua perjalanan yang mewarnai hidup saya, untuk orang - orang yang pernah mendampingi saya berada di suatu titik tertinggi di gunung cinta. Semoga suatu saat kita bisa kembali bersama ke gunung cinta kita.

ps : Betul kok Rin, Gede itu beneran gunung cinta, Rini sendiri yang sudah membuktikan kan :) saya juga akan kembali lagi he he, semoga, terimakasih ya Allah sudah memberi kesempatan saya untuk kembali ke sana.

Monday, May 22, 2006

Sesuatu Untuk Diingat


Akhir pekan kemarin adalah saat untuk banyak bersyukur, banyak sekali hal - hal yang bisa diingat dan mungkin tak terlupakan. Kalau mengutip kata-katanya Chandra : so many blessings to count :-)

Jumat, 19 Mei 2006
12.00 malam
Panggilan telpon dari seorang teman lama yang baik hati. Teman yang selalu ada. Tak dikira dan diduga. Terimakasih untuk ucapan dan doanya.
05.30 pagi
Kejutan dari teman serumah yang baik hati juga tetangga-tetangga. Sebuah kue ulang tahun yang manis, lilin pun ditiup, bersama berjuta harapan. Disusul dengan bincang-bincang bersama Mami, seorang Ibu yang melahirkan saya ke dunia. Terimakasih Mami.
Sepanjang hari
Nyanyian Happy Birthday dari bos saya (Kakek yang kadang baik hati itu he he)..ucapan selamat dari teman-teman sekantor, pengumuman ulang tahun di meeting drilling, makan pizza rame-rame, kue ulang tahun (lagi) dari Mia, meeting Tomahawk yang menyenangkan, main bowling bersama teman-teman, sms sahabat, ...dan puncaknya adalah guyuran air yang ternyata hasil konspirasi seharian, jam 12 malam dari seorang Wawan, guyuran tak disangka, beres logging, mau pulang ke rumah, tiba-tiba di parkiran ada teman-teman menunggu, dengan ember air dan lagi-lagi kue ulang tahun, ada lagi lilin yang boleh ditiup, ada kue yang boleh dipotong lagi dan ada foto-foto serta rekaman video yang memalukan :D

Hari Sabtu
Trekking Pantai Tritip - Lamaru - Manggar 10 km, bangun pagi, mandi, dan berangkat bersama sahabat terbaik, menyusuri pantai yang bersih, melihat pohon kelapa, bermain air, berlari di pasir dan yang pasti foto-foto, ditutup dengan makan bakso pinggir jalan, numpang mandi di rumah Feri, belanja di Pasar Butun dan makan malam di seafood pinggir jalan, ditutup dengan novelnya Remy Silado yang bikin penasaran.

Hari Minggu
Bangun agak siang, tidur bahagia selepas Shubuh, lanjut lagi dengan novel Remy Silado, teman yang datang ke rumah, brunch di Roti Tiam, hitung-hitungan uang ekspedisi yang ternyata salah hitung hehe, belanja lucu di pasar bareng Arief juga Ikbal, ke akustik concert dan ditutup dengan makan malam yang menyenangkan di rumah..eits..ada satu lagi, ditutup dengan berburu air jam 11 malam di mesjid.

Yah, terimakasih untuk menjadi teman saya, terimakasih untuk semua perhatian dan dukungan, di kala susah dan senang. Saya menyayangi kalian, semoga Allah SWT membalasnya dengan rahmat yang berlimpah.

Thursday, May 18, 2006

Kehidupan Lain di Luar Sana


Seorang teman baik bercerita mengenai kehidupannya saat ini, melalui email.
Semenjak lulus ia telah beberapa kali mencoba bekerja sesuai bidang keahliannya, sayang..ia selalu gagal mendapat pekerjaan tetap. Akhirnya ia mencoba survive dengan bekerja serabutan : proyekan mapping batubara, proyek bikin rumah, outbond, ngoprek mobil, buka toko kecil-kecilan, dll.
Istilah dia : bikin ini itu semua ditampung, bener-bener beraneka macam, aneh-aneh, dan tak pasti tapi aya wae kerjaan saya May ! Untuk sementara saya bersyukur bisa bebas ngerjain ini itu, walau ga gaya atau keren pekerjaan ini.
Saya bangga sama kamu teman, tetap survive dan ngga cengeng..memang macho deh :)

Obrolan lain dengan teman yang lain, berbicara langsung
Aku pengen cari pekerjaan lain, pekerjaan yang aku suka May. Ya bukan yang sekarang ini. Aku pengen kerja di advertising gitu, bikin iklan, jadi fotografer, bikin tulisan, jalan - jalan untuk riset. Dengan melakukan itu aku merasa hidup. Ga kaya sekarang ini.
He he saya tau kok, tenang aja, semua ada waktunya, saya yakin suatu saat dunia akan mengenalmu sebagai seorang penulis dan fotografer handal, bukan sebagai seorang engineer lagi :)

Teman saya menulis email
Ide - ide gw untuk ngembangin program ini rada terhambat karena mikirin kerjaan baru gw di perusahaan ini. Untuk proposal kemaren aja sebenernya rada seadanya, karena gw lagi kurang kreatif. Tapi hidup harus seimbang May. Selain mikirin jalan-jalan dan kerjaan, harus mikirin permasalahan sosial juga.
Ternyata kamu ga berubah ya, saya kira dunia kapitalis telah merubah semuanya, ternyata ngga, kamu masih menyimpan kerinduan akan dunia di luar sana, dunia yang sangat kamu cintai, dunia yang membuat kamu rela menghabiskan waktu seharian untuk membacakan cerita bagi para penyandang cacat, tetap semangat ya :)

Bagaimana dengan saya ?
Saat ini saya tergoda untuk menengok dunia di luar sana, di luar kantor ini, di luar kota ini, di luar pulau ini. 25 tahun, saat yang cukup untuk menentukan langkah dan pilihan ,mewujudkan impian dan mengikuti kata hati :)