Pages

Friday, September 28, 2007

Kebun Binatang Mini di Bitung


Sebetulnya ini cerita jalan - jalan lama, Januari 2007 lalu. Ceritanya saya resign dari kantor di Balikpapan dan punya waktu 10 hari untuk jalan - jalan sebelum mulai bekerja kembali jadi tukang batu di Jakarta. Akhirnya dimanfaatin untuk jalan - jalan muter - muter di Sulawesi dan Maluku Utara.

Nah salah satu yang menarik adalah cerita dari Bitung. Tentang kebun binatang mini yang ada disana. Bitung yang ini tidak ada kaitannya dengan Belitung alias Belitong, Bumi-nya Laskar Pelangi. Lain pulau lain juga ceritanya. Bitung yang ini adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di pantai timur Provinsi Sulawesi Utara. Jaraknya dari Menado - ibukota Provinsi Sulawesi Utara, tidak terlalu jauh. Satu jam saja berkendaraan dengan kondisi jalan yang cukup baik.

Salah satu hal menarik di Bitung adalah kebun binatang mini yang letaknya di tepi pantai. Kebun binatang ini dikelola oleh penduduk setempat yang bernama Bapak Toku Malohing. Sebutan penyayang binatang layak diberikan kepada beliau. Sejak beberapa tahun yang lalu Pak Toku telah menyediakan lahan miliknya untuk memelihara sekitar 40 jenis binatang langka dan unik, termasuk sepasang Tarsius dan sepasang Babi Rusa alias Anoa. 
  
Tarsius adalah sebutan populer untuk monyet mini yang merupakan hewan endemik Sulawesi Utara. Ukurannya benar - benar mini, hingga pantaslah Tarsius ini dijuluki sebagai primata terkecil di dunia. Beratnya kuranglebih 120 gram, tinggi 15 cm dan hebatnya panjang ekornya bisa mencapai 20 cm, lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Mini dan mungil seperti anak ayam. Wajahnya seperti burung hantu, tubuhnya seperti tikus dengan kepala yang bisa digerakkan memutar hampir 360 derajat. Dan yang lebih mengagumkan, ternyata Tarsius mini ini bisa melompat hingga 10 kali panjang badannya sendiri.

Tarsius
Aslinya habitat Tarsius adalah di hutan – hutan di Pulau Lembean dan Sangihe, Sulawesi Utara. Selain itu Tarsius juga bisa dijumpai di Taman Nasional Tangkoko – Batu Angas Dua Saudara, sebuah taman nasional yang terletak sekitar 30 km dari Bitung. Tapi menjumpai Tarsius di habitat aslinya tidaklah semudah menjumpai Tarsius di kebun binatang Pak Toku. Di Kebun Pak Toku mereka akan bertengger manis di dahan – dahan pohon yang sengaja diletakkan Pak Toku di kandang mereka. Dengan mudah kita bisa masuk ke dalam kandang dan bersua dengan si kecil imut ini.  

Tarsius adalah binatang malam, mereka hanya akan memunculkan diri di malam hari, untuk mencari makan dan beraktifitas lainnya. Puas bersosialisasi dan bermain, sekitar pukul 5 pagi mereka akan berbondong – bondong kembali ke sarangnya masing - masing untuk tidur. Mereka baru akan bangun kembali di sore hari, menjelang matahari terbenam. Selain itu Tarsius memilih hidup menyendiri dalam kelompok kecil (max 8 ekor) jauh di pelosok hutan. Sehingga menjumpai Tarsius di habitat aslinya memerlukan perjuangan ekstra. Siap untuk begadang semalaman dan berjalan kaki di tengah hutan.

Selain Tarsius, di kebun binatang Pak Toku ada juga sepasang Babi Rusa alias Anoa. Nah kalau hewan yang satu ini adalah hewan endemik Pulau Sulawesi. Habitat aslinya adalah hampir di seluruh hutan di pulau yang juga dikenal dengan sebutan Celebes ini. Anoa takut terhadap manusia. Sehingga tak heran sulit sekali menjumpainya di habitat aslinya sekalipun. Mereka dapat berlari kencang dan lebih menyukai daerah yang tinggi.

Anoa
Sayangnya nasib Anoa tak jauh berbeda dengan nasib banyak hewan endemik lainnya di negara kita. Populasinya semakin menurun. Bukan saja karena diburu manusia tetapi karena maraknya penebangan dan pembukaan area hutan  yang merusak habitat mereka. Sayang sekali ya.

Pak Toku sadar betul akan hal ini. Kebun binatang beliau saat ini juga berperan sebagai area penangkaran dan perkembangbiakan binatang. Secara legal tentunya, karena Pak Toku mencoba mengkembangbiakan binatang – binatang tersebut dengan dukungan penuh dari Departemen Kehutanan. Walau tidak mudah untuk dilakukan. Selain biaya bulanan yang cukup besar untuk memberi makan, juga tantangan untuk menciptakan tempat tinggal yang menyerupai habitat aslinya.

Pak Toku

Monday, August 27, 2007

Sore di Edale


Edensor adalah judul buku si Ikal a.k.a Andrea Hirata yang ketiga. Nama sebuah tempat di pedesaan Inggris yang mengingatkan Ikal pada Ah Ling, cinta pertamanya. Deskripsi Andrea tentang Edensor sangat mengagumkan bagi saya, sounds beautiful. Pertama kali membaca tentang Edensor saya langsung bertekad : suatu saat saya ingin juga melihatnya.. EDENSOR.

Sebelum berangkat ke Inggris saya sempatkan untuk mencari informasi mengenai Edensor. Sedikit sekali keterangan yang bisa diperoleh dari website, bahkan Lonely Planet Great Britain (LP) tidak menerangkan sedikitpun mengenai Edensor.

Salah satu website menulis :

The small estate village of Edensor, pronounced ‘Ensor’, is set in one of the most beautiful locations in the country in parkland owned by the Devonshire family, whose stately home at Chatsworth House is only five minutes walk away. Mentioned in the Domesday Book, the village has been re-sited since then. Originally it lay between the river and the road through the Park, when the houses were set out in a straggling line down to the Derwent.

Sayangnya gara – gara sibuk dikejar deadline saya tidak membaca keterangan di website tersebut dengan detil. Akhirnya saya hanya menyimpulkan Edensor terletak di Derbyshire, bagian dari Peak National Park Area. Berpedoman pada LP dan Google Earth akhirnya saya menyimpulkan untuk naik kereta saja dari London ke Derbyshire dan selanjutnya gimana nanti. Huh dasar kurang persiapan, semua dibikin ngedadak.

Tepat sebelum berangkat ke bandara saya baru sempat searching tiket kereta. Website National Rail UK sangat membantu (semoga Perumka suatu saat juga bisa seperti ini). Mereka memiliki journey planner yang canggih. Tinggal memasukkan nama stasiun tempat kita berangkat, nama stasiun yang dituju dan tanggal keberangkatan. Selanjutnya akan muncul semua jadwal kereta yang tersedia, harga tiket hingga cara beli secara online. Hanya 15 menit di depan komputer dan akhirnya saya mendapat tiket kereta dari London ke Derbyshire, tiket paling murah 19 pound (tiket termahalnya 143 pound untuk 3 jam perjalanan).

Hari pertama di London dan rencananya saya akan langsung menuju Edensor. Kereta dari London ke Derbyshire berangkat pukul 11.25. Sayangnya gara – gara masalah di tangga pesawat saya baru bisa keluar dari bandara Heathrow jam 9 pagi. Saya bergegas naik underground ke Hilton Hotel di daerah London Bridge, 2 kali pindah kereta sambil geret koper (ransel nampaknya memang lebih baik).

Jam 11 pagi saya baru tiba di hotel, check in, memasukkan koper ke kamar dan langsung berlari kembali menuju stasiun kereta. Tujuan kali ini adalah London ST Pancras station. Sepanjang jalan saya sudah was - was, takut ketinggalan kereta. Ini London Neng, kayanya sepertinya tidak mungkin berharap keretanya terlambat berangkat.

London Bridge-King Cross station ternyata hanya 5 menit saja. Menurut informasi di peta, London ST Pancras station terletak satu kompleks dengan King Cross. Saya hanya bisa berdoa semoga benar, karena tidak ada stasiun underground yang bernama ST Pancras.

Di King Cross saya sempatkan mengambil tiket kereta saya untuk ke Derbyshire di fast ticket machine, sangat mudah. Tinggal memasukkan no pin yang kita peroleh ketika beli secara online dan tiket kereta langsung tercetak.

Jam 11.15, tiket kereta sudah di tangan tapi saya tidak tahu kereta saya ada dimana. Untung ada seorang bapak baik hati yang memberi tahu : ST Pancras bukan di sini stasiunnya Neng, keluar dulu trus belok kanan….hua ternyata salah stasiun.

Untung hanya bawa backpack, saya segera berlari keluar stasiun menuju arah yang ditunjukkan si bapak…dan ternyata lumayan jauh. Tiba di ST Pancras sudah pukul 11.20, tapi masih untung banyak juga penumpang lain yang baru datang. Rupanya bukan cuma saya yang datang mepet, akhirnya kami lari bersama menuju kereta…pas sekali, ketika peluit ditiup saya tiba di samping kereta, tidak  jadi ditinggal.

Tiket kereta saya yang seharga 19 pound  itu ternyata tanpa nomor duduk. Menurut Mba-Mba pengecek tiket kalau kosong duduk aja, tapi kalau penuh kamu harus berdiri ya. Untung siang itu keretanya sepi, saya dapat tempat duduk yang enak. Akhirnya bisa bernafas lega, makan siang apel plus kopi ditambah kue colongan dari lounge-nya Cathay Pasific.

Kereta yang saya naiki dari London bernama Midland Maine. Jalurnya : London – Sheffield – Derbyshire. Saya tiba di Sheffield jam 13.45 (tepat sesuai jadwal), turun, kemudian ganti kereta yang cuma dua gerbong menuju Derbyshire. Kereta ke Derbyshire penuh dengan orang – orang yang membawa ransel dan perlengkapan berkemah. Mulai dari sekelompok ABG yang sibuk bergosip di belakang kereta, pasangan cewe – cowo, pasangan Kakek – Nenek..sampai seorang Biksu berpakaian lengkap.

Kereta menuju Derbyshire berangkat jam 14.15 (tepat sesuai jadwal), saya mencoba bertanya – tanya tentang Edensor, tapi ternyata tidak ada juga yang tahu. Semua orang yang saya ajak ngobrol sangat ramah, kebanyakan dari mereka tinggal  London dan berencana berakhir pekan di Derbyshire.

Akhirnya saya memutuskan untuk turun di stasiun yang kira – kira paling menarik dan paling banyak orang turun. Tapi ternyata stasiun di Derbyshire ga cuma satu, ada banyak lagi stasiun kecil. Stasiun pertama – Grindleford, tidak banyak orang yang turun, saya memutuskan untuk turun di stasiun berikutnya – Hathersage. Ternyata di stasiun ini malah tidak ada orang yang turun dan stasiunnya sangat sepi. Ganti lagi ke stasiun ketiga – Bamford, cukup banyak yang turun termasuk ABG – ABG ganteng yang bawa tenda, tapi di LP sama sekali tidak ada keterangan tentang Bamford, akhirnya saya tidak  jadi turun lagi. Stasiun berikutnya adalah Hope, cukup ramai tapi lagi – lagi tidak ada keterangan tentang Hope di LP.

Sambil jalan saya membaca print-an tentang Edensor yang saya bawa, ah akhirnya ketahuan kalau Edensor adanya di daerah Matlock – Buxton. Tanya ke Pak Kondektur dan dia bilang kereta ini tidak lewat ke daerah sana. Yah sayang sekali, inilah akibat tidak teliti. Dan tiba – tiba kereta berhenti di stasiun berikutnya. Banyak juga yang turun. Akhirnya sambil kebingungan saya memutuskan untuk ikut turun di sini, Edale.

Edale Train Station
Pasangan Kakek – Nenek yang membawa ransel juga turun di sini, mereka tersenyum pada saya. Lega deh, setidaknya masih ada yang turun di sini. Seperti stasiun lainnya, stasiun ini juga kecil saja, tidak ada loket penjual tiket dan tidak ada penjaganya. Penumpang akan bayar tiket di atas. Legal tapinya. Pak Kondektur akan menagih, senjatanya mesin kecil yang dikalungkan di leher. Dia akan bertanya tujuan kita dan sekejap tiket tercetak. Tidak  mungkin bisa salam tempel.

Di plang stasiun tertulis : Edale for Kinder Scout, The Pennine Way and The Moorland Centre. Nampaknya turun di Edale bukan pilihan yang salah, minimal Edale tercantum juga di LP. Kekecewaan saya karena tidak  jadi ke Edensor terobati. Edale ternyata tempat yang sangat indah. Sebagai bagian dari Peak District National Park, Edale sangat populer sebagai tempat berkemah dan trekking.

Surrounded by sweeping Peak District countryside at its most majestic, the tiny cluster of imposing stone houses and the parish church are eye catching in their own right.

Saya berjalan mengikuti pasangan Kakek – Nenek tadi. Mereka nampaknya sudah sangat sering kesini, masing – masing membawa ransel dan sang Kakek membawa gulungan tenda. Mereka akhirnya masuk ke area perkemahan dan melambaikan tangannya kepada saya. Ternyata ini yang namanya The Moorland Centre, sebuah area perkemahan yang luas, di depannya ada parkiran mobil juga plang informasi. Area ini terbuka sepanjang tahun tapi kita harus melakukan reservasi dulu sebelumnya. Nampaknya berkemah merupakan salah satu kegiatan favorite ketika musim panas, di depan pintu gerbang ada plang besar : Full Booked.

Edale Village  ternyata kecil saja, hanya ada beberapa restaurant kecil, sebuah toko makanan dan perlengkapan berkemah serta  tourist information centre, sayangnya saat itu sudah tutup. Akhirnya saya masuk ke toko makanan, lapar mata dan lapar perut juga, jajan sebatang coklat , air mineral dan mengambil majalah gratisan mengenai Peak National Park.

Di belakang toko terdapat juga areal berkemah. Parkiran mobil penuh dengan Land Rover dan mobil caravan. Tanpa tujuan pasti saya terus jalan ke arah utara. Ada sebuah plang menunjukkan arah ke Grindsbrook dan nampaknya menarik.

Saya berjalan menyebrangi sungai, melewati daerah hutan yang gelap kemudian keluar di sebuah area terbuka yang penuh dengan domba ! He he ini hari pertama saya di Inggris dan saya disambut oleh serombongan domba putih yang gemuk – gemuk. Di depan saya ada seorang Nenek yang berjalan sendirian. Masih sehat sekali. Di belakang saya ada seorang Kakek dengan 2 cucunya. Lengkap membawa peta dan daypack.

Sejauh mata memandang yang terlihat adalah bukit hijau dan domba. Pagar batu dan rumah – rumah mungil di kejauhan terlihat sangat menarik. Saya memutuskan untuk berjalan ke atas bukit – Grindsbrook Clough dan berjanji pada diri sendiri untuk turun jam 4 sore.

Di belakang bukit ada jajaran ridge berwarna hitam, nampaknya itu yang namanya Kinder Plateau. Hmm bukan untuk saat ini, mudah – mudahan suatu saat nanti bisa kembali lagi dengan peralatan lengkap.

Di tengah jalan saya banyak bertemu orang – orang yang baru turun dari puncak bukit. Rata – rata mereka sendirian atau berdua. Ramah – ramah, tidak  jauh berbeda dengan situasi ketika kita naik gunung diIndonesia. Saling menyapa.

Berjalan ke atas bukit ternyata lumayan melelahkan, apalagi sebelumnya saya hampir 24 jam duduk di atas pesawat dan kereta. Indah sekali walau matahari mulai mundur ke balik awan dan kabut muncul. Harumnya lavender menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.

Jam 4 lebih sedikit akhirnya saya tiba di tempat yang menurut saya adalah puncaknya Grindsbrook. Tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi kecuali ke arah Kinder Plateau. Senang sekali duduk - duduk disini, akan saya ingat menjadi salah satu hari yang terbaik dalam hidup saya. Duduk di atas bukit memandang Edale Village yang indah walau hanya ditemani sebatang coklat dan sebotol air mineral.

Kurang lebih 10 menit saya duduk di puncakan dan memtuskan segera  kembali ke Edale. Bergegas berjalan karena takut kemalaman. Berkali – kali saya berhenti dan menoleh ke belakang. Terimakasih ya Allah, saya sudah bisa sampai ke sini. Tidak ada Edensor, Edale pun jadi.

Saya melewati jalan desa yang sama. Masih tetap sepi dan cantik. Tiba di stasiun dan ternyata pas sekali. Jam 16.45 ada kereta ke Manchester. Saya naik kereta itu dan selanjutnya menyambung kereta lagi keLondon. Jam 11 malam saya sudah tiba di hotel, lelah dan langsung ketiduran.

2 jam saja di Edale. Tapi itu cukup. Will be back some day.

# Solo trip at August 2007, Edale - United Kingdom

Thursday, August 16, 2007

From Flight to Flight


24 jam terakhir hampir seluruhnya saya habiskan untuk mengejar pesawat dan di atas pesawat, dan juga masih ada 12 jam mendatang he he. Orang - orang yang mengetahui rencana perjalanan saya spontan berkomentar : yang bener May..emang kekejar...mudah - mudahan ga ada apa - apa ya..kenapa sih segala sesuatunya harus dipas ajah 

Doakan semoga lancar saja he he. JKT-BPN-JKT-HK-LHW haha

Wednesday, August 1, 2007

Sokola Rimba - Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

Tadi malam saya selesai membaca sebuah buku yang luar biasa : Sokola Rimba judulnya. Diperoleh secara tidak sengaja di sebuah toko buku diskon di Bandung, covernya langsung membuat saya tertarik, Butet bersama anak - anak asuhannya di Sokola.

Saya langsung tertarik membaca bagian mengenai : Kak Butet Manurung. Siapakah dia ? Seorang wanita yang rela masuk dan tinggal di hutan selama bertahun - tahun untuk mengajar baca dan tulis untuk anak - anak Orang Rimba (OR) di hutan Bukit Tigapuluh, Jambi.

Kak Butet ternyata seorang sarjana Antropologi dari UNPAD Bandung, sekaligus sarjana Sastra Indonesia dari universitas yang sama. Selepas kuliah ia bergabung dengan WARSI (Warung Konservasi) Jambi dan bekerja sebagai fasilitator pendidikan. Sejak tahun 1999 hingga sekarang Kak Butet mengabdikan dirinya bekerja sebagai guru dan mendirikan "sokola" untuk anak - anak di berbagai daerah di Indonesia (Jambi, Flores, Makassar, dan Aceh).

Buku ini merupakan catatan harian Kak Butet selama mengajar anak - anak OR dan sedikit kisah mengenai didirikannya "Sokola". Halaman pertama buku ini langsut terekam kuat dalam ingatan saya :

Hari - Hari Pertama di Rimba - Menuju Jambi
"Jangan katakan ini hari pertama aku bekerja, aku tidak suka kata itu. Lebih baik disebut ini adalah hari pertama aku memulai hidup"


Selanjutnya Kak Butet bercerita mengenai hari - hari pertamanya di WARSI, hari - hari pertama masuk hutan dan berkenalan dengan OR. Mengajar anak - anak di sana bukanlah hal yang mudah. Jangankan mengajar, untuk menjadi teman saja membutuhkan waktu yang sangat lama. Banyak kisah menarik diceritakan di buku ini. Kak Butet berhasil, sekarang OR sudah ada yang bisa membaca dan menulis, bahkan mereka dapat menjadi kader untuk mengajar saudara - saudaranya yang lain.

Buku yang sangat menginspirasi, buat yang ingin menjadi volunteer ada kesempatan dari Sokola untuk mengajar. Hmmm nabung cuti dulu, semoga tahun depan bisa berangkat

Category: Books
Genre: Other
Author: Butet Manurung
Lebih lanjut tentang sokola : www.sokola.org

Thursday, June 7, 2007

Soulmate oh Soulmate


Tiga hari yang lalu baca postingan Jeng Feri tentang soulmate. Disambung kemarin sempat chat dengan seorang sahabat yang langsung bilang : May kita kayanya soulmate deh.. hi hi tentunya. Yang bilang ini Andre Wiyogo namanya, tetangga rumah di Cimahi, teman sekelas dari TK, SD beberapa kali, kemudian SMA sekelas 2 tahun sebelum kemudian saya berhasil memprovokasinya untuk masuk Geologi juga, saya keterima di Kampus Gajah, Andre keterima di UNJAT. Lama sekali tidak pernah bertemu lagi. Bahkan saya sudah lupa juga kapan bertemu Andre terakhir kali. Palingan cuma suka sms dan beberapa kali chat saja. Tetapi faktanya, kemaren ketika ngobrol lagi semuanya langsung "klik" hingga Andre mendeklarasikan saya sebagai soulmate dia untuk urusan persahabatan. Terlalu banyak persamaan dan kebetulan, hingga sesuatu hal yang kami rencanakan secara terpisahpun ternyata menjadi sama waktunya :)

1 tahun yang lalu saya pernah menulis di blog saya yang lama mengenai soulmate juga. Ini kutipannya : "Seorang sahabat baik pernah berbagi pandangannya tentang soulmate, menurut dia soulmate adalah orang -orang yang selalu dekat dengan kita walaupun secara fisik dia berjauhan bahkan lama tidak berkomunikasi namun kita masih selalu merasa dekat dengan dia. Soulmate buat dia lebih berarti cinta dan persahabatan yang tulus"

Yup, setuju banget. Kata - kata di atas diucapkan oleh Mario, seorang yang saya kenal semenjak kuliah. Kami satu organisasi di KMPA dulu dan sekarang dia terdampar di pelosok Soroako sana..he he tabahlah Mar. Mungkin Mario ini soulmate saya untuk urusan naik gunung dan jalan - jalan. Terbukti entah berapa kali saya tergoda oleh rayuannya untuk bolos kuliah hanya untuk mendaki gunung, diminta jadi partner naik gunung dengan dalih jadi koki..asiknya ongkosnya dibayarin, satu - satunya orang yang memprovokasi untuk pulang naik gunung langsung ke pantai, atau janjian ketemuan di Toraja - di belokan jembatan..he he cuma Mario kayanya yang bisa kaya gitu. He is my another soulmate.

So, buat keluarga di KMPA misyu misyu deh...my soul, my breath, my life, my soulmate. Semoga reunian naik gunung awal Juli jadi nih. Bronx 98..hu hu males datang GAG kalau kalian juga ga pada datang. 

ps : Pulang dulu ah, udah malem, ditulis dengan hati bahagia karena si model ampir selesai he he alhamdulillah..dan tidak lupa akhirnya ku menemukanmu Pak Bebek, soulmate yang paling soulmate.. InsyaAllah.

*gambar di atas adalah karakter bahasa cina untuk soulmate*

Friday, June 1, 2007

Menyatakan Perang dengan Tikus


Ada yang punya pengalaman membasmi dan mengusir tikus ? Mulai hari ini saya menyatakan perang dengan tikus.


Gara - garanya tadi pagi, kebetulan hari ini libur sehingga saya berencana untuk mencuci baju dahulu sebelum berangkat ke kantor. Bangun pagi dengan perasaan senang karena sekarang libur dan nanti siang mau ke Bandung langsung ternodai oleh ulah tikus di mesin cuci saya. Ketika membuka tutup mesin cuci tiba - tiba ada bekas - bekas peninggalan tikus (kotoran, bekas sampah, dll) yang mengerikan bentuknya.

Ini bukan yang pertama kalinya, minggu kemarinpun terjadi hal serupa. Akhirnya tadi pagi hampir setengah jam saya harus membersihkan mesin cuci lagi, disiram desinfektan sebanyak mungkin, uh menjengkelkan.

Saya tidak tahu lewat mana tikus - tikus itu bisa masuk ke mesin cuci. Belajar dari pengalaman minggu lalu, saya menaruh barang berat di atas tutup mesin cuci, sehingga mustahil para tikus bisa membukanya. Tapi ternyata..masih bisa...lewat bawah ? Saya tidak tahu juga. Mesin cuci yang saya miliki (di iklannya) konon anti tikus, salah satu alasan saya memilih merk ini. Tapi ternyata tikusnya sih ga doyan mesin cuci-nya (buktinya belum ada kabel yang dimakan, dsb), tikusnya doyan diem di dalam.

Keberadaan mahluk berjenis tikus - tikus gendut mulai jadi masalah bagi saya ketika saya tinggal di rumah saya yang sekarang. Tiap malam pasti ada gangguan tikus jalan - jalan di dapur. Padahal tidak ada lubang satupun di rumah, menurut saya mustahil tikus dari luar bisa masuk. Saya selalu mengusahakan rumah dalam kondisi bersih, tidak ada sisa makanan di luar lemari, membuang sampah ke luar, segera mencuci piring sehabis digunakan, dll.

Racun tikus udah pernah dicoba tapi ternyata ga ngaruh. Saya mencoba racun tikus berupa tablet - tablet mirip "bulao" yang kata pedagangnya bisa membasmi tikus secara manusiawi (hu hu tikus kan hewan). Si tikus akan mati kekeringan katanya, jadi tidak meninggalkan bau. Tapi ternyata makanannya habis dan tikusnya ga mati :(

Any idea ? Pindah rumah dalam waktu dekat jelas tidak mungkin karena rumah ini terlanjur saya kontrak selama setahun..Helmy menyarankan saya untuk pelihara kucing saja. Ide bagus, kayanya di Bandung nanti saya mau mencari kucing untuk diadopsi. Mudah - mudahan kucingnya ngga manja dan ngga takut tikus.

Sebetulnya ada solusi lain, pindah kerja lagi sehingga terpaksa pindah rumah :p

Thursday, May 31, 2007

Otak Bayi - Bayi


Tadi siang di kantor saya ada kajian bulanan. Kali ini pembicaranya Mba Neno Warisman dengan tema : mengenalkan Allah kepada anak sejak dini. Kajian yang sangat menarik, Mba Neno memberikan uraian mengenai pentingnya masalah fitrah (Mengenal Allah), anak dan peran orang tua.

Ada satu poin menarik di awal kajian ini yang ingin saya share. Mba Neno menguraikan hasil penelitian mengenai perkembangan otak bayi yang dilakukan untuk mengetahui respon otak terhadap berbagai stimulan. Dan ternyata hasil penelitian ini sangat mengagumkan.

Ketika lahir seorang bayi memiliki sel - sel otak yang masih segar, seperti hardisk kosong yang menunggu di isi. Kapasitas memorinya sangat besar dan kualitasnya sangat baik karena belum pernah dipakai.



Dalam penelitian tersebut kepala bayi ditempeli sejumlah kabel yang dihubungkan dengan alat untuk mendeteksi isi kepala bayi, menunjukkan jaringan sel - sel otak dan hasilnya bisa dilihat secara visual. Ketika bayi diberi stimulan berupa belaian sayang, kata - kata manis dan hal - hal lain yang menunjukkan perhatian dan kasih sayang..maka bayi akan memberikan respon yang positif..sel - sel otaknya akan sangat rimbun dan terkoneksi satu sama lain. 

Suatu saat seoraang peneliti menjatuhkan sesuatu dan ia berteriak kaget. Sesat layar komputer menunjukkan sel - sel otak yang tadinya sangat rimbun menjadi terpecah seperti terkena petir. Subhanallah. Dalam penelitian akhirnya diketahui bahwa kerusakan otak pada bayi akibat kejutan seperti tadi bersifat permanent.

Nabi Muhammad telah memberitahukan pula hal ini. Mungkin masih ingat kisah Nabi, anak kecil dan ibunya. Sang anak sedang bermain - main di pangkuan Nabi dan tiba - tiba ia membuang air kecil yang mengotori dan membasahi pakaian Nabi. Sang Ibu segera berteriak dan mencoba mengangkat anaknya dari pangkuan Nabi. Ternyata Nabi memberikan respon yang berkebalikan  : Wahai Umi, bajuku ini bisa dicuci dan dibersihkan, tapi kaget anakmu seumurhidup idak bisa diperbaiki. Nabi telah mengingatkan kita bagaimana pentingnya menjaga perasaan seorang anak.

Seorang anak yang dibesarkan di keluarga yang bahagia, di tengah belaian kasih sayang, dan jauh dari ancaman, akan memiliki kualitas otak yang lebih baik daripada seorang anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang sejak kecil. Sel - sel otaknya akan mengkerut dan kemudian rusak.

Subhanallah, sepanjang siang tadi hal ini terus ada di pikiran saya. Begitu besarnya amanah menjadi orang tua dan betapa mulianya. Semoga kelak saya dan kita semua bisa menjadi ayah/ibu yang penyabar dan penuh kasih sayang. AMIN.